Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Sang Ayah
Bu Arma tertegun sejenak, lututnya terasa lemas karena tidak menyangka para konglomerat internasional orang tua Sean itu akan datang langsung mengunjungi mereka di tempat sederhana ini. Dengan buru-buru, Bu Arma menyambut uluran tangan Margaret, sementara Pak Pamuji mencoba mengangkat tubuhnya dari kursi roda untuk memberikan penghormatan.
"Silakan duduk, silakan... Maafkan keadaan kami yang seadanya ini," ucap Pak Pamuji dengan suara parau, berusaha menyembunyikan rasa kikuk di hatinya.
Margaret langsung menggeleng pelan, lalu berjalan mendekati kursi roda Pak Pamuji. Wanita paruh baya itu meletakkan tangannya di atas bahu pria tua tersebut dengan penuh kehangatan. "Tidak perlu meminta maaf, Pak Pamuji. Justru kami yang harus meminta maaf karena baru bisa datang sekarang setelah semua badai mengerikan ini mereda."
Waisen Lee mengangguk menyetujui perkataan istrinya. Ia meletakkan sebuah map kulit hitam di atas meja tamu, lalu menatap lurus ke arah Pak Pamuji dan Bu Arma dengan tatapan yang sangat serius namun penuh rasa hormat.
"Kami datang ke sini bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai orang tua yang ingin meluruskan masa depan anak-anak kita," ucap Tuan Waisen membuka pembicaraan inti pertemuan tersebut. "Sean telah menceritakan segalanya kepada kami. Tentang bagaimana Rafa bertahan hidup, tentang betapa besar ketulusan hati putri kalian, dan tentang bagaimana keluarga ini telah diuji oleh fitnah serta kejiwaan orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Waisen menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. "Kami menyadari bahwa di masa lalu, kami sempat tertipu oleh narasi palsu dan memandang sebelah mata keluarga ini. Dan untuk itu, saya dan Margaret ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Kami ingin menebus semua kesalahan pandangan kami dengan cara merestui hubungan Sean dan Rafa secara resmi, serta... melamar Rafa untuk dipersunting oleh putra kami."
Mendengar kalimat 'melamar Rafa' terlontar langsung dari mulut Tuan Waisen Lee, air mata Bu Armayani tumpah seketika. Selama bertahun-tahun hidup dalam kesederhanaan, penderitaan, dan diserang oleh berbagai fitnah kejam yang menyebut putrinya sebagai wanita pembawa sial, mendengar pengakuan terhormat dan lamaran langsung dari keluarga konglomerat multinasional adalah sebuah keajaiban yang tidak pernah berani ia bayangkan dalam mimpi paling liarnya sekalipun.
****
Bu Arma menutup mulutnya dengan kedua tangan, isak tangis harunya pecah. Rafa yang berdiri di sampingnya langsung merengkuh tubuh sang ibu, ikut menitikkan air mata kebahagiaan.
Pak Pamuji menatap Tuan Waisen dan Nyonya Margaret dengan mata yang memerah berkaca-kaca. Pria tua itu menarik napas panjang, meresapi setiap detik ketulusan yang terpancar dari wajah orang tua Sean. Sebagai seorang ayah yang pernah melihat putrinya dihancurkan habis-habisan oleh pernikahan masa lalu yang penuh kepalsuan, hati Pak Pamuji diselimuti oleh perasaan emosional yang luar biasa mendalam.
Pak Pamuji perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Sean Andrew Lee yang berdiri di samping ibunya dengan senyuman penuh harap.
"Tuan Waisen, Nyonya Margaret..." suara Pak Pamuji bergetar hebat, sarat akan pengalaman hidup dan beban batin yang berat. "Bagi kami orang biasa, harta dan kedudukan bukanlah segalanya. Yang paling berharga di dunia ini bagi kami adalah kebahagiaan dan keselamatan putri tunggal kami, Rafa."
Sean menelan ludahnya perlahan, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir calon ayah mertuanya dengan penuh perhatian.
"Rafa pernah melalui masa-masa paling gelap dalam hidupnya," lanjut Pak Pamuji, suaranya sedikit serak menahan tangis. "Dia pernah dipaksa masuk ke dalam pernikahan yang salah... pernikahan dengan Evan Wirya Negara yang dipenuhi oleh tipu muslihat, kebohongan, dan berakhir dengan kehancuran total serta huru-hara yang hampir merenggut nyawanya."
