Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hari yang Terasa Panjang

Cahaya tidak muncul di persimpangan selama tiga hari, dan aku baru sadar seberapa aneh rasanya sampai hari kedua.

Ini masih masa liburan semester, jadi tidak ada jadwal kuliah yang memaksa kami bertemu di jam tertentu. Tapi selama liburan pun, biasanya ada pola sendiri yang terbentuk, entah itu chat pagi menanyakan mau ngapain hari ini, atau dia yang tiba-tiba muncul di depan rumah dengan alasan "bosan di rumah" padahal jaraknya cuma dua rumah dari tempatnya sendiri.

Hari pertama, aku pikir dia memang lagi sibuk. Neneknya dari pihak ibu datang dari Solo, dan setahuku itu kunjungan yang cukup jarang terjadi, jadi wajar kalau seluruh keluarganya sibuk menyambut. Aku dapat pesan singkat pagi itu.

"Nenek dateng. Rumah rame banget. Enggak bisa main dulu beberapa hari, sori."

"Enggak apa-apa. Selamat menikmati kerumunan keluarga."

"Bantu doain aku."

Aku membalas dengan stiker tertawa, dan itu saja, tidak ada yang aneh dari pertukaran itu.

Hari kedua, aku baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah aku perhatikan secara sadar: seberapa banyak ruang yang biasanya diisi Cahaya dalam satu hari, bahkan di hari-hari yang secara teori "kosong" seperti liburan begini.

Aku bangun jam sembilan, lebih siang dari biasanya, karena tidak ada persimpangan jam enam empat puluh lima yang harus dikejar. Sarapan sendirian, karena biasanya kalau libur begini Cahaya suka mampir sebelum jam sepuluh sambil bawa roti atau kue dari tetangganya yang baru belajar bikin kue kering. Siang, aku duduk di kamar, membuka laptop, meneruskan season baru yang sudah aku tonton sampai episode empat, dan menyadari aku tidak sekali pun mengirim pesan ke siapa pun soal reaksi terhadap plot twist di episode itu.

Biasanya, aku selalu mengirim pesan ke Cahaya soal hal-hal begini. Bukan karena dia terlalu tertarik dengan detail plotnya, tapi karena sudah jadi kebiasaan, semacam refleks, seperti orang yang otomatis mengecek ponsel begitu bangun tidur meski tidak menunggu pesan apa pun secara spesifik.

Aku menatap layar chat kami. Pesan terakhir masih yang kemarin pagi, tentang nenek dan doa.

Aku mengetik: "Eh btw ada plot twist gila di episode 4."

Lalu menghapusnya.

Terasa aneh mengirim pesan seperti itu ke seseorang yang sedang sibuk dengan keluarganya, seperti memaksakan sesuatu yang tidak perlu dipaksakan. Aku menutup aplikasi chat, kembali menonton, tapi entah kenapa episode itu terasa berbeda ditonton sendirian tanpa ada rencana untuk membicarakannya nanti.

Sore itu, ibuku memanggil dari dapur, minta bantuan mengangkat galon air yang baru datang, dan sambil aku angkut galon itu ke dispenser, dia bertanya hal yang, dalam konteks lain, mungkin terasa biasa saja.

"Cahaya kemana? Udah dua hari enggak keliatan mampir."

"Neneknya dateng dari Solo."

"Oh, Bu Wati ya. Masih sehat kan orangnya?"

"Kayaknya. Aku enggak tanya detail."

Ibuku mengangguk, melanjutkan memotong sayur, dan sambil bekerja dia berkata, dengan nada yang santai tapi entah kenapa menempel lebih lama dari yang seharusnya di kepalaku, "Rumah jadi lebih sepi ya kalau dia enggak ada."

Aku tidak langsung menjawab itu, meletakkan galon dengan hati-hati, karena kalimat itu, meski diucapkan sekilas oleh ibuku sendiri, entah kenapa terasa seperti menyentuh sesuatu yang belum pernah aku ucapkan bahkan ke diri sendiri.

