Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Jebakan di Hari Terakhir Ujian
Bel panjang berbunyi tepat pukul dua siang, menggema di seluruh pelosok SMA Garuda. Suara itu menandai berakhirnya lembar soal terakhir mata pelajaran penutup Ujian Nasional. Sorak-sorai legah dan tangis bahagia meledak seketika di koridor-koridor kelas. Anak-anak SMA saling berpelukan, melempar tawa, dan meluapkan kebebasan setelah berminggu-minggu terkungkung dalam tekanan ujian.
Di kelas 12 IPS 2, Alexa melangkah keluar seraya mengembungkan pipi tembamnya. Tas sekolahnya tersampir santai di bahu, dan sebuah senyuman lega terukir di wajah mungilnya. Usia kandungannya yang kini menginjak minggu kedelapan mulai menampakkan tonjolan halus yang menggemaskan di balik rok seragamnya.
"Aaaaa! Bebas! Akhirnya otak aku tidak dipanggang lagi sama rumus!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya yang melengking khas, membuat beberapa adik kelas yang lewat tersenyum.
Rin, Safi, dan Melati merangkul bahunya kencang dari samping.
"Aiyo, Ca! Jangan nak menjerit heboh sangat lah, ingat ada dedek bayi dekat perut tu!" tegur Safi dengan logat Melayu khasnya, walau matanya sendiri berkaca-kaca haru. "Tapi... betul kata kau. Kita dah bebas! Lulus kita ni!"
"Nanti malam kita wajib makan-makan!" tambah Rin gembira seraya menyenggol bahu Alexa. "Biar Pak CEO tercinta kamu yang traktir kita se-restoran!"
"Setuju banget!" Melati menimpuk pelan bahu Rin seraya tertawa halus.
Mereka berempat berjalan menyusuri selasar sekolah hingga tiba di dekat gerbang depan. Di sana, armada jemputan para sahabat sudah menunggu. Rin dan Melati pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, sementara Safi dijemput oleh sedan sport milik Achmad yang sudah menepi riang di seberang jalan.
"Ca, kau betul tak pe tunggu dekat gang samping? Tak nak balik sekali dengan Paman Achmad?" tanya Safi cemas sebelum melangkah.
Alexa menggeleng cepat seraya tersenyum manis. "Gak usah, Safi! Mas Exel tadi pesan, mobil jemputan khusus Aca sudah nunggu di tikungan gang samping sekolah biar gak bikin heboh anak-anak. Paman Achmad kan harus antar kamu balik dulu. Udah sana, kasihan tuh Paman Achmad udah dadah-dadah dari kaca mobil!"
"Ya dah... Hati-hati tau, Ca! Jangan lari-lari!" pesan Safi penuh perhatian sebelum melangkah menyeberang jalan.
Alexa melambaikan tangannya gembira sampai mobil Achmad menghilang di belokan. Gadis mungil itu kemudian membetulkan tali tasnya dan melangkah pelan menuju lorong gang samping—jalur pintas yang cukup sepi dan rimbun oleh pepohonan besar tempat mobil jemputan rahasia Exel biasa terparkir.
Namun, Alexa tidak pernah tahu bahwa hari itu adalah hari di mana keputusasaan dan dendam Clara berkolaborasi dengan musuh bisnis Exel, Bramantyo Wijaya, dalam skenario yang sangat terstruktur dan berdarah.
Clara telah mempelajari pola pengawalan ketat dari pasukan Tactical Guard milik Achmad selama berminggu-minggu. Clara tahu, jika ia menyerang di area terbuka, pasukan rahasia itu akan melumpuhkannya dalam hitungan detik.
Maka dari itu, Bramantyo Wijaya menyewa peretas profesional dari luar negeri untuk mengacak sinyal frekuensi radio dan GPS di area khusus sekitar gang samping sekolah selama tiga menit tepat saat jam kepulangan!
Saat Alexa melangkah lima meter memasuki lorong gang sepi yang diapit dinding tua itu...
BZZZZT!
Sinyal radio di earpiece dua pengawal rahasia yang mengintai dari atas atap bangunan mendadak terputus total! Suara white noise yang keras memekakkan telinga mereka.
"Komandan! Sinyal terputus! Pengacak sinyal aktif di zona B!" jerit salah satu pengawal ke mikrofonnya, namun suaranya hanya menjadi dengungan statis.
