Indonesia
NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Sensasi terbakar langsung menjalar dari permukaan kulit bahu Vanessa hingga ke seluruh tubuhnya. Belum sempat ia menarik napas untuk mencerna bisikan berbahaya Alessio, tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara.

"Alessio! Apa-apaan kau?!" pekik Vanessa tertahan, spontan melingkarkan lengannya di leher pria itu karena terkejut.

Tanpa memedulikan penolakan maupun tatapan panik dari mata Vanessa, Alessio melangkah lebar meninggalkan ruang tengah.

Pria itu menggendong tubuh Vanessa dengan begitu mudah, seolah berat badannya tak ada artinya.

Para pelayan yang berpapasan di lorong kembali menunduk dalam-dalam, pura-pura buta dan tuli saat Alessio membawanya masuk ke dalam kamar pribadi pria itu.

Brak!

Pintu kamar terbanting rapat, terkunci secara otomatis. Sebelum Vanessa sempat memprotes, Alessio membaringkan tubuhnya kasar ke atas kasur berukuran king-size.

Kasur empuk itu membal, dan seketika itu pula tubuh tegap Alessio mengungkungnya dari atas.

"Alessio, hentikan...hmphhh..."

Kalimat Vanessa terputus seketika. Alessio menyerang bibirnya dengan ciuman yang menuntut, panas, dan tanpa ampun.

Napas pria itu terasa memburu, sarat akan gairah yang lama terpendam dan kini meledak tanpa terkendali. Vanessa berusaha memalingkan wajahnya, namun jemari kokoh Alessio mencengkeram rahangnya rapat-rapat, mengunci posisinya agar tak bisa menghindar.

Telapak tangan Alessio yang hangat dan kasar mulai menyusup liar di sela gaun Vanessa. Kain sutra itu terangkat perlahan, tersingkap hingga paha mulus Vanessa yang putih bersih terpampang jelas di bawah remang lampu kamar.

Tangan pria itu meremas pahanya dengan penuh kepemilikan, menyalurkan dominasi yang membuat Vanessa merinding ketakutan.

Sementara itu, bibir Alessio yang basah terus bergerilya turun mengecup tajam sudut bibir, memagut ceruk leher, hingga menelusuri dada atas Vanessa yang naik-turun karena napas memburu.

"Alessio... kau... kau sudah gila!" desis Vanessa di sela napasnya yang terengah.

Gejolak panik dan kemarahan membakar dada Vanessa. Ia tidak mau menjadi mainan pria mana pun lagi, tidak Jordan, tidak juga Alessio.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Vanessa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan mengayunkannya sekuat tenaga.

Plak!

Suara tamparan keras membelah keheningan kamar. Wajah tampan Alessio terlempar ke samping. Ciuman dan remasan panas itu terhenti seketika.

Suasana kamar mendadak hening mencekam. Pipi tegap Alessio menampakkan bekas kemerahan.

Pria itu perlahan memutar kepalanya kembali menatap Vanessa. Bukannya marah atau mengamuk, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan justru terukir di sudut bibirnya.

Sorot matanya yang liar perlahan meredup, berganti dengan pandangan yang lebih lembut namun tetap menyiratkan dominasi yang tak terbantahkan.

Duduk perlahan di tepi kasur, Alessio meraih pinggang Vanessa tanpa sentuhan kasar lagi. Ia mengangkat tubuh wanita yang masih gemetar itu, memindahkannya ke atas pangkuannya secara mesra.

Dengan gerakan lembut yang berbanding terbalik dari aksi brutalnya tadi, jemari Alessio merapikan gaun Vanessa yang tersingkap, menutupi kembali paha mulusnya.

Setelah gaun itu rapi, Alessio menyandarkan kepalanya di dada Vanessa, membiarkan telinganya mendengarkan detak jantung wanita itu yang berpacu liar.

Kedua lengannya melingkar protektif di pinggang Vanessa, memeluknya erat seolah takut wanita itu akan menguap menjadi udara.

Vanessa terdiam kaku. Setetes air mata menetes di pipinya, menahan tangis yang bergolak di tenggorokan.

Tubuhnya masih gemetar hebat. Ia sungguh tidak mengerti. Rasa takut membelit hatinya ketika menyadari jika pria yang memangkunya saat ini benar-benar gila, tak tertebak, dan berbahaya.

"Maafkan aku..."

Bisikan halus itu terdengar begitu tulus, bergema hangat tepat di dada Vanessa. Suara Alessio tak lagi menyiratkan keangkuhan, melainkan sebuah penyesalan yang jujur.

Vanessa tertegun, matanya berkedip lambat menatap pucuk kepala Alessio yang bersandar pasrah padanya. Hatinya yang semula membeku oleh rasa takut, mendadak bergetar hebat.

"Kenapa... kenapa kau melakukan ini padaku, Alessio?" bisik Vanessa lirih, suaranya serak menahan emosi.

Alessio mengembuskan napas berat, merasakan kehangatan tubuh Vanessa sebelum perlahan mendongak. Matanya menatap lurus ke dalam iris mata Vanessa yang berkaca-kaca.

"Aku cemburu," aku Alessio tanpa ragu sedikit pun.

"Saat aku melihat Jordan memegang tanganmu di ruang tengah tadi... rasanya seluruh kesabaranku habis. Aku ingin sekali mengambil pistol dan melubangi kepalanya dengan peluru saat itu juga."

Vanessa terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kehilangan kata. Pria dingin, kejam, dan penuh kalkulasi seperti Alessio Carlton baru saja mengakui cemburu buta hingga ingin membunuh saudaranya sendiri?

Perubahan sikap yang begitu drastis ini membuat kepala Vanessa pusing. Ia tak habis pikir bagaimana bisa dirinya terjebak di antara dua pria Carlton yang sama-sama berengsek, namun dengan cara yang sangat berbeda.

****

Sementara itu, sebuah mobil sport hitam berhenti secara mendadak di depan gedung apartemen milik Yessika. Jordan keluar dari mobil dengan wajah tegang dan langkah lebar. Emosinya masih memuncak setelah dipaksa Vanessa.

Tanpa memencet bel, Jordan menekan kombinasi angka sandi pintu depan yang sudah dihafalnya, lalu melangkah masuk begitu saja ke dalam rumah.

Di dalam kamar utama di lantai dua, Yessika sedang tertawa bersama seorang pria muda berotot yang disewanya dari klub malam.

Pria itu hanya mengenakan celana dalam ketika suara pintuk depan yang terbuka kasar mengejutkan mereka berdua.

"Sial! Jordan datang!" jerit Yessika panik, wajahnya seketika pucat pasi.

"Apa?! Siapa?!" pria sewaan itu melompat dari tempat tidur dengan mata membelalak panik.

"Pacarku! Cepat ambil pakaianmu dan sembunyi!" bentak Yessika seraya melemparkan celana dan kemeja pria itu secara acak.

"Sembunyi di mana?! Rumah ini tidak ada kolong tempat tidur!" seru pria itu panik, berlari memutari kamar mencari celah.

Langkah kaki Jordan yang berat terasa kian mendekat di lorong. Sebelum pria itu sempat bersembunyi, Jordan sudah berdiri tepat di depan pintu kamar dan menggedornya dengan keras.

Brak! Brak! Brak!

"Yessika! Buka pintunya!" teriak Jordan dari luar, suaranya bergema penuh amarah.

"Apa yang sedang kau lakukan di dalam?! Kenapa pintunya dikunci?!"

Yessika semakin panik. Dengan gerakan kilat, ia mendorong pria sewaan yang belum sempat memakai bajunya itu menuju balkon kamar.

"Sembunyi di balik tanaman balkon dan jangan bersuara sedikit pun!"

Tanpa menunggu jawaban, Yessika mengunci pintu balkon, menyambar pakaian tidurnya secara acak, lalu mengacak-acak rambutnya agar terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur.

Sambil mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degupan jantungnya, ia memutar kunci pintu utama kamar.

Cklek!

Pintu terbuka. Jordan berdiri di sana dengan raut wajah terlipat.

"Kenapa lama sekali?!" cecar Jordan, matanya menyapu seisi kamar yang tampak sedikit berantakan.

Yessika mengusap matanya, menguap pura-pura.

"Maaf, Sayang... aku baru saja tertidur lelap. Ada apa malam-malam begini kau datang?"

Jordan melangkah masuk, lalu keningnya berkerut tajam saat menatap wajah Yessika dari dekat.

"Kenapa kau berkeringat seperti ini? Padahal suhu di ruangan ini dingin-dingin saja."

Jantung Yessika serasa hendak melompat keluar. Namun dengan kelihaian actingnya, ia memegang dadanya seraya mendesah pelan.

"Aku... aku baru saja mimpi buruk, Jordan. Aku bermimpi Vanessa merebutmu dariku, makanya aku terbangun dengan keringat dingin seperti ini. Aku takut sekali..."

Mendengar nama Vanessa disebut, fokus Jordan seketika teralih dari kecurigaannya. Rasa percaya diri pria itu kembali. Yessika memanfaatkannya dengan cepat, meraih lengan Jordan dan menariknya keluar dari kamar.

"Ayo duduk di ruang tamu saja, di kamar agak berantakan."

Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Yessika menyandarkan kepalanya di bahu Jordan, berusaha bersikap manja.

"Jadi, ada apa Sayang? Kenapa wajahmu tegang sekali?"

Jordan mengusap tengkuknya yang terasa kaku. Rasa gengsi dan tak enak hati berkecamuk di dalam dadanya.

"Yessika... sebenarnya aku ke sini ingin meminta kembali set perhiasan 2 miliar yang kubelikan untukmu tadi siang."

Yessika menegang seketika. Ia melepaskan sandarannya dan menatap Jordan dengan raut tak percaya.

"Apa?! Kau minta kembali?! Jordan, kau bercanda, kan?!"

"Aku tidak bercanda," sahut Jordan mengusap wajahnya kasar. "Ini semua gara-gara kau juga! Siapa suruh kau pamer foto dan menulis caption tolol di media sosial?! Vanessa melihatnya!"

Mata Yessika membelalak.

"Vanessa melihatnya?! Lalu kenapa?! Memangnya dia siapa berani mengatur barang yang sudah kau berikan padaku?!" Yessika bersedekap dada, menolak tegas.

"Aku tidak mau mengembalikannya! Apalagi kalau perhiasan itu mau kau berikan pada wanita sialan itu!"

"Yessika, dengarkan aku!" potong Jordan sambil memegang kedua bahu Yessika.

"Vanessa mengancam akan melaporkan semua perbuatan kita saat di butik pada Ayahku! Jika Ayah tahu aku menghamburkan uang 2 miliar untukmu secara diam-diam, Ayah bisa mencoret namaku dari daftar pewaris Carlton Group! Kita bisa hancur!"

"Aku tidak peduli!" jerit Yessika histeris. "Itu masalahmu dengan Ayahmu! Perhiasan itu sudah jadi milikku!"

"Tolonglah, Yessika!" bentak Jordan frustrasi. Ia menatap Yessika penuh permohonan.

"Aku janji, setelah masalah dengan Vanessa dan Ayah selesai, aku akan menggantinya dengan set perhiasan yang jauh lebih mahal. Apa pun yang kau mau, akan kubelikan!"

Yessika menyipitkan matanya. Amarahnya perlahan surut, berganti dengan kilatan licik di matanya. Ia tahu persis posisi Jordan saat ini sedang terdesak.

"Aku tidak butuh perhiasan yang lebih mahal, Jordan," ujar Yessika dingin.

"Lalu kau mau apa?!" tanya Jordan cepat, berharap ada jalan keluar.

Yessika maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya merangkul dan menggenggam erat jemari Jordan, menatap pria itu lurus-lurus dengan nada menuntut yang tak dapat diganggu gugat.

"Menikahlah denganku. Jangan menikah dengan Vanessa!"

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
dewi rofiqoh
Nikmati aja tuan arthur apa yang kau tuai dari perbuatanmu dimasa lalu
Tri Handayani
mantap thor😍😍😍aku suka crita yg Das des kaya gini ngk berbelit belit🤭🤭🤭
Mundri Astuti
buang jauh" para benalu Alessio...buat miskin kalo perlu gelandangan biar ga jadi racun dan pongah lagi mereka
Elina thea
good job Alessio... manusia serakah kayak Arthur dan Jordan itu cocok hidup tanpa harta biar gak bisa semena-mena👍
ryuka
mampus kamu arthur..
mampus kamu jordan
kismin kismin deh kalian
Umi Zein
ya segera usir tuh bapk sma anak yg gak tau diri itu kelamaan di rumah itu ngelunjak 😏😏
Umi Zein
anak sma bapak gila harta dan kekuasaan dan di bodohin sma perempuan jalang 😏😏
Muft Smoker
good Alessio ,,
buang aj mereka kee kandang sapii ,,
cocok tuh mereka ,, sama2 d*ngu ,,
😒😒😒
mery harwati
Sekarang udah jelas status Alesio dimata hukum & keluarga Carlthon, tinggal jual mansion yang biasa ditempati oleh Arthur & Jordan, kan Alesio udah punya istana sendiri yang lebih megah dari mansion Arthu, biar merasakan Yesika & Jordan miskin tanpa rumah, harta & tahta 😀
Muft Smoker
kalo ngetawain gx dosa kn kak ,,
soalny yg di ketawain laki2 halu Dan perempuan manipulator ,,

boleh yx,, dikit doank koq ,,
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,

skraaang siapa yg laki2 miskin yx ????
ayooo tebak yessika ,,
Muft Smoker
laaa si Arthur lgi curhat sndriii ,,
anda sehat pak tua udh membuka aib sendrii ,,
Muft Smoker
bapa ny setaan nyariin anak2 ny/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Adi Sudiro
anak pelacur saling bersatu.... 🤭🤭🤭
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Selamat menikmati pilihanmu Jordan
Umi Zein
laah itu kan hasil dr selera rendahan anda bpk papan cathur. ngaca atuh! anda mengina hasil selera rendahan anda sendiri 🤣🤣🤣. brrt anaknya idiot itu turunan anda😏😏
Umi Zein
halu lu😏😏, diangkat jdi kepala keluarga?! eeh gak salah elu ngomong?! sebaliknya, elu bakalan habis sm bapak durjana elu Krn ngebangkang dan hidup elu bakalan hancur sma bapak durjana dan jalang elu Yesi 😂😂
Umi Zein
su ku rutin lu papan cathur. di bodohin sma anak haram Elu sndiri. nikmatin kehancuran yg kalian tunggu2 wahai papan cathur dan Jordan 😏😂😂
Mundri Astuti
oiiiii arthur ntu yg idiot sayangnya anak kesayanganmu😂😂😂😛
Arieee
hahaahahaha🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣zonk deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!