6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEASON 2. BAB 35: YANG BERTANDATANGAN SUDAH MATI
Lampunya mati. Lagi.
Udah 3 kali malam ini. Padahal tadi pas aku colokin cas HP, listrik di posko masih normal. Temen-temen KKN yang lain udah pada tidur. Cuma aku yang masih melek karena penasaran sama kertas perjanjian itu.
Aku nyalain senter HP dengan tangan gemetar. Cahayanya putih pucat nyorotin meja kayu yang udah lapuk. Kertas perjanjian KKN itu masih kebuka di situ. Halaman terakhir.
Di pojok kanan bawah, di bawah tanda tangan Pak Lurah... ada coretan tinta hitam.
BISMILLAH.
146.
Jantungku copot.
Pak Lurah Suroso. Nama itu diukir jelas di batu nisan belakang balai desa. Meninggal 10 tahun yang lalu. Kecelakaan tunggal di jembatan. Satu desa tau. Aku liat sendiri fotonya pas pertama kali dateng. Wajahnya kaku, matanya melotot.
"Gak mungkin..." gumamku.
Tiba-tiba dari luar kedengeran suara gamelan. Pelan. Tapi jelas banget. Kayak ada hajatan di ujung desa. Padahal desa ini kosong. Udah 10 tahun kosong.
Dug. Dug. Dug.
Jantungku makin kenceng. Aku ngintip dari celah jendela. Gelap. Cuma ada kabut tipis yang nutupin jalan tanah. Gak ada siapa-siapa. Gak ada rumah. Gak ada hajatan.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kamarku diketok 3 kali.
Tangan yang megang HP langsung keringetan. Suaraku nyangkut di tenggorokan.
"Siapa?" tanyaku pelan.
Gak ada jawaban. Cuma suara gamelan itu makin deket.
Tok. Tok. Tok.
Lagi. 3 kali.
Terus suara perempuan. Bisik-bisik. Serak. Kayak orang udah lama gak ngomong.
"Tanda tangannya... kurang satu."
Aku mundur selangkah. Punggungku mentok ke tembok. Kertas di meja itu... tiba-tiba bergerak sendiri. Halus. Kayak ada yang niup. Padahal jendela ketutup rapat.
Tinta "146" itu meleber. Menetes ke bawah. Kayak darah.
HP ku getar. Notifikasi grup KKN.
Dina: "Kalian denger suara gamelan ga??"
Riko: "Iya. Dari arah balai desa."
Maya: "Pintu posko diketok dari luar!!"
Tanganku buru-buru ngetik: "JANGAN BUKA PINTU!!"
Tapi sebelum kekirim, lampu nyala lagi. Sekedip. Terang. Terus mati lagi.
Dalam 1 detik terang itu, aku liat sesuatu di kaca jendela.
Bayangan.
Tinggi. Pake baju lurah. Topi kopiah. Tapi mukanya... bolong. Kosong. Cuma ada lubang hitam di tempat mata dan mulut.
Dan di tangannya... megang pulpen.
"Tolong tanda tangani..."
Suara itu sekarang ada di dalam kamar. Tepat di belakangku.
Aku muter badan secepat kilat. Gak ada siapa-siapa.
Tapi kertas di meja udah pindah. Sekarang ada di lantai. Tepat di bawah kakiku.
Dan di bawah tanda tangan "146" itu... muncul garis kosong baru.
Garis untuk tanda tangan.
Tanganku gemetar megang pulpen yang entah dari mana datangnya. Pulpen tua. Tintanya hitam pekat. Baunya anyir. Kayak darah.
"Jangan..." bisikku.
Tapi kepalaku sakit banget. Kayak ada yang bisikin terus di telinga.
Tanda tangani. Tanda tangani. Kalau tidak, kami yang akan tanda tangan untukmu.
Di luar, suara gamelan berhenti.
Diganti suara langkah kaki. Banyak. Mengelilingi posko.
Dina teriak dari kamar sebelah. "Riko jangan!!"
BRAK!!
Suara pintu dobrak.
Aku gak mikir panjang. Aku lari. Nyamperin pintu. Ngunci dari dalam.
"Tolong!!" teriakku.
Tapi pintunya diketok lagi. Kali ini lebih keras. Kayak pake kapak.
Tok. Tok. Tok.
Retak. Kayu pintunya retak.
