Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua yang Arsen!
Rindu mengumbar senyum tipis, sebuah senyuman penuh kegetiran sekaligus penghinaan yang ditujukan untuk Dinda. Tanpa rasa gentar sedikit pun, ia mengambil satu langkah mendekati adik iparnya itu.
"Terima kasih atas sarannya, Dinda," ucap Rindu dengan nada santai, namun matanya menatap Dinda begitu tajam hingga tawa di wajah gadis itu berangsur perlahan padam.
"Tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan hidupku. Sebaiknya kamu khawatirkan dirimu sendiri dan ibumu, yang memelihara pria penakut dan pengecut seperti kakakmu ini."
Dinda melotot, merasa tersindir keras.
"Rindu! Berani-beraninya kamu..." Tatap Dinda tak terima.
Belum selesai Dinda bicara, Rindu melangkah pergi begitu saja meninggalkan ruang tengah.
Langkah kakinya begitu tenang dan anggun, seolah menganggap keberadaan Dinda tak lebih dari sekadar angin lalu. Sikap dingin dan acuh tak acuh itu sukses membuat Dinda mati angin.
Wajahnya memerah padam, dadanya naik turun menahan dongkol dan kekesalan yang membuncah karena ucapannya dipotong seraya diabaikan begitu saja.
"Mbak Rindu! Aku belum selesai bicara ya!" teriak Dinda histeris dari pangkal tangga, menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah bersungut-sungut.
"Dasar wanita sombong! Lihat saja nanti, kamu bakal menyesal!"
Namun Rindu sama sekali tidak menoleh. Hak sepatunya terus mengetuk lantai marmer dengan irama yang mantap dan pasti, berjalan lurus menuju pintu utama rumah mewah itu.
"Rindu! Rindu, tunggu!" teriak Arsen panik.
Tanpa memedulikan penampilannya yang masih acak-acakan dan tanpa alas kaki, Arsen berlari mengejar Rindu. Rasa panik yang teramat sangat menguasai dadanya, membuat jiwanya bergetar hebat melihat punggung wanita yang dicintainya itu kian menjauh.
"Rindu, aku mohon... jangan pergi! Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Sayang!" ratap Arsen histeris seraya mencoba menggapai lengan Rindu saat wanita itu tiba di teras depan.
Rindu mendadak menghentikan langkahnya. Tanpa memutar seluruh tubuhnya, ia melirik Arsen dari sudut mata dengan tatapan yang teramat dingin dan membekukan.
"Jangan pernah sentuh aku lagi, Arsen," desis Rindu pelan, namun sanggup menghentikan pergerakan tangan Arsen di udara.
"Persiapkan saja pengacaramu. Kita bertemu di pengadilan."
"Nggak, Rindu! Aku nggak mau cerai!" jerit Arsen memelas, air mata penyesalan menetes dipipinya.
"Kalau kamu memang berniat pergi dan angkat kaki dari rumah ini, sekalian bawa semua barang-barangmu!" bentak Ratna tanpa belas kasihan.
"Segera angkat kaki dari sini sekarang juga! Saya tidak sudi melihat muka kamu masih menginjakkan kaki dan tinggal di rumah ini saat kamu sibuk menggugat anak saya di pengadilan!"
"Mama! Cukup, Ma!" potong Arsen histeris, menoleh pada ibunya dengan wajang bangkit panik.
"Jangan usir Rindu, Ma! Ini rumah Rindu juga!"
"Diam kamu, Arsen!" sergah Ratna tajam, mengibaskan tangannya tak peduli.
"Biar dia sadar! Dia pikir dia siapa berani menggugat kamu? Biarkan dia pergi dengan barang-barangnya, kita lihat seberapa bertahan dia di luar sana tanpa uang dan fasilitas dari keluarga kita!"
Di tengah amukan Ratna dan ratapan Arsen, Rindu justru melukiskan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan ketegasan mutlak. Tak ada sedikit pun raut gentar di wajah cantiknya.
"Mau bawa apa sih, Ma? Orang dulu dia datang ke rumah ini cuma membawa beberapa helai baju aja!" celetuk Dinda dengan nada melengking penuh ejekan, ikut melangkah keluar ke teras seraya bersedekap dada.
Gadis itu terkekeh sinis, menatap Rindu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang teramat merendahkan.
