Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Bubur Merah dan Pisau di Koridor
Satu minggu kemudian, Amaya berdiri di area cuci tangan sambil menahan menguap.
"Semalam mencuri apa?" tanya Sebastian.
"Memikirkanmu."
Tangan Sebastian berhenti di bawah air.
Amaya baru sadar apa yang keluar dari mulutnya. "Maksudku memikirkan operasi hari ini. Semoga lancar."
"Tidur cukup lebih berguna daripada memikirkan dokter."
"Aku tahu."
Dalam satu minggu, Amaya sudah mampu mengikuti alur tanpa terus bertanya. Nilainya kembali sembilan puluh sembilan setelah menemukan satu rangkaian data salah tanggal. Pagi ini ia datang sebelum pukul enam lima puluh tujuh.
Hari-harinya dimulai sebelum matahari dan berakhir setelah sebagian lampu rumah sakit padam. Ia belajar membedakan kesalahan administrasi dari kegagalan proses, mengikuti petugas ke gudang arsip, dan menyusun ulang jejak suhu yang pernah putus.
Telapak kakinya sudah tidak melepuh. Tangannya lebih cepat memindahkan catatan ke tabel, tetapi ia tetap tidak menyentuh tindakan pasien yang berada di luar kewenangannya.
Sebastian menepati janji menjadi pembimbing paling keras. Satu kolom tanpa sumber dikembalikan. Satu asumsi tanpa bukti dicoret. Namun setiap kali Amaya pulang terlalu malam, selalu ada air atau makanan sederhana di mejanya tanpa nama pengirim.
Mereka tidak membicarakan malam di 27-02. Kedekatan itu berpindah ke hal-hal kecil: map yang sudah disiapkan, pintu yang ditahan, dan pesan singkat yang mengingatkan jadwal.
Operasi Nayla dijadwalkan pukul sepuluh. Tim sudah melakukan pengarahan, darah cadangan tersedia, dan ruang perawatan intensif disiapkan.
Gambar pembuluh utama ditampilkan sekali lagi pada layar pengarahan. Sebastian membagi tahapan operasi, titik risiko perdarahan, serta keadaan yang mengharuskan tim menghentikan pengangkatan sebelum seluruh tumor terlepas.
"Tujuannya bukan mengejar gambar sempurna," katanya kepada tim. "Tujuannya membawa pasien keluar dengan selamat dan memberi peluang terbaik."
Tidak ada seorang pun menyela. Setelah pengarahan selesai, semua orang bergerak sesuai daftar.
Amaya bertugas mencocokkan pengambilan jaringan penelitian dengan izin keluarga dan label yang sudah disiapkan. Ia tidak masuk sebagai operator, tetapi satu kesalahan di mejanya tetap bisa merusak data yang kelak dibutuhkan pasien lain.
Bu Lastri muncul di ujung koridor dengan jaket ojol dan termos makanan.
"Dokter Sebastian."
Bu Lastri masih mengenakan helm yang diselipkan di siku. Napasnya terengah karena baru menyelesaikan pesanan terakhir sebelum datang. Termos kecil dibungkus kain agar tetap hangat.
"Saya buat setelah salat subuh," katanya. "Bukan untuk mengganti sarapan, cuma sedikit tanda terima kasih."
Ia jelas takut makanannya ditolak. Tangannya terus merapikan tutup wadah, sedangkan pandangannya turun ke lantai.
Ia membuka wadah berisi bubur merah manis dan kolak. "Saya masak sedikit. Biar operasinya membawa rezeki baik."
Sebastian biasanya tidak menyentuh makanan dari luar rumah sakit tanpa mengetahui dapurnya. Ia menerima sendok, mencicipi satu suap, lalu berkata, "Enak."
Amaya tahu pengecualian itu berarti lebih besar daripada yang dilihat Bu Lastri. Sebastian bahkan memeriksa tanggal kedaluwarsa air botol sebelum minum. Namun pagi ini ia menelan bubur dari dapur sederhana tanpa ragu agar seorang ibu tidak merasa pemberiannya kurang berharga.
"Ada gula merah dan santan sedikit," jelas Bu Lastri. "Di kampung ibu saya, makanan manis dibawa untuk kabar baik."
