Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."

Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.

Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Zakia bersenandung kecil selagi menikmati hangat sore saat ini, rasanya dia tidak ingin masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan itu. Di sini lebih enak, lebih nyaman dan lebih hangat!

"Dulu, lo kuliah jurusan apa?" tanya Daren tiba-tiba.

Zakia menimang sebentar, rasanya agak berat untuk mengatakan semua pengalaman dirinya dulu, karena itu sama dengan dia membuka luka lama. Hanya saja, Daren bukan orang lain, Daren suaminya dan jika pria itu ingin lebih tahu tentang kehidupannya, itu hal yang wajar kan?

"Gue PGSD," jawab Zakia.

"Ohh, berarti mau jadi guru?" tebak Daren.

Zakia tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya, "enggak, gue ga pengen jadi guru," ucapnya. Dahi Daren berkerut, lalu untuk apa mengambil jurusan PGSD jika tidak menjadi guru?

"Terus ngapain kuliah PGSD?"

"Ya ... karena ga ada pilihan lain."

Daren terdiam, tidak ada pilihan lain? Apakah wanita ini terjebak di satu pilihan yang membuat dirinya terpaksa memilih pilihan itu? Tapi, bagi Daren itu tidak bisa disebut pilihan tapi menghadapi kenyataan.

"Cuti kuliah udah berapa lama?"

Zakia menatap ke atas langit, sembari melihat langit biru pada sore hari, dia ikut menimang dan menghitung sudah berapa lama dia tidak memegang laptop, membuka buku, merasakan bagaimana pusingnya saat tugas kuliah belum selesai, rasanya sudah sangat lama sekali.

"Kayaknya, ada sekitar satu tahun, kayaknya ya. Gue juga kurang inget sih," jelas Zakia tak yakin.

Akhir-akhir ini Zakia terlalu sibuk memikirkan masalah rumah dan yang lainnya, sampai bahkan dia mengesampingkan sakit hati tentang fakta bahwa dia harus cuti kuliah karena kejadian yang menyakitkan itu.

"Jadi kenapa kemaren cuti kuliah?" tanya Daren penasaran.

Zakia membeku, tubuhnya seperti dihantam batu ketika pertanyaan itu ke luar dari bibir Daren. Butuh energi yang banyak untuk Zakia bisa menceritakan semua masalah itu kepada sang suami. Bayangan-bayangan kejadian dulu yang merenggut semua rasa bahagianya kembali mengelilingi isi pikiran Zakia.

Tangannya saling menggenggam sampai muncul getaran kecil, sakit hatinya terlalu parah, rasa sakitnya bahkan sampai tidak bisa diceritakan. Karena kejadian itu, mimpi Zakia tertunda dan bahkan dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan melewati fase seperti ini.

Zakia mengontrol deru nafasnya yang menderu, emosinya naik ke atas ubun-ubun, tapi Zakia berusaha sekuat mungkin untuk tidak melampiaskan semua rasa kesal, marah dan sakit hati itu kepada Daren. Daren orang baru dan Daren tak berhak menerima semua rasa sakit itu!

"Gapapa."

Jawaban yang begitu singkat tapi membuat Daren paham bahwa wanita di depannya ini tidak ingin berbicara lebih lanjut tentang hal itu, bahkan itu terbukti dari Zakia yang lalu membuang wajah usai menjawab pertanyaan Daren.

Baiklah, Daren tahu, memang tidak seharusnya dia mengorek kehidupan Zakia terlalu dalam, apalagi kalau kata Rega, Zakia punya rahasia yang tak semua orang tau, mungkin Daren termasuk ke dalam golongan itu.

"Okey, tapi nanti ada waktunya lo bisa nyambung kuliah lagi dan kalau lo mau nyambung kuliah lagi, bilang sama gue," kata Daren.

Pandangan mereka saling bertemu, Zakia yang tadinya menahan emosi begitu melihat wajah teduh Daren emosi yang dia pendam bisa berkurang sedikit demi sedikit. Daren ini benar-benar membawa ketenangan baginya.

Saat mereka saling melamun, ponsel Daren kembali berdering kencang. Dia berdecak kesal tapi tetap mengangkat telfon tersebut, jika tadi Daren menjauh dari Zakia, maka saat ini dia bahkan duduk lebih dekat dengan istrinya sambil mengangkat panggilan itu.

"Iya transfer aja elah, terus kirim nota sama gue berapa penghasilannya," ujar Daren.

"Belum tau, gue belum bisa ke sana, entar kalau gue pergi siapa temen istri gue di rumah."

Zakia yang mendengar itu sontak menahan senyum, diakui ternyata bisa sebahagia ini ya?

"Ngadi-ngadi lo pea! Entar gue usahain ke sana elah ribet amat!"

