Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Fitnah di Grup WhatsApp
Pertanyaan itu tidak meminta jawaban. Ia dibuat agar orang menganggap tuduhan sebagai kemungkinan.
Dalam satu jam, foto tersebut berpindah dari grup kompleks ke grup arisan dan keluarga peternak. Keterangan baru ditambahkan setiap kali diteruskan. Ada yang menulis Laras sering pulang malam. Ada yang mengaku melihatnya masuk ruangan bersama lelaki lain, meski tidak menyebut kapan.
Rina mematikan notifikasi ponsel Laras. "Jangan menjawab sekarang. Mereka menunggu kamu marah."
"Aku tidak akan marah di grup." Laras menyimpan gambar asli yang diterima, tangkapan layar nama pengirim, waktu, dan komentar. "Hubungi admin. Minta data pesan pertama jangan dihapus."
Wati pucat karena mengenali situasi dalam foto. "Itu saat kami memeriksa kambing Pak Amir. Saya ada di sana. Pintu terbuka."
Rekan dokter hewan yang terlihat bersama Laras juga datang. Ia sudah menikah dan khawatir fitnah tersebut melukai keluarganya.
"Saya sedang memegang hasil laboratorium," katanya. "Bu Laras berdiri dekat karena kami melihat angka yang sama. Tidak pernah ada pertemuan pribadi."
"Kita buktikan urutan lengkapnya," jawab Laras. "Jangan membuat pernyataan emosional yang bisa dipotong lagi."
Istri dokter itu ikut datang dengan mata merah. Sejak pagi, kerabatnya mengirim foto yang sama dan bertanya apakah rumah tangganya bermasalah. Ia tidak meragukan suaminya, tetapi marah karena wajah lelaki itu dipakai tanpa izin.
"Saya ingin menulis bahwa mereka pembohong," katanya.
"Ibu berhak marah," kata Laras. "Tetapi simpan dulu semua pesan yang masuk. Jangan hapus nomor atau waktu. Kita akan menunjukkan bahwa fitnah ini memiliki korban lebih dari satu keluarga."
Perempuan itu mengangguk. Mereka membuat folder terpisah berisi dampak penyebaran: pertanyaan dari keluarga, gangguan ke nomor Puskeswan, dan pembatalan satu janji konsultasi karena pemilik ternak takut datang. Dengan begitu, kerusakan tidak berhenti pada perasaan. Pelayanan publik ikut terganggu.
Mereka meminta drh. Hutomo menjaga salinan kamera Puskeswan sebelum rekamannya tertimpa otomatis. Rekaman menunjukkan Laras masuk bersama Wati, petugas kandang, dan pemilik kambing. Rekan laki-laki datang membawa hasil. Seluruh pertemuan berlangsung dua belas menit dengan pintu terbuka. Foto yang disebar diambil dalam jeda kurang dari tiga detik ketika orang lain bergeser keluar bingkai.
Buku pendaftaran mencatat lima orang dalam ruang periksa. Laporan medis ditandatangani Laras, Wati, serta dokter tersebut. Tidak ada bagian yang mendukung kata berselingkuh.
Namun bukti bahwa pertemuan itu biasa belum menunjukkan siapa yang memotret dan menyusun cerita.
Laras meminta salinan file yang beredar, bukan hanya tangkapan layar. Dari data gambar terlihat waktu pembuatan berbeda dengan waktu pengambilan. Ukurannya juga berubah beberapa kali. Bagian kiri dan kanan sengaja dipotong, lalu bayangan pintu digelapkan.
"Sudutnya dari jendela belakang," kata Wati setelah membandingkan posisi kamera. "Orang yang memotret berdiri di luar area layanan."
Mereka memeriksa jalan sempit di belakang Puskeswan. Tanah masih lembap setelah badai. Ada bekas sandal dan beberapa batang rumput patah di bawah jendela. Seorang pedagang minuman di seberang ingat melihat perempuan memakai selendang berdiri di sana sambil memegang ponsel.
"Wajahnya?"
"Tidak jelas. Tapi dia datang dari arah kompleks. Setelah memotret, dia masuk motor yang dikendarai perempuan lain."
Laras meminta pedagang itu hanya memberi kesaksian kepada petugas atau dalam pertemuan resmi. Ia tidak ingin satu dugaan baru menggantikan fitnah lama.
Di rumah Bu Yuni, suasana justru penuh kegembiraan gugup. Vania menyuruhnya menghapus percakapan setelah foto menyebar.
"Kalau ditanya, bilang kamu dapat dari akun tidak dikenal," katanya.
"Bagaimana kalau Laras lapor?"
"Foto itu asli. Kita cuma bertanya."