Aku liat ke bawah. Di celah pintu... ada tangan. Pucat. Kering. Kukunya panjang. Megang kertas.
Kertas yang sama.
Dan tangan itu nyodorin pulpen ke dalam.
"Tinggal satu tanda tangan lagi, Nak..."
Suara itu sekarang jelas banget. Suara bapak-bapak. Wibawa. Tapi serak.
Pak Lurah.
Aku mundur. Jatuh duduk. Kertas perjanjian itu sekarang ada di pelukanku. Aku gak tau gimana caranya bisa pindah ke tanganku.
Di halaman terakhir, di bawah "146"... garis kosong itu sekarang nyala. Nyala merah. Kayak bara.
Kalau aku tanda tangan... apa yang terjadi?
Kalau aku gak tanda tangan... apa yang terjadi sama temen-temenku?
Dari luar kedengeran suara Riko: "Buka pintunya!! Ada yang narik aku!!"
Aku nangis. "Aku gak mau!!"
"Kalau kamu gak mau..." suara Pak Lurah ketawa. Pelan. "Kami paksa."
Pintu jebol.
Pecahan kayu beterbangan.
Yang masuk bukan orang. Tapi kabut hitam. Kabut itu bentuknya manusia. Banyak. Berjejer. Semuanya pake baju KKN. Tapi wajahnya... wajah temen-temenku. Dina. Riko. Maya. Semuanya. Tapi mata mereka kosong. Hitam.
Dan di depan paling depan... Pak Lurah.
Wajahnya bolong. Tapi dia senyum.
"Terima kasih sudah mau KKN di desa kami, Nak."
Dia nunjuk kertas di tanganku.
"Sekarang... lengkapi kontraknya."
Kabut-kabut itu maju. Ngepung aku. Dingin. Bau tanah kuburan.
Aku megang pulpen itu erat-erat. Tangan ku bergetar hebat.
Di kepalaku keinget kata dosen pembimbing sebelum berangkat:
"Kalau ada yang aneh, pulang. Gak usah lanjut."
Tapi kita udah kejebak.
"5... 4..." Pak Lurah mulai ngitung.
Aku merem. Aku mau robek kertas ini.
Tapi pas aku buka mata... kertasnya udah gak ada.
Pindah ke tangan Pak Lurah.
Dan di garis kosong itu... udah ada tanda tangan.
Tanda tanganku.
Padahal aku gak ngerasa nulis.
"TRAKTIR!" teriak Pak Lurah.
Semua kabut itu ketawa bareng. Suara gamelan balik lagi. Kali ini kenceng banget. Di telinga. Di kepala.
Lampu nyala terang.
Dan di depan mataku... posko udah gak ada.
Yang ada cuma lapangan luas. Di tengahnya ada gapura. Gapura desa.
Tulisannya:
SELAMAT DATANG DI DESA MATI
PENDUDUK: 146
Dan di bawah gapura itu... berdiri 145 orang.
Semuanya nengok ke aku. Senyum.
Kurang satu.
Pak Lurah jalan ke aku. Nyodorin kertas lagi.
"Selamat datang, anggota baru. Nomor 146."
Dia nunjuk garis kosong terakhir.
"Tanda tangan di sini. Sebagai saksi."
Aku liat sekeliling. Gak ada jalan keluar. Cuma sawah, kuburan, dan 145 pasang mata yang natap aku.
HP ku masih di genggaman. Layarnya nyala.
Pesan terakhir dari Dina: "Kita di mana??"
Aku gak jawab.
Karena aku tau jawabannya.
Kami gak akan pernah pulang.
Dan kontrak ini... baru dimulai.
Tangan Pak Lurah masih nyodorin kertas itu ke wajahku. Baunya anyir. Tintanya merah. Bukan hitam.
"Tanda tangan, Nak," bisiknya lagi. "Biar sah."
Aku mundur. Tapi 145 orang di belakangnya ikut maju selangkah. Kompak. Suara kaki mereka injak tanah kering itu berbarengan.
Dug. Dug. Dug.
HP di tanganku getar lagi.
Selpi: "Kita di lapangan!! Depan gapura!!"
Maya: "Mereka banyak banget..."
Sinta: "Tolong... aku takut"
Lapangan? Berarti mereka juga dipindahin ke sini.
"Ada di mana kalian?!" teriakku.