"Enggak juga," jawabku akhirnya, terlambat beberapa detik untuk terdengar natural.

Ibuku melirikku sebentar, tidak berkomentar lebih jauh, kembali fokus ke sayurannya, tapi aku menangkap sedikit senyum di sudut bibirnya yang membuatku merasa dia tahu sesuatu yang aku sendiri belum sepenuhnya mengakui.

Malam itu, aku tidak bisa tidur secepat biasanya.

Aku berbaring, menatap langit-langit, dan pikiranku, tanpa aku undang, mulai menjelajahi kembali hari-hari biasa yang sekarang terasa jauh lebih berharga karena absennya, sama seperti orang yang baru sadar seberapa penting listrik ketika listrik itu padam.

Aku memikirkan persimpangan gang jam enam empat puluh lima. Meja pojok kantin. Es teh dari Pak Udin. Chat antara jam delapan dan sembilan malam yang, selama masa liburan ini, masih terjadi tapi jadi lebih pendek, lebih terjadwal karena Cahaya harus membantu keluarganya menjamu tamu.

Aku membuka laptop lagi, bukan untuk menonton apa-apa, tapi membuka folder foto lama yang jarang aku buka, kumpulan foto dari SD dan SMP yang dulu aku scan dari album fisik ibuku beberapa tahun lalu, saat itu untuk tugas sekolah tentang "sejarah keluarga" yang entah kenapa aku perluas juga ke foto-foto pertemanan.

Ada foto aku dan Cahaya umur enam tahun, berdiri di depan gerbang TK dengan seragam yang kebesaran, dia memegang tanganku erat karena katanya dulu aku sering nangis kalau ditinggal sendirian.

Ada foto kami kelas empat SD, di acara perpisahan kelas, aku berdiri kaku di pojok sementara Cahaya menarik lenganku untuk ikut foto bersama, ekspresi wajahku jelas menunjukkan aku lebih ingin berada di tempat lain.

Ada foto SMP, waktu study tour ke Yogyakarta, kami berdua duduk di bus yang sama, aku sedang membaca komik sementara dia tertidur dengan kepala bersandar di bahuku, dan seseorang mengambil foto itu tanpa sepengetahuan kami berdua.

Aku menggulir lebih jauh, semakin banyak foto, semakin banyak tahun, dan pola yang muncul cukup jelas: hampir di setiap fase hidupku yang punya dokumentasi foto, ada Cahaya di sana. Bukan sebagai figuran, tapi sebagai bagian yang, kalau dihilangkan dari foto-foto itu, akan membuat gambar terasa tidak lengkap, seperti panel manga yang kehilangan satu karakter penting di tengah adegan.

Aku menutup laptop sekitar jam sebelas malam, tapi pikiran itu tidak ikut tertutup bersamanya.

Ada satu konsep yang pernah aku baca di suatu artikel tentang penulisan karakter, tentang bagaimana setiap cerita punya elemen yang disebut "constant", sesuatu atau seseorang yang tetap ada meski dunia di sekitar karakter utama berubah drastis. Biasanya elemen ini dipakai untuk menunjukkan siapa karakter utama sebenarnya, karena caranya memperlakukan constant itu mengungkap nilai-nilai inti yang tidak berubah meski plot bergerak ke mana-mana.

Aku ingat membaca itu sekitar setahun lalu, menganggapnya sebagai teori penulisan yang menarik, tanpa pernah benar-benar mengaitkannya dengan hidupku sendiri.

Sekarang, berbaring di kasur jam sebelas malam hari ketiga tanpa Cahaya di sekitar, konsep itu terasa relevan dengan cara yang membuatku sedikit gelisah.

Kalau hidupku ini cerita, dan aku mencoba mengidentifikasi elemen constant di dalamnya, jawabannya cukup jelas tanpa perlu berpikir keras. Bukan rumah, karena rumah bisa pindah. Bukan sekolah, karena sekolah sudah tiga kali berganti sejak TK. Bukan bahkan hobi anime dan manga, karena preferensiku terhadap judul dan genre berubah seiring waktu.

