"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
37. Ego yang Terbakar.
***
Lima belas menit kemudian.
Suara pintu mobil Mercedes-Benz hitam yang ditutup dengan satu sentakan kasar seketika memecah keheningan pelataran rumah mewah keluarga Danendra.
Sore itu, semburat warna jingga di langit Jakarta mulai meredup, digantikan oleh hawa dingin yang perlahan menusuk kulit.
Freya Anindita melangkah terburu-buru menerobos pintu utama rumah megah tersebut. Tas kecilnya didekap erat di depan dada. Seluruh tubuhnya yang terbalut kaus santai masih terasa lemas, beradu dengan sisa adrenalin pasca-kejadian mencekam di pertigaan makam tadi.
Di ruang tamu utama, Kirana sedang duduk santai di atas sofa sembari menikmati secangkir teh sore.
Mendengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa, wanita anggun itu langsung menegakkan tubuhnya. Begitu pandangan matanya menangkap siluet Freya, Kirana seketika berdiri dari duduknya dengan wajah yang dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa.
"Ya ampun, Freya sayang! Kamu kenapa, Nak?". Pekik Kirana, suaranya melengking cemas saat melihat sepasang mata bulat Freya yang tampak begitu sembab, memerah, dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Kirana melangkah cepat menghampiri putri angkatnya, lalu melirik ke arah pintu luar. "Lho, kok... kenapa kamu bisa pulang bareng dengan Galen?".
Freya tersentak di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak terasa kelu. "Itu... Tante, freya…. sebenarnya tadi Freya—"
"Dia hampir dilecehkan oleh beberapa anak geng motor di dekat komplek pemakaman". Potong sebuah suara bariton yang teramat rendah, berat, dari arah belakang.
Galen Danendra melangkah masuk melewati ambang pintu utama dengan postur tubuh tegapnya yang menjulang tinggi. Kemeja formal hitam nya yang sedikit kusut di bagian lengan memancarkan aura intimidasi yang luar biasa pekat.
Ucapan yang keluar dari bibir tipis sang duda terdengar sangat datar, ketus, dan kaku, seolah ia sedang menyampaikan laporan bisnis biasa tanpa adanya riak emosi sedikit pun.
Mendengar kalimat mengerikan yang meluncur dari mulut putra sulungnya, Kirana seketika membeku. Wajahnya memucat didera rasa syok.
Tanpa membuang waktu, wanita itu langsung meraih kedua bahu Freya, menatap intens dan memindai seluruh tubuh gadis remaja tujuh belas tahun itu dengan pandangan yang sarat akan rasa takut jika anak sahabatnya terluka atau ternoda.
"Astaga, Freya! Kamu tidak apa-apa, Nak?! Ada yang terluka?! Bagian mana yang sakit, katakan pada mama?!". Tanya Kirana bertubi-tubi dengan suara yang tercekik menahan tangis, jemarinya bergerak panik memeriksa lengan dan helai rambut Freya.
Melihat kekhawatiran yang begitu tulus dan meluap-luap dari ibu angkatnya, rasa perih di dalam dada Freya perlahan mulai mereda. Ia menelan rapat-rapat seluruh kepedihan, rasa terhina akibat makian "murahan" dari Galen di dalam mobil tadi, dan sisa traumanya.
Freya perlahan menyunggingkan seulas senyum manisnya yang hangat, lembut, dan tampak begitu polos di wajah cantiknya. Sebuah topeng ketabahan yang sengaja ia pasang dengan sangat rapi agar wanita di hadapannya ini tidak perlu merasa khawatir.
"Freya tidak apa-apa kok, Tante. Freya sama sekali tidak terluka". Ucap Freya dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang dan meyakinkan. "Untung tadi Kak Galen kebetulan lewat dan langsung menolong Freya. Jadi semuanya aman."
Kirana menghembuskan napas panjang yang teramat lega, mengusap dadanya sendiri berulang kali. "Syukurlah... Demi Tuhan, mama hampir jantungan dengarnya. Galen, terima kasih ya kamu sudah melindungi adikmu."
Galen tidak membalas dengan kata-kata. Pria tersebut hanya menatap lurus ke arah Freya dari balik sudut matanya dengan kilat pandangan mata elang yang teramat dingin, pekat, dan sarat akan ancaman bahaya yang tersembunyi.
Tanpa mengeluarkan suara berdehem sedikit pun, Galen memutar tubuhnya, melangkah lebar menaiki anak tangga marmer menuju kamarnya pribadi di lantai atas.
"Tante, Freya permisi ke kamar dulu ya. Mau mandi dan membersihkan diri". Seru Freya lembut.
"Iya, Sayang. Mandi air hangat ya biar tubuhmu rileks. Nanti malam kita makan bersama". Tutur Kirana penuh kasih sayang.
Freya melangkah cepat menyusuri koridor lantai dua, masuk ke dalam kamar pribadinya, lalu mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Begitu pintu kayu kamarnya tertutup rapat dan terkunci dari dalam, pertahanan mental yang sejak tadi dibangun Freya di depan Kirana runtuh seketika.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat, bukan lagi karena sisa ketakutan terhadap geng motor, melainkan karena amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Tas ransel kecil di pelukannya dilempar kasar ke atas lantai marmer, menciptakan bunyi dentuman keras yang memutus keheningan kamar.
"Brengsek! Manusia egois, monster sombong!".
