Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Blaster

Mobil memasuki kediaman Keenan di Kota Kayan.

Bangunannya menyerupai kastel. Luasnya tidak terlalu besar dan tersembunyi di dalam hutan yang disinari cahaya bulan. Pohon-pohon tua menjulang di sekeliling, sementara dinding berwarna krem menyatu dengan kabut tipis serta batang-batang basah setelah hujan.

"Indah sekali..."

Livia menempel pada jendela mobil.

"Seperti kastel dalam buku dongeng."

Keenan menoleh kepadanya.

"Tempat ini bahkan tidak sampai sepersepuluh Vila Pir. Kau tetap menyukainya?"

"Ya."

Livia mengangguk.

"Aku suka."

Mungkin di dalam hati setiap perempuan tinggal seorang putri kecil. Keenan bisa memahami keinginan semacam itu. Tatapannya melembut dan ia mengangguk.

"Kalau kau begitu menyukai kastel, setelah urusan di Kota Kayan selesai, ikut aku kembali ke Jakarta. Aku akan membeli sebuah pulau kecil dan membangun kastel khusus untukmu."

"Apa?"

Livia menoleh dan menatapnya.

Ia tahu Keenan bukan orang asli Kota Kayan. Dari perkataannya, pusat kehidupan pria itu berada di Jakarta.

Namun wajah Keenan, terutama warna matanya, jelas tidak terlihat seperti kebanyakan orang Asia.

"Kau blasteran?"

"Apa?"

Livia menutup bibir.

Ketika kecil, ia pernah memiliki anjing dengan keturunan campuran. Nathan menyebut hewan semacam itu blasteran, sehingga Livia menamainya Blaster.

Blaster adalah satu-satunya teman dalam masa kecilnya yang kelabu. Tubuhnya besar dan selalu melindungi Livia ke mana pun ia pergi.

Kemudian anjing itu menggigit seseorang untuk menyelamatkannya dan dipukuli sampai mati.

Hari itu, Livia menangis sampai pingsan. Sejak saat tersebut, ia tidak pernah memelihara anjing lagi.

Livia sebenarnya tidak menganggap istilah itu buruk. Namun melihat wajah Keenan berubah, ia sadar menyamakannya dengan anjing campuran memang tidak sopan.

Ia buru-buru memperbaiki pertanyaan.

"Maksudku... apakah kau memiliki keturunan campuran?"

Keenan menatapnya.

Seolah terseret ke dalam kenangan tertentu, cahaya yang tadi terang di matanya ditutupi kabut masa lalu.

Setelah berpikir serius selama satu detik, ia mengikuti arah percakapan Livia.

"Ya. Tionghoa, Rusia, Indonesia, dan Amerika. Empat keturunan. Kenapa?"

Livia tidak menjawab. Ia justru tertawa kecil.

Ia tidak tahu berapa lama pengaruh Parfum Naraka akan bertahan. Namun Keenan yang keras kepada seluruh dunia dan sangat lembut hanya kepadanya sekarang benar-benar mengingatkan Livia pada Blaster.

Didorong pikiran sesaat, Livia melingkarkan tangan ke lehernya dan mendekati telinga Keenan.

Dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua, ia memanggil pelan.

"Blaster."

Begitu mengucapkannya, Livia langsung menyesal.

Ia berani memperlakukan Keenan seperti anjing hanya karena pikiran pria itu sedang tidak jernih. Setelah pulih dan mengingat semuanya, Keenan mungkin akan menembaknya tanpa ragu.

Semakin dipikirkan, semakin takut Livia. Lengannya melonggar dan ia hendak kembali ke tempat duduk.

Keenan tidak memberi kesempatan.

Pria itu menyukai setiap inisiatif Livia. Pelukan gadis tersebut terasa seperti hadiah.

Ia merangkul pinggang Livia, mengecup telinganya dengan bahagia, lalu berkata sangat lembut, "Ya. Aku Blaster milikmu. Kau putriku. Setelah pulang, kubangunkan sebuah kastel. Bagaimana?"

Livia tidak tahu harus menjawab apa.

Cit!

Tegar menginjak rem dan menghentikan mobil secara mendadak, memotong percakapan mereka.

Bosnya adalah Keenan Adiprana.

Pria yang diikuti dan dikagumi Tegar sejak kecil. Pewaris keluarga konglomerat terbesar di Asia Tenggara.

Meski lahir dalam kedudukan tinggi, Keenan tidak bergantung pada kekuatan keluarga. Ia membangun kekuasaannya sendiri di luar.

Keputusannya cepat, metodenya keras, dan hanya dalam tujuh tahun namanya bangkit di dunia resmi maupun bawah tanah.

Keenan bahkan membentuk pasukan khusus yang hanya patuh kepadanya. Kekuatan tersembunyi di tangannya cukup untuk menghancurkan wilayah kecil tanpa kesulitan.

Pria seperti itu menjadi bucin masih bisa dimaklumi sebagai pengalaman cinta pertama.

Namun berubah menjadi anjing karena cinta sama sekali tidak bisa diterima.

Tidak. Bisa. Diterima.

Tegar merasa hatinya hampir meledak. Tanpa menunggu Keenan mengusir, ia langsung membuka pintu dan turun.

Ia membungkuk di dekat pintu, lalu memandang Livia.

"Mohon jaga Tuan Keenan. Saya akan mencari pria yang menjual parfum itu dan menanyakan penawarnya."

Livia mengangguk.

"Baik."

Ia dan Keenan baru saling mengenal, sehingga perubahan ini saja sudah sulit diterima. Bagi Tegar yang hidup dan mati bersama bosnya, melihat Keenan kehilangan pikiran demi seorang perempuan pasti jauh lebih menyakitkan.

Tegar berbalik dan pergi.

Livia menekan bahu Keenan, memberi isyarat agar turun. Namun pria itu tetap memeluk dan tidak mau bergerak.

"Kau belum menjawabku."

"Baik, baik."

Livia menjawab asal.

"Kita membeli pulau dan membangun kastel. Sudah sangat malam, aku mengantuk. Turunlah dari mobil."

"Panggil aku Blaster."

Livia membelalak.

Ia benar-benar menggali lubang untuk dirinya sendiri.

Dengan wajah hampir menangis, Livia memaksa kata itu keluar.

"Blas... Blaster, kita turun sekarang?"

"Kau sangat menyukai Blaster."

Keenan mengangkat tubuhnya dan keluar dari mobil. Ia mengecup dahi Livia di bawah cahaya bulan yang tipis.

Pria itu berdiri di halaman dan memeluk gadis tersebut dengan erat.

"Aku tahu kau menyukainya. Mata tidak bisa berbohong. Panggil sesukamu. Aku tidak akan marah."

Hati Livia bergetar. Ia terdiam.

Tanpa sadar, Livia mendekat dan menempel pada sisi leher Keenan. Napas hangat pria itu menyentuh pipinya.

Waktu seolah berhenti sesaat.

Jika Parfum Naraka mampu mengendalikan akal dan saraf seseorang, membuatnya memberikan segalanya tanpa keluhan, seberapa besar tekad yang dibutuhkan pihak penerima untuk bersedia bangun dari mimpi semacam itu?

Livia segera mendapatkan jawabannya.

Ia sama sekali tidak membutuhkan tekad.

Keenan langsung membawanya ke kamar tidur, mengambil rantai yang hampir setebal lengan Livia, lalu menyambungkan satu ujung pada belenggu di kakinya dan ujung lain ke kepala ranjang.

Klik.

Livia mengukur panjang rantai dengan mata.

Wilayah geraknya hanya terbatas di antara ranjang dan kamar mandi.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Pertanyaan itu sebenarnya sudah memiliki jawaban.

Keenan melirik tanpa menjawab. Ia berbalik dan mencari di lemari cukup lama sebelum memilih jubah mandi putih.

Ukurannya terlalu besar untuk Livia, tetapi bisa dipakai sementara. Besok ia dapat menyiapkan pakaian baru.

Keenan melemparkan jubah tersebut ke pelukannya.

"Pergi mandi."

Livia tidak bergerak dan tidak menerimanya. Jubah itu jatuh ke lantai, lalu ditendang menjauh.

Keenan baru teringat pertanyaan tadi dan menjawab tanpa berpikir.

"Aku akan menguncimu. Malam hari kau bersamaku, siang hari kugendong. Kita tidak akan berpisah sampai kapan pun."

Ucapan itu terdengar penuh perasaan sekaligus mengerikan.

Sejak pakaian Livia dirobek di kedai teh, ia seharusnya sudah memahami bahwa keinginan Keenan di bawah pengaruh parfum tidak berhenti pada ciuman dan sentuhan.

Pria itu menginginkan seluruh dirinya.

Livia mundur setengah langkah. Rantai di kaki bergesekan dengan lantai dan menghasilkan bunyi logam yang membuat bulu kuduk berdiri.

Keenan menyipitkan mata.

Dalam pikirannya yang terdistorsi, kelinci kecil ini cantik tetapi tidak cukup patuh. Ia berbicara dengan pria lain dan berani melarikan diri.

Karena itu, lebih baik dikurung agar tak bisa pergi dan tak dilihat siapa pun.

Keenan membungkuk, mengambil jubah dari lantai, lalu menyuruh Livia datang mengambilnya sendiri.

"Kau mau mandi dengan patuh atau mandi bersamaku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!