Jatuh cinta lewat mimpi? Apa itu bisa?Apalagi jatuh cinta pada seseorang yang hanya ditemui lewat mimpi. Itulah yang dialami oleh Yoongi. Jatuh cinta pada seorang gadis yang belum pernah ia temui di dunia nyata.
Persahabatan lawan jenis memang sering kali menimbulkan rasa cinta, entah dari salah satu pihak, atau bahkan keduanya.
Seperti halnya Rangga, sudah lama dia mencintai sahabatnya, Khumaira. Sudah dua kali Rangga menyatakan cintanya pada Khumaira, namun selalu ditolak. Hingga akhirnya mereka bekerja sebagai programmer di salah satu perusahaan di Seoul, Korea Selatan.
Takdir mempertemukan mereka dengan BTS, salah satu boy grup terkenal disana. Antara senang dan tidak percaya, Yoongi menganggap pertemuan itu adalah sebuah keajaiban dari Tuhan.
Siapakah gadis yang ada dalam mimpi Yoongi?
Akankan Rangga mempertahankan cintanya pada Khumaira?
Lalu, siapa sebenarnya yang dicintai Khumaira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amalia Shah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Khumaira masih terduduk di depan ruang ICU. Tiba-tiba suara handphone di tas Rangga berdering.
"Pak Rafael?" Gumam Khumaira.
"Hallo pak, ini saya, Aira."
"Ya Tuhan, terimakasih. Akhirnya Rangga menemukanmu, Aira. Tapi, dimana Rangga? Kenapa kamu yang jawab telponnya?"
"....."
"Aira?"
"Rangga ada di ICU pak. Dia ketembak saat mau nyelametin saya." Suara Khumaira terdengar bergetar.
"Astaga. Kalian ada di rumah sakit mana? Saya kesana sekarang."
Khumaira memberi tahu alamat rumah sakit, dimana Rangga dirawat. Tanpa pikir panjang, malam itu juga Rafael pergi.
Khumaira memasukkan kembali handphone milik Rangga. Pernah terlintas dipikirannya untuk menelpon ibu nya, tapi dia takut ibunya akan banyak bertanya dan mengetahui kondisi Rangga. Dia akhirnya mengurungkan niatnya itu.
Khumaira berjalan mendekati ruang ICU. Menatap Rangga dibalik kaca jendela.
"Cepetan sadar Ga." Lirih Khumaira.
Mata Khumaira membulat saat melihat monitor yang mendeteksi jantung Rangga, memperlihatkan garis hampir lurus. Khumaira segera memasuki ruang ICU, menekan bel untuk memanggil dokter ataupun perawat yang berjaga. Karena panik, dia beberapa kali menekannya.
"Rangga, bertahanlah. Aku mohon." Khumaira menangis. Dia berlari keluar dari ruang ICU.
"Paman! Tolong!" Teriak Khumaira.
Para bodyguard berlari mendekati Khumaira. "Ada apa nona? Kenapa nona menangis?" Ucap salah satu bodyguard.
"Cepat panggilkan dokter! Rangga... Rangga... Hiks... Hiks..." Khumaira tidak bisa melanjutkan ucapannya. Bodyguard yang mengerti dengan ucapan Khumaira, dia berlari hendak memanggilkan dokter.
Saat pintu lift terbuka, bodyguard melihat dokter dan dua orang perawat keluar. Mereka bertiga kembali ke ruang ICU. Dokter dan kedua perawat berlari ke dalam ruang ICU. Mereka segera melakukan tindakan agar detak jantung Rangga kembali normal.
Satu bodyguard lain menyusul para member BTS, memberitahu kondisi Rangga yang kritis. Semua berlari tergesa-gesa menuju ruang ICU.
Khumaira masih menangis menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Nuna." Jungkook kemudian duduk di samping Khumaira, dan memeluknya.
"Rangga. Hiks hiks.."
Semua menatap prihatin pada Khumaira. Yoongi memberanikan diri mendekat.
"Aira."
Khumaira menoleh pada Yoongi, melepas pelukan Jungkook. Dan berdiri di hadapan Yoongi.
"Kalau terjadi hal buruk pada Rangga, aku tidak akan pernah memaafkan mu selamanya. Ingat itu!!!"
Yoongi mengepalkan tangannya. Mengatur nafas mengontrol emosinya.
"Sabar nuna." Jin mengelus pundak Khumaira.
Yoongi berlutut di hadapan Khumaira.
"Aku akan menerima hukuman apapun darimu. Tapi aku mohon, jangan pernah membenciku, Aira." Yoongi tertunduk.
Khumaira terkekeh mendengar ucapan Yoongi, yang memohon agar dirinya tidak membenci Yoongi.
"Itu sanksi sosial yang harus kau terima Yoon. Sampai kapanpun, aku akan mengingat kejadian ini. Aku menyesal karena sudah mengenalmu!" Mata Khumaira membulat penuh kekecewaan.
Semua orang disana terdiam. Tidak ada yang berani menyela ucapan Khumaira. Yoongi memejamkan mata dan masih berlutut.
"Aira!"
Khumaira menoleh ke sumber suara. Rafael datang mendekat. "Bagaimana keadaan Rangga?"
Bibir Khumaira bergetar. Dia kembali menangis mengingat kondisi Rangga di ujung kematian.
Rafael berjalan cepat mendekati ruang ICU. Mata menangkap dokter dan dua perawat sedang terus berusaha mengembalikan detak jantung Rangga agar kembali normal. Tak lama, Rafael menutup matanya. Mengambil nafas dalam. Dokter keluar. Khumaira berlari mendekat.
"Dokter."
"Tuhan lebih sayang padanya."
Deg!!!
Semua orang terkejut saling pandang tidak percaya. Yoongi yang masih berlutut membulatkan matanya.
"Ayo bangun hyung." Jimin membantu Yoongi berdiri.
Kaki Khumaira terasa lemas, tapi dia berusaha membawa langkahnya masuk ke ruang ICU. Taehyung dan Jungkook mengikutinya. Tubuh Khumaira hampir saja ambruk ke lantai jika tidak disanggah Taehyung dan Jungkook. Salah satu perawat menutup tubuh Rangga dengan kain putih. Kemudian kedua perawat keluar dari ruangan.
Tangan Khumaira bergetar saat hendak membuka kain yang menutupi wajah Rangga. Tangis nya pecah ketika melihat wajah pucat Rangga. Jin, Namjoon, Hobi, Yoongi, Jimin dan Rafael masuk ke ruangan.
"Kau berjanji tidak akan meninggalkanku sendiri. Tapi sekarang, kau malah pergi. Hiks hiks."
"Bangun Rangga! Bangun! Ayo bangun!!!" Khumaira meraung. Dia mengguncang tubuh kaku Rangga.
Semua orang ikut menangis dengan kepergian Rangga ditambah tangis pilu Khumaira. Mereka mengerti apa yang Khumaira katakan, karena Khumaira berbicara dengan bahasa Korea.
"Aku tidak sanggup memberitahu kedua orangtuamu, Rangga. Aku mohon, kembalilah." Lirih Khumaira, menempelkan keningnya pada jemari Rangga yang digenggam olehnya.
"Sekarang aku sadar, bahwa aku juga mencintaimu. Hiks hiks." Tangan Khumaira masih menggenggam erat jari jemari Rangga.
Semua mata menatap Yoongi. Sungguh malang nasib cinta Yoongi. Cintanya tak terbalaskan. Hatinya benar-benar hancur saat itu juga. Jimin mengelus-elus pundak Yoongi, memberi kekuatan.
"Dia yang sudah meninggal pun, masih bisa mendapatkan cinta Aira. Tuhan, ini tidak adil." Batin Yoongi bergejolak. Dia menengadah, menatap langit-langit ruang ICU.
Rafael mendekat, memegang pundak Khumaira. "Saya akan membantu mengurus kepulangan jenazah Rangga."
Khumaira menatap nanar Rafael. "Pak, dia masih hidup kok."
Semua saling lempar pandang.
"Kau harus ikhlas Aira. Rangga sudah meninggal."
"Lihat! Tubuh dia saja kaku. Wajahnya sudah pucat, bibirnya membiru." Lanjut Rafael meyakinkan.
Khumaira memperhatikan wajah Rangga. Terdiam cukup lama.
