Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab³⁵
Hujan baru saja berhenti ketika dua mobil hitam berhenti di depan sebuah gudang tua di kawasan industri yang sudah lama sepi. Bangunan itu terlihat tidak terawat dari luar, tetapi beberapa jejak kendaraan di tanah basah menunjukkan bahwa tempat tersebut masih sering digunakan. Tim keamanan Ardynata segera turun dan menyebar mengelilingi bangunan.
Naura turun dari mobil bersama Alaska. Jantungnya berdegup kencang sejak mereka menerima informasi bahwa lokasi tersebut memiliki hubungan dengan perusahaan yang pernah digunakan Dahlia.
"Ini tempatnya?" tanya Naura, matanya menyapu bangunan besar di hadapannya.
Alaska mengangguk. "Menurut data kendaraan dan rekaman kamera jalan, mobil yang membawa Laura dan Lionel terakhir terlihat menuju kawasan ini. Kita belum bisa memastikan mereka masih berada di dalam, jadi jangan bergerak sembarangan."
Naura mengepalkan tangan. "Aku hanya ingin memastikan anak-anak selamat."
"Aku tahu. Tapi justru karena itu, kamu harus tetap tenang. Kalau penculik masih di dalam dan merasa terdesak, tindakan gegabah bisa membahayakan Laura dan Lionel."
Naura mengangguk meskipun wajahnya masih menunjukkan kecemasan.
Kakek Guntur yang baru tiba langsung memberikan instruksi kepada tim keamanan. "Periksa semua pintu keluar! Jangan ada kendaraan yang meninggalkan kawasan ini tanpa diperiksa! Jika anak-anak berada di dalam, utamakan keselamatan mereka."
"Baik, Tuan besar."
Beberapa anggota keamanan bergerak ke sisi belakang gudang, sementara yang lain mendekati pintu utama.
Alaska memberi isyarat, pintu gudang dibuka perlahan. Namun tidak terdengar suara apa pun. Tim masuk dengan hati-hati. Ruangan besar itu dipenuhi kardus, rak besi, peralatan lama, dan beberapa meja yang tampak baru digunakan. Bau lembap bercampur aroma bahan bakar memenuhi udara.
Naura mengikuti dari belakang dengan napas tertahan. "Laura!"
Tidak ada jawaban.
"Lionel!"
Tetap sunyi.
Naura mulai bergerak lebih cepat, tetapi Alaska segera menahan lengannya.
"Jangan sendirian..."
"Aku tidak bisa hanya berdiri diam."
"Kita akan menemukan mereka."
Tim menyisir setiap ruangan.
Beberapa menit kemudian, salah satu anggota keamanan berteriak dari bagian belakang.
"Pak Alaska! Kami menemukan sesuatu!"
Semua orang langsung bergerak menuju suara tersebut. Di sebuah ruangan kecil terdapat dua kursi anak-anak yang diletakkan berdampingan. Di atas lantai terdapat bungkus makanan, botol air mineral, dan beberapa mainan kecil.
Naura langsung mengenali salah satunya.
"Itu milik Lionel."
Ia mengambil sebuah mobil-mobilan kecil dari lantai, tangannya gemetar ketika menggenggam benda tersebut.
"Dia selalu membawa ini ke mana-mana."
Kakek Guntur menatap sekeliling dengan wajah tegang. "Berarti mereka memang pernah berada di sini."
Alaska berjongkok memeriksa lantai.
"Ada bekas sepatu anak-anak."
"Mereka masih hidup ketika berada di sini?"
"Setidaknya berdasarkan kondisi tempat ini, kemungkinan besar iya. Ada makanan yang baru dibuka dan botol air yang masih menyisakan air."
Harapan kembali muncul di mata Naura. "Kalau begitu, mereka masih dekat."
Alaska memperhatikan sesuatu di lantai dekat pintu belakang. Ada bekas roda kendaraan yang masih jelas karena tanah di sekitar pintu terkena air hujan.
"Jangan terlalu cepat berharap."
"Kenapa?"
"Jejak ini masih baru."
"Berarti mereka baru saja pergi?"
"Kemungkinan besar."
Naura merasakan dadanya sesak. "Berapa lama?"
"Tidak lebih dari beberapa menit sebelum kita tiba."
"Jadi kita terlambat?"
Tidak ada yang menjawab.
Kakek Guntur langsung memerintahkan timnya memeriksa seluruh area. "Cari rekaman kamera! Kalau mereka keluar beberapa menit lalu, kita masih bisa mengejar."
Salah satu anggota keamanan berlari menuju ruangan kantor kecil di ujung gudang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara.
"Pak Alaska! Ada DVR!"
Alaska segera menyusul.
Perangkat perekam itu masih menyala. Rekaman beberapa kamera memperlihatkan area sekitar gudang. Alaska meminta petugas memutar rekaman dalam kecepatan tinggi. Waktu berjalan mundur, sebuah mobil van hitam terlihat keluar dari pintu belakang gudang.
Alaska menunjuk layar. "Berhenti!“
Rekaman dihentikan, plat nomor kendaraan terlihat sebagian.
"Aku akan cari datanya."
