Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

BAB 35

RUANG ISTIRAHAT LANTAI EMPAT

Tanggal tujuh Februari tercetak di sudut undangan makan malam tahunan Nusantara Interactive.

Wulan membaca angka itu berkali-kali di perjalanan. Sudah dua belas hari ia tidak naik mobil Pak Anto dan tidak membalas tanda titik terakhir dari Bram. Setelah perkara Dika selesai, rasa bersalah datang lebih keras. Ia merasa memakai kebaikan Bram untuk mendekati sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki.

Bram tidak mengejar.

Malam ini, perusahaan kembali menempatkan mereka di gedung yang sama.

Acara berlangsung di restoran tiga lantai yang terhubung dengan ruang pertemuan kantor. Dimas membawa Wulan sebagai pasangan, lalu menjadikannya tempat menitipkan mantel, tas hadiah, dan ponsel cadangan.

"Pegang ini. Jangan hilang," katanya.

"Taruh di meja registrasi saja."

"Kamu kan nggak ngapa-ngapain."

Seorang rekan tertawa. "Enak ya, Mas Dimas. Bawa istri sekalian asisten pribadi."

Dimas ikut tertawa. "Di rumah juga begitu. Kalau nggak disuruh, bingung mau apa."

Rekan perempuan di sebelah Wulan mencoba mengalihkan suasana. "Bu Wulan sekarang ada kesibukan apa?"

"Saya baru mulai kelas pemasaran digital daring. Dulu saya sering bantu tetangga jual kue lewat WhatsApp."

Dimas menyela sebelum ia selesai. "Paling kelas gratis beberapa video. Dua minggu juga bosan."

"Aku baru mulai tiga hari," kata Wulan. "Belum ada alasan untuk menyebut aku akan gagal."

Dimas menyerahkan piring kotornya. "Sudah, ambilkan dessert saja."

Wulan tidak menerima piring itu. "Pramusaji ada. Aku sedang makan."

Meja kembali sunyi.

"Kenapa kamu malam ini melawan terus?" bisik Dimas, cukup keras untuk didengar orang terdekat.

"Karena malam ini aku berhenti berpura-pura semua leluconmu lucu."

Seorang pramusaji datang dan mengambil piring, menyelamatkan rekan-rekan Dimas dari keharusan bereaksi. Namun Dimas tidak berhenti. Ia menceritakan bagaimana Wulan pernah salah membeli kabel untuk komputernya, bagaimana ia tak mengerti istilah gim, dan bagaimana semua uang di rumah berasal dari gajinya.

Tak satu pun cerita menyebut Wulan yang begadang menemani prototipe pertama, membuat kopi, mencoba level berulang kali, dan menemukan ide yang kemudian menjadi pusat presentasi malam ini.

Wulan menatapnya. "Aku mengurus rumah, Dika, orang tuamu, dan jadwal sekolah. Itu bukan nggak melakukan apa-apa."

Tawa di sekitar meja melemah.

Dimas mengerutkan dahi. "Jangan serius amat. Bercanda."

"Kalau cuma kamu yang tertawa, mungkin bukan bercanda."

Di ujung ruangan, Bram sedang berbicara dengan investor. Matanya sempat bertemu mata Wulan, tetapi ia tidak datang mendekat. Beberapa menit kemudian, pembawa acara meminta Dimas naik untuk menjelaskan proyek baru.

Bram mengambil mikrofon setelah presentasi selesai.

"Konsep awal proyek ini lahir dari pengamatan terhadap anak yang takut tersesat," katanya di depan semua orang. "Mas Dimas pernah menyebut istrinya memberi ide tentang mencari jalan pulang. Kredit ide penting, bahkan ketika pemberinya tidak bekerja di kantor ini."

Beberapa kepala menoleh kepada Wulan.

Dimas tersenyum kaku. "Iya, cuma obrolan rumah, Pak."

"Banyak ide besar mulai dari obrolan rumah."

Bram mengembalikan mikrofon tanpa melihat Wulan lagi.

Ia tidak mengaku melindungi. Ia hanya mengembalikan satu fakta yang dicuri Dimas selama bertahun-tahun.

Wulan menunduk agar tak seorang pun melihat matanya yang mulai panas.

***

Acara berakhir mendekati pukul sebelas.