Daren mematikan ponsel tersebut dengan raut wajah kesal, bukan hanua itu, usai menutup panggilan tersebut tangan Daren masih sibuk bermain di atas ponsel mahalnya. Sedari tadi, Daren berbicara tentang transfer, sebenarnya suaminya ini kerja apa? Cih, Dari pada Zakia dilanda rasa penasaran yang tinggi, lebih baik dia langsung bertanya, toh tadi Daren juga sudah mengorek sedikit bagian hidupnya, jika gantian tidak masalah kan?

Sebelum bertanya, Zakia memandang wajah Daren dari samping, hatinya diselimuti rasa penasaran dan gugup yang bermain secara bersamaan.

"Mau nanya apa?"

Zakia terperanjat, Daren ini cenayang kah? Bagaimana bisa dia tahu bahwa Zakia ingin sedikit kepo tentang kehidupannya.

"Ha? Kok bang Daren tau?" tanya Zakia heran. Daren mematikan ponselnya dan meletakkan benda itu di atas telapak tangan Zakia, ia memandang wanita itu lalu berkata, "lo setiap mau nanya selalu kayak gitu, diem, ngeliatin tapi ragu mau ngomong, daripada gue nunggu mending gue yang langsung nebak, ternyata tebakan gue benar."

Zakia cengegesan, berarti selama ini Daren paham dengan kebiasaannya dan selalu memperhatikan bagaimana gestur tubuhnya bekerja.

"Ketara banget ya?" tanya Zakia malu.

Daren tersenyum dan mengangguk, "banget," jawabnya pelan.

"Hehehe, sorry."

"Ya elah ngapain minta maaf, santai aja Zak."

"Nah, jadi nanya ga lo? Mumpung gue lagi mood banget nih buat ditanyain," tawar Daren. Karena Daren pun kepo, Zakia ingin bertanya tentang dirinya pekara apa? Kuliah kah? Atau ada yang lain?

"Bang Daren dapat uang dari mana?"

"Ha?"

"Iya, bang Daren dapat uang dari mana?"

"Gue? Gue kerja," jawab Daren cepat.

Wajah Zakia menunjukkan raut yang tak yakin, matanya menyipit disertai dengan bibir kecil yang manyun.

"Kerja apa?"

Dalam hati Daren merasa gemas dengan wajah Zakia, kayaknya bagus kalau dia menjahili wanita ini lagi. Sebelum menjawab pertanyaan istrinya, Daren meletakkan sebelah tangannya di atas sandaran kursi agar bisa menjadi tumpuan kepalanya, saat ini dia ingin menatap penuh wajah Zakia.

"Ya ... kerja."

Zakia merengut sebal, "ya tau kerja, tapi kerja apa?"

"Ya pokoknya kerja," jawab Daren lagi. Sudut bibir atas Zakia naik, ia kesal dengan jawaban Daren yang tak jelas itu. Zakia melipatkan tangannya di dada dan menatap lurus ke depan, terlihat seperti orang merajuk.

"Ssshh!" Desiran kecil ke luar dari bibir Zakia saat angin kencang menerpa tubuhnya. Tangannya menggenggam erat cardigan yang ia pakai.

Daren melihat kaki Zakia, wanita itu tidak menggunakan kaos kaki. Pantas dia kedinginan, pikirnya. Tanpa menunggu lama, Daren langsung mengambil paper bag kecil yang ia bawa tadi, salah satu barang penting yang dibawa Daren adalah kaos kaki, entah kenapa feeling Daren mengatakan bahwa barang itu akan berguna dan ternyata memang berguna di saat seperti ini.

"Eh eh bang Daren ngapain?" Zakia panik, Daren tiba-tiba mengangkat pelan ke dua kakinya dan meletakkannya di atas paha.

"Entar lo kedinginan, makanya make kaos kaki," ucap Daren.

Zakia yang merasa tidak enak ingin meraih kaos kaki itu, rasanya tidak sopan jika kaos kaki itu naik ke atas paha sang suami, apalagi umur mereka lumayan berjarak.

"Udah, gue sendiri bisa kok," kata Zakia. Tubuhnya maju ingin meraih kaos kaki yang dipegang Daren, tapi Daren menjauhkan tubuhnya sedikit sambil mengangkat kaos kaki itu tinggi-tinggi.

"Ya gue tau, tapi biar gue yang masangin, lo duduk diem aja, jangan banyak gerak entar kaki lo makin sakit!" peringat Daren.

Zakia pun akhirnya diam, ia membiarkan Daren memasang kaos kaki berwarna hijau muda ke kaki kecilnya, saat Daren memasang kaos kaki itu Zakia tersadar, Daren selalu mengurusnya dengan baik.

Hallo guys makasih y udh mampir 💙💙💙

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!