Indonesia
NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 Harga Persahabatan

Tara meletakkan kontrak Surya di atas meja sebelum aku selesai membaca pesan terakhirnya.

Nilai tahunannya membuatku berhenti bernapas selama satu detik.

Sepuluh kali lebih besar daripada pembayaran tertinggi yang pernah ia terima dari Rendra. Cukup untuk membeli apartemen kecil tanpa cicilan. Cukup untuk membayar pengobatan ayahnya, melunasi utang lama, dan hidup beberapa tahun tanpa perlu bekerja di tempat yang mungkin tutup setelah audit.

Di bagian atas kontrak tertulis pekerjaan yang terdengar terhormat.

Penasihat Risiko Hubungan Publik.

Di lampiran, tugas sebenarnya jauh lebih jujur: menjaga akses kepadaku, melaporkan perkembangan gugatan, menilai orang-orang yang mendekat, mengarahkan pilihan media, dan memulihkan kepercayaanku kepada keluarga Kalyana.

“Dia tidak lagi membayar untuk menemani,” kataku.

Tara duduk di seberang meja. “Dia membayar supaya aku membuatmu percaya lagi.”

Damar menyalakan perekam. Arum ikut hadir sebagai saksi audit. Tidak ada seorang pun menyuruh Tara menolak atau menerima. Bahkan aku belum mengatakan apa yang kuinginkan.

Ponsel Tara bergetar.

Nama pengirim tidak tersimpan, tetapi nomor itu sama dengan nomor pribadi Surya yang tercantum dalam berkas hukum.

Pesannya singkat.

Pukul 09.15 saya akan menelepon. Siapkan keputusan.

Jam di dinding menunjukkan 09.13.

“Aku bisa memblokirnya,” kata Tara.

“Kalau kamu blokir karena aku ada di sini, itu bukan pilihanmu.”

Tara menoleh kepadaku. “Kamu ingin aku angkat?”

“Terserah kamu. Kalau diangkat di sini, semua orang dengar.”

Tara membaca kontrak sekali lagi. Jemarinya berhenti pada nominal bonus penandatanganan.

Aku tahu keadaan keuangan Tara sedang tidak baik. Audit menemukan sebagian besar uang lama sudah dipakai untuk kos, pendidikan adiknya, biaya perawatan ayahnya, dan kebutuhan sehari-hari. Ia berjanji mengembalikan bagian yang masih tersisa, tetapi pengembalian itu akan memakan waktu bertahun-tahun.

Tawaran Surya bisa membereskan semua masalah itu hanya dengan satu tanda tangan.

Pukul 09.15, telepon masuk.

Tara menekan pengeras suara.

“Selamat pagi,” kata Surya. Suaranya tenang, seperti sedang membuka rapat dewan. “Saya mau tanya satu hal. Kamu mau terus mengorbankan hidupmu untuk perempuan yang belum tentu memaafkanmu?”

“Sudah.”

“Lampiran meminta saya melaporkan kegiatan Nadira.”

“Melaporkan risiko. Kamu sudah melakukannya bertahun-tahun.”

“Atas nama perlindungan yang kemudian disalahgunakan.”

“Jangan berpura-pura baru memahami nilai informasi. Kamu dibayar baik dan memakai uangnya.”

Tara tidak membela diri. “Benar.”

Surya terdiam sejenak.

“Kalau begitu kita tidak usah pura-pura soal moral,” katanya. “Kamu punya kemampuan. Saya sedang butuh orang. Nadira juga butuh seseorang yang bisa membuatnya berpikir dua kali saat emosinya naik.”

Aku tahu Damar sedang memperhatikan reaksiku. Aku tidak menyela.

Tara bertanya, “Penilaian buruk menurut siapa?”

“Menurut fakta. Kantornya diperiksa. Pernikahannya akan menjadi konsumsi publik. Dia membongkar bukti lama tanpa memahami siapa yang dapat terluka.”

“Jadi Anda ingin saya menghentikannya?”

“Saya ingin kamu membuatnya mempertimbangkan akibat.”

“Dengan berbohong bahwa saran itu datang dari saya.”

“Orang yang memberi nasihat pasti punya kepentingan. Saya cuma terang-terangan soal itu.”

Tara tertawa kecil. Tidak ada humor di dalamnya. “Anda mengirim kontrak rahasia, lalu bicara tentang pengakuan.”

“Rendra membayarmu sedikit-sedikit sampai kamu merasa berutang. Saya tidak mau cara begitu. Saya bayar langsung untuk pekerjaan yang saya minta.”

Harga penuh.

Kalimat itu membuat wajah Tara kini terlihat lebih jelas bagiku. Tidak ada marah yang meledak. Hanya rasa malu lama yang sekarang berdiri di tempat terbuka tanpa bisa disembunyikan.

“Kenapa sepuluh kali lipat?” tanyanya.

“Karena Nadira tidak lagi mudah diarahkan.”

“Apa yang membuat Anda yakin saya masih bisa?”

“Kamu tetap datang meski tidak digaji. Dia membuka pintu untukmu. Itu berarti kebiasaan lama belum mati.”

Aku mengalihkan pandangan ke pintu kaca yang kubuka pagi tadi.

Surya melihat tindakan sederhana itu sebagai celah yang dapat dibeli.

Aku hampir meminta Tara menutup telepon. Kalau aku yang mengambil keputusan itu, percakapan ini kembali berputar pada orang lain yang menentukan apa yang boleh ia lakukan.