Dimas masih minum kopi bersama tim. Ia menyuruh Wulan turun lebih dulu dan menunggu di lobi. Wulan mengambil tas, mengembalikan mantel Dimas ke kursinya, lalu mengikuti arus orang menuju tangga.

Di antara lantai tiga dan empat, langkahnya berhenti.

Pintu menuju ruang istirahat lantai empat berada di ujung koridor. Bram pernah menyebut ia akan menunggu di sana sepuluh menit setelah acara, bukan sebagai perintah, hanya sebagai pilihan. Pesan itu dikirim siang tadi dan belum dibalas Wulan.

`Kalau Ibu tidak datang, saya mengerti dan tidak akan menunggu lagi setelah malam ini.`

Wulan dapat terus turun. Dimas berada dua lantai di bawah. Dika tidur di rumah. Buku nikahnya masih sah.

Ia berbalik dan naik.

Setiap langkah terasa seperti keputusan yang tidak bisa dituduhkan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.

Bram berdiri dekat jendela ruang istirahat. Jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung. Ketika pintu terbuka, ia tampak terkejut.

"Bu Wulan."

"Saya cuma punya beberapa menit."

"Baik. Pintu bisa tetap terbuka kalau Ibu mau."

Wulan menutupnya sendiri, tetapi tidak mengunci.

"Terima kasih soal Dika," katanya sebelum keberanian hilang. "Bu Ratih membuat sekolah mau melihat bukti."

"Ibu yang meminta rekaman, mendampingi Dika, dan menandatangani kesepakatan. Saya cuma memberi nomor."

"Nomor yang tepat pada saat semua orang di rumah meninggalkan saya."

Bram menahan napas. "Saya senang bisa membantu, tapi pertolongan itu tidak memberi saya hak apa pun malam ini."

"Saya tahu."

"Kalau Ibu datang karena merasa harus membalas, sebaiknya kita turun sekarang."

Wulan menggeleng. "Saya menjauh dua belas hari karena malu pada diri sendiri, bukan karena Bapak berbuat salah. Setiap kali Dimas mengabaikan saya, saya ingin lari ke orang yang mau mendengar. Saya takut akhirnya cuma menjadikan Pak Bram tempat pelarian."

"Saya juga takut Ibu datang hanya saat terluka."

Kejujuran itu membuat Wulan menatapnya.

"Lalu kenapa tetap menunggu?"

"Karena bagian hidup Ibu yang terluka bukan satu-satunya bagian yang saya sukai. Saya suka cara Ibu membela Dika, cara Ibu mengingat kebutuhan semua orang, bahkan cara Ibu sekarang mulai bilang tidak."

Wulan merasakan air mata memenuhi mata. "Jangan membuat saya merasa lebih baik dari kenyataan. Saya tetap bohong kepada suami."

"Saya tahu. Dan saya ikut bertanggung jawab kalau kita melewati batas."

Tidak ada pengampunan palsu dalam kalimat itu. Bram tidak menghapus kesalahan mereka demi membuat hubungan terasa indah. Justru karena ia berani menatap akibatnya, Wulan semakin sulit pergi.

"Kenapa dua belas hari nggak menghubungi saya?" tanyanya.

"Ibu minta ruang."

"Kalau saya nggak datang malam ini?"

"Saya tetap berhenti menunggu sesuai pesan."

"Mudah sekali buat Pak Bram."

"Nggak mudah." Untuk pertama kali nada formalnya retak. "Saya cuma nggak mau rasa suka saya berubah jadi tekanan."

Wulan berjalan mendekat. "Saya marah karena Bapak bisa menunggu tanpa membuat saya merasa dikejar."

"Kenapa marah?"

"Karena saya selalu kembali."

Bram tidak menjawab. Jarak mereka tinggal satu langkah.

"Boleh saya sentuh tangan Ibu?" tanyanya.

Wulan justru memegang wajah Bram dan menciumnya.

Laki-laki itu membeku satu detik, lalu membalas. Tangannya tetap di udara sampai Wulan menariknya ke pinggang.

"Di sini," bisik Wulan. "Boleh."

Ciuman itu membawa seluruh dua belas hari yang mereka tahan. Bram tetap berhenti setiap kali Wulan menarik napas terlalu tajam. Ia memastikan Wulan mengenali tempat, waktu, dan pilihan yang sedang dibuat.

