Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Berita tentang pasokan dari istana yang dikurangi dan kondisinya yang rusak ketika sampai di Draven sudah menyebar ke seluruh benteng dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Hampir semua orang membicarakan hal tersebut dan kecemasan dari para prajurit pun mulai meningkat.
“Tuan Evren, anda beberapa kali ikut rapat bersama dengan para petinggi kan?” tanya seorang prajurit kepada Evren.
Evren yang sedang bersiap untuk melakukan patroli pun menoleh ke samping dan tersenyum tipis. Ia sedikit bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
“Kenapa?”
Para prajurit tersebut terdiam dan saling melirik satu sama lain. Jelas sekali di wajah mereka ada banyak pertanyaan, namun tidak satupun dari mereka yang berbicara.
“Mau tanya soal pasokan dari istana?” tebak Kaelen dengan tepat sasaran.
Para prajurit yang berkerumun itu langsung mengangguk dengan kompak.
“Intinya, kalian tidak akan kelaparan selama musim dingin ini. Jangan terlalu khawatir, fokus saja pada tugas kalian,” ucapnya lalu langsung pergi untuk melakukan patroli sesuai jadwalnya.
Menurutnya saat ini menjaga ketenangan pasukan lebih penting daripada menggembar gemborkan krisis ini sebelum ada solusi pasti. Hal ini juga selaras dengan pesan Kaelen kepada semua orang yang ikut dalam rapat kemarin.
“Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat semua orang panik, stok cadangan setidaknya aman untuk melewati musim dingin ini. Selama semua orang mau bekerja sama dan bekerja keras, kita bisa hidup lebih baik meskipun keadaannya terbatas,” ucap Kaelen mengakhiri pertemuan kemarin.
Sementara itu di tempat latihan prajurit, Jax mendengar para prajurit berbisik-bisik. Awalnya ia tidak peduli dan hanya fokus dengan latihannya sendiri. Namun, saat kata istana terucap dari salah satu mulut prajurit, ia langsung berhenti dan menoleh.
“Istana sengaja menargetkan Draven, kemarin bahan makanan yang dikirim semuanya sudah rusak, bahkan kita tidak diberi pakaian musim dingin,” ucap seorang prajurit.
Jax berdiri mematung di tempatnya. Kaisar yang ia kenal sangat bijak dan tidak mungkin mengorbankan prajuritnya begitu saja. Apalagi ini adalah prajurit yang menjaga perbatasan, menjaga perdamaian di dalam negeri selama bertahun-tahun sejak Alterus berdiri. Ada banyak pahlawan di tempat ini, jadi tidak mungkin Kaisar melakukan hal seperti itu.
Ia pun menggelengkan kepalanya dan melanjutkan latihannya. Mencoba mengabaikan setiap gosip yang masuk ke telinganya. Gosip hanyalah gosip, tidak ada yang bisa menjamin kebenarannya.
Saat waktu makan siang tiba, Jax langsung pergi ke tenda dapur untuk mengambil jatah makannya. Ia melihat ada daging sapi dan daging ayam. Padahal selama beberapa terakhir, mereka hanya menyiapkan sedikit daging sapi atau babi saja. Jax menghela nafas lega karena merasa yakin kalau gosip itu hanyalah gosip murahan.
“Tumben lauknya enak semua hari ini?” tanya seorang prajurit kepada pekerja dapur yang bertugas membagikan makanan.
“Tuan Xavier meminta kita memasaknya daripada dagingnya membusuk, ayamnya juga sudah mau mati jadi disembelih sekalian,” ucapnya dengan tangan yang masih sibuk membagikan makanan kepada prajurit lain.
“Bukankah Tuan Xavier memiliki cara untuk mengawetkan daging?” tanya prajurit tersebut.
“Benar, bukankah ayam juga sedang diternak?” seru prajurit lainnya.
“Bahan yang datang kali ini kualitasnya sangat buruk, dagingnya kalau tidak segera dimasak bisa busuk semua, ayamnya bahkan sebagian besar sudah hampir mati.”
Jax yang mendengar itu pun terdiam di tempatnya. Bahkan ketika prajurit lain menyenggolnya karena menghalangi jalan, ia tetap tidak bergeming.
“Kalian tau? gandumnya saja sudah apek, kalau bukan karena Tuan Xavier, mungkin gandumnya akan dibuang semua,” ucap pekerja tersebut setengah berbisik namun suaranya masih cukup keras untuk didengar banyak orang.
Jax mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras dan urat di tangan serta lehernya semakin menonjol. Ia mengembalikan lagi makanan yang sudah diambil dan langsung bergegas kembali ke tendanya. Mengambil selembar kertas dan juga kuas. Saat tangannya akan menggoreskan huruf pertama di atas kertas, seorang prajurit memanggilnya dari luar tenda.
“Tuan Jax!”
“Ya?”
Jax keluar dari tendanya dan melihat seorang prajurit berdiri sambil menggenggam sepucuk surat.
“Ada surat untuk anda.”
“hm, terimakasih.”
Jax melihat cap istana di atas surat tersebut dan segera membuka segelnya. Membaca isi suratnya lalu tangannya terkulai ke sisi tubuhnya. Kemudian tangannya meremas surat tersebut hingga tidak berbentuk.
‘Awasi apa yang dilakukan Lysander untuk Draven, jangan laporkan hal remeh lagi.’
