Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hilangnya Sang Nyonya Muda
Hujan gerimis perlahan mulai membasahi pelataran jalanan di sekitar SMA Garuda. Di ujung gang sepi, Pak Mamat—sopir pribadi yang ditugaskan Exel untuk menjemput Alexa—berdiri kaku di samping pintu Rolls-Royce hitam yang terbuka. Matanya berulang kali melirik jam tangan, lalu menatap lurus ke lorong gang yang tampak gelap dan lengang.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih dua puluh menit siang. Biasanya, gadis mungil berseragam SMA itu sudah berlari kecil keluar dari gang sambil menyenggir manis dan menyapa ramah. Namun sore ini, lorong itu sunyi mencekam.
Pak Mamat merogoh ponselnya, menekan nomor kontak Alexa.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Deg.
Jantung Pak Mamat berdesir kencang. Ia mencoba menelpon kembali hingga tiga kali, namun hasilnya tetap sama. Karena dorongan firasat yang amat buruk, Pak Mamat melangkah masuk menelusuri lorong gang sepi tersebut.
Hanya berjarak sepuluh meter dari mulut gang, langkah Pak Mamat terhenti total. Matanya melotot sempurna dipenuhi horor.
Di atas tanah basah yang tergenang air hujan, tergeletak tas sekolah warna pastel milik Alexa yang koyak. Di sebelahnya, sebuah botol air mineral berstiker kartun beruang dan jepit rambut favorit Alexa tergeletak pasrah. Tidak ada sosok Alexa, tidak ada pengawal rahasia yang biasa berjaga di atas atap.
Tangan Pak Mamat gemetar hebat saat mengangkat tas sekolah yang basah itu. Dengan napas yang memburu panik, ia menekan nomor Exel.
Di lantai teratas gedung Dirgantara Group, Exel yang baru saja mendobrak pintu lift VIP mengangkat telepon dengan suara yang gemetar kaku oleh kepanikan.
"Mamat! Di mana Alexa?!" bentak Exel, suaranya sangat serak dan berat.
"P-Pak Exel... Ampun, Pak..." suara Pak Mamat pecah oleh tangis ketakutan di seberang telepon. "Nyonya Muda... Nyonya Muda tidak ada di lokasi, Pak! Ponselnya tidak aktif! Di gang... cuma ada tas sekolah dan barang-barang Nyonya Muda yang jatuh di tanah basah!"
DUARRR!
Seketika itu juga, benteng rasionalitas dan pintu darurat di dalam otak Exel meledak hancur tak tersisa!
Ponsel di genggaman Exel hampir saja terlepas dari jemarinya. Tubuh tegap setinggi 185 cm yang biasanya berdiri bagaikan gunung batu tak tergoyahkan itu seketika limbung menghantam dinding kaca lift VIP. Wajah tampannya pucat pasi bagaikan mayat, napasnya memburu parau dan berat.
"Gak... Nggak mungkin..." bisik Exel dengan suara bergetar hebat. Air mata ketakutan yang tak pernah tumpah seumur hidupnya kini meluncur deras membasahi pipinya.
Bayangan Alexa yang sedang hamil delapan minggu... bayangan gadis mungilnya yang cempreng, polos, dan kini sedang ketakutan di tangan para penjahat... membakar seluruh jiwa dan akal sehat sang CEO!
"ALEXAAAA!" jerit Exel histeris seraya menghantamkan tinjunya ke dinding kaca lift kencang-kencang! BRAK!
Kaca tebal itu retak seketika, buku-buku jari Exel pecah membiru dan mengeluarkan darah segar, namun sang CEO bahkan tidak merasakan rasa sakit itu sedikit pun. Rasa sakit di fisiknya tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit dan hancurnya hatinya saat membayangkan istri tercinta dan calon buah hatinya berada di dalam cengkeraman maut.
Exel merusut turun berlutut di lantai lift, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Sang CEO berdarah dingin itu menangis terisak-isak dalam keheningan lift VIP—sebuah pemandangan luar biasa tragis dari seorang pria yang telah kehilangan separuh jiwanya.
"Tolong... Siapa pun tolong kembalikan istriku..." racau Exel parau di balik isak tangisnya yang memilukan. "Kembalikan Alexa-ku..."
Bab 36: Kepanikan Dua Keluarga Besar
Pukul lima sore. Kediaman utama keluarga Dirgantara diliputi oleh atmosfer duka dan ketegangan yang teramat sangat pekat. Angin sore yang membawa aroma hujan seolah ikut meratapi musibah yang baru saja menghantam dua keluarga besar tersebut.
Di ruang keluarga utama yang luas, suasana terasa sangat mencekam.
Mama Maria tergeletak di atas sofa dengan wajah pucat pasi. Tangis histerisnya tak berhenti mengudara sejak dua jam lalu. Mama Sarah duduk memeluk Maria seraya menangis sesenggukan, dadanya naik turun terengah-engah akibat guncangan mental yang luar biasa.
"Alexa... Anakku... Ya Allah, selamatkan anakku dan cucuku..." ratap Maria histeris, jemarinya memeluk kencang baju hangat milik Alexa yang tertinggal di sofa. "Exel... Cari Alexa, Nak! Bawa Alexa pulang!"
Sarah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, air matanya menembus celah jemarinya. "Alexa lagi hamil muda... Dia gak bisa kena trauma... Siapa manusia jahat yang tega nyulik anak saya..."