"Kalau kita lanjut," katanya dengan dahi menempel pada dahi Wulan, "saya perlu dengar jawaban jelas. Bukan karena sedih pada Dimas. Bukan karena merasa berutang soal Dika."

Wulan memandang matanya. "Saya datang karena saya menginginkan kamu."

Kata `kamu` menghapus jarak terakhir.

"Wulan," panggil Bram pelan.

Itu pertama kalinya namanya keluar tanpa `Bu`.

Tubuh Wulan bergetar. "Panggil lagi."

"Wulan."

"Bram."

Nama mereka bertemu tanpa jabatan, tanpa suami, tanpa perusahaan.

Bram bertanya sekali lagi apakah ia yakin. Wulan menjawab iya. Mereka mengunci pintu setelah sepakat dan memeriksa bahwa ruangan benar-benar kosong. Bram menunjukkan kemasan pelindung yang belum dibuka, memeriksa tanggal kedaluwarsa, dan Wulan mengatakan ia juga masih minum pil KB teratur.

"Tetap pakai," katanya.

"Iya."

Lampu utama dipadamkan, menyisakan lampu dinding yang lembut. Tidak ada gerakan yang diambil tanpa jawaban. Ketika Wulan ragu, Bram berhenti. Ketika ia menarik Bram kembali, keputusan itu miliknya.

Malam tersebut tidak terjadi karena salah nama atau gelap yang menipu.

Wulan tahu siapa yang disentuhnya. Bram tahu perempuan di hadapannya masih memiliki suami. Keduanya memahami bahwa persetujuan tidak menghapus akibat moral.

Namun untuk beberapa waktu, Wulan merasakan tubuhnya tidak sedang dipakai sebagai kewajiban. Ia didengar, dipanggil namanya, dan diberi ruang bahkan ketika memilih mendekat.

Sesudahnya, Bram memastikan pelindung tetap terpasang dan tidak tampak rusak sebelum membuangnya terbungkus ke tempat sampah tertutup. Tak ada tanda kegagalan yang mereka lihat. Wulan menelan pil sesuai jadwal malam itu setelah mengambilnya dari kotak kecil di tas.

Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa tak ada metode yang memberi perlindungan mutlak.

***

Wulan baru memasang kembali peniti kerudung ketika suara Dimas terdengar di koridor.

"Wulan?"

Tangannya membeku.

Bram mematikan lampu dinding. Mereka berdiri dalam gelap, terlalu dekat dengan pintu. Ponsel Wulan bergetar di atas meja. Nama Dimas menyala terang.

"Wulan, kamu di lantai ini?"

Langkah mendekat.

Bram mengangkat satu jari di depan bibir. Ia tidak menyentuh Wulan. Napas mereka sama-sama tertahan.

Gagang pintu bergerak sedikit karena Dimas mencoba dari luar.

Wulan menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Ponsel Dimas kemudian berdering.

"Mas Dimas?" Suara Sekar terdengar samar dari sambungan yang dijawab di koridor. "Maaf, laporan pengeluaran tim Anda belum ditandatangani. Bagian keuangan mau pulang. Bisa turun sebentar?"

"Sekarang?"

"Iya, Mas. Kalau nggak, reimburse tim tertunda pekan depan."

Dimas mengumpat pelan. Langkahnya menjauh menuju tangga.

Sekar tidak tahu siapa yang berada di balik pintu. Ia hanya menjalankan urusan administrasi yang kebetulan datang pada detik paling tepat.

Wulan menunggu sampai suara lift berbunyi.

Bram membuka pintu beberapa sentimeter dan memeriksa koridor. Kosong.

"Saya antar lewat tangga servis," bisiknya.

Wulan meraih lengannya. "Jangan panggil saya Ibu lagi kalau kita sendirian."

Bram menatapnya. "Wulan."

Satu panggilan itu membuat ketakutan bercampur dengan rasa sakit yang manis.

Ia baru saja hampir ditemukan suaminya di ruang istirahat bersama atasannya.

Namun yang paling menakutkan bukan pintu tadi.

Yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa ketika Bram memanggil namanya, Wulan ingin kembali meski tahu harga yang mungkin harus dibayar.

1
mmh nji35
suka cerita nya ramah bnget bhasa nya thor . semoga karya nya mkin suksessssss👍
mmh nji35
up ny yg bnyk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!