Tara menarik kontrak mendekat.

“Bonus penandatanganannya dibayar kapan?”

Dadaku mengencang.

“Dua puluh empat jam setelah berkas masuk,” jawab Surya. “Setengah tahun pertama dibayar di muka.”

“Dan kalau saya gagal membuat Nadira percaya?”

“Kontrak dihentikan. Dana yang sudah dibayar tidak ditarik.”

“Jadi saya tetap mendapat uang meski tidak berhasil.”

“Kamu mendapat uang karena mencoba.”

Tara mengambil pena dari meja.

Tangannya bergerak ke halaman tanda tangan.

Pikiranku langsung menghitung apa arti kalau Tara menerima.

Bukan cuma soal pengkhianatan baru. Kalau Tara menerima, itu akan terasa seperti bukti bahwa tak ada orang yang tinggal tanpa harga.

Lalu Tara menulis sesuatu di bawah kolom penerima.

Ia memutar kontrak ke arah kamera Arum.

Bukan tanda tangan.

Satu kalimat memenuhi ruang kosong:

Saya menolak karena Nadira bukan pekerjaan, aset, atau risiko yang boleh dikelola.

Tara menambahkan tanggal dan paraf sebagai bukti penolakan, lalu berkata ke telepon, “Tidak.”

Suara Surya tidak berubah. “Pikirkan lagi.”

“Sudah.”

“Kamu akan kehilangan pekerjaan, uang, dan mungkin persahabatan yang sedang kamu coba selamatkan.”

“Itu akibat pilihan saya.”

“Pilihan tidak membayar tagihan rumah sakit ayahmu.”

Wajah Tara memucat.

Aku tidak tahu Surya mengetahui tagihan itu masih berjalan. Aku juga tidak tahu apakah Tara sudah menunggak bulan ini.

Tangannya mengepal di bawah meja, tetapi suaranya tetap jelas.

“Kalau saya menerima uang Anda, tagihannya mungkin selesai. Tapi saya akan kembali membuat Nadira yang membayar.”

Surya terdiam.

Tara melanjutkan, “Saya pernah melakukan itu. Saya tidak akan mengulanginya.”

“Kalau harganya cukup, orang sering berubah pikiran.”

“Kalau begitu, berarti saya tidak jadi.”

Ia memutus sambungan.

Ruangan tetap hening sesaat. Damar menyimpan rekaman. Arum mengamankan kontrak dan tangkapan layar pesan. Tara meletakkan ponsel di meja, lalu mengusap kedua telapak tangannya pada celana seperti baru memegang sesuatu yang kotor.

Aku ingin memeluknya.

Aku tidak bergerak.

“Ayahmu masih perlu biaya?” tanyaku.

Tara menatapku. “Iya.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena kamu akan merasa harus menyelesaikannya.”

“Aku bisa membantu sebagai teman.”

“Kita belum kembali menjadi teman.”

Kalimat itu sakit, tetapi jujur.

Tara meremas jemarinya sendiri. “Kalau nanti kita bisa berteman lagi, aku harus belajar minta bantuan tanpa merasa berutang. Kamu juga harus belajar bantu tanpa merasa harus membereskan semuanya.”

Aku hanya mengangguk.

Dulu kami gampang menyebut diri kami sahabat karena tahu kebiasaan, keluarga, makanan kesukaan, sampai siapa yang pernah membuat kami menangis. Sekarang, bahkan kata itu terasa harus dipelajari lagi.

“Apa rencanamu untuk tagihan itu?” tanyaku.

“Aku sudah bicara dengan rumah sakit tentang cicilan. Aku juga melamar dua pekerjaan konsultasi yang tidak berhubungan dengan Kalyana atau Ruang Tengah.”

“Kalau tidak cukup?”

“Aku akan memberi tahu pengacaraku dan mencari jalur bantuan yang tercatat. Bukan uang rahasia.”

Aku tidak menawarkan apa pun lagi.

Tara mengambil laptopnya. “Aku tetap menyelesaikan pemetaan vendor hari ini. Setelah itu Arum menentukan apakah pengetahuanku masih dibutuhkan.”

“Bukan aku?”

“Bukan kamu.”

“Baik.”

Ia berdiri, tetapi tidak langsung pergi. “Penolakanku tadi bukan bukti bahwa aku pantas dimaafkan.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak menolak agar kamu melihat.”

“Aku tahu.”

“Kamu percaya?”

Aku mengarahkan pandangan ke kontrak yang kini berada dalam plastik bukti. Bertahun-tahun lalu, aku akan menjawab berdasarkan perasaan. Hari ini aku memiliki tindakan yang dapat dilihat, tetapi tidak wajib menghapus masa lalu.

“Aku percaya kamu menolak. Yang lain, nanti saja.”

Mata Tara memerah. Ia mengangguk sekali, lalu keluar menuju ruang audit.

Damar tetap tinggal. “Ada satu bagian kontrak yang perlu diperiksa.”

Ia menunjukkan lampiran ketiga. Tugas Tara tidak hanya memulihkan kepercayaanku atau melaporkan gugatan. Ada jadwal enam bulan, daftar orang yang harus didekati, dan anggaran baru yang jauh lebih besar daripada pembayaran lama.

Di bagian judul, Surya tidak memakai kata pemantauan, reputasi, atau perlindungan.

Ia menulis:

FASE KEDUA LINGKAR AMAN.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!