"Tunggu." Alaska memperbesar rekaman, Ia menunjuk bagian belakang kendaraan. "Ada stiker kecil di kaca."
Naura mendekat. "Logo itu..."
“Itu logo perusahaan transportasi yang sudah kita temukan sebelumnya."
"Perusahaan milik Reza?" tanya Naura.
"Ya."
Kakek Guntur langsung mengerutkan kening. "Berarti Dahlia menggunakan jaringan perusahaan lama itu."
"Dan seseorang masih mengoperasikannya."
Alaska segera menghubungi tim pelacak kendaraan. "Periksa semua kamera jalan di jalur keluar gudang! Kita membutuhkan arah kendaraan tersebut."
Sementara Naura masih berdiri sambil menggenggam mobil-mobilan Lionel. a menatap kursi kosong tempat anak-anaknya tadi duduk. "Mereka pasti ketakutan..."
Alaska berdiri di samping wanita itu, menggenggam pelan bahu Naura menenangkan. "Laura cukup berani, dan Lionel juga. Mereka pasti berusaha mencari cara untuk meninggalkan petunjuk."
"Bagaimana kalau mereka menangis?" Suara Naura bergetar menahan tangisan.
"Kalau mereka menangis, itu berarti mereka masih berjuang. Dan tugas kita sekarang memastikan perjuangan mereka tidak sia-sia."
Naura menarik napas panjang. "Aku akan membawa mereka pulang."
Tiba-tiba ponsel Alaska berbunyi.
"Kami mendapat lokasi kendaraan! Van bergerak menuju kawasan pelabuhan lama. Kecepatan kendaraan tinggi."
Kakek Guntur segera memberikan perintah. "Jangan beri mereka waktu untuk berpindah kendaraan! Kerahkan semua mobil!"
Konvoi kendaraan segera meninggalkan gudang.
...*****...
Beberapa kilometer dari sana, sebuah van hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Davina duduk di depan sambil terus melihat kaca spion, wajahnya pucat.
"Kita harus lebih cepat."
Pria yang mengemudikan kendaraan itu menjawab singkat. "Mereka belum tentu menemukan kita."
Davina menoleh ke belakang, Laura dan Lionel duduk di bangku belakang. Keduanya tidak lagi menangis, mereka justru saling berbisik.
Davina menyipitkan mata. "Kalian bicara apa?"
Laura langsung diam, Lionel menundukkan kepala.
"Kami cuma ingin pulang."
Davina tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar tegang. "Sebentar lagi."
Laura menatap jendela, di tangannya terdapat sebuah benda kecil yang diam-diam ia ambil dari lantai gudang. Sebuah kancing logam. Ia tidak tahu apakah benda itu bisa membantu, tetapi sejak tadi ia dan Lionel sengaja meninggalkan benda-benda kecil di sepanjang perjalanan.
Sebelumnya Lionel menjatuhkan mobil-mobilannya. Sekarang Laura menyimpan kancing itu untuk dijatuhkan ketika mereka berhenti. Mereka hanya berharap sang Mama akan menemukan petunjuk tersebut.
Di belakang mereka, beberapa kendaraan keamanan Ardynata mulai mengejar. Alaska duduk di samping Naura sambil menerima informasi melalui sambungan telepon.
"Kendaraan memasuki jalan menuju pelabuhan lama, ada dua persimpangan di depan."
"Jangan kejar dari jarak terlalu dekat," ujar Alaska. "Kita tidak tahu apakah mereka membawa senjata atau akan melakukan tindakan nekat."
"Alaska... kalau mereka mencoba melukai anak-anak..." Naura menggenggam sabuk pengaman dengan kuat, wajahnya pucat.
"Naura, kita tidak akan memberi mereka kesempatan."
Mobil melaju semakin cepat. Dari kejauhan, van hitam mulai terlihat. Naura langsung mengenalinya dari foto yang dikirim sebelumnya.
"Itu mereka!"
Alaska segera memberi perintah kepada pengemudi. "Jaga jarak! Jangan biarkan mereka berbelok ke jalan kecil."
Kendaraan keamanan lain menyebar dari sisi kanan dan kiri.
Davina melihat mobil-mobil yang mengejarnya melalui kaca spion, wajahnya semakin pucat.
"Mereka menemukan kita."
"Apa yang harus kita lakukan?" Pengemudi panik.
Davina terdiam beberapa detik, lalu matanya tertuju pada sebuah jalan sempit menuju area pelabuhan.
"Belok kiri!"
Van berbelok tajam, mobil Naura ikut mengejar.
"Jangan kehilangan mereka!" seru Naura.
Alaska langsung menghubungi tim lain. "Potong jalur dari depan! Mereka menuju kawasan pelabuhan."
Kejar-kejaran semakin sengit.
Namun di dalam van, Laura dan Lionel saling berpandangan. Keduanya mendengar suara kendaraan lain yang terasa sangat mereka kenal.
"Itu mobil Mama?" Lionel berbisik pelan.
Laura menggenggam tangan adiknya. "Sepertinya iya."
Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar. Davina semakin panik.
🤭🤭
krn ibu ny Tania sendiri yg gx kasih tau klo dy lgi hamil ank ny sakti ,,