Sebelum kedua pengawal elit itu sempat melompat turun untuk melindungi Alexa secara fisik, dua minibus hitam tanpa pelat nomor meluncur dengan kecepatan tinggi dari dua arah berlawanan, mengunci dan menutup total jalur keluar-masuk gang tersebut!
Delapan pria bertubuh kekar bersetelan hitam dengan topeng rapat melompat keluar secara simultan. Empat orang di antaranya langsung menahan dua pengawal rahasia yang melompat dari atap dengan tembakan peluru bius jarak dekat, sementara empat orang lainnya melesat mengepung Alexa!
Alexa membeku kaku di tengah gang sepi. Tas sekolah di tangannya seketika terlepas dan jatuh menghantam tanah basah. Mata bulatnya melotot sempurna dipenuhi ketakutan yang amat dahsyat.
"S-Siapa kalian...?" cicit Alexa, suaranya bergetar hebat. Tangannya refleks berpindah, memeluk erat perut ratanya untuk melindungi janin di dalam kandungannya. "Jangan mendekat!"
Dari dalam pintu minibus yang terbuka, melangkah keluar sosok wanita bergaun hitam dengan kacamata gelap. Saat wanita itu melepaskan kacamatanya, binar mata penuh dendam, iri hati, dan kesetanan terpancar tajam.
Clara.
"Selamat sore, budak SMA yang menyedihkan," bisik Clara dengan senyuman miring yang teramat sangat mengerikan.
"M-Mbak Kanebo...?" Alexa melangkah mundur kaku hingga punggung mungilnya menabrak dinding bata yang dingin. "Mau apa kamu?!"
"Mau apa?" Clara tertawa melengking—suara tawa gila yang membuat bulu kuduk Alexa meremang. "Aku mau merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku! Kamu dan anak haram di perutmu itu sudah merusak seluruh hidupku! Kamu buat Exel membuangku! Dan hari ini... aku akan pastikan kamu dan janin sialan itu tidak akan pernah melihat matahari esok hari!"
"Nggakkk! Mas Exeeelll!" jerit Alexa histeris dengan suara cemprengnya yang pecah, mencoba berlari melintasi celah sempit di antara para pria kekar itu.
Namun, fisik anak SMA yang sedang hamil muda jelas bukan tandingan para eksekutor profesional.
Salah satu pria kekar meraih bahu mungil Alexa secara kasar dan membantingnya ke dinding!
Brak!
"AAAGHH!" jerit Alexa kesakitan, erangan tertahan lolos dari bibirnya saat bahunya menghantam bata keras.
Belum sempat Alexa kembali berdiri, pria itu mencengkeram rahang mungilnya dari belakang, mengunci pergerakan kepalanya, sementara pria lainnya menempelkan selembar kain tebal yang telah dibasahi oleh zat bius dosis tinggi (kloroform pekat) tepat di atas hidung dan mulut Alexa!
"Mmmpphhh! MMMMMFFFF!"
Alexa meronta-ronta secara dramatis! Kedua tangan mungilnya memukul-mukul lengan tegap pria yang memegangnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Air mata ketakutan dan keharuan meluncur deras bagaikan sungai kecil di pipi tembamnya, membasahi kain bius tersebut.
Di dalam kegelapan kesadarannya yang perlahan mengabur, pikiran Alexa yang paling dalam hanya tertuju pada satu nama... satu pria yang sangat ia cintai melebihi jiwanya sendiri.
Mas Exel... Tolong Aca... Tolong jaga anak kita, Mas... Aca takut... Aca sayang banget sama Mas Exel...
Pandangan mata bulat Alexa perlahan meredup. Cahaya sore yang menyinari gang itu berubah menjadi kegelapan total. Kedua lengan mungilnya terkulai lemas di samping tubuhnya, dan kesadarannya sepenuhnya hilang.
"Bagus. Masukkan dia ke dalam mobil!" perintah Clara dingin tanpa empati sedikit pun.
Pria kekar itu mengangkat tubuh lemas Alexa yang tak berdaya, melemparkannya ke dalam kabin minibus hitam. Minibus itu melesat kencang meninggalkan gang sepi tersebut, menyisakan tas sekolah Alexa yang koyak dan sebuah botol air mineral berstiker kartun beruang yang tergeletak pasrah di atas tanah basah.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group...