"Tapi kamu yang menyuruh potong."
Vania menatapnya tajam. "Jangan sebut namaku. Kamu yang ingin membalas karena dia mempermalukanmu."
Bu Yuni mulai merasa dirinya dijadikan tameng. Ia menyembunyikan ponsel cadangan yang berisi percakapan awal, takut Vania akan mengambilnya.
Di kompleks, sebagian ibu menahan diri. Sebagian lain lebih mudah percaya karena Bram sedang bertugas. Mereka menganggap perempuan yang bekerja bersama banyak lelaki pasti membuka peluang. Keberhasilan Laras yang dahulu dipuji kini dipakai sebagai alasan mencurigainya.
Bu Endah menulis satu pesan tegas:
Jangan teruskan tuduhan tanpa bukti. Ada keluarga dan pekerjaan orang lain yang dirusak. Tunggu penjelasan resmi.
Pesan itu memperlambat penyebaran, tetapi tidak menghentikannya. Laras tahu bantahan pribadi tidak cukup. Ia harus menunjukkan proses lengkap, sumber gambar, dan motif pemotongan pada saat yang sama.
Beberapa orang menyarankan Laras menelepon Bram agar sang Mayor langsung membantah. Ia menolak menjadikan jabatan suaminya sebagai satu-satunya bukti kesetiaan.
"Kalau kebenaran saya bergantung pada seorang lelaki berkata percaya, besok fitnah yang sama bisa menyerang perempuan lain yang suaminya tidak punya pangkat," katanya kepada Rina. "Yang harus dibongkar adalah caranya."
Laras tetap mengirim pesan singkat kepada Bram bahwa ada masalah dan ia sedang mengumpulkan bukti. Pesan belum terkirim karena sinyal di wilayah tugas Bram buruk. Ia tidak menyembunyikan, tetapi juga tidak menunggu diselamatkan.
"Kita adakan penjelasan terbuka," katanya kepada Bu Endah. "Bukan untuk meminta semua orang menyukai saya. Hanya untuk memperlihatkan bukti dan memberi kesempatan pihak yang menyebar menjawab."
Bu Endah menyetujui menggunakan lapangan kompleks keesokan sore. Admin grup diminta mengarsipkan pesan. Drh. Hutomo menyiapkan rekaman. Rekan dokter laki-laki bersedia hadir bersama istrinya.
Menjelang petang, Laras kembali ke belakang Puskeswan bersama Garang. Anjing itu mengendus bekas sandal, berputar, lalu tiba-tiba berlari ke semak di bawah saluran air.
Ia menggonggong keras dan mencakar rumput.
Wahyu menahan kalungnya. Laras memakai sarung tangan dan mengambil benda yang terlihat di antara daun.
Sebuah ponsel.
Layarnya retak tetapi masih menyala. Notifikasi dari grup keluarga Bu Yuni muncul di bagian atas. Laras tidak membuka isinya. Ia memotret posisi temuan, mencatat waktu, lalu meminta petugas polisi menyita dan memeriksa secara sah.
"Kalau ini milik pemotret, kita punya sumber," kata Rina.
Petugas yang datang memasukkan ponsel ke kantong bukti dan meminta semua orang tidak mencoba membuka kunci. Nomor seri dicatat, begitu pula kondisi layar serta notifikasi yang tampak tanpa menyentuh aplikasi. Garang hanya menemukan barang, bukan memberi bukti siapa pemiliknya. Kepemilikan tetap harus diverifikasi melalui kartu, akun, atau laporan kehilangan.
Sebelum Laras menjawab, tiga anak laki-laki berlari dari arah rumah Bu Yuni. Toro, Ipin, dan Ino baru pulang bermain. Mereka berhenti ketika melihat Garang, lalu menatap toples permen kecil yang dibawa Laras untuk latihan anjing.
"Tante dokter punya permen?" tanya Toro.
Laras menutup toples. "Punya. Tetapi permen bukan hadiah untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar."
Ipin menggeleng cepat. "Kami tahu Mama foto dari jendela. Mama bilang tinggal dipotong biar Tante Vania senang."
Laras tidak segera memberi permen atau mengajukan pertanyaan lanjutan. Ia meminta Rina memanggil Bu Endah sebagai orang dewasa pendamping. Anak-anak tidak boleh diarahkan mengulang kalimat hanya karena menginginkan gula. Apa yang mereka katakan dapat dicatat sebagai petunjuk, sedangkan pembuktian utama tetap berasal dari rekaman dan perangkat.
Wati dan Rina saling pandang.
Anak-anak itu belum sadar bahwa satu kalimat polos baru saja membuka pintu menuju seluruh rencana orang dewasa.