Yang tetap, dari umur empat tahun sampai sekarang delapan belas tahun, cuma satu.

Aku duduk, menyalakan lampu meja, mengambil buku catatan kosong yang biasa aku pakai untuk mencatat ide cerita atau teori random yang muncul di kepala, dan menulis, tanpa rencana jelas, cuma untuk melihat apakah menuliskannya membuat semuanya lebih jelas atau justru lebih rumit.

Constant dalam hidupku: Cahaya.

Kenapa dia constant: karena selalu ada, sejak sebelum aku bisa mengingat kapan tepatnya dia mulai ada.

Apa artinya kalau seseorang jadi constant: berarti orang itu bagian dari pondasi, bukan sekadar dekorasi.

Aku menatap tiga kalimat itu cukup lama.

Lalu menulis kalimat keempat, lebih ragu dari yang sebelumnya.

Apakah ini cinta?

Aku menatap kalimat itu lebih lama lagi, pulpen tergantung di udara tanpa melanjutkan tulisan, dan setelah beberapa menit, aku mencoret kalimat itu dengan garis tunggal, bukan dihapus total, cuma dicoret, seperti aku tidak cukup yakin untuk membuangnya sepenuhnya tapi juga tidak cukup siap untuk membiarkannya berdiri sebagai pernyataan yang jelas.

Di bawahnya, aku menulis kalimat lain, yang terasa lebih aman, lebih bisa aku pertanggungjawabkan pada diri sendiri malam itu.

Yang aku tahu pasti: hidup terasa kurang lengkap kalau dia enggak ada. Titik.

Enggak perlu dikasih nama dulu. Yang penting aku tau itu fakta.

Aku menutup buku catatan itu, mematikan lampu meja, dan berbaring lagi, dengan perasaan yang, anehnya, lebih tenang dari sebelumnya, meski pertanyaan besar yang aku coret tadi masih ada di suatu tempat, tidak benar-benar hilang, cuma disimpan untuk nanti.

Hari ketiga, Cahaya mengirim pesan jam sepuluh pagi.

"Nenek udah pulang tadi subuh. Rumah kembali normal."

"Capek?"

"BANGET. Tiga hari jadi tour guide dadakan buat nenek keliling komplek, sambil harus tetep sopan senyum-senyum."

"Sabar."

"Kamu ngapain aja tiga hari ini? Kangen enggak sama aku?"

Pertanyaan itu diketik dengan nada yang jelas bercanda, disusul emoji tertawa, tipikal candaan Cahaya yang biasa dia lempar tanpa berharap jawaban serius. Tapi aku menatap pesan itu lebih lama dari biasanya, jariku berhenti sebentar di atas keyboard, mempertimbangkan berbagai versi jawaban yang bisa aku kirim.

Aku bisa balas dengan candaan setara, sesuatu seperti "enggak lah, aku sibuk banget nonton anime," yang aman, sesuai pola biasa kami.

Aku bisa juga balas jujur, sesuatu yang lebih dekat dengan apa yang benar-benar aku rasakan tiga hari terakhir, tapi itu terasa terlalu besar untuk diketik di pagi hari yang santai begini, dan aku tidak cukup yakin bagaimana dia akan bereaksi, atau lebih tepatnya, aku tidak cukup yakin bagaimana aku sendiri akan bereaksi kalau dia bereaksi dengan cara tertentu.

Aku memilih jalan tengah.

"Rumah emang lebih sepi tanpa kamu tiga hari ini."

Aku mengirimnya sebelum sempat berpikir ulang, dan langsung merasakan sedikit penyesalan begitu pesan itu terkirim, karena kalimat itu, meski tidak seberapa dibanding apa yang sebenarnya aku pikirkan semalam, tetap terasa lebih jujur dari yang biasa aku kirim.

Balasan tidak datang secepat biasanya. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi, pola yang sudah aku kenal sebagai tanda dia sedang menimbang kata-kata, berlangsung lebih lama dari biasanya, sampai aku mulai bertanya-tanya apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah.

Akhirnya, satu pesan masuk.

"...Beneran?"

Cuma satu kata, tapi entah kenapa terasa lebih berat dari kalimat panjang mana pun.

Aku menatap layar itu, mempertimbangkan lagi, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menarik kembali apa yang sudah aku katakan, karena menariknya kembali terasa seperti berbohong tentang sesuatu yang, semalam, aku sudah tuliskan sendiri di buku catatan sebagai fakta.

"Beneran. Kamu tau kan aku bukan orang yang suka bilang hal-hal kayak gitu kalau enggak beneran."

Jeda lagi. Lebih pendek kali ini.

"Aku juga kangen kok, Ren."

"Tiga hari ini rasanya lama banget."

Aku membaca dua pesan itu bergantian, dan sesuatu di dadaku terasa lebih ringan, seperti beban yang tidak aku sadari sedang aku pikul selama tiga hari terakhir tiba-tiba diangkat sedikit.

"Ketemuan sekarang?" tanyaku.

"Bentar lagi ya, aku beresin kamar dulu, abis dipake tidur nenek jadi berantakan. Ketemu jam makan siang aja?"

"Oke. Di mana?"

"Di rumah kamu aja. Aku mau makan masakan mama kamu, udah kangen."

"Oke."

Sambil menunggu jam makan siang, aku duduk di ruang tamu, menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar aku tonton, pikiranku masih berputar di sekitar percakapan tadi.

Aku tidak menyebut kata "cinta" dalam pesan itu, dan aku tidak berencana menyebutnya hari ini, atau mungkin dalam waktu dekat. Bukan karena aku menyangkal perasaan itu ada, karena semalam aku sudah cukup jujur pada diri sendiri untuk mengakui bahwa Cahaya adalah constant, bahwa hidup terasa kurang lengkap tanpanya, bahwa tiga hari tanpa dia di sekitar cukup untuk membuatku memeriksa ulang seluruh rutinitas hidupku dan menyadari betapa banyak bagian dari rutinitas itu yang sebenarnya berputar di sekitar keberadaannya.

Tapi ada perbedaan antara mengakui fakta itu ke diri sendiri, di buku catatan, jam sebelas malam sendirian di kamar, dengan mengucapkannya secara terbuka, dengan nama yang sudah pasti, ke orang yang bersangkutan.

Aku tidak tahu kenapa perbedaan itu terasa begitu besar. Mungkin karena menyebut nama pada sesuatu berarti mengakui bahwa sesuatu itu punya bentuk yang jelas, punya konsekuensi, punya arah yang harus diikuti setelahnya. Sementara membiarkannya tanpa nama, cuma sebagai "hidup terasa kurang lengkap tanpanya", terasa lebih aman, lebih fleksibel, tidak mengharuskan aku melakukan apa pun selain terus menjalani hari seperti biasa.

Mungkin itu pengecut. Aku tidak sepenuhnya menolak kemungkinan itu.

Tapi aku juga berpikir, mungkin ada hal-hal yang memang tidak perlu buru-buru diberi nama, terutama kalau memberinya nama berarti mempertaruhkan sesuatu yang sudah berjalan baik selama belasan tahun tanpa nama apa pun.

Cahaya datang jam dua belas kurang lima belas, memakai kaos rumahan yang jelas belum diganti sejak bangun tidur, rambutnya diikat asal ke belakang, wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan tiga hari sebagai tour guide dadakan.

"Aku laper banget," katanya, begitu masuk, langsung menuju dapur di mana ibuku sedang menyiapkan makan siang.

"Nenek pulang lancar?" tanya ibuku, menyambutnya dengan senyum yang sudah sangat familiar, senyum orang yang sudah kenal Cahaya sejak dia masih pakai popok.

