Indonesia
NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Nyeri Menusuk di Ujung Hati

Tepat dua puluh menit setelah naik, Naila keluar dari gedung kos sambil membawa tas kecil dan Si Lemon. Gaun rajut panjang berwarna krem membungkus tubuhnya dengan lembut, tudungnya tergeletak di punggung, sementara rambut yang masih setengah basah jatuh di kedua bahu.

Radhika yang sedang minum berhenti sesaat.

Aroma sabun hangat ikut mendekat ketika Naila membuka pintu mobil. Napasnya mendadak terasa sempit. Ia menenggak sisa setengah botol air tanpa jeda, berharap hawa dingin itu memadamkan panas yang muncul tanpa izin.

"Haus banget?" Naila memasang sabuk pengaman.

"Sedikit."

"Mas sudah lama menunggu?"

"Belum."

Padahal satu jam sebelumnya, Radhika telah menelepon Pak Slamet dan meminta sopir itu menjemput Naila. Sepuluh menit kemudian ia membatalkan perintah tersebut, meninggalkan rapat lebih awal, lalu mengemudi sendiri ke Depok.

Ia selalu berubah pikiran jika urusannya tentang Naila. Kalau tidak bertemu, dorongan aneh di dalam dadanya mungkin tidak akan muncul. Namun, meski sudah mengetahui akibatnya, ia tetap ingin datang.

"Sekar sakit," kata Naila ketika mobil bergerak. "Kayaknya ada orang yang diam-diam perhatian sama dia."

"Sudah diperiksa?"

"Sudah ke dokter kampus. Aku juga minta Gita mengecek nanti malam." Naila menoleh. "Mas nggak penasaran siapa orangnya?"

"Itu urusan Sekar. Kalau dia mau bercerita, dengarkan. Jangan menyelidiki hidup orang tanpa izin."

Naila mengembungkan pipi. "Aku cuma penasaran, bukan mau membongkar rekening banknya."

"Penasaran boleh. Menguping jangan."

"Aku dengar tanpa sengaja."

"Kalau begitu, simpan sampai dia siap bicara."

Nasihat itu masuk akal. Naila mengangguk, lalu mengalihkan percakapan pada Dufan dan menyusun daftar wahana sepanjang perjalanan.

"Pertama Halilintar, lalu Niagara-gara, terus Bianglala pas sore," katanya sambil menghitung dengan jari. "Mas takut ketinggian nggak?"

"Nggak."

"Takut wahana cepat?"

"Nggak."

"Takut rumah hantu?"

"Nggak."

Naila menyipitkan mata. "Mas takut apa, sih?"

Radhika menatap jalan. Jawaban jujurnya duduk tepat di sampingnya: ia takut Naila pergi, takut menyakiti kepercayaan gadis itu, dan takut dirinya sendiri tidak cukup kuat menjaga jarak.

"Orang yang merasa nggak takut apa pun biasanya cuma belum menemukan hal yang paling penting baginya," katanya.

Naila tidak sepenuhnya mengerti. Ia hanya mencatat bahwa Radhika tidak menolak satu pun wahana, lalu menambahkan lebih banyak nama ke daftar.

Saat tiba di rumah Menteng, suasana jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada suara Wirya memperdebatkan pupuk anggrek dengan tukang kebun. Larasati juga tidak menyambut dari ruang keluarga.

"Om Wirya sama Tante Laras ke mana?" tanya Naila.

"Pergi lagi untuk akhir pekan. Ada acara teman Papa, lalu mereka lanjut istirahat beberapa hari."

Wajah Naila langsung turun. "Mereka sengaja pergi waktu aku datang? Apa mereka masih marah gara-gara shower? Atau sekarang mereka nggak suka aku?"

Radhika menutup pintu di belakangnya. "Nggak ada satu pun orang di rumah ini yang nggak suka kamu. Bunda menelepon dapur tiga kali sebelum pergi cuma untuk memastikan sup iga kesukaanmu sudah siap."

"Tiga kali?"

"Bi Rohmah hampir hafal isi pesannya."