"Semua yang dia pakai sekarang itu dibeli pakai uang Kak Arsen! Baju, tas, sepatu mewah, bahkan sampai pakaian dalamnya pun hasil belas kasihan keluarga kita!" lanjut Dinda lagi, makin menjadi-jadi memprovokasi suasana.
"Harusnya dia sadar diri, kalau angkat kaki dari sini ya telanjang sekalian! Karena tak ada satu pun barang di rumah ini yang murni hasil keringat dia sendiri!"
Mendengar hinaan yang sudah melebihi batas itu, Rindu mendadak menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu luar. Rasa sabar yang selama ini ia tahan runtuh seketika. Ia memutar tubuhnya, menatap Dinda dengan sorot mata yang menyala tajam.
"Jaga mulutmu, Dinda!" sergah Rindu dengan suara tegas dan penuh penekanan, mengikis habis kelembutannya selama ini.
"Sebelum kamu menghina orang lain, cermin dulu dirimu sendiri! Kamu itu sudah dewasa! Tapi semua pekerjaan di rumah ini aku yang kerjakan, sedangkan kamu, nggak bisa apa-apa! "
Dinda tersentak hebat. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu dan amarah yang membakar dada. Ejekan balik dari Rindu terasa amat menohok harganya dirinya di depan ibu dan kakaknya.
"Kamu... berani kamu menghina aku, hah?!" teriak Dinda histeris.
Tanpa berpikir panjang, rasa gelap mata memuncak di kepala Dinda. Gadis itu berlari maju dan mendorong tubuh Rindu dengan sangat keras menggunakan kedua telapak tangannya.
"Dinda, jangan!" jerit Arsen panik.
Namun semuanya terlambat. Dorongan kasar yang mendadak itu membuat Rindu kehilangan keseimbangan.
Tubuh Rindu terlempar ke belakang dan ambruk melayang.
Suara benturan keras menggema di area teras. Kepala bagian belakang Rindu menghantam sudut tajam pilar semen rumah dengan amat telak sebelum akhirnya tubuh anggun itu tergeletak tak berdaya di atas lantai marmer yang dingin.
Keheningan yang mencekam seketika melingkupi tempat itu.
Cairan merah pekat mulai merembes perlahan dari sela-sela rambut hitam Rindu, membasahi lantai marmer yang putih. Matanya terpejam rapat, wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya membisu tanpa pergerakan sedikit pun. Rindu telah hilang kesadaran secara total.
"Rindu! RINDU!" teriak Arsen. Pria itu langsung menyambar tubuh istrinya yang terkulai lemah, memangku kepala Rindu dengan tangan yang gemetar hebat dipenuhi darah.
Dinda membeku di tempatnya, menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang mendadak gemetaran.
Wajah sengaknya berganti menjadi pucat pasi diliputi rasa panik yang teramat sangat. Ratna pun terbelalak syok.
Arsen bergerak secepat kilat. Tanpa memedulikan teriakan panik dari ibu dan adiknya, ia menyelipkan lengannya ke bawah tubuh Rindu, lalu membopong wanita itu ke dalam pelukannya.
Tubuh Rindu terasa begitu dingin dan terkulai lemas di dadanya.
"Rindu... Rindu, bangun, Sayang!" ratap Arsen, suaranya pecah oleh tangisan dan kepanikan yang teramat sangat.
Dengan langkah setengah berlari dan napas memburu, Arsen membawa Rindu menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan.
Ia membuka pintu mobil dengan gerakan tergesa-gesa, membaringkan Rindu secara perlahan di jok penumpang, lalu langsung melesat ke kursi kemudi.
Pintu mobil ditutup keras. Tanpa menunggu waktu lama, Arsen menekan pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melaju kencang membelah jalanan pagi, menerobos deretan kendaraan lain menuju rumah sakit terdekat.
Di sepanjang perjalanan, sebelah tangan Arsen terus memegang erat jemari Rindu yang makin mendingin.
Tatapannya sesekali beralih ke arah wajah Rindu yang pucat pasi lewat kaca spion, diliputi rasa takut yang amat luar biasa.
banyak² berdoa aja dinda & Ratna,semoga saja kalian tidak mengalami apa yang di alami rindu.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