Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 35
Malam makin larut, menembus angka sepuluh. Suara deru mesin motor tua milik Aidil membelah kesunyian gang sempit di kawasan Jakarta Selatan. Hujan gerimis yang mengguyur sejak sore menyisakan genangan air kotor di jalanan, terciprat ke celana jeans Aidil yang telah ternoda oli hitam dan debu mesin.
Pria yang dulu selalu tampil klimis dengan setelan jas seharga puluhan juta itu kini melangkah gontai, menyeret kakinya yang pegal. Setelah menikah secara siri dengan Stela satu minggu setelah resmi bercerai dengan Zivana, sanksi dari Papa Bagas tak main-main. Seluruh asetnya dibekukan, jabatannya sebagai direktur dicabut, dan rumah mewahnya disita atas nama keluarga besar. Kini, Aidil hanya seorang teknisi di bengkel otomotif kecil milik temannya, dan mereka terpaksa menempati rumah kontrakan dua kamar yang pengap dan sempit, sebuah kontrakan yang disewa menggunakan sisa uang tabungan Stela.
Anak-anak tak bisa di bawa oleh Papa Bagas, karena Stela akan mengancam melaporkan kepada polisi kalau Papa Bagas mengambil mereka. Rupanya Stela menggunakan kedua anak kandungnya untuk terus mengikat Aidil agar tdidak pergi darinya. Entah apa yang di inginkan oleh Stela dari Aidil.
Aidil mendorong pintu kayu kontrakan yang berderit. Aroma lembab dan bau makanan basi langsung menyambut indra penciumannya.
"Baru pulang jam segini?!"
Suara lengkingan tajam langsung menyambar Aidil bahkan sebelum ia sempat melepas sepatu ketsnya yang basah. Stela berdiri di tengah ruang tamu sempit dengan gaun satinyna, kedua tangannya berkacak pinggang. Wajah cantiknya kusam, dipenuhi kemarahan yang meluap-luap. Aidil menghela napas lelah, mengusap wajahnya yang kotor oleh jelaga.
"Aku baru selesai servis tiga mobil, Stel. Lembur di bengkel biar dapat uang jalan ekstra."
"Uang jalan ekstra?!" Stela tertawa sinis, langkah kakinya mendekati Aidil dengan tatapan menghina.
"Berapa banyak hah?! Cuma cukup buat beli token listrik?! Dengar ya, Aidil! Aku ini sedang hamil anakmu! Tapi aku harus tinggal di kandang burung sempit seperti ini! Kamu harus minta ayahmu untuk mengembalikan seluruh fasilitasmu! Apa kamu mau menyiksaku dan calon anakmu dengan kehidupan seperti ini dan mengalami kekurangan gizi?"
"Stel, tolong... aku capek banget," bisik Aidil pelan, suaranya serak. Ia berjalan menuju meja plastik di sudut ruangan untuk mengambil air minum.
"Papa benar-benar memutus semua akses finansialku. Aku tidak punya pilihan lain selain kerja di bengkel Dani. Tolong mengerti keadaan kita sekarang. Bukannya kamu sudha tahu dari awal resikonya? Lalu apa yang salah? Kamu bukannya ingin menikah denganku kan? Toh sekarang kita sudah menikah seperti keinginanmu!"
"Mengerti keadaan?!" jerit Stela makin menjadi, menyambar gelas di meja dan membantingnya hingga pecah ke lantai.
PRANGG
"Aku mau menikah sama kamu itu buat hidup enak, Aidil! Bukan buat hidup melarat begini!" bentak Stela, menunjuk-nunjuk dada Aidil dengan telunjuknya.
"Mana janji-janjimu?! Kamu bilang Papa Bagas cuma gertak sambal! Tapi apa?! Sekarang mobil mewahmu ditarik, kartu kredit diblokir, dan aku harus membiayai kontrakan kumuh ini dari uang simpananku! Kamu itu laki-laki tidak berguna!"
Dada Aidil berdesir panas. Hinaan demi hinaan dari wanita yang dulu amat ia puja kini mulai terasa seperti racun. "Jaga bicaramu, Stela! Kamu pikir aku mau berada di posisi ini?! Aku mengorbankan segalanya buat kamu! Aku kehilangan Zivana, aku kehilangan jabatan, aku dibuang keluargaku, semua karena kamu!"
"Oh, jadi kamu menyalahkan aku?!" Stela menyeringai kejam, matanya melotot.
"Salah sendiri kamu tolol! Kenapa mau saja dibodohi sama pak tua itu! Kalau saja kamu bisa pegang kendali di perusahaan, kita tidak akan seperti orang buangan di sini!"
