"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN KEHANCURAN
Pintu kayu tebal Ruang Sidang Utama terbuka. Majelis hakim yang dipimpin oleh Hakim Ketua yang berwibawa telah duduk rapi di meja hijau. Isma melangkah masuk dengan tenang bersama Pak Lukman, mengambil posisi di kursi penggugat. Di sebelah kanan, Yoga duduk dengan canggung di kursi tergugat, didampingi seorang pengacara yang tampak ragu-ragu. Sementara Gladis, Ibu Lestari, dan Aini hanya diperbolehkan menunggu di bangku penonton bagian belakang dengan wajah tegang.
Tok! Tok! Tok!
Hakim Ketua memukul palu sidang tiga kali, menandai dimulainya persidangan agenda pertama: pemeriksaan identitas dan upaya mediasi awal.
"Sidang perkara perceraian antara Isma Larasati sebagai Penggugat dan Yoga Pratama sebagai Tergugat resmi dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan suara lantang yang menggelegar di dalam ruangan.
Hakim Ketua menatap kedua belah pihak, lalu memulai proses mediasi formal. "Saudara Tergugat, Yoga Pratama, apakah Saudara menerima berkas gugatan dari Penggugat dan apakah Saudara bersedia untuk dimediasi?"
Yoga buru-buru berdiri, berusaha menunjukkan wibawa yang tersisa meski pakaiannya yang kusut meruntuhkan kesannya. "Saya keberatan, Yang Mulia! Saya tidak mau bercerai. Gugatan ini didasari emosi semata. Lagipula, Yang Mulia, Penggugat ini telah melakukan pencemaran nama baik dan patut diduga memiliki pria simpanan karena tiba-tiba memiliki aset mewah tanpa sepengetahuan saya!"
Mendengar tuduhan panik Yoga, Ibu Lestari di belakang mengangguk-angguk semangat, sementara Pak Lukman hanya tersenyum tipis seraya menyesuaikan letak kacamata.
Isma tetap duduk tegap tanpa sedikit pun riak cemas di wajahnya.
"Tenang, Saudara Tergugat. Dipersilakan duduk kembali," tegur Hakim Ketua tegas. "Kesempatan Saudara untuk menjawab ada pada agendanya. Saat ini, Penggugat, apakah ada tanggapan atau bukti awal yang ingin disampaikan terkait alasan gugatan?"
Pak Lukman berdiri seraya menyerahkan sebuah map tebal dan sebuah flashdisk steril kepada panitera untuk diteruskan ke meja majelis hakim.
"Yang Mulia Majelis Hakim," ujar Pak Lukman mantap. "Klien kami mengajukan gugatan cerai gugat atas dasar perselingkuhan berulang dan penelantaran emosional. Sebagai bukti awal yang sah, kami melampirkan rekaman video dan audio beresolusi tinggi, serta cetakan percakapan yang merekam tindakan perzinahan Tergugat dengan wanita lain di dalam kendaraan milik Klien kami."
Hakim Ketua membuka map tersebut dan melihat lembaran foto bukti yang begitu jelas. Raut wajah majelis hakim seketika berubah serius dan dingin saat mengamati bukti-bukti otentik di hadapan mereka.
Yoga tertunduk dalam-dalam, wajahnya pucat pasi bagai mayat, tak berani mendongak sedikit pun saat aura Ruang Sidang berubah sepenuhnya memojokkan dirinya.
Suara bisik-bisik yang mulanya samar di area bangku penonton perlahan membiru, makin terdengar jelas di tengah keheningan ruang sidang yang menegang. Beberapa pengunjung sidang dan warga yang sedang menunggu giliran memperhatikan raut wajah Yoga yang pucat pasi, lalu bertukar pandang dengan tatapan cemooh.
"Biar kapok! Playing victim banget suaminya," bisik seorang wanita di barisan belakang dengan nada gemas. "Udah salah, selingkuh, masih sempat-sempatnya nuduh istrinya macam-macam di depan hakim."
"Iya, pantas saja digugat sama istrinya," timpal penonton lain di sebelahnya. "Kelihatan dari penampilannya aja lusuh begitu, beda jauh sama istrinya yang anggun dan berpendidikan. Dasar pria tidak tahu diri!"
Bisikan-bisikan pedas itu menghantam telinga Yoga bagai tamparan tak berwujud. Pria itu meremas celananya sendiri di balik meja, merasakan hawa panas membakar wajah dan lehernya. Rasa malu yang luar biasa menembus pertahanan dirinya; seluruh harga dirinya sebagai laki-laki runtuh tak bersisa di depan umum.
Di belakang, Ibu Lestari dan Aini yang mendengar cemoohan para penonton langsung melotot murka, namun mereka tak berani berkutik atau membuka suara karena takut diusir oleh petugas keamanan pengadilan. Gladis bahkan makin menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambut agar tidak dikenali sebagai wanita di dalam foto bukti tersebut.
Hakim Ketua ketuk palu sekali untuk menertibkan ruangan. Tok!
"Harap tenang di dalam ruang sidang!" tegur Hakim Ketua tegas.
Beliau kemudian kembali menatap Yoga dengan pandangan dingin dan penuh ketegasan. "Saudara Tergugat, bukti-bukti awal yang diajukan Penggugat sangat telanjang dan sah secara hukum. Apakah Saudara masih menyangkal keberadaan rekaman dan bukti perselingkuhan ini?"
Yoga menelan ludah yang terasa bagai duri di tenggorokannya. Pengacaranya di samping menggeleng pelan, memberi isyarat agar Yoga tidak makin memperkeruh suasana dengan kebohongan konyol.
"S-saya... Yang Mulia..." kata Yoga gagap, suaranya pelan dan bergetar, tak lagi menyisa sedikit pun kesombongan yang semalam ia pamerkan di rumah baru Isma.
Isma melirik sedikit ke arah Yoga dari sudut matanya. Di dalam hatinya, tidak ada lagi dendam atau amarah yang tersisa—hanya rasa kepuasan dingin melihat pria yang pernah merendahkannya kini hancur berkeping-keping oleh kebodohannya sendiri.