"Kalau begitu nanti kita makan sisanya setelah mendapat kabar baik," jawab Sebastian.
Mata Bu Lastri langsung berkaca.
"Terima kasih sudah mau menolong Nayla."
"Tugas saya mengoperasi. Tugas Ibu menjaga diri supaya nanti bisa membesarkannya."
"Saya akan jaga, Dok. Saya sudah janji sama Nayla kalau dia pulang, saya kurangi kerja malam."
"Kurangi mulai sekarang."
"Kalau utang sudah sedikit."
Sebastian tidak memberi nasihat kosong. "Temui pekerja sosial setelah operasi. Ada program penjadwalan kerja dan bantuan transportasi yang mungkin cocok."
Amaya menoleh kepadanya. Usulan sistem yang mereka bicarakan ternyata sudah mulai diteruskan, bukan hanya menjadi kalimat bagus di koridor.
"Iya, Dok."
Sebastian menghabiskan satu sendok lagi, lalu mengembalikan wadah. "Simpan untuk setelah operasi."
Senyum Bu Lastri baru muncul ketika langkah cepat terdengar dari tikungan.
Seorang pria berambut memutih berlari membawa golok pendek.
Ia memakai kemeja kusut dan sandal. Wajahnya tidak tampak seperti penjahat yang datang dengan rencana rapi. Ia terlihat seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari, tetapi tangan yang mengangkat senjata itu nyata.
Satu petugas memanggil dari kejauhan, menyuruhnya berhenti. Pria tersebut tidak menoleh.
Sasarannya adalah punggung Sebastian.
"Dokter!"
Bu Lastri bergerak lebih dulu. Ia menerjang dari samping dan menghalangi tubuh Sebastian.
Gerakannya bukan keputusan yang dipikirkan. Tubuh seorang ibu hanya melihat pisau menuju dokter yang beberapa jam lagi akan membuka tubuh anaknya demi menyelamatkan hidup.
Pisau mengenai bahu kanannya.
Darah menyebar di jaket ojol. Bu Lastri menjerit, tetapi kedua tangannya tetap memegang pergelangan penyerang.
Lukanya berada di bahu belakang. Pisau tidak masuk sepenuhnya karena posisi tubuh bergerak, tetapi darah segera membasahi kain hijau.
Sebastian menangkap gagang sebelum serangan kedua turun. Ia menjaga arah mata pisau menjauh dari Bu Lastri, tetapi pria itu meronta dengan tenaga putus asa.
"Lepaskan!" perintah Sebastian.
"Kembalikan anak saya!"
"Dokter, lari!"
Sebastian berbalik dan menangkap lengan pria itu. Penyerang lebih berat dan mengayun lagi.
Amaya meraih tempat sampah stainless di sisi dinding.
Ia tidak memikirkan keberanian. Dalam berita tentang penyerangan, satu prinsip selalu diulang: jauhkan senjata lebih dulu.
Sebagian pikirannya ingin membeku. Tubuhnya mengingat darah di ruang tindakan, luka kaca, dan malam hujan. Namun jika ia berhenti, pisau bisa bergerak lagi.
Tempat sampah itu setinggi lutut dan lebih berat daripada perkiraan. Amaya memegang tepi atas dengan kedua tangan, mengangkatnya cukup tinggi, lalu mengarahkan bagian dasar ke lengan penyerang, bukan kepalanya.
Amaya mengayunkan tempat sampah ke pergelangan pria tersebut.
Bunyi logam keras memenuhi koridor.
Pukulan pertama membuat genggaman pria itu longgar tetapi belum lepas. Amaya mengayun sekali lagi ke sisi pergelangan. Rasa sakit memaksanya membuka jari.
Golok terlepas.
Amaya menendangnya ke sudut dinding. Tepi logam tempat sampah mengiris telapak tangannya, tetapi ia baru merasakan panas setelah senjata jauh.
Dua petugas keamanan berlari dari pos. Mereka menjatuhkan penyerang, mengunci kedua lengannya, dan menjauhkan orang-orang dari area.