Di tengah pertengkaran hebat yang mengguncang kontrakan sempit itu, suara gedoran dari dalam pintu kayu rapuh di sudut dekat dapur tiba-tiba terdengar, disertai tangisan histeris yang samar.
Brak! Brak! Brak!
"Papa! Papa sudah pulang?!" suara Khaisar berteriak dari balik pintu kayu yang terkunci dari luar. "Papa, tolong buka! Kami lapar, Pa! Amora lemas!"
"Papa! Amora takut gelap, Pa... Buka..." tangis Amora menyayat hati.
Aidil membeku. Matanya membelalak lebar saat menyadari pintu gudang tempat penyimpanan barang bekas kontrakan itu terkunci rapat dari luar dengan gembok besi.
"Stel..." suara Aidil mendadak gemetar, tatapannya beralih menatap Stela dengan horor.
"Kenapa anak-anak ada di dalam gudang?! Kenapa pintunya dikunci?!"
Stela melipat tangannya di dada, membuang muka dengan ekspresi dingin tanpa rasa dosa. "Anak-anakmu itu tidak tahu diri! Dari pagi membangkang, merengek-rengek minta makan, dan terus-terusan menyebut nama Zivana di depanku! Biar tahu rasa, aku kurung saja mereka di sana dari siang!"
"Kamu... kamu mengurung mereka dari siang?!" tebak Aidil tak percaya.
Pria itu menyambar kunci gembok yang tergeletak di atas lemari kecil, jemarinya yang gemetar hebat berusaha memasukkan kunci ke lubangnya. Begitu gembok terbuka, Aidil menarik pintu itu lebar-lebar.
Aroma debu dan hawa pengap menyengat hidungnya. Di sudut gudang yang kotor dan gelap, Khaisar sedang merangkul tubuh Amora yang terkulai lemas di atas kasur lipat tipis. Wajah kedua anak kandungnya itu pucat pasi, kotor oleh debu, dan pipinya basah oleh air mata yang sudah mengering.
"Khaisar! Amora!" teriak Aidil histeris, langsung berlutut dan merengkuh kedua darah dagingnya ke dalam pelukan. Amora yang sudah hampir hilang kesadaran meraba dada Aidil dengan tangan kecilnya yang dingin.
"Papa... Amora lapar... Tante Stela jahat, Pa... Amora mau Bunda Ziva..."
Hati Aidil hancur seperti dihantam ribuan godam besi. Penyesalan yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam dadanya hingga sesak. Anak-anak yang dulu selalu dirawat dengan penuh kasih sayang, kebersihan, dan kehangatan oleh Zivana, kini terlantar dan tersiksa di tangan wanita yang bahkan adalah ibu kandungnya sendiri. Kebo-dohannya sudah membuat mereka benar-benar hancur. Apalagi dengan keadaan anak-anaknya yang tak terurus karena Stela selalu marah dan kesal kepada anak-anaknya.
Aidil mendongak, menatap Stela dengan mata merah menyala dipenuhi kemarahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kamu iblis, Stela! Mereka ini anak-anak kandungmu sendiri! Teganya kamu mengurung mereka tanpa makan seharian di dalam tempat pengap seperti ini?!"
Stela tak bergeming, justru berdecak malas. "Halah, cuma dikurung beberapa jam saja tidak bakal mati! Lagipula mereka tidak menganggapku ibunya, buat apa aku peduli?! Kasih saja mereka sisa mi instan di dapur sana kalau mau!"
"Diam kamu!" bentak Aidil menggelegar, membuat Stela sempat terkejut.
Aidil menggendong Amora yang lemas dan menuntun Khaisar keluar dari tempat laknat itu. Khaisar menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh kekecewaan dan kebencian yang mendalam.
"Jangan sentuh aku, Pa," desis Khaisar dingin, menepis pelan tangan Aidil saat pria itu mencoba mengusap kepalanya.
"Papa yang bawa perempuan iblis ini ke rumah. Papa yang sudah membuat kami berada di dalam neraka ini. Papa yang usir Bunda Ziva. Aku benci sama Papa."
Kata-kata dari anak laki-lakinya itu merobek-robek sisa kebanggaan Aidil. Pria itu terduduk di lantai dingin, memeluk Amora yang menangis perlahan.
Di ruang tamu yang sempit dan pengap, di bawah remang lampu bohlam kuning, Aidil menyadari kebenaran yang amat pahit. Penjara kehidupan yang ia tempuh baru saja dimulai. Ia telah menukar surga dan kedamaian hidupnya bersama Zivana dengan sebuah neraka buatan sendiri bersama Stela, sebuah keputusan konyol yang kini harus ia bayar mahal dengan penderitaan dan penyesalan seumur hidupnya.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.