AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: SALSA LULUS SD - DARI ANAK TITIPAN KE JUARA 1
Akhir Juni dua ribu tiga puluh enam, enam bulan setelah toko daster di ruang tamu rumah induk omzet dua juta sehari, halaman SD Negeri 1 Jombang Kota penuh lagi. Sama seperti empat tahun lalu ketika Salsa masuk SD kelas satu dengan seragam merah putih kebesaran dan tumpeng kecil pertama buatan Mbah Sarti tujuh puluh enam tahun, dan sama seperti setahun lalu ketika Aisyah masuk TK B Melati dengan seragam biru putih dan gigi ompong satu. Bedanya, hari ini bukan penerimaan siswa baru. Hari ini kelulusan.
Salsa lulus SD.
Pagi ini jam lima pagi, rumah induk Wonorejo dua ratus meter persegi warisan Mbah Sarti yang dulu mengusirku dengan sapu lidi, sudah rame lagi seperti biasa setiap ada acara besar. Tapi rame kali ini beda. Tidak ada tumpeng kecil lagi. Tidak ada ayam goreng dua potong dan telur rebus tiga butir lagi seperti tradisi Mbah Sarti. Karena Mbah Sarti sudah wafat tujuh bulan lalu di kontrakan cat hijau sembilan ratus ribu di pangkuanku jam sembilan lewat sepuluh malam hujan deras.
Yang ada pagi ini adalah kebaya kecil. Kebaya putih untuk Salsa. Baju baru yang kubelikan dari hasil toko daster lima kali tiga meter di ruang tamu rumah induk. Bukan warisan, bukan bekas, tapi baru.
Salsa bangun jam lima pagi tanpa dibangunkan. Kebiasaannya sejak kecil. Dulu waktu umur dua tahun aku kira dia anak yatim tetangga yang dititipkan Bu Minah dengan alasan ke pasar Jombang, padahal cucu kandung Mbah Sarti sendiri anak Arga dan Mira yang meninggal pendarahan di rumah bocor. Dulu dia tidur di rumah bocor lantai tanah dengan telur dadar satu butir dibagi dua. Sekarang dia tidur di kamar belakang rumah induk yang dulu kamarku sebelum diasingkan, kamar yang sudah kucat hijau muda seperti kontrakan.
Hari ini Salsa dua belas tahun tujuh bulan. Tingginya sudah 145 centi, hampir sama denganku. Rambutnya yang dulu dikepang dua seperti Aisyah, sekarang diikat satu rapi. Wajahnya mirip sekali dengan Mira, ibu kandungnya. Foto Mira kecil yang dulu ada di lemari kayu besar yang tidak boleh kubuka, sekarang foto itu ada di dompet Salsa. Salsa sudah tahu semuanya. Sudah tahu kalau dia bukan anak yatim tetangga, tapi anak kandung Arga dan Mira. Sudah tahu kalau Mira meninggal di rumah bocor yang sama yang dulu aku tinggali ketika hamil Aisyah. Sudah tahu kalau aku bukan ibu kandungnya secara darah, tapi ibu yang merawatnya sejak dia umur dua tahun dengan telur dibagi dua.
"Bu, kebayaku sudah rapi belum?" tanya Salsa pagi itu sambil memutar di depan cermin kecil di kamar belakang. Kebaya putih, rok batik, jilbab putih.
"Rapi, Nduk. Cantik sekali. Seperti ibumu, Mira," jawabku. Aku tidak canggung lagi menyebut Mira. Dulu aku cemburu, sekarang aku bangga. Karena Mira adalah bagian dari cerita ini.
Arga, bapaknya Salsa secara darah, sudah bangun juga. Usianya tiga puluh tujuh tahun, kepala keamanan Puskesmas gaji empat juta. Seragamnya hari ini bukan seragam coklat satpam, tapi baju batik terbaik. Pecinya hitam masih sama seperti saat akad KUA Jumat jam sembilan pagi sepuluh tahun lalu. Hari ini dia tidak kerja. Hari ini dia izin untuk kelulusan anaknya. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Arga akan naik ke panggung bukan sebagai satpam yang menjaga, tapi sebagai orang tua murid yang anaknya juara satu.
Aisyah, umur sembilan tahun setengah kelas satu SD, juga bangun jam lima pagi. Dia yang paling heboh. Dia pakai seragam SD merah putih, bukan seragam TK biru putih lagi. Dia bawa bunga plastik kecil yang dibuatnya sendiri di sekolah. Katanya untuk Kakak Salsa.
"Bunga ini Aisyah buat sendiri, Bu, dari kertas origami. Untuk Kakak Salsa yang lulus SD," katanya sambil menunjukkan bunga kertas yang agak penyok.
Pak Karim tujuh puluh tahun yang sekarang duduk di kursi roda kayu buatan Arga yang dulu dipakai Mbah Sarti, dan Bu Minah enam puluh tiga tahun dengan rantang besar yang sekarang tidak pernah kosong, juga ikut. Pak Karim yang sebelas tahun lalu menjemputku dari rumah bocor dengan gerobak sapi karena takut kutukan Kembang Kantil, yang menjadi saksi wasiat Mbah Sarti wariskan rumah induk untukku, hari ini ikut dengan baju batik terbaiknya yang sudah pudar.
