Mayra begitu bahagia dijodohkan dengan pria pilihannya, akan tetapi harapannya dicintai harus pupus dan kandas. Rayyan Atmadja sangat membenci Mayra namun dirinya enggan untuk melepaskan.
Apakah Mayra mampu mempertahankan dan membuat Rayyan mencintainya atau Mayra lama-lama menjadi bosan lalu meninggalkan pria pilihannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Bagian Kedua
Karin dan Lula hari ini mulai bekerja di perusahaan SR Group, Karin pun diperintahkan untuk membersihkan ruangan wakil manajer. Karin melihat ruang kerja yang cukup luas dan lumayan nyaman. Sebelum melakukan tugasnya, ia memperhatikan figura yang terpajang di lemari kayu jati. Karin menyipitkan matanya dan berusaha mengingat sosok pria muda yang ada di dalam bingkai.
Pintu tiba-tiba terbuka membuat Karin terlonjak kaget, ternyata kepala kebersihan yang muncul. "Hei, kenapa diam saja? Cepat bersihkan ruang ini sebelum Tuan Rama datang!"
"Iya, Kak!" Karin bergegas mengerjakan pekerjaannya.
Karin bekerja sembari diawasi kepala kebersihan, hampir 20 menit ia pun keluar dari ruangan tersebut.
Setelah 2 jam membersihkan beberapa bagian ruang kantor, Karin akhirnya bisa menikmati waktu istirahatnya. Jam operasional kantor juga sudah dimulai.
Karin duduk sembari menyantap cemilan mengganjal perutnya yang terasa lapar meskipun tadi ia sempat sarapan.
Tak lama kepala kebersihan memanggilnya untuk membersihkan bagian lobi kantor, Karin pun segera mengakhiri kegiatannya dan ia bergegas mengambil peralatan lalu mengikuti langkah wanita bertubuh gendut itu.
Karin pun menyapu tangga dan mengepelnya karena sangking fokusnya melakukan tugasnya, ia yang berjalan mundur menabrak tubuh seseorang sehingga pria itu hampir saja terjatuh.
"Hei, apa kamu tidak bisa hati-hati?" tegur seorang wanita dengan marah.
Karin tersentak mendengar suara lantang, gegas membalikkan badannya. Ia terpaku melihat sosok pria dihadapannya.
"Apa kamu tidak punya mata, hah?" bentak wanita itu lagi.
Karin segera sadar dan menundukkan kepalanya, "Maaf, saya tidak tahu!"
"Sudahlah, jangan marah-marah. Aku juga tidak apa-apa!" kata Rama kemudian lanjut melangkah.
"Lain kali kalau kerja pakai mata!" ucap si wanita itu dengan marah kemudian menyusul langkah Rama.
Karin mengangkat wajahnya ketika mendengar suara langkah kaki telah menjauh, ia menghela napas panjang.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" kepala kebersihan bernama Poppy menghampirinya.
Karin menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tahu pria tadi adalah manajer di sini dan dia juga anak dari pemilik perusahaan ini," kata Poppy.
"Saya benar-benar tidak tahu dan memang tak melihat ada orang di belakang," jelas Karin.
"Lain kali kamu harus hati-hati dan kamu juga jangan cari masalah dengan wanita yang bersama Tuan Manajer," kata Poppy lagi.
"Iya, Kak. Maaf!"
"Lanjutkan lagi pekerjaanmu!" perintah Poppy.
-
Jam makan siang, Karin dan Lula ditugaskan membeli makanan beberapa orang karyawan dan kedua wanita itu pun pergi ke salah satu restoran.
Karin duduk sementara Lula yang mengantri. Ketika menunggu seorang pria tak dikenal duduk di sebelah Karin dan tersenyum. Karin pun membalasnya dengan senyuman singkat dan tipis.
"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap pria itu.
Karin berusaha mengingat namun ia lupa lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu pernah menjadi sales 'kan?" Pria itu menyebutkan merek produk yang pernah dijajakan Karin.
"Iya, saya memang pernah bekerja di sana," kata Karin.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu di Kafe Bunga," ucap pria itu. "Kenapa berhenti bekerja di sana?" lanjut bertanya.
"Ingin suasana baru saja," jawab Karin.
"Memangnya kamu bekerja di mana?" tanya pria itu lagi.
Karin menyebut nama perusahaan dan bagian pekerjaannya.
Mendengar tempat Karin bekerja dan tugasnya, pria itu lantas tertawa sinis. Ia lalu berkata dengan pelan dan sebelumnya ia melirik kanan kirinya, "Kamu itu cantik, pasti ada pekerjaan yang lebih pantas untukmu."
"Terima kasih tawarannya," ucap Karin berusaha tersenyum, ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan menjauhi pria itu.
Tak ingin kehilangan Karin, pria itu kembali mendekati Karin yang menunggu di parkiran. "Kamu boleh datang ke sini, jika berubah pikiran dan gaji di sana mampu membuat hidupmu lebih layak!"
Karin terpaksa menerima kartu tersebut dan pria itu kemudian berlalu. Karin lalu membaca kartu tersebut ternyata sebuah kafe dan ia pun menyimpannya di saku celananya.
Lula akhirnya selesai mengantri, ia pun menghampiri Karin di parkiran. Begitu sampai, Karin lalu memberitahu Lula mengenai pria yang mengajaknya bicara.
"Aku pernah dengar nama kafe itu," kata Lula.
"Di mana? Apa benar gajinya sangat besar?" Karin penasaran.
"Biasanya gaji besar tetapi tidak membutuhkan pengalaman dan nilai terbaik selama sekolah harus dicurigai," kata Lula.
"Kenapa begitu?"
"Bisa saja itu tempat bagi wanita penghibur."
Karin yang mendengarnya bergidik.
"Kamu harus hati-hati dengan orang asing, jangan mudah terperangkap bujuk rayunya. Tetapi, jika kamu menyerah dengan keadaan, aku tidak dapat membantumu. Semua pilihan ada di tanganmu," nasihat Lula dan Karin hanya mendengar serta merenunginya.
Begitu sampai di kantor, Karin hendak membuka bekal makan siangnya namun Poppy datang menghampirinya, ia diminta untuk mengantarkan minuman ke ruang manajer.
Karin melangkah ke ruang manajer dengan membawa nampan berisi minuman. Setelah seseorang membuka pintu, Karin masuk dan menghidangkannya di atas meja.
"Tunggu!"
Karin yang hendak membuka pintu membalikkan badannya dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Rama, apa kamu tidak mengenal dia?" tanya Lucky kepada temannya.
"Tidak," jawab Rama.
"Sayang, memangnya dia siapa?" tanya wanita yang duduk di sebelah Lucky.
"Kamu, silahkan keluar!" titah Rama dan Karin gegas berlalu.
"Kenapa dia tiba-tiba kerja di sini?" tanya Lucky heran.
"Dia siapa? Jangan pura-pura kenal!" cetus Rama.
"Sayang, kamu suka dengannya, ya?" tuding kekasih Lucky.
"Tidak dong, sayang. Cintaku hanya untukmu!" ucap Lucky membual menatap kekasihnya membuat Rama geleng-geleng kepala.
"Jangan coba menggodaku di depan Rama, nanti dia iri dengan kita!" sindir kekasih Rama melirik pria dihadapannya.
"Kalian jika ingin bermesraan lebih baik keluar dari ruangan aku!" kata Rama kesal kedua temannya itu selalu menyindirnya.
Kedua teman Rama malah tertawa.
-
Sore harinya, Lula pulang lebih awal sedangkan Karin harus membersihkan ruang karyawan lainnya yang lembur.
Setelah selesai, Karin bersiap-siap pulang. Karin yang malas dan letih memilih turun ke lantai bawah menggunakan lift. Karin memang mengetahui jika karyawan rendahan sepertinya dilarang memakai lift dan hanya boleh menggunakan tangga. Karena seluruh karyawan hampir semuanya sudah pulang, ia pun mencoba lift.
Pintu lift terbuka, Karin lantas masuk. Tak lama kemudian turun 1 lantai, lift berhenti dan pintu kembali terbuka. Karin membulatkan matanya ketika melihat Rama dihadapannya. Rama mengernyitkan keningnya karena melihat seorang pegawai kebersihan berada di dalam lift.
"Saya akan keluar, Tuan!" Karin hendak melangkah.
Rama mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Tidak perlu keluar!"
Rama segera masuk dan berdiri di samping Karin yang hanya menunduk dan tak berani menatap.
Selama di lift keduanya saling diam, tak lama berselang pintu lift terbuka. Rama melangkah keluar terlebih dahulu lalu di susul Karin dibelakangnya.
Baru saja sampai di depan pintu gedung, hujan turun dengan sangat deras. Karin diam dan berdiri, ia memikirkan cara untuk pulang apalagi langit juga sudah gelap.
Mobil Rama berhenti tepat di depan gedung, seorang pria menyodorkan kunci kepadanya dan Rama pun mengucapkan terima kasih.
Rama melihat Karin mematung sembari memandang langit, Rama yang belum masuk ke mobil lantas menghampirinya, "Kamu menunggu seseorang?"
Karin menggelengkan kepalanya.
"Mari saya antar pulang!"
Karin sejenak tercengang mendengar tawaran Rama kepadanya.
"Kamu ingin bermalam di sini?" tanya Rama.
"Tidak, Tuan." Jawab Karin gugup.
"Kalau begitu pulang dengan saya saja," ucap Rama.
"Saya naik bus, Tuan. Tuan Rama silahkan saja duluan!" Karin menolak halus tawaran Rama, ia tak ingin mendapatkan fitnah karena semobil dengan Rama.
Rama mengangguk paham, ia pun melangkah menuju mobilnya dan melesat ke rumahnya.
Salam kenal
Terus semangat berkarya
Jangan lupa mampir ya 💜