"Kenapa? Kenapa aku harus kehilanganmu, Rangga? Apa kau tidak mau tahu tentang perasaanku, hah? Ya Allah, kembalikan dia padaku. Aku mohon, hiks hiks." Khumaira tidak bisa membendung kesedihannya. Rasa lelah dan sedih membuat tubuhnya tumbang. Rafael berhasil menyanggahnya.
"Cepat panggilkan dokter." Titah Rafael menatap semua member BTS.
Perawat yang kebetulan masih di luar ruang ICU, segera masuk.
"Ada apa tuan." Ucap alah satu perawat.
"Dia pingsan."
Rafael membawa Khumaira ke salah satu kamar pasien yang kosong. Salah satu perawat mengecek denyut nadi Khumaira, kemudian memasangkan selang infusan. Sedang satu perawat lagi mengurus jenazah Rangga ditemani Yoongi serta Jimin yang masih bertahan di ruang ICU.
"Dia hanya kelelahan dan merasakan kesedihan yang mendalam. Biarkan dia beristirahat. Yang boleh menjaganya hanya satu orang, sisanya boleh keluar." Perawat itu menatap kelima member BTS dan Rafael bergantian.
Mereka ber enam berebut ingin menjaga Khumaira. Perawat yang masih di sana hanya menggeleng.
"Pasien butuh istirahat. Kalau kalian ribut, lebih baik di luar saja."
Sudah disepakati, Rafael yang akan menemani Khumaira. Sedang member BTS, kembali ke ruangan pasien yang mereka tempati untuk beristirahat.
Di depan ruang ICU.
"Aira tidak akan pernah memaafkanku. Dia akan membenciku selamanya." Gumam Yoongi.
"Aku rasa itu hanya gertakan nuna saja Hyung. Dia bukan type wanita yang pendendam "
"Tapi apa yang telah aku perbuat padanya dan juga Rangga sangat fatal, Jimin-ah. Dia memang berhak untuk tidak memaafkan dan membenciku." Tubuh Yoongi merosot. Dia terduduk dilantai.
Member lain yang baru keluar dari ruangan Khumaira di rawat, semua menghampiri member berkulit pucat itu.
"Yoon, ayo kita istirahat." Ajak Jin.
Yoongi menggeleng. Dia benar-benar kacau. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau orangtua nya tahu, apa yang telah diperbuat olehnya? Bagaimana mereka akan menghukum dirinya? Belum lagi hukuman dari Khumaira.
Jin memeluk Yoongi. Yoongi pun menangis sesegukan. Semua member memeluk Jin dan Yoongi.
Dokter kembali datang dengan perawat yang lain. Langkah keduanya terlihat tergesa-gesa. Member BTS berfikir, mungkin dokter dan perawat tersebut akan membawa jenazah Rangga.
Mereka pergi ke ruang perawatan yang sudah di booking untuk beristirahat.
Ketika semua member akan beristirahat, seorang perawat mengetuk pintu. Namjoon bangun dari tempat tidur, kemudian membuka pintu ruangan.
"Tuan, dokter meminta anda dan tuan Jin untuk pergi ke ruang ICU. Ada yang akan dibicarakan dengan kalian berdua."
"Baiklah. Kami akan kesana."
Perawat pergi duluan. Semua member mendengar apa yang disampaikan perawat tadi. Mereka saling bertanya, apa yang akan dokter bicarakan dengan Jin dan Namjoon.
Kedua member BTS bergegas ke ruang ICU. Mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"Dok, apakah ini...." Ucapan Jin menggantung
membatin itu berarti berbicara didalam hati, seharusnya bukan tanda petik " tapi '
dan tipikal membatin itu ga bisa didengar orang lain
"Ahjuma bilang terima kasih dan juga maaf karena sudah membuatmu mengantarkan pesanannya," ucap....
"Kau duduk dulu, biar aku antar kesana," ucap si gadis."
or
"Kau duduk dulu, biar aku antar kesana." Gadis itu lantas berjalan disepanjang deretan pintu, menuju tempat yang dituju.
Besides you can choose this darling
[gadis itu meraih lengan si pemuda, hanya reaksi bisu dan tatapan mendalam yang mengukung antara mereka]
beside you can choose this my darling
[Dia mengatur nafas]