Kami berangkat jam enam pagi naik mobil pick up carteran Pak Karim. Perjalanan satu jam dari Wonorejo ke SD Negeri 1 Jombang Kota. Lewat kebun karet yang dulu tempat rumah bocor berdiri, yang sekarang jadi kebun pisang. Lewat warung Bu Lasmi yang sekarang jadi reseller dasterku. Lewat rumah Bu Tati yang sekarang pelanggan tetap.
Sampai di SD jam tujuh pagi, halaman sudah penuh ratusan orang tua dan anak-anak kelas enam dengan kebaya dan batik. Panggung besar bertuliskan KELULUSAN DAN PELEPASAN SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 JOMBANG KOTA TAHUN AJARAN 2035/2036.
Bu Guru naik ke panggung, memanggil satu per satu siswa berprestasi. Sama seperti empat tahun lalu saat penerimaan siswa baru.
Ketika nama Salsa dipanggil, aku kaget.
"Salsa Humaira Karim, putri dari Bapak Arga dan Ibu Kirana, alamat Wonorejo Jombang, juara 1 umum kelas VI dengan nilai rata-rata 95, diterima di SMP Negeri 1 Jombang Kota jalur prestasi," kata Bu Guru lewat mic besar.
Satu halaman yang berisi ratusan orang tua diam, lalu tepuk tangan paling meriah hari itu.
Salsa naik ke panggung dengan langkah pelan tapi tegap. Tidak seperti empat tahun lalu yang masih kecil dan agak takut. Sekarang dia sudah remaja kecil. Dia menerima piala kecil dan piagam. Dia memegang mic.
"Terima kasih untuk Bapak Kepala Sekolah, Bu Guru, dan terutama untuk Ibu Kirana, ibu saya, yang bukan ibu kandung saya secara darah, tapi ibu yang merawat saya sejak saya umur dua tahun di rumah bocor dengan telur dadar dibagi dua, yang mengantar saya masuk TK A, SD kelas satu dengan tumpeng kecil pertama buatan buyut saya Mbah Sarti, dan sekarang mengantar saya lulus SD juara satu. Dan untuk Bapak Arga, bapak kandung saya, dan untuk Ibu Mira di surga, ibu kandung saya yang meninggal di rumah bocor yang sama, terima kasih," kata Salsa dengan suara lantang tapi bergetar menahan tangis. Lebih lantang dan lebih berani dari saat dia perkenalan di TK A dulu.
Aku yang di bawah panggung, yang sebelas tahun lalu diasingkan karena hamil duluan dianggap aib desa Wonorejo, yang tujuh tahun lalu mengantar Salsa masuk SD sebagai anak tirinya, kini menangis keras. Bukan menangis pelan seperti saat Mbah Sarti wafat, tapi menangis keras sampai sesenggukan. Karena Salsa menyebut namaku di depan ratusan orang. Bukan sebagai ibu tiri, tapi sebagai Ibu Kirana, ibu saya.
Arga di sebelahku juga menangis. Untuk kelima kalinya menangis di depan umum. Setelah Salsa masuk SD, Aisyah masuk TK, Mbah Sarti wafat, pindahan dari kontrakan. Hari ini kelima kalinya.
Bu Minah dan Pak Karim juga menangis. Bu Minah yang dulu menitipkan Salsa kepadaku dengan alasan ke pasar Jombang padahal sebenarnya cucu kandungnya sendiri karena tidak sanggup merawat setelah Mira meninggal, kini menangis karena cucunya juara satu.
Setelah turun panggung, Salsa langsung lari memelukku. Bukan memeluk Arga dulu, tapi memelukku. Memeluk ibu yang merawatnya dengan telur dibagi dua.
"Bu, Salsa juara satu, Bu, seperti yang Ibu mau, Bu. Salsa sudah lulus SD, Bu," kata Salsa sambil memeluk leherku erat. Kebaya putihnya wangi.
Aku memeluk Salsa erat. Mencium keningnya. Salsa yang dulu aku kira anak tetangga, yang ternyata anak kandung suamiku dengan istri pertamanya Mira yang meninggal di rumah bocor yang sama, yang aku rawat dari umur dua tahun sampai dua belas tahun tujuh bulan.
"Hebat, Nduk. Kamu hebat, Nduk. Ibu bangga, Nduk. Buyut Mbah Sarti pasti bangga lihat kamu dari surga," bisikku.
Aisyah yang dari tadi bawa bunga kertas origami penyok, juga ikut memeluk.
"Kakak Salsa, selamat ya Kak, bunganya untuk Kakak," kata Aisyah sambil memberikan bunga kertas penyok itu.
Salsa menerima bunga kertas penyok itu seperti menerima piala. Dipeluknya Aisyah.
Siang jam dua belas, setelah acara kelulusan selesai, kami kembali ke rumah induk Wonorejo dua ratus meter persegi dengan membawa Salsa yang sudah resmi lulus SD juara satu dan diterima di SMP favorit. Di rