Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Gangguan

Hentakan besar tiba-tiba mengguncang seluruh jembatan. Sebagian kristal di tepi pecah dan jatuh ke jurang kabut. Beberapa prajurit hampir terpelanting. Bayangan hitam di dalam retakan berteriak lebih keras, seolah sedang dilukai.

Alena memejamkan mata, napasnya semakin pendek. “Raka…” bisiknya hampir tidak terdengar, “jika aku tertarik ke dalam… lepaskan aku.”

Raka memeluknya lebih erat, dahi menempel di dahi Alena, tubuhnya gemetar menahan amarah dan takut yang bercampur jadi satu. “Aku tidak akan melepaskanmu,” desisnya. “Bahkan jika aku harus menghancurkan jembatan ini dengan tanganku sendiri.”

Tapi cahaya keperakan terus menyebar. Retakan terus menyempit. Dan darah Alena… masih terus menetes.

Di kejauhan, kabut abadi bergolak seperti sedang menyaksikan pengorbanan yang tidak bisa dibatalkan. Getaran itu tidak hanya terjadi di jembatan. Di dalam Istana Bulan Emas, lantai batu juga bergetar hebat. Lampu kristal di langit-langit bergoyang, beberapa bahkan retak. Debu berjatuhan dari ukiran dinding. Suara dengungan rendah yang sama terdengar hingga ke koridor terdalam.

Para pengawal yang berjaga di seluruh sayap istana langsung panik. Perintah darurat diserukan. Sebagian besar dari mereka langsung berlari keluar menuju arah jembatan, meninggalkan pos-pos mereka karena getaran semakin kuat dan terdengar seperti ada ledakan energi besar di luar tembok.

Di Paviliun Utara, Ibu Suri yang semula duduk diam tiba-tiba berdiri. Matanya menyipit ke arah jendela. “Ini bukan getaran biasa…”

Hampir bersamaan, di paviliun Seana, gadis itu yang sedang duduk di tengah puing-puing kamarnya juga merasakan lantai bergetar. Dia bangkit cepat, wajahnya berubah dari murka menjadi waspada. Tidak lama kemudian, panel batu di kamar Ibu Suri bergeser. Pengawal pribadinya muncul dengan napas sedikit terburu.

“Yang Mulia, jembatan sedang bereaksi besar. Hampir seluruh pengawal ditarik keluar istana untuk mengamankan perbatasan. Penjagaan di dalam sedang kosong.”

Ibu Suri langsung mengambil jubahnya. “Ini kesempatan. Panggil Seana. Kita pergi melihat sendiri.”

Beberapa menit kemudian, Ibu Suri dan Seana sudah berjalan cepat di koridor yang hampir kosong. Hanya tersisa sedikit pengawal yang kebingungan, dan mereka tidak berani menahan Ibu Suri yang berjalan dengan aura dinginnya.

Seana menoleh ke ibunya, suara masih penuh amarah tertahan. “Apa yang terjadi di jembatan? Apakah Raka—”

“Lebih dari itu,” potong Ibu Suri. “Aku merasakan energi darah suci. Seseorang sedang melakukan ritual penutupan.”

Seana membelalak. “Alena? Dia nekat melakukan itu sendirian?”

Ibu Suri tidak menjawab. Langkahnya semakin cepat. Mereka keluar dari gerbang samping istana, menyusuri jalur cepat menuju jembatan. Semakin dekat, semakin jelas getaran dan cahaya keperakan yang menyembur ke langit. Kabut bergolak liar di depan mata mereka.

Saat akhirnya tiba di tepi area jembatan, pemandangan yang menyambut membuat keduanya terhenti.

Raka sedang berlutut di tengah jembatan yang retak, memeluk Alena yang pucat pasi. Lengan Alena berdarah, dan darah itu masih menetes ke kristal yang kini menyala terang. Cahaya keperakan terus merambat, menutup retakan satu per satu dengan paksa. Bayangan hitam di dalam jurang berteriak, mencoba melawan, tapi perlahan terdorong kembali.

Seana menutup mulutnya. “Dia… benar-benar melakukannya.”

Ibu Suri menatap adegan itu dengan wajah yang sulit dibaca. Ada kejutan, ada perhitungan, dan ada sesuatu yang lebih gelap.

“Darahnya sudah terikat,” gumam Ibu Suri pelan. “Jika proses ini selesai… jembatan akan tertutup selamanya. Dan Alena tidak akan pernah bisa kembali ke dunia manusia.”

Seana menoleh cepat. “Kalau begitu biarkan saja! Biarkan dia mengorbankan dirinya. Masalah jembatan selesai, dan dia hilang dari sisi kakakku untuk selamanya!”

Ibu Suri tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada Raka yang panik menahan tubuh Alena, dan pada cahaya yang semakin kuat. “Atau…” suaranya rendah, “kita biarkan proses ini hampir selesai… lalu ganggu di saat terakhir. Jika ritual gagal di tengah jalan, darah suci bisa menghisap nyawa yang menumpahkannya. Dan Raka… akan menyaksikan sendiri akibatnya.”

Seana tersenyum tipis, penuh racun. “Ibu… kadang aku takut dengan cara berpikirmu.”

Ibu Suri melangkah maju pelan, masih di luar jangkauan penglihatan Raka yang sedang fokus pada Alena. “Diam dan saksikan,” perintahnya. “Kesempatan seperti ini… tidak datang dua kali.”

Di atas jembatan, Raka tidak menyadari kehadiran dua bayangan di kejauhan. Seluruh fokusnya hanya pada Alena. Tubuh gadis itu semakin lemas dalam pelukannya, napasnya pendek, dan darah di lengan masih terus mengalir meski sudah dia tekan kuat. Cahaya keperakan dari retakan kini sudah menutup sebagian besar lubang, tapi prosesnya belum selesai. Semakin dekat ke penutupan total, semakin kuat tarikan yang menghisap tenaga Alena.

“Bertahanlah,” desis Raka, dahinya menempel di dahi Alena. “Aku minta kau bertahan. Jangan tutup mata.”

Alena mencoba tersenyum, tapi bibirnya sudah pucat. “Aku… baik-baik saja… Lihat… jembatannya… mulai menutup…”

Kael berdiri di dekat mereka, pedang terhunus, mata terus mengawasi retakan yang tersisa. “Yang Mulia, tinggal sedikit lagi! Tapi energi darahnya hampir habis tersedot. Jika dipaksakan sampai akhir, Ratu bisa—”

“Aku tahu!” hardik Raka tanpa menoleh. Suaranya pecah.

Di tepi area jembatan, Ibu Suri dan Seana masih berdiri di balik kabut tipis. Pengawal Ibu Suri yang mengikuti diam-diam sudah siap di belakang mereka.

Seana tidak sabar. “Ibu, kapan kita bergerak? Kalau ditunggu sampai selesai, dia hanya pingsan. Aku ingin lebih dari itu.”

Ibu Suri menatap proses penutupan dengan dingin. “Tunggu sampai cahaya mencapai puncak. Saat segel hampir mengunci, tarikan akan berada di titik terlemah. Itu saatnya kita ganggu. Sedikit saja… cukup untuk membuat ritual gagal di detik terakhir.”

“Dan jika gagal?” tanya Seana.

“Darah suci yang sudah terikat akan berbalik,” jawab Ibu Suri pelan. “Menghisap nyawa pemiliknya sebagai harga. Raka akan menyaksikan Alena lenyap di pelukannya sendiri. Setelah itu… dia tidak akan pernah melihatnya lagi.”

Seana tersenyum lebar. “Sempurna.”

Di jembatan, getaran mencapai puncaknya. Cahaya keperakan menyembur tinggi ke langit, membentuk kubah tipis di atas seluruh struktur. Retakan terakhir mulai menyatu. Bayangan hitam di bawah jurang berteriak lebih keras, dipaksa kembali ke sisi lain.

Alena tiba-tiba kejang dalam pelukan Raka. Cahaya samar keluar dari luka di lengannya, bercampur darah, mengalir lebih cepat ke kristal.

“Alena!” Raka semakin panik. “Kael, lakukan sesuatu!”

Kael tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menjaga agar tidak ada bayangan yang mencoba keluar lagi. Tepat saat cahaya mencapai intensitas tertinggi—Ibu Suri memberi isyarat.

Vareth bergerak cepat. Dari kejauhan, dia melemparkan sebuah batu segel kecil yang sudah disiapkan—batu yang mengandung energi pengganggu kuno. Batu itu jatuh tepat di tepi retakan terakhir yang sedang menutup.

Ledakan energi kecil terjadi. Cahaya keperakan yang semula stabil tiba-tiba berkedip liar. Aliran darah Alena yang terikat pada segel berbalik arah sesaat. Tubuh Alena kejang lebih keras, mulutnya terbuka tanpa suara, dan darah mengalir lebih deras dari lukanya.

Raka merasakan tubuh Alena tiba-tiba panas, lalu dingin ekstrem. “Tidak… tidak, tidak, tidak! Alena, dengarkan suaraku!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!