Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Pesawat yang membawa Evan akhirnya mendarat di Indonesia.
Setelah berbulan-bulan berada jauh dari tanah kelahirannya, seharusnya kepulangan itu memberikan rasa lega. Namun yang Evan rasakan justru sebaliknya.
Ada kegelisahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar hilang. Begitu keluar dari area bandara, Evan langsung masuk ke kendaraan yang sudah disiapkan Rio.
Ia mengenakan pakaian sederhana, topi menutupi sebagian wajahnya, dan masker menutup wajah hingga nyaris tidak ada yang mengenalinya.
Rio sendiri tidak datang menjemput. Mereka sepakat untuk tidak bertemu secara langsung di tempat yang mudah dikenali.
Pengemudi yang membawa Evan pun hanya mengetahui bahwa penumpangnya adalah seorang pasien yang membutuhkan privasi.
Perjalanan berlangsung dalam diam. Evan menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota yang sudah lama tidak dilihatnya berlalu satu per satu.
Indonesia. Ia akhirnya kembali. Tetapi bukan untuk pulang ke rumah. Bukan untuk menemui keluarganya. Bukan untuk mengumumkan bahwa dirinya masih hidup. Ia kembali sebagai seseorang yang seharusnya sudah mati.
Tempat yang disiapkan Rio berada cukup jauh dari pusat kota. Sebuah rumah yang tenang dengan halaman luas dan pagar tinggi. Tidak mencolok, tetapi cukup aman untuk menyembunyikan seseorang.
Begitu kendaraan berhenti, seorang pria paruh baya keluar dari rumah. Dokter pribadi Evan.
“Selamat datang, Pak Evan.”
Evan mengangguk. “Bagaimana kondisi tempat ini?”
“Aman.”
“Tidak ada yang tahu saya di sini?”
“Tidak.” Dokter itu kemudian mengambil tas Evan. “Bapak masih harus berhati-hati. Kondisi tubuh Bapak memang sudah jauh membaik, tetapi belum sepenuhnya pulih.”
“Aku tahu.”
“Jangan terlalu banyak aktivitas.”
Evan hanya mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah. Tempat itu cukup nyaman. Ada kamar tidur, ruang kerja, ruang pemeriksaan sederhana, dan segala kebutuhan yang diperlukan selama masa pemulihan.
Namun bagi Evan, rumah itu terasa seperti tempat persembunyian. Ia berdiri di depan jendela. Dari tempat itu, tidak ada seorang pun yang akan tahu bahwa ia masih hidup. Dan itulah yang ia inginkan. Setidaknya untuk sementara.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rio masuk.
'Semuanya aman, Pak. Jangan keluar tanpa pengawalan.'
Evan mengetik singkat.
'Baik.'
Ia meletakkan ponsel. Namun beberapa menit kemudian, ia mengambilnya kembali. Jarinya membuka galeri.
Sebuah foto Indri tersimpan di sana. Evan menatapnya lama.
“Kenapa aku masih melakukan ini?”
Tidak ada jawaban.
Sementara itu, di rumah Haris, persiapan pernikahan semakin sibuk. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Undangan mulai dipersiapkan. Pakaian untuk akad sudah dipilih.
Cinta membantu Indri mengurus berbagai kebutuhan kecil yang tidak sempat dipikirkan sebelumnya. Haris juga terlihat jauh lebih bahagia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa kehidupan putrinya mulai menemukan arah.
Riko pun semakin sering datang. Ia tidak pernah berlebihan. Justru sikapnya semakin membuat Indri yakin bahwa keputusannya mungkin benar.
Namun ada satu hal yang mengganggu Indri. Perasaan aneh. Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa seperti sedang diperhatikan.
Awalnya ia menganggap itu hanya perasaannya. Mungkin karena pikirannya sedang terlalu banyak memikirkan pernikahan.
Namun perasaan itu semakin sering muncul.
Ketika ia pergi memilih perlengkapan pernikahan. Ketika mengunjungi tempat akad. Bahkan ketika sedang berada di sebuah toko bersama Cinta.
Indri beberapa kali menoleh.
Seolah ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.
“Kenapa?” tanya Cinta ketika melihat Indri menoleh.
“Tidak tahu.” Indri mengerutkan kening. “Aku merasa seperti ada yang memperhatikanku.”
Cinta tersenyum. “Mungkin karena kamu sekarang sedang menjadi calon pengantin.”
Indri tertawa kecil. “Mungkin.”
Ia kembali berjalan. Tanpa menyadari bahwa beberapa meter di belakang mereka, seorang pria berdiri mengenakan topi dan masker. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari Indri. Evan.
Evan sendiri tidak mengerti mengapa ia berada di sana. Ia seharusnya tetap tinggal di rumah. Dokter sudah memintanya banyak beristirahat. Rio juga sudah memperingatkan agar ia tidak mengambil risiko.