Di sudut ruangan, Papa Hendra dan Papa Surya berdiri dengan raut wajah sangat keras dan tegang. Hendra sedang memegang telepon selulernya, menghubungkan saluran privat ke Kapolda dan petinggi institusi hukum nasional.
"Saya tidak peduli berapa banyak personel yang harus dikerahkan!" tegas Hendra dengan suara wibawanya yang bergetar penuh kemarahan. "Tutup seluruh akses keluar ibu kota! Pelabuhan, bandara, dan jalan tol! Cari menantu saya sampai dapat!"
Surya Pramudya, yang biasanya ramah dan bersahaja, kini berdiri mengepalkan tangannya kencang-kencang. Tatapan mata seorang ayah yang anaknya diculik berkilat penuh duka dan kemurkaan.
Namun, di tengah keriuhan duka dua keluarga besar tersebut, fokus utama ruangan tertuju pada sosok Exel dan Achmad.
Exel duduk kaku di kursi kayu dekat jendela. Kemeja putih mewahnya sudah tergulung berantakan, dan perban putih berbercak darah melingkupi tangan kanannya akibat luka bekas menghantam kaca lift. Wajah sang CEO sekeras ukiran batu es, namun matanya yang memerah basah memancarkan aura 'Dewa Kematian' yang sangat mengerikan dan mematikan. Pria itu tidak makan, tidak minum, dan tidak bersuara—jiwanya sepenuhnya terkunci pada misi penyelamatan istrinya.
Achmad berdiri di tengah ruang keluarga. Topeng jenaka, candaan absurd, dan gaya santainya sepenuhnya menguap tanpa bekas. Pria itu kini memegang dua tablet komando khusus yang terhubung langsung dengan pusat jaringan rahasia miliknya.
Exel mendongak lambat-lambat, menatap Achmad dengan suara sangat rendah, berat, dan membunuh:
"Achmad," panggil Exel, suaranya bagaikan hembusan angin dari neraka. "Keluarkan seluruh anak buahmu."
Achmad menatap Exel, mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Sudah, Cel. Pasukan sudah siaga penuh."
Achmad menekan tombol komando utama di tabletnya, mengaktifkan saluran komunikasi jaringan rahasia tingkat tinggi yang pernah dibahas di Bab 33: Divisi Cyber-IT Internasional dan Divisi Tactical Guard (Bodyguard Eksekutif).
"Dengarkan komando saya!" seru Achmad dengan suara lantang dan dingin yang memotong seluruh tangisan di ruang keluarga, membuat Maria dan Sarah tertegun.
"Untuk Divisi Cyber-IT!" instruksi Achmad tegas ke mikrofon tabletnya. "Lakukan peretasan massal terhadap seluruh kamera CCTV kota, lalu lintas satelit privat, dan lalu lintas frekuensi radio di radius lima puluh kilometer dari SMA Garuda! Lacak setiap pergerakan minibus hitam berpelat palsu dalam kurun waktu tiga jam terakhir! Bongkar seluruh lalu lintas obrolan rahasia atas nama Bramantyo Wijaya dan Clara!"
"Diterima, Komandan!" sahut suara puluhan peretas elit dari seberang saluran secara serentak.
"Dan untuk Divisi Tactical Guard!" lanjut Achmad dengan binar mata membunuh yang tak kalah mengerikan dari Exel. "Kerahkan seluruh komando batalyon pengawal taktis! Siapkan persenjataan lengkap, kendaraan taktis kedap suara, dan helikopter pelacak! Begitu titik koordinat penyekapan Nyonya Muda ditemukan... ratakan lokasi tersebut tanpa ampun!"
"SIAP, KOMANDAN! PERINTAH DILAKSANAAN!" jerit ratusan suara pengawal taktis elit di seberang saluran dengan gemuruh yang menggetarkan speaker tablet!
Pintu ruang keluarga terbuka kencang. Dua perwira tinggi dari Divisi Tactical Guard milik Achmad bersetelan serba hitam lengkap dengan tactical vest dan alat komunikasi canggih melangkah masuk, memberikan penghormatan militer pada Exel dan Achmad.
"Laporan, Pak Exel, Komandan Achmad!" tegas perwira tersebut. "Tim Cyber baru saja menemukan satu titik kelemahan sinyal frekuensi yang diacak! Minibus yang membawa Nyonya Alexa terdeteksi bergerak menuju kawasan industri tua terpencil di wilayah pedalaman batas timur kota!"
Brak!
Exel seketika melompat berdiri dari kursinya! Aura membunuh dan rasa protektif tingkat dewa meledak dahsyat dari tubuh tegap sang CEO!
"Achmad! Siapkan helikopter dan pasukan!" perintah Exel dengan suara menggelegar yang memecah keheningan ruangan. "Kita berangkat sekarang!"
Maria menangis seraya memegang lengan Exel. "Exel... Bawa Alexa dan cucu Mama pulang dengan selamat, Nak..."
Exel menunduk, mengecup dahi ibunya dan ibu mertuanya dengan mata memerah. "Exel janji, Ma, Pa... Exel akan kembalikan Alexa ke rumah ini, walau Exel harus meratakan seluruh tempat itu dengan darah musuh."
Dengan langkah cepat dan tegap, sang CEO berdarah dingin dan asisten pribadinya melesat keluar menuju helipad kediaman utama, siap meluncurkan aksi penyelamatan paling mencekam dan paling berdarah demi merebut kembali Bidadari Mungil dan calon buah hati tercinta.