Makian itu lolos begitu saja dari sela gigi Freya yang bergemeletuk menahan amarah.
Ia berjalan cepat menuju cermin meja riasnya. Menatap pantulan wajahnya sendiri yang berantakan dengan mata sembab dan rambut yang sedikit kusut.
Di matanya, bayangan wajah Galen dengan senyuman smirk kejamnya yang menuduhnya sebagai "gadis murahan" seolah berputar kembali seperti kaset rusak yang menyiksa telinga.
"Gadis murahan? Haus perhatian?". Freya mendengus sinis, mencengkeram tepi meja riasnya hingga kuku-kukunya memutih. Air mata amarah kembali mendesak keluar dari sudut matanya.
"Siapa dia berani menilai hidupku seperti itu?! Kalau bukan karena papa dan mamanya yang memaksaku tinggal di sini, aku juga tidak sudi melihat wajah angkuhnya setiap hari!".
Freya memukul permukaan meja rias dengan kepalan tangannya yang bergetar. Rasa terhina di dalam mobil tadi benar-benar membakar harga dirinya sampai ke dasar.
"Dia pikir dia pahlawan? Dia hanya monster yang suka menginjak-injak harga diri orang lain!". Teriak Freya tertahan, meluapkan seluruh rasa frustrasinya ke udara kosong.
"Lakukan apa pun yang kamu mau, Galen Danendra. Anggap aku sampah, anggap aku pembawa sial! Tapi demi Tuhan, aku tidak akan pernah sudi tunduk atau memohon belas kasihan lagi padamu!".
Gadis itu mengambil bantal di atas ranjangnya dan memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di sana untuk meredam teriakan marahnya yang kian membara.
Di dalam hatinya, sebuah tekad baru yang keras kepala mengakar kuat: ia akan mengumpulkan kekuatan untuk lepas dari cengkeraman keluarga Danendra, terutama dari jerat intimidasi Galen yang menyesakkan napasnya.
Sementara itu, di sisi lain koridor lantai dua, sebuah bantingan pintu yang jauh lebih keras menggema saat Galen masuk ke dalam kamar mewah miliknya.
Galen melempar kunci mobil Mercedes-Benz miliknya ke atas meja nakas dengan kasar hingga benda logam itu berdenting nyaring. Pria itu menyentak dasi hitamnya yang sudah longgar, lalu membuka tiga kancing teratas kemejanya secara paksa hingga beberapa benangnya nyaris putus.
Aura di dalam kamar luas itu seketika mendingin, pekat oleh amarah Galen yang masih membara dan belum juga padam sejak perjalanan pulang tadi.
"Sialan. Gadis pembangkang tidak tahu diuntung," Desis Galen tajam, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya membelah keheningan kamar.
Galen melangkah lebar menuju kamar mandi mewahnya yang berlapis marmer hitam. Ia menyalakan keran bathtub, membiarkan air hangat perlahan memenuhi bak berendam berukuran besar tersebut.
Sembari menunggu bak penuh, Galen menanggalkan seluruh pakaian formalnya, menampilkan proporsi tubuhnya yang atletis, kokoh, dengan otot-otot dada dan perut yang tampak menegang kaku akibat sisa emosi yang tertahan.
Pria itu melangkah masuk, lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hangat hingga batas dada. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke tepi bak berendam, memejamkan mata elangnya rapat-rapat.
Namun, alih-alih merasa rileks, bayangan wajah berani Freya di dalam mobil tadi justru kembali berputar di dalam kepalanya.
Kata-kata nekat yang keluar dari bibir ranum Freya yang menantangnya terus-menerus berdengung di telinganya bagai lebah yang mengusik ketenangannya.
"Aku memang gadis murahan. Aku juga gadis pembawa sial yang sudah menghancurkan hidup Kakak. Puas?!"
Mengingat kalimat lancang itu, Galen seketika membuka matanya. Sepasang mata elangnya berkilat tajam memancarkan kemarahan kegelapan yang mendidih.
Tangan kanannya yang berada di dalam air mendadak mengepal begitu kuat hingga urat-urat lengannya menonjol tegang di bawah permukaan air.
"Dia benar-benar menguji batas kesabaran saya," geram Galen berbisik, suaranya sarat akan intimidasi yang kaku.
Di mata Galen, Freya kini bukan lagi sekadar anak yatim piatu yang menumpang hidup di rumahnya.
Gadis tujuh belas tahun itu telah menjelma menjadi sosok pembangkang yang keras kepala, liar, dan sangat sulit untuk dikendalikan.
Keberanian Freya yang terang-terangan menatap matanya tanpa rasa takut di mobil tadi benar-benar telah menginjak-injak harga diri dan otoritas dewasanya sebagai seorang pria dominan.
"Kau pikir kau bisa lepas dan mengatur jarak dari saya setelah semua kekacauan ini, hm?". Galen mendengus sinis, seulas senyum smirk yang teramat dingin dan kejam terukir di sudut bibir tipisnya.
Air hangat di sekelilingnya sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan hatinya. Di dalam benak Galen, ego dan hasrat posesifnya yang liar justru kian mengakar kuat.
Ia bersumpah di dalam hati tidak akan membiarkan peliharaan kecilnya itu membangkang lebih jauh lagi. Galen akan memastikan bahwa kebebasan Freya tetap berada di bawah genggaman tangannya, seberapa keras pun gadis itu mencoba untuk melawan.
***