Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Sinar matahari pagi merembas tipis melalui celah-celah tirai tinggi di ruang makan megah berarsitektur tropis itu. Namun, kehangatan pagi sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang mencekat. Meja makan kayu jati berukir yang biasanya dipenuhi tawa renyah, aroma kue hangat buatan Alana, dan kepulan teh manis, kini mendadak terasa begitu asing dan hampa.
Di atas meja, tersaji dua piring roti tawar beroleskan selai serta dua cangkir susu hangat yang disiapkan oleh Bik Sastro, asisten rumah tangga senior yang sudah bekerja di rumah itu sejak era almarhumah Kirana. Tidak ada pancake lembut, tidak ada omelet dengan hiasan sayur lucu, dan tidak ada kehangatan yang biasanya dihadirkan oleh jemari lembut Alana.
Gema duduk membisu di ujung meja. Kemeja putih yang ia kenakan tampak sedikit kusut pada bagian lengan, sementara matanya merah dan sembap, dikelilingi lingkaran hitam yang begitu pekat. Sepanjang malam, Gema sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba merebahkan badan, keheningan rumah mewahnya justru merayap naik, mencekik lehernya dengan bayangan detik-detik saat Alana melangkah keluar pagar membawa koper, menanggalkan statusnya sebagai istri.
Di sisi lain meja, Tania yang kini genap berusia enam tahun dan bersiap memasuki usia tujuh tahun duduk terkulai dengan seragam sekolah putih-merah yang melekat rapi di tubuhnya. Wajah mungilnya tampak pucat dan matanya bengkak. Roti tawar di piringnya sama sekali tak tersentuh jari-jarinya hanya sibuk memoles-moles pinggiran piring dengan sendok.
Sejak kepulangan mereka dari Lumiere Bakehouse kemarin sore, Tania terus histeris. Anak yang kian peka itu menangis tanpa henti sepanjang malam, memanggil-manggil nama Bundanya hingga suaranya serak dan kehabisan tenaga. Kamar Alana yang kosong dan dingin menjadi saksi bagaimana Tania tertidur lelap di atas kasur bekas tempat tidur Alana sambil memeluk erat salah satu apron milik ibunya yang masih beraroma vanila.
Gema membasahi bibirnya yang kering. Ia memajukan piring ke arah Tania dengan gerakan perlahan.
"Tania, Sayang... makan sedikit rotinya, ya?" bujuk Gema, suaranya parau dan bergetar. "Nanti perut Tania sakit di sekolah kalau enggak sarapan."
Tania tidak menggeleng, tidak pula mengangguk. Ia hanya menunduk dalam-dalam, membiarkan poni rambutnya menutupi wajahnya yang muram.
"Tania enggak mau roti ini, Ayah..." cicit Tania dengan suara serak yang begitu lirih. "Tania mau kue buatan Bunda. Bunda mana, Yah? Kenapa Bunda enggak pulang semalam? Bunda marah ya sama Tania?"
Deg!
Siksaan emosional itu kembali meremas ulu hati Gema hingga tak berbekas. Setiap kali Tania menanyakan keberadaan Alana, rasanya seperti belati tajam yang ditusukkan berulang kali tepat di dada kirinya.
"Enggak, Sayang... Bunda enggak marah sama Tania," dusta Gema untuk sekian kalinya, menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya.
"Bunda... Bunda cuma lagi ada urusan penting. Nanti kalau urusannya sudah selesai, Bunda pasti ketemu Tania lagi."
"Bohong!" seru Tania tiba-tiba. Anak berusia enam tahun itu mendongak, menatap ayahnya dengan matanya yang basah oleh genangan air mata baru.
"Ayah bohong! Kemarin Tante Maya bilang Bunda lagi istirahat, tapi Bunda enggak ada di toko! Bunda pergi dari rumah kan, Yah?! Ayah yang bikin Bunda pergi!"
Gema membeku di kursi makan. Lidahnya kelu. Daya kritis Tania yang makin bertumbuh membuat kebohongan-kebohongan kecil yang ia susun runtuh tanpa sisa dalam hitungan detik.
Sebelum situasi makin memburuk, Bik Sastro melangkah masuk dari arah dapur sambil membawa tas sekolah merah milik Tania. Wajah wanita paruh baya itu dipenuhi rasa iba dan keprihatinan yang mendalam saat menatap majikannya yang begitu rapuh.
"Pak Gema..." panggil Bik Sastro pelan dan sangat berhati-hati. "Mobil jemputan dan Pak Sopir sudah siap di depan. Supaya Non Tania enggak terlambat sampai sekolah, biar hari ini saya saja yang mengantar dan menemani Non Tania di sekolah, Pak."
Gema menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat. Ia tahu betul, kondisi fisiknya yang kacau dan emosi Tania yang masih labil akan membuat perjalanan mereka menuju sekolah menjadi makin menyiksa jika ia yang mengantar langsung.
"Iya, Bik. Tolong jagain Tania ya," bisik Gema pasrah.
Gema berlutut di samping kursi Tania, mencoba mengusap lembut pipi putrinya. Namun Tania hanya diam, membiarkan ayahnya menyapu sisa air mata di wajahnya tanpa memberikan respons hangat seperti biasanya.
"Tania belajar yang pintar ya di sekolah, Sayang. Nanti sore Ayah jemput..." ucap Gema dengan nada memohon.
Tania meraih tas sekolahnya dari tangan Bik Sastro tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia memutar badan, menggandeng erat tangan Bik Sastro, lalu melangkah pelan keluar dari ruang makan menuju teras depan. Langkah kaki kecil itu terasa begitu berat dan kehilangan keceriaan yang selama ini mewarnai rumah mereka.