Salah satu satpam menendang golok lebih jauh lalu berdiri menjaganya agar tidak disentuh siapa pun. Petugas lain meminta perawat mengosongkan koridor dan menutup akses dari kedua ujung.
"Jangan bersihkan lantai," kata kepala keamanan. "Simpan rekaman kamera."
Rumah sakit memiliki prosedur untuk kekerasan, tetapi tidak ada prosedur yang mampu membuat darah tampak biasa.
Sebastian sudah berlutut di samping Bu Lastri. Ia menekan luka bahu dengan kain bersih.
"Tandu! Bawa ke IGD. Siapkan akses infus, pemeriksaan darah, dan beri tahu ruang operasi."
Perawat menempelkan kasa tebal pada luka. Sebastian mengarahkan tekanan dengan dua jari, memeriksa gerakan tangan Bu Lastri dan memastikan denyut masih teraba.
"Bisa gerakkan jari?"
Bu Lastri menggoyangkan jari dengan lemah.
"Bagus. Jangan angkat bahu. Tetap lihat saya."
Suaranya stabil. Hanya otot rahang yang menunjukkan bahwa darah di jas itu milik seseorang yang baru saja melindunginya.
Bu Lastri pucat. "Nayla. Operasinya."
"Tetap tepat waktu."
"Janji?"
"Janji."
Pria yang ditahan meronta. "Anak saya baru delapan tahun! Kalian bilang bisa menyelamatkannya!"
"Nama anak Bapak siapa?" tanya satpam.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengulang bahwa rumah sakit telah berbohong, bahwa dokter di depannya mengambil seorang anak dan mengembalikan tubuh tanpa nyawa.
Kesedihan dalam suaranya nyata. Begitu juga percobaan membunuh yang baru ia lakukan.
Bu Lastri menoleh dengan susah payah. "Bapak juga punya anak. Bagaimana bisa menusuk orang yang menyelamatkan anak?"
Tandu datang. Tim medis mengangkat Bu Lastri sambil mempertahankan tekanan pada luka.
"Dokter ikut operasi Nayla," katanya sambil menahan nyeri. "Jangan ikut saya."
"Tim IGD akan menangani Ibu. Saya periksa lagi sebelum masuk kamar operasi."
"Jangan terlambat karena saya."
Bu Lastri masih memikirkan jam operasi anaknya saat darahnya sendiri membasahi tandu. Sebastian menunduk singkat, menerima berat kepercayaan itu tanpa memberi janji palsu selain waktu yang akan ia tepati.
Sebastian berdiri. Darah menodai bagian depan jas putihnya.
Amaya menatap warna merah itu dan baru menyadari koridor berputar.
Selama bahaya masih berlangsung, tubuhnya bekerja tanpa izin. Setelah pisau jauh dan satpam mengunci penyerang, semua keberanian itu menghilang sekaligus.
Lututnya kosong. Bunyi di sekitar berubah jauh. Ia melihat darah pada jarinya sendiri, lalu darah Bu Lastri, dan tidak lagi mampu memisahkan keduanya.
Tangannya gemetar. Bau logam memenuhi hidung. Ia mencoba bernapas, tetapi perutnya berkontraksi.
Tempat sampah terlepas dari tangannya.
Sebastian menoleh tepat ketika tubuh Amaya turun. Ia bergerak satu langkah, tetapi satpam masih meminta instruksi dan perawat membawa Bu Lastri ke lift IGD.
"Jangan sentuh senjatanya," katanya kepada semua orang. "Tutup koridor, simpan CCTV, dan hubungi polisi sekarang."
Kepala keamanan mengulang perintah lewat radio. Pengunjung diarahkan menjauh. Golok tetap di sudut sebagai barang bukti.
Amaya jatuh berlutut dan muntah kering di sisi koridor, sementara telapak tangannya terus meneteskan darah.
Di belakangnya, pria itu akhirnya berhenti meronta. Tangis kasar menggantikan teriakan.
Di depannya, pintu menuju kamar operasi tetap tertutup dan jam terus bergerak mendekati pukul sepuluh.
Tak satu pun dari mereka memiliki kemewahan untuk menghentikan waktu setelah kekerasan itu terjadi.