Mendengar nama Evan disebut, ekspresi di wajah Sean mengeras sesaat, mengingat bagaimana pria brengsek itu hampir menghancurkan hidup wanita yang dicintainya.
****
Pak Pamuji menatap tajam ke dalam mata Sean, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan penuh tanggung jawab seorang ayah. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, menunjuk ke arah Sean.
"Sean nak..." ucap Pak Pamuji dengan suara yang ditegaskan. "Aku melihat bagaimana kamu berjuang menyelamatkan Rafa, bagaimana kamu datang melintasi lautan, dan bagaimana kamu berdiri di sisinya saat seluruh dunia memusuhinya. Tapi ingatlah satu hal dari seorang ayah..."
Sean melangkah maju selangkah, menundukkan sedikit tubuhnya dengan penuh takzim mendengarkan pesan calon mertuanya.
"Aku menyerahkan Rafa kepadamu bukan untuk kamu sakiti, bukan untuk kamu jadikan bayang-bayang masa lalu, dan bukan untuk kamu biarkan menangis di atas penderitaan," ucap Pak Pamuji dengan air mata yang akhirnya tumpah menuruni pipinya yang keriput. "Jangan pernah biarkan Rafa merasakan kesedihan yang sama seperti saat pernikahannya yang dulu gagal total. Jaga dia, lindungi dia dengan seluruh jiwa raganya, dan cintai dia dengan ketulusan yang tidak bersyarat. Berjanji padaku, Sean?"
****
Suasana di dalam ruangan paviliun itu mendadak hening seketika. Semua mata tertuju pada Sean.
Tanpa ragu sedikit pun, Sean melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan kursi roda Pak Pamuji. Tindakan spontan dari seorang taipan besar asal Singapura itu membuat Bu Arma dan Margaret tertegun. Sean meraih tangan tua Pak Pamuji dengan kedua tangannya, mencium punggung tangan pria paruh baya itu dengan takzim.
"Pak Pamuji, Bu Arma..." suara Sean terdengar sangat mantap, berat, namun bergetar karena ketulusan yang teramat dalam. "Saya, Sean Andrew Lee, bersumpah di hadapan kalian berdua... Di sisa hidup saya, saya tidak akan pernah membiarkan sebutir air mata kesedihan pun jatuh dari mata Rafa. Saya akan melindunginya dengan nyawa saya, membahagiakannya setiap hari, dan memastikan bahwa masa lalunya yang kelam terkubur selamanya. Saya berjanji."
Rafa yang menyaksikan pemandangan tersebut tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Isak tangis harunya tumpah ruah. Ia melihat ketulusan mutlak di mata Sean—pria yang bukan hanya mencintainya, tetapi juga menghargai keluarganya dengan sepenuh hati.
Nyonya Margaret tersenyum hangat, menyeka sudut matanya sendiri dengan tisu sutra yang dibawanya. Ia berjalan mendekat, lalu merangkul bahu Rafa dengan penuh kasih sayang.
"Sudah jangan menangis lagi, calon menantuku," bisik Margaret lembut di telinga Rafa. "Mulai hari ini, tidak ada lagi air mata kesedihan. Yang ada hanyalah persiapan untuk menyambut hari paling bahagia dalam hidup kalian."
****
Tuan Waisen Lee tertawa kecil, mencairkan ketegangan emosional di ruangan itu. Ia menepuk-nepuk lutut Pak Pamuji dengan akrab. "Nah, Pak Pamuji, sepertinya kita tidak boleh membuang-buang waktu terlalu lama. Kita harus segera merancang perhelatan pernikahan yang agung untuk anak-anak kita. Dan tenang saja, seluruh biaya dan persiapan akan ditanggung penuh oleh keluarga Lee sebagai bentuk penghormatan kami kepada keluarga Sasmita."
Pertemuan pagi itu diakhiri dengan tawa hangat, pelukan kekeluargaan, dan rencana-rencana indah mengenai gaun pengantin, tanggal pemberkatan, serta masa depan baru yang cerah. Di luar jendela paviliun, meskipun sisa reruntuhan rumah lama masih terlihat, bunga-bunga kecil mulai tumbuh di atas tanah yang subur, menjadi saksi bisu bahwa di atas abu penderitaan masa lalu, sebuah cinta yang sejati dan tulus akhirnya berhasil membangun istana kebahagiaannya yang abadi.