Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Mungkin bagi sebagian orang menikah karena perjodohan itu sesuatu yang di kekang dan terkesan sangat memaksakan. Terlebih lagi menikah di usia dini di mana ego masih tinggi-tingginya. Belum adanya kepercayaan yang mengakibatkan mudahnya memantik api pertengkaran, kesalah pahaman antar pasangan.
Hasby dan Hawa menyadari hal itu,mereka mencoba belajar dan membangun hubungan yang di mulai dengan perjodohan ini.
Mereka belajar dari saling percaya dan komunikasi aktif dan jujur. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman seperti kemarin.
Matahari mulai menyembul dari ufuk timur, sinar hangatnya mulai menyapa pagi yang cerah. Hawa menyiapkan sarapan bersama Mama dan Bik Im.
Hasby tengah belajar di kamarnya dengan tenang sembari terdengar burung berkicau merdu. Angin pagi berhembus membuat gorden menari-nari dan membawa aroma rumput basah.
Setelah sarapan siap semua di meja makan, Hawa meminta izin Mama ke kamar untuk mandi dan memanggil Hasby untuk sarapan.
Dirinya memakai gamis berwarna peach senada dengan kerudungnya. Memakai tas kecil yang bisa memuat note book, handphone dan dompet.
Ia berencana pergi ke perpustakaan umum bersama Asrina, mereka janjian di sana karena akan mengerjakan tugas dari sekolah. Selama libur sekolah banyak sekali tugas yang di berikan.
Hawa keluar dari kamar dan melihat Hasby tengah menutup pintu kamarnya pelan. Pandangannya saling bertemu, membuat pipi Hawa merona merah, teringat kejadian semalam di kamar suaminya itu.
Telinga Hasby juga memerah, ekspresi wajahnya tetap saja datar. Hawa mendengus melihat suaminya bersikap biasa saja. Huft.
Hasby berjalan lebih dulu, Hawa mengikutinya dari belakang. Mereka sampai diruang makan yang ternyata sudah ada Papa, Mama dan Om Damar duduk sembari mengobrol santai.
Ketika melihat Hasby dan Hawa mendekat, mereka tersenyum hangat.
"Ayo kita sarapan, Mama udah lapar," Mama dengan cepat mengambilkan sarapan untuk Papa.
Hawa mengikuti sang Mama, ia melayani suaminya.
"Nasib jomblo,, nggak ada yang ngambilin makan," ucap Om Damar memasang raut sedih, pura-pura memelas sembari mengambil sarapan sendiri.
"Makanya cepat cari gandengan!" ucap Papa tegas.
Mama dan Hawa terkekeh pelan menanggapinya.
"Aku ada teman Om, mau?" Hasby melirik Om nya sembari makan.
"Siapa? Umur berapa?" Om Damar mengernyitkan dahi.
"Janda umur 38 tahun," dengan muka datarnya Hasby menjawab.
Mata Om nya melotot ke Hasby, Hasby cuek, sedangkan Papa geleng kepala. Mama dan Hawa tertawa pelan.
Hasby tidak mau mendengar omelan Om nya lantas pamit pada kedua orang tuanya. Hasby beranjak keluar menuju garasi, kare pulang pergi sekolah sendirian, dia selalu memakai motornya.
" Kak, aku nanti mau izin ke perpustakaan ya, mau ngerjain tugas bareng Asrina," ucap Hawa setelah salim pada Hasby di teras rumah.
"Bareng sampai depan atau di anter kang Udin?" tanya Hasby menatap Hawa.
"Jalan aja kak,"
"Nggak, bareng aku aja," ucap Hasby dengan tegas.
" Ya udah kak, tunggu aku pamit dulu sama Papa, Mama," Hawa memutar langkah kakinya panjang keruang makan.
Setelah berpamitan kepada semuanya ia menyusul suaminya ke halaman. Hasby sudah duduk di atas motornya sambil memegang helm untuk Hawa. Hawa mendekat dan Hasby memakaikan helm pada istrinya.
Detak jantung keduanya sedang tidak normal, moment manis itu terlihat oleh Mama di dekat jendela. Sengaja sekali ingin melihat anak dan menantunya pergi bersama.
Mama senyum-senyum sendiri, bahagia, ternyata anak-anaknya bisa menerima perjodohan ini dengan lapang dada. mama memandangi mereka sampai tidak terlihat lagi, karena Hasby sudah melajukan motornya dari tadi.
Mama kembali ke ruang makan dan melanjutkan sarapannya tadi bersama suami dan iparnya.
"Mas, semalam Ajik ngabarin soal Hasby dan Hawa yang di kejar seseorang mengendarai mobil,, siapa mereka?" tanya Damar menatap lurus kakaknya itu.
"Iya, makanya aku nyuruh Ajik dan temannya itu," Papa menerawang jauh " aku nggak habis pikir, kenapa masalah yang sudah lama selesai harus diungkit lagi," gumamnya pelan.
"Apa itu Pak Budi? Ayah dari Tiar Azani?" Damar menatap lurus kakaknya, terlihat lebih mendesak.