"Lancar, Tante. Tapi capek banget, seriusan, tiga hari nemenin nenek keliling itu kayak jadi tour guide profesional."

Kami makan siang bertiga, ibuku, Cahaya, dan aku, dengan obrolan yang mengalir seperti biasa, tentang kunjungan nenek, tentang rencana sisa liburan, tentang gosip tetangga yang katanya baru pindah rumah. Semuanya terasa normal, terasa seperti hari-hari biasa sebelum tiga hari kekosongan itu terjadi.

Tapi sesekali, di sela obrolan, aku menangkap Cahaya melirikku dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya, seperti dia masih memikirkan pesan pagi tadi, dan aku juga menangkap diriku sendiri melakukan hal yang sama, melirik kembali dengan cara yang mungkin terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

Ibuku, di suatu titik, bangkit untuk mengambil piring tambahan, dan sesaat kami berdua diam saja, tidak benar-benar canggung, tapi ada sesuatu yang mengambang di antara kami yang belum terselesaikan sejak pesan pagi tadi.

"Ren," katanya, pelan, saat ibuku masih di dapur.

"Hm?"

"Soal pesan tadi pagi."

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, meski aku berusaha terlihat biasa saja. "Kenapa?"

"Enggak apa-apa," katanya, cepat, seolah berubah pikiran di detik terakhir. "Cuma... makasih. Buat bilang gitu."

"Aku cuma bilang fakta."

"Aku tau." Dia tersenyum, senyum yang lebih tenang dari biasanya, bukan senyum lebar yang biasa dia tunjukkan ke orang lain, tapi senyum kecil yang jarang muncul, yang hanya aku lihat dalam momen-momen tertentu. "Makanya makasih."

Ibuku kembali dengan piring tambahan, dan percakapan beralih lagi ke topik yang lebih ringan, tapi momen kecil itu, pertukaran singkat yang tidak lebih dari sepuluh detik, menempel di kepalaku sepanjang sisa siang itu, jauh lebih lama dari yang seharusnya untuk percakapan sesingkat itu.

Sore harinya, setelah Cahaya pulang untuk istirahat lebih lanjut, aku duduk lagi di kamar, membuka buku catatan yang sama dari semalam.

Aku menatap kalimat yang aku coret semalam, Apakah ini cinta?, masih bisa dibaca meski dicoret, dan di bawahnya kalimat yang aku putuskan untuk dipegang sebagai kesimpulan sementara.

Yang aku tahu pasti: hidup terasa kurang lengkap kalau dia enggak ada. Titik. Enggak perlu dikasih nama dulu. Yang penting aku tau itu fakta.

Aku menambahkan satu kalimat lagi, di bawahnya, setelah pengalaman hari ini.

Tapi kayaknya, kalau dia yang duluan nanya soal itu, aku enggak yakin masih bisa jawab sesantai ini.

Aku menutup buku catatan itu, meletakkannya kembali di laci meja, dan berbaring di kasur, menatap langit-langit yang sudah mulai gelap karena sore beranjak malam.

Tiga hari yang terasa panjang itu sudah berakhir. Cahaya sudah kembali, rutinitas sudah kembali normal, dan besok, kemungkinan besar, kami akan kembali ke pola biasa, jalan bareng kalau ada acara, chat antara jam delapan sampai sembilan, candaan-candaan yang sama seperti sebelumnya.

Tapi ada sesuatu yang berubah sedikit, entah di mana persisnya, mungkin di dalam diriku sendiri, sebuah pengakuan kecil yang sekarang sudah tertulis hitam di atas putih di buku catatan yang tersimpan di laci, tidak lagi cuma perasaan samar yang bisa aku abaikan sebagai kelelahan atau kebiasaan biasa.

Aku belum siap menyebutnya dengan nama yang lebih besar. Tapi aku juga tidak bisa lagi berpura-pura fakta itu tidak ada.

Untuk malam ini, itu cukup.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!