Pukul 14.15 WIB.
Exel sedang berdiri di depan kaca jendela besar ruang kerjanya, merapikan kancing lengan kemeja putihnya. Pria bertubuh tegap itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman sangat manis yang sangat jarang terlihat. Hari ini adalah hari terakhir ujian istrinya. Exel sengaja mengosongkan seluruh jadwal rapat sorenya untuk menjemput Alexa secara pribadi dan membawanya makan malam romantis untuk merayakan kelulusan sekolahnya.
Ponsel pribadi Exel di atas meja berdering pendek. Sebuah notifikasi pesan dari Achmad masuk:
‘Cel, gua udah selesai antar Safi pulang. Gua meluncur ke lokasi jemputan Dek Alexa sekarang ya.’
Exel menyambar jas mewahnya, berniat melangkah keluar dari ruangan.
Namun... tepat saat jemari tegap Exel menyentuh tuas pintu utama...
BZZZZT!
Ponsel khusus milik Exel yang terhubung langsung dengan sistem pemantauan sinyal vital dan GPS pengawal rahasia Alexa mendadak menyalakan Lampu Merah Darurat (Code Red Status) dengan suara sirine peringatan yang amat sangat nyaring menggelegar di seluruh ruangan!
NINO! NINO! NINO!
Layar monitor ponsel tersebut menampilkan tulisan besar berwarna merah menyala:
[CRITICAL WARNING: SIGNAL LOST & PATROL UNIT UNRESPONSIVE - TARGET: NYONYA ALEXA DIRGANTARA - LOCATION: ZONA B SMA GARUDA]
Seketika itu juga, dunia di sekitar Exel seolah membeku total.
Langkah kaki Exel terhenti kaku di ambang pintu. Jas mewah di tangan tegapnya terlepas begitu saja dan jatuh menghantam lantai marmer.
Seluruh aliran darah di tubuh pria bertubuh 185 cm itu surut seketika, meninggalkan rasa dingin yang membeku hingga ke tulang. Binar kebahagiaan dan kehangatan yang tadinya memenuhi mata cokelat gelapnya luntur dalam sekejap mata, digantikan oleh kegelapan, ketakutan yang teramat sangat dahsyat, dan amarah membunuh yang belum pernah disaksikan oleh manusia mana pun di muka bumi!
Jantung Exel berdegup kencang bagaikan dihantam palu besi. Napasnya mendadak menjadi sangat pendek dan berat.
"A-Alexa...?" bisik Exel dengan suara bergetar hebat yang pecah oleh kepanikan luar biasa.
Exel merogoh ponselnya dengan tangan yang gemetar kaku, menekan nomor Achmad.
"Halo, Cel?! Ada apa—"
"ACHMAD!" jerit Exel dengan suara rendah yang menggelegar dipenuhi keperihan dan amarah yang luar biasa, membuat Achmad di seberang telepon seketika terperanjat kaku. "SINYAL ALEXA HILANG! PENGAWAL DI LOKASI TIDAK MERESPONS! ALEXA DILAPORKAN HILANG DI GANG SEPI!"
Di seberang telepon, suara Achmad seketika berubah menjadi keheningan yang amat sangat mencekam. "H-Hah?! Nggak mungkin! Gua baru aja—"
"LAKUKAN PELACAKAN SATELIT SEKARANG JUGA!" bentak Exel, urat-urat di leher dan dahinya menegang tajam, matanya memerah oleh bauran air mata kepanikan dan amarah dewa kematian. "JIKA ADA SEHELAI RAMBUT PUN DARI ISTRI DAN ANAKKU YANG TERSENTUH... SAYA AKAN MERATAKAN KOTA INI!"
Brak!
Exel mendobrak pintu ruangannya kencang-kencang, berlari cepat menembus koridor kantor tanpa memedulikan pandangan puluhan karyawannya. Pria berdarah dingin itu melesat menuju lift VIP dengan satu tujuan di otaknya: merebut kembali bidadari mungil dan calon buah hatinya dari cengkeraman maut!
Badai penculikan yang paling kelam, paling dramatis, dan paling berdarah kini resmi meletus... menguji sejauh mana batas kekuatan, cinta mati, dan amarah sang CEO dingin untuk menyelamatkan nyawa istri dan anaknya.