"Iya, anaknya pernah datang menemui Hasby dan Hawa. Aku sebenernya tidak ingin menekan atau menghancurkan mereka. Tapi mereka selalu mengusik anakku, sama saja mengusik diriku," jelas Papa dengan senyum prihatin.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku mas?" tanya Mama, merasa tidak tahu menahu semua itu. Mama pikir yang dulu sudah tidak akan terulang lagi. Tapi sekarang malah melibatkan Hawa, menantu kecilnya.
"Maaf mbak, aku nggak ingin mbak banyak pikiran. Tapi tenang aja mbak, nanti kita urus kok. Nggak mungkin kita biarin Hasby dan Hawa kenapa-napa," kata Damar mencoba meyakinkan iparnya itu, sembari melirik kakaknya meminta dukungan.
Papa mengangguk tegas dan menatap istrinya lekat " Maaf Mah, benar kata Damar, kita pasti akan menjaga mereka. Kamu yang tenang,"
"Gimana aku mau tenang Pah, kalau anak-anakku dalam bahaya seperti itu, apalagi Hawa tidak tahu menahu tentang masalah ini," Mama menatap suaminya dengan sendu.
"Iya Papa tahu Mah, makanya kita harus menjaga mereka. Damar ayo cepat ke kantor, ada rapat sebentar lagi!" ucap Papa tegas pada adiknya itu. Mama menganggukkan kepalanya pelan.
Papa beranjak dari kursinya, menuju ruang kerja mengambil tas dan berkas-berkas bahan meeting hari ini. Sejak Hasby ujian, semua kerjaan kantor diambil alih oleh Om Adi dan Papa.
Damar berangkat bersama Papa, Damar mengemudikan mobil cepat karena mengejar waktu. Sebagai seorang pebisnis, waktu adalah uang. Jadi mereka tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa hasil.
●●●
Hasby mengantar Hawa sampai tempat tujuan, lalu dirinya menarik gas sampai ke sekolah guna mengikuti ujian.
Hawa diturunkan di perpustakaan tempat janjian dengan Asrina, karena masih terlalu pagi. Hawa memutuskan bersantai di taman kota yang terletak di samping gedung perpustakaan umum itu.
Menampilkan tontonan yang indah bagi Hawa, burung-burung merpati yang berterbangan mengikati taman, dan ada Aviary di sudut taman, banyak jenis burungnya. Hawa melihat dengan tenang sesekali tersenyum melihat burung-burung itu berebut makanan. Setelah puas Hawa melangkahkan kaki ke tengah taman yang terdapat air mancur yang terlihat menyegarkan. Bunyi gemericik menambah suasana menenangkan.
Tanpa di sadari Hawa, ternyata ada seorang perempuan yang berjalan mendekatinya.
"Hai,,kita ketemu lagi," ucapnya tersenyum ceria.
Hawa menoleh dan mencoba mengingatnya, ternyata ini perempuan yang datang ke rumah waktu itu.
" Iya kak, ketemu lagi," Hawa tersenyum lembut, berusaha tenang. Walau ia tahu siapa perempuan itu.
"hm boleh ngobrol bentar?"
" Boleh, silahkan kak," ucapnya ramah.
"oiya kita belum kenalan,, kenalin gue Tiar dan loe?" tanyanya ramah.
"Aku Hawa kak," jawab Hawa singkat.
" Sudah lama kenal Hasby?" tanyanya penasaran.
"Udah Kak, kakak ada hubungan apa sama kak Hasby?" Hawa bertanya dengan tenang tapi tegas, menatap lurus mata Tiar.
"Aku pacarnya Hasby, tapi sekarang Hasby menjauh dariku. Apa kamu penyebabnya?" dengan sarkasnya Tiar menatap sinis pada Hawa.
"Maaf kak, mungkin anda salah paham," ucap Hawa mencoba tetap tenang agar tidak terpancing oleh mantan suaminya itu.
"Salah paham apa? Asal kamu tahu dulu Hasby pernah menyentuhku,, aku minta tolong sama kamu supaya pergi dari kehidupan Hasby. Biar aku dan dia bersama lagi tanpa gangguan orang ketiga," jelasnya dengan tegas, tatapannya tajam kepada Hawa.
Hawa membeku beberapa detik setelah mendengar suaminya pernah menyentuh perempuan di depannya ini. Apa yang di dengarnya itu semua benar. Ia harus memendam semua informasi ini dulu. Ia tidak ingin menganggu Hasby yang tengah ujian.
"Maaf kak, saya tidak tahu. Apa benar ucapan anda itu?" tanya Hawa lembut, mencoba tetap sopan.
"Tentu saja benar, jadi kamu pergi yang jauh jangn kembali lagi!" sedikit meninggi suara Tiar karena Hawa seperti tidak mempercayainya.
Hawa terdiam mencoba tersenyum menatap Tiar. Tiar berdiri dengan menghembuskan napas kasarnya.
"Inget pesanku, tinggalkan Hasby kalau kamu mau aman!" ucap Tiar penuh penekanan pada Hawa. Tiar berlalu dari tempat Hawa duduk.
Hawa hanya memandang kosong air mancur yang menari-nari di depannya. Perasaannya bimbang.