“aku harus mengawasi orang yang sedang berjuang untuk kelangsungan hidup seluruh Draven, sebenarnya untuk apa?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Kaisar bahkan tidak menjelaskan apapun tentang pengurangan jatah untuk Draven. Jangankan menjelaskan, bertanya tentang keadaan Draven pun tidak. Kaisar hanya sibuk memintanya mengawasi orang-orang yang sedang berjuang untuk Draven.
Merasa pikiran dan hatinya semakin tidak tenang, akhirnya Jax memutuskan untuk kembali ke arena latihan. Ia harus terus bergerak untuk mengalihkan pikirannya yang terlalu berisik. Saat berjalan melewati halaman yang cukup luas, ia melihat Xavier bersama tiga orang prajurit sedang menggotong beberapa karung. Mereka menggelar alas yang ukurannya sangat besar di atas sebuah papan kayu setinggi sekitar tiga puluh senti dari permukaan tanah yang tertutup salju, kemudian menuangkan isi karung ke atas alas tersebut.
Jax melihat waktu seharusnya masih di jam makan siang. Biasanya setelah makan, prajurit lain akan memilih menghabiskan sisa waktunya untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatannya. Tapi pemuda bangsawan itu malah melakukan pekerjaan di bawah terik matahari.
“Apa yang sedang dilakukannya?”
Seorang prajurit yang sedang lewat ikut menoleh saat tanpa sengaja mendengar pertanyaan Jax yang entah ditanyakan kepada siapa.
“Kamu tidak tahu?”
Jax langsung menoleh ke samping saat tiba-tiba mendengar suara seseorang.
“Xavier sedang menjemur gandum yang kemarin baru saja datang dari istana, katanya gandumnya sudah menggumpal dan lembab, bau apek juga.”
“Kenapa harus dijemur?”
“Biar bisa diolah dan disimpan beberapa hari lagi. Kalau tidak, mungkin besok semua tumpukan karung berisi gandum itu sudah masuk ke tempat pembuangan sampah.”
Setelah mengatakan itu, prajurit tersebut berjalan pergi begitu saja. Jax masih ingat dengan kalimat yang diucapkan oleh pekerja dapur tadi, ucapannya hampir sama.
Akhirnya ia melanjutkan langkahnya menuju ke arena latihan. Setelah sampai, Jax langsung memulai latihannya seorang diri. Baru sebentar ia mulai, seorang prajurit datang dan memintanya untuk berkumpul di halaman depan tenda Komandan.
“Tuan Jax, anda diminta untuk berkumpul di halaman tenda Komandan.”
“Untuk apa?”
“Tidak tahu, saya hanya diminta untuk menyampaikan saja,” ucapnya kemudian langsung pergi.
Jax mengambil sebuah kain bersih yang selalu ia bawa. Mengelap keringat yang baru saja keluar lalu meminum seteguk air untuk menghilangkan dahaga. Setelah itu ia berjalan menuju ke halaman tenda Sang Komandan.
Di sana ternyata sudah banyak prajurit yang berkumpul. Bahkan di antara mereka ada Evren juga. Jax langsung masuk ke dalam barisan dan memilih berdiri di tepi yang jauh dari Evren.
Tidak lama kemudian Kaelen, Lysander, Tuan Alaric dan Gavin keluar dari tenda. Kaelen maju selangkah dan berdiri paling depan. Menarik nafas dalam dalam sebelum mulai berbicara.
“Semuanya, mulai hari ini kita akan membentuk kelompok untuk berburu!” Serunya membuat para prajurit saling melirik dan berbisik-bisik.
“Aku yakin kalian pasti sudah tahu kalau benteng kita bekerjasama dengan warga desa untuk mulai beternak, hewan seperti ayam yang dikirim dari istana akan diberikan ke warga desa untuk diternak. Sedangkan kita tidak bisa hanya bergantung pada daging sapi atau babi saja. Karena itu, aku memutuskan untuk membentuk kelompok berburu.”
“Kalau kita berburu, bagaimana dengan latihan kita?” tanya seorang prajurit yang diangguki oleh prajurit lainnya.
“Berburu bisa sekaligus untuk menunjukkan hasil latihan kalian selama ini. Selain itu, kelompok berburu ini tidak tetap anggotanya, nantinya akan diberikan jadwal dengan anggota yang bisa berubah.”
Kaelen menatap seluruh prajurit yang berdiri di hadapannya.
“Satu kelompok berburu akan mendapat giliran satu kali dalam seminggu. Aku berencana membuat tujuh kelompok besar.”
“Lalu, kelompok berburu tidak hanya bertugas mencari hewan buruan. Jika selama berada di hutan kalian menemukan tanaman yang bisa dimakan atau obat-obatan, bawa semuanya kembali.”
Para prajurit kembali berbisik-bisik, tetapi tidak ada satu pun yang membantah.
“Komandan, lalu bagaimana dengan jadwalnya? Apa sudah dibuat?”
“Sudah. Ingat, jadwal ini hanya bersifat sementara. Anggota kelompok bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan dengan jadwal patroli di benteng. Jadwal akan ditempel setiap malam Minggu.”
“Baik!” jawab semua prajurit serempak.
Kemudian Kaelen menjelaskan tentang kawasan yang boleh didatangi selama berburu. Karena mereka berada di garis perbatasan, tentu saja hal ini harus menjadi perhatian utama agar tidak menimbulkan masalah ke depannya.
“Ingat! keselamatan yang utama, kalau bertemu hewan buas dan kalian tidak mampu untuk melawannya, segera kembali!”
“Baik Komandan!”