Naila kembali tersenyum. "Berarti aku salah sangka."

Tetes air dari ujung rambutnya jatuh ke bahu gaun. Radhika menyentuh satu helai yang masih lembap, lalu menarik tangannya seolah baru menyentuh sesuatu yang terlalu panas.

"Kenapa rambutnya belum dikeringkan?"

"Buru-buru. Nanti juga kering sendiri."

"Kalau dibiarkan basah dan kamu langsung masuk kamar berpendingin, kepalamu bisa nggak nyaman."

"Aku malas pegang pengering. Tanganku pegal habis tenis."

Radhika menatapnya beberapa detik, kemudian mengambil pengering rambut dari kamar tamu. Ia meminta Naila duduk di kursi depan meja rias.

"Mas mau mengeringkan?"

"Kalau kamu terus menolak melakukannya sendiri."

"Mau."

Jawabannya terlalu cepat. Naila duduk manis dan menghadap cermin, sedangkan Radhika berdiri di belakangnya. Ia menguji suhu udara dengan telapak tangan lebih dulu, baru mengarahkan pengering ke rambut Naila.

Jari-jarinya menyibak helaian lembap sedikit demi sedikit. Gerakannya lambat agar tidak menarik akar rambut. Sesekali buku jarinya menyentuh tengkuk, membuat Naila mengangkat bahu karena geli.

"Jangan bergerak."

"Geli, Mas."

"Tahan sebentar."

Selama lima atau enam menit, hanya dengung pengering yang mengisi kamar. Setelah seluruh rambut kering, Radhika mematikannya dan menyisir dua kali dengan jari agar helaian yang kusut kembali rapi.

Naila memandang bayangannya di cermin. "Habis ini Mas keringin rambutku terus, ya?"

Sebuah gambaran yang tidak ia inginkan muncul di kepala Radhika. Suatu hari Naila akan berpacaran. Gadis manja itu akan menggantungkan lengan pada laki-laki lain, meminta rambutnya dikeringkan, lalu perlahan tidak lagi mencari Mas yang sejak kecil selalu ia panggil.

Nyeri menusuk ujung hatinya seperti jarum tipis yang didorong perlahan.

Ia meletakkan pengering rambut. "Iya. Kalau Mas ada, panggil saja."

"Janji lagi?"

"Janji."

Di dapur, sup iga buatan Larasati masih hangat di panci. Naila mengambil foto mangkuknya dan mengirim pesan terima kasih.

Radhika memindahkan mangkuk ke meja dan memeriksa label wadah sambal. Dapur telah menyiapkan seluruh makanan dengan peralatan terpisah tanpa kacang, tetapi ia tetap membaca catatan alergennya sebelum membiarkan Naila makan.

"Aman?" tanya Naila.

"Aman."

"Kalau Mas yang bilang, aku percaya."

Kepercayaan sederhana itu justru menambah beban di dadanya. Ia menarik kursi di seberang, tidak di samping Naila, lalu menuangkan air untuk dirinya sendiri.

Balasan datang tidak sampai semenit kemudian.

`Sama-sama, Sayang. Tante dan Om pulang Selasa depan. Main yang baik sama Mas, ya.`

Naila menunjukkan layar kepada Radhika dengan gembira. Ia tidak melihat laki-laki itu menahan napas saat membaca kalimat terakhir.

Rumah besar itu akan kosong sampai Selasa, menyisakan mereka berdua dan kedekatan yang semakin sulit dianggap aman oleh Radhika.

1
Siti Hawa
tambah up lagi thoor.. 🙏paling kurang 5 bab lah, mawar untuk mu
Siti Hawa
lanjut up ya thoor.. yg banyak bab nya, jangan gantung ya... aku suka ceritanya... mawar untuk mu💪💪💪🙏
Siti Hawa
Alur ceritanya bagus
Siti Hawa
aku suka ceritanya seru thoor... tapi kok peminat nya sepi ya... padahal ceritanya bagus aku kasih Bintang Lima thoor... 💪💪💪💪💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!