Gema berdiri lemas, menyandarkan punggungnya pada pinggiran meja makan. Rumah mewah itu kini kembali diselimuti kesunyian yang mengerikan.
Beberapa saat kemudian, tatkala Gema baru saja hendak melangkah menuju tangga untuk bersiap-siap ke kantor, suara langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan di area lorong utama. Pak Joko, satpam yang bertugas menjaga gerbang depan rumah, berjalan masuk dengan wajah tegang dan cemas.
"Permisi, Pak Gema..." sapa Pak Joko dengan suara sedikit tertahan.
Gema menghentikan langkahnya di anak tangga pertama, menoleh dengan dahi berkerut. "Ada apa, Pak Joko? Bik Sastro dan Tania sudah berangkat?"
"Sudah, Pak. Baru saja mobilnya keluar pagar," jawab Pak Joko. Ia memegang sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar di kedua tangannya. "Ini, Pak... baru saja ada petugas kurir khusus yang datang ke gerbang depan. Katanya ada surat penting yang harus diserahkan langsung ke tangan Bapak dan wajib ditandatangani bukti terimanya."
Gema menatap amplop cokelat itu dengan dahi berkerut makin dalam. "Surat apa?"
"Tadi petugasnya bilang dari... dari pengadilan, Pak," cicit Pak Joko ragu-ragu.
Deg!
Dunia Gema seolah berhenti berputar detik itu juga. Seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin, menjalar dari telapak kaki hingga ke ujung kepala.
Dengan jemari yang mendadak gemetar hebat, Gema melangkah turun dari anak tangga dan meraih amplop tebal tersebut dari tangan Pak Joko. Pak Joko mengangguk sopan lalu bergegas mundur, memberi ruang pribadi bagi majikannya.
Gema berdiri mematung di tengah lorong rumahnya yang megah. Mata Gema melotot tajam, membelalak tak percaya tatkala pandangannya terkunci pada kop surat resmi berwarna hitam tebal yang tertera jelas di sudut kiri atas amplop tersebut.
PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN
Jalan Harsono RM No. 1, Ragunan, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan
Napas Gema mendadak memburu dan tidak teratur. Tatapannya bergulir cepat membaca cap stempel merah dan nama yang tertera sebagai Pihak Penggugat di lembaran tanda terima.
Penggugat: Alana Nisrina
Tergugat: Gema Mahardika
Pengadilan Agama.
Hantaman kenyataan itu terasa jauh lebih menyengat dan menghancurkan daripada bentakan amarah apa pun yang pernah ia dengar. Kemarin sore di ruang tamu ini, saat Alana menyodorkan draf gugatan perceraian, Gema masih mengira itu adalah gertakan emosional dari istrinya yang sudah terlalu lelah. Ia berpikir Alana hanya butuh waktu untuk mendinginkan kepala, dan ia masih bisa membujuknya kembali melalui pendekatan emosional atau bantuan keluarga.
Namun surat panggilan resmi dari Pengadilan Agama ini adalah bukti mutlak Alana tidak sedang bertindak impulsif. Alana sama sekali tidak sedang bergertak. Wanita itu benar-benar telah melangkah ke jalur hukum yang sah, mendaftarkan gugatan perceraian mereka secara resmi tanpa sedikit pun keraguan.
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga hampir merobek kertas, Gema membuka segel amplop cokelat itu. Ia menarik keluar beberapa lembar kertas berkop resmi pengadilan.
Mata Gema menyapu cepat poin demi poin dalam berkas Relaas Panggilan Sidang dan lembaran Gugatan Perceraian di tangannya. Di sana, tertulis tanggal sidang perdana dengan agenda Mediasi yang sudah ditetapkan oleh Majelis Hakim. Di lembaran gugatan, Alana membeberkan secara jujur dan dingin alasan perpisahan mereka. keretakan rumah tangga yang tak lagi bisa diperbaiki, pengabaian emosional selama bertahun-tahun, serta hilangnya rasa cinta dan kepemimpinan dalam pernikahan.
Yang paling menghancurkan kebanggaan Gema sebagai seorang pria adalah paragraf terakhir dalam berkas tersebut. Alana secara tegas menyatakan bahwa ia tidak menuntut harta gono-gini sepeser pun dari seluruh kekayaan yang dimiliki Gema. Alana juga menyerahkan urusan pola pengasuhan Tania untuk dibicarakan secara bijaksana tanpa ada tuntutan finansial.
Alana tidak menginginkan uangnya. Alana tidak menginginkan rumah mewahnya. Alana tidak menginginkan aset-asetnya.
Alana hanya menginginkan satu hal dari hidup Gema: Kebebasan mutlak dari dirinya.
"Enggak... enggak mungkin..." bisik Gema, suaranya pecah di tengah keheningan lorong rumah yang hampa.
Kertas-kertas resmi di tangannya gemetar beradu dengan angin dari pendingin ruangan. Gema menyandarkan punggungnya ke dinding marmer dingin, lalu tubuhnya meluruh perlahan hingga ia terduduk di atas lantai.
Surat panggilan dari Pengadilan Agama itu tergeletak di pangkuannya. Di rumah mewahnya yang megah namun tak berpenghuni ini, Gema akhirnya sadar bahwa pintu maaf dari Alana telah tertutup rapat, dan badai perceraian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
kejam bgt sm ank sndiri....
nnti klo tania smpe kmbali ke alam baka... bru nyesel km....