Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Janji di Bawah Langit Sore

Bibir mereka saling menyatu lembut, bukan lagi penuh keragu-raguan seperti dulu. Kali ini penuh kepastian, penuh kasih sayang yang tertunda bertahun-tahun, seakan ingin menyampaikan segala hal yang tak sempat terucap selama terpisah oleh dinding kebohongan dan kebisuan. Su Yi memejamkan matanya rapat, tangannya naik perlahan memeluk lehernya, jari-jemarinya menyelip ke rambut hitamnya lembut seakan takut ia lenyap jika dilepaskan sedetik saja. Mo Ha merangkul pinggangnya erat, mendekapkannya sepenuhnya ke dada bidangnya — tak ada celah lagi di antara mereka, tak ada jarak, tak ada rahasia. Hanya dua hati yang akhirnya berdetak selaras dalam satu irama.

Saat terpisah perlahan, napas mereka memburu hangat saling menyentuh. Su Yi menatapnya lekat-lekat, pipinya merona merah cantik di bawah cahaya keemasan matahari sore yang masuk lewat jendela kafe. Matanya berbinar jernih penuh kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya — damai, utuh, dan pasti.

"Sepuluh tahun..." gumamnya pelan, jari telunjuknya menyusuri garis rahangnya perlahan seakan menghafalnya satu per satu. "Sepuluh tahun kau memendamnya sendirian di tempat ini."

Mo Ha memejamkan matanya sejenak menikmati sentuhan lembut itu, mencium telapak tangannya lalu menahannya di pipinya tak mau dilepaskan.

"Dan kau?" tanyanya lembut membuka mata kembali menatapnya dalam-dalam. "Berapa lama kau mulai memperhatikanku tanpa kusadari?"

Su Yi tersenyum malu menunduk sejenak sebelum berani menatapnya kembali, pipinya makin merah merona.

"Sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan universitas," akunya pelan namun jujur, matanya tak berkedip menatap reaksinya. "Kau sedang sibuk mencari buku di rak paling atas, kemejamu kusut, kacamatamu melorot ke hidung, dan kau terlihat kesal sekali tak bisa menjangkaunya. Saat aku membantumu... kau menatapku kaget, lalu memerah padam dan pergi tanpa berterima kasih." Ia tertawa kecil lembut mengenang momen itu, bahunya bergoyang cantik. "Sejak hari itu aku selalu mencarimu di mana-mana. Berharap bertemu lagi. Tapi takdir baru mempertemukan kita kembali... sebagai suami istri yang saling membencikan."

Mo Ha ternganga tak percaya, lalu tertawa rendah bahunya bergetar di telapak tangan Su Yi. Ia tak menyangka benih cinta itu sudah tertanam sedemikian awal di hati mereka berdua, tumbuh di tempat berbeda, dipelihara dalam diam, dan akhirnya mekar bersama saat musim dingin berlalu.

"Jadi kita sama-sama bodoh ya?" ucapnya lembut sambil tersenyum bahagia, mencium ujung hidungnya pelan sekali. "Saling mencari, saling menunggu, dan saling menyakiti tanpa sadar."

"Memang bodoh," Su Yi tersenyum lebar mengangguk mantap, "tapi mulai hari ini kita berjanji tak akan lagi."

Mereka menikmati sisa sore itu berdua, makan bersama, bercerita tentang masa kecil, impian masa muda, hal-hal kecil yang disukai dan dibenci — seakan ingin mengejar waktu bertahun-tahun yang hilang dalam sehari saja. Tak ada lagi topeng, tak ada lagi jaga jarak. Setiap tawa tulus, setiap tatapan hangat, setiap sentuhan lembut — semuanya nyata, milik mereka berdua sepenuhnya.

Saat hari mulai gelap, Mo Ha mengantarnya pulang. Di perjalanan ia menggenggam tangan kirinya sepanjang jalan, sesekali mencium punggung tangannya seakan tak pernah puas menyentuhnya. Sesampainya di rumah, bukan berpisah ke kamar berbeda seperti dulu. Mo Ha ikut masuk bersamanya, membantunya menyiapkan pakaian, menemaninya hingga selesai bersiap untuk tidur.

Su Yi berdiri di tepi tempat tidur mengenakan gaun tidur sutra lembut berwarna krem, rambutnya terurai indah jatuh ke bahu memantulkan cahaya lembut lampu meja samping tempat tidur. Ia menatap Mo Ha yang berdiri di ambang pintu masih mengenakan kemeja dan celana rapi, seakan ragu melangkah masuk lebih jauh.

"Mau berdiri di sana semalaman?" godanya pelan senyum malu-malu merekah di bibirnya.

Mo Ha tersenyum lega seakan mendapat izin tertinggi di dunia. Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu pelan hingga bunyi kunci halus terdengar di ruangan hening.

"Apakah kau yakin?" tanyanya lembut saat berdiri tepat di hadapannya, jarak di antara mereka nyaris tak ada. "Aku takkan mundur lagi sekali melangkah masuk ke dalam hidupmu, Su Yi. Sekali saja kau mengizinkanku malam ini... selamanya takkan kulepaskanmu."

Su Yi menatapnya lekat-lekat, tangannya naik perlahan meraih kerah kemejanya membawanya makin dekat hingga dada mereka nyaris bersentuhan. Matanya jernih dan mantap tak ragu sedikit pun.

"Itulah yang kuminta darimu, Mo Ha," jawabnya pelan namun tegas, bergetar penuh harapan. "Jangan lepaskan aku. Tak pernah lagi."

Mo Ha tak berkata-kata lagi. Ia hanya menunduk perlahan menyatukan bibir mereka dalam kecupan lembut namun penuh janji abadi. Malam itu tak tergesa-gesa. Perlahan, lembut, penuh rasa hormat dan kasih sayang yang tak terlukiskan kata. Mereka menyatu seutuhnya — bukan sekadar raga, tapi juga hati, jiwa, dan seluruh masa depan yang akan mereka bangun bersama mulai detik ini. Di bawah cahaya remang kamar tidur, di sela bisik cinta dan pelukan hangat, mereka berjanji satu sama lain: masa lalu telah berlalu. Dan masa depan... milik mereka berdua selamanya.

 

Saat fajar menyingsing keesokan paginya, Su Yi terbangun bukan lagi sendirian. Ia terbaring menyamping di pelukan hangat Mo Ha, telinganya menempel di dada bidangnya mendengar detak jantungnya yang kuat dan tenang. Lengan kekarnya melingkar erat di pinggangnya seakan takut ia menghilang jika dilepaskan. Napasnya hangat di atas ubun-ubunnya, rambutnya halus menyentuh pipinya.

Su Yi tersenyum bahagia memejamkan matanya kembali, merapatkan pelukannya di pinggang rampingnya. Ia mendongak perlahan mengecup lembut dada kiri tepat di atas jantungnya, lalu menyandarkan kepalanya kembali nyaman di sana.

"Selamat pagi, istriku," suara berat dan serak terdengar di atas kepalanya sebelum bibir hangat mendarat di sana mengecup pelan.

Su Yi tersenyum makin lebar, memeluk pinggangnya makin erat.

"Selamat pagi, suamiku."

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!