Namun ketika mengetahui Indri akan pergi bersama Cinta, Evan justru merasa ingin melihatnya.
Sekali saja. Hanya untuk memastikan bahwa Indri baik-baik saja. Begitulah alasan yang ia gunakan kepada dirinya sendiri.
Tetapi setelah melihat Indri berjalan sambil tersenyum, Evan justru merasa lega. Perempuan itu tampak lebih tenang. Tidak seperti dulu. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya. Tidak ada lagi bayangan dendam.
Evan berhenti di depan sebuah toko. Dari kejauhan ia melihat Indri memilih beberapa barang. Riko kemudian datang. Mereka berbicara. Indri tersenyum.
Evan menunduk. Entah mengapa senyum itu membuat dadanya terasa sesak. “Seharusnya aku tidak peduli.”
Ia mengulang kalimat yang sama. Namun matanya kembali mencari Indri. Ketika Riko berdiri di samping perempuan itu, sesuatu dalam hati Evan terasa semakin tidak nyaman.
Ia memalingkan wajah. “Aku tidak punya hak.” Evan menarik napas. “Dia bukan siapa-siapaku.” Tetapi kakinya tidak bergerak. Ia tetap berdiri di sana. Mengawasi.
...
Hari berikutnya, Evan kembali keluar.
Kali ini Indri sedang mencoba pakaian untuk pernikahannya. Evan berdiri cukup jauh dari tempat tersebut. Topi dan masker kembali menjadi penyamarannya. Ia melihat Indri keluar dari ruangan dengan pakaian yang dipilih.
Cinta tersenyum. “Cantik.”
Indri melihat dirinya di cermin. “Benarkah?”
“Benar.”
Indri tersenyum malu.
Evan terpaku. Untuk sesaat, ia seperti lupa bernapas. Perempuan yang dahulu selalu dilihatnya dalam ketakutan kini tampak berbeda. Lebih tenang, lebih dewasa. Dan sebentar lagi akan menjadi istri orang lain.
Evan menunduk. “Apa yang sebenarnya aku lakukan di sini?” Ia tidak mendapatkan jawaban. Namun hatinya kembali memaksanya untuk tetap tinggal.
Malam harinya, Evan kembali ke tempat persembunyian.
Dokter langsung menyadari wajahnya terlihat lebih lelah.
“Bapak keluar lagi?”
Evan diam.
“Saya sudah meminta Bapak beristirahat.”
“Aku hanya sebentar.”
Dokter menghela napas. “Bapak harus memikirkan kesehatan.”
Evan duduk. “Aku tahu.”
“Kalau terus seperti ini, pemulihan Bapak akan lebih lama.”
Evan menatap lantai. “Ada seseorang yang harus aku pastikan baik-baik saja.”
Dokter tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya memeriksa kondisi Evan. Tekanan darahnya sedikit meningkat. “Bapak terlalu banyak berpikir.”
Evan tersenyum hambar. “Mungkin.”
Malam semakin larut. Evan berdiri di depan jendela. Ia tahu apa yang sedang dilakukan dirinya. Ia mengawasi Indri diam-diam. Tanpa sepengetahuan perempuan itu.
Namun semakin sering ia melakukannya, semakin ia tidak mampu memahami perasaannya sendiri. Apakah karena rasa bersalah? Apakah karena kekhawatiran? Ataukah karena ia belum benar-benar mampu melepaskan Indri?
Evan memejamkan mata.
“Aku hanya ingin memastikan dia bahagia.”.Ia mencoba mempercayai kalimat itu. Tetapi suara kecil dalam hatinya berkata lain. Karena jika hanya ingin memastikan Indri baik-baik saja, mengapa ia merasa begitu gelisah setiap kali melihat Riko berada di dekat perempuan itu?
Mengapa dadanya terasa berat setiap kali melihat persiapan pernikahan? Dan mengapa ia terus kembali meskipun tahu dirinya seharusnya tidak berada di sana?
Evan tidak menemukan jawabannya.
Sementara itu, Indri kembali ke kamar malam itu. Ia berdiri di depan jendela dan memandang halaman. Perasaan diawasi itu kembali muncul. Ia mengerutkan kening.
“Siapa?”
Tidak ada siapa-siapa. Hanya jalan yang sunyi dan lampu malam. Indri menutup tirai. Ia tidak tahu bahwa beberapa kilometer dari sana, seseorang sedang memandang foto dirinya di layar ponsel. Evan.
Pria yang diyakininya telah mati. Pria yang seharusnya sudah menjadi masa lalu. Pria yang kini diam-diam kembali ke kehidupannya sebagai bayangan. Dan semakin dekat hari pernikahan Indri dan Riko, semakin sulit bagi Evan untuk membedakan antara keinginan melindungi dan ketakutan kehilangan.
Lanjut thor 👍👍