145 kepala itu nengok ke kanan. Kompak lagi. Di antara mereka, aku liat Selpi, Maya, Sinta. Wajahnya pucat. Mata mereka kosong. Tapi mereka masih hidup. Masih bernapas.
"Jangan tanda tangan!!" teriak Maya. Suaranya pecah.
Pak Lurah ketawa. "Terlambat. Salah satu dari kalian sudah."
Dia nunjuk aku.
Darahku dingin. Aku liat ke kertas itu lagi. Di garis terakhir... memang ada tanda tanganku. Tulisan yang bahkan bukan aku yang nulis. Goresannya mirip banget. Tapi ada yang aneh. Ada titik kecil di atas huruf 'i' namaku. Titik merah.
"Apa artinya ini?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Artinya kamu sudah setuju," jawab Pak Lurah. "Setuju jadi warga Desa Mati. Setuju jadi nomor 146."
Angin berhembus. Kenceng. Debu dan daun kering muter-muter. Gapura di belakangnya berderit. Tulisan PENDUDUK: 146 itu berkedip. Kayak lampu neon mau mati.
Tiba-tiba tanah di bawah kakiku bergetar.
Dari tanah, nongol tangan-tangan. Banyak. Kurus. Pucat. Kuku panjang. Mereka nyembul dari kuburan-kuburan kecil yang tadi gak aku liat. Kuburan yang bentuknya kayak bedeng KKN.
"Ini... ini apa?!" aku mundur terus sampai punggungku mentok ke tiang gapura.
"Selamat datang di rumah baru," kata Pak Lurah. "Di sini kita hidup berdampingan. Yang hidup, dan yang... menunggu."
Salah satu tangan itu nyentuh pergelangan kakiku. Dingin. Kayak es. Aku tendang. Lepas. Tapi yang lain langsung nyamperin.
"LEPASIN!!" aku teriak.
Selpi lari duluan. "LEPASIN DIA!!"
Maya sama Sinta nyusul. Mereka bertiga nabrak barisan 145 orang itu.
Tapi belum nyampe ke aku, 2 orang dari barisan itu nangkep tangan Selpi. 2 orang lagi nangkep Maya. Sinta dijambak dari belakang.
"LEPASIN TEMEN AKU!!" aku mau lari nolongin, tapi Pak Lurah nahan bahuku. Cengkeramannya kuat. Tulangnya nembus baju.
"Gak usah," katanya pelan. "Mereka cuma mau kenalan sama tetangga baru."
Dari arah kuburan, muncul tiga sosok. Jalan pincang. Badannya basah. Baju KKN nya udah lusuh dan berlumpur.
Itu... Bima, Riko, Farhan.
Aku inget banget. Mereka mati di jembatan 10 tahun lalu.
Sekarang mereka berdiri di depanku. Senyum. Tapi bibir mereka sobek sampai ke telinga. Matanya kosong hitam.
"Nomor 143, 144, 145," kata Pak Lurah bangga sambil nunjuk mereka bertiga. "Angkatan dulu. Sekarang giliran kamu. Nomor 146."
Dia ngangkat kertas itu tinggi-tinggi.
"Dengan ini, kami nyatakan kontrak antara Desa Mati dan 6 mahasiswa KKN Universitas Nusantara... SAH!"
Guntur nyambar. Langit yang tadinya item pekat, sekarang merah. Kayak darah.
145 orang itu bersorak. "146! 146! 146!"
Suaranya menggema. Nyakitin telinga.
Aku nengok ke HP lagi. Layarnya retak. Sinyal ilang. Tapi ada satu pesan masuk. Dari nomor gak dikenal.
"Selamat. Kamu resmi jadi milik kami. -146"
HP langsung mati.
Aku lempar. "AKU GAK MAU!!"
Aku lari. Ke mana aja. Yang penting jauh dari gapura itu.
Tapi tiap aku lari 10 langkah, aku balik lagi ke tempat yang sama. Ke depan gapura. Ke depan Pak Lurah.
Ini lingkaran.
"Kamu gak bisa lari, Nak," kata Pak Lurah. "Desa ini sebesar kontrak. Dan kontraknya... ada di tanganmu."
Dia nunjuk dadaku.
Aku nunduk. Di dada bajuku, entah sejak kapan, ada cap. Cap tinta merah. Bentuknya angka.
146.
"Setiap warga di sini punya nomor," jelas Pak Lurah. "Nomor 1 sampai 142 itu penghuni lama. Nomor 143-145 itu Bima, Riko, Farhan. Kamu... kamu spesial. Kamu pembuka."
"Pembuka apa?!" bentakku sambil nunjuk Bima, Riko, Farhan yang sekarang ketawa.
"Pembuka pintu," jawabnya sambil senyum. Wajah bolongnya makin lebar. "Pintu buat mereka yang udah nunggu 10 tahun."
Tanah bergetar lagi. Lebih kenceng.
Dari kuburan-kuburan itu, tanahnya runtuh. Dan dari dalamnya... keluar lebih banyak. Puluhan. Ratusan. Semuanya pake baju KKN dari tahun yang beda-beda. Ada yang tahun 90an. Ada yang tahun 2000an.
Mereka semua nunjuk aku.
"Dia... dia yang buka jalan."
Aku jatuh terduduk. Napasku ngos-ngosan.
Jadi selama ini... desa ini butuh KKN baru buat "buka pintu"? Biar arwah-arwah ini bisa keluar? Termasuk Bima, Riko, Farhan?
"Tidak..." bisikku.
"Tepat," kata Pak Lurah. "Dan kamu berhasil. Terima kasih ya."
Dia tepuk tangan sekali.
PLEK.
Lampu-lampu teplok di sepanjang jalan desa nyala sendiri. Satu-satu. Sampai ujung.
Dan di ujung jalan itu... ada jembatan. Jembatan yang sama tempat Bima, Riko, Farhan mati.
Tapi sekarang di atas jembatan itu berdiri barisan mobil. Mobil-mobil tua. Angkot. Truk. Semuanya penyok.
Dan di dalam mobil itu... ada orang. Banyak. Nempel di kaca. Natap ke arah kami.
"KKN gelombang berikutnya," bisik Pak Lurah di telingaku. "Mereka udah di jalan. Tinggal nunggu kamu tanda tangan terakhir. Sebagai saksi."
Dia nyodorin pulpen lagi. Pulpen yang sama. Yang tintanya darah.
"Tinggal satu coretan, Nak. Di sini." Dia nunjuk di bawah tanda tanganku. Ada tulisan kecil: Saksi Hidup.
Kalau aku tanda tangan... berarti aku setuju KKN selanjutnya juga kejebak di sini.
Kalau aku gak tanda tangan... Selpi, Maya, Sinta bakal kenapa-kenapa.
Aku liat Selpi, Maya, Sinta. Mereka bertiga dipegang. Air matanya ngalir. Tapi mereka kompak geleng. "Jangan..."
Aku gigit bibir sampai berdarah.
"Baik," kataku akhirnya. Suaraku serak.
Aku ambil pulpen itu. Tanganku gemetar.
Pak Lurah senyum lebar. Gigi-giginya runcing.
Aku arahin ujung pulpen ke kertas.
Tetes.
Setetes darah dari bibirku jatuh ke kertas. Pas di atas tulisan Saksi Hidup.
Dan pas tinta itu nyentuh kertas...
DUAR!!!
Ledakan cahaya putih.
Semua orang nutup mata. Termasuk aku.
Pas aku buka mata lagi...
Gapura hilang.
145 orang hilang.
Pak Lurah hilang.
Jembatan hilang.
Bima, Riko, Farhan... juga hilang.
Yang ada cuma aku. Sendiri. Duduk di tengah lapangan kosong.
Posko ada di belakangku. Utuh. Lampunya nyala.
Di tanganku... gak ada kertas. Gak ada pulpen.
Cuma ada HP. Nyala.
Notifikasi grup KKN:
Selpi: "Jam berapa ini?? Kok aku pusing"
Maya: "Tadi kita mimpi bareng ya??"
Sinta: "Aku nangis... tapi gak tau kenapa"
Aku liat jam. 03.00.
Mimpi?
Aku berdiri. Kaki lemas.
Tapi pas aku jalan ke posko, aku nginjek sesuatu.
Benda kecil. Keras.
Aku pungut.
Itu pulpen.
Pulpen tua. Tintanya udah kering. Tapi di ujungnya... masih ada noda merah.
Dan di gagang pulpen itu, terukir kecil:
146
Angin malem berhembus. Dari jauh, samar-samar... kedengeran suara gamelan.
Pelan.
Dan suara bisik-bisik:
"Kontrak tahap 1... selesai.
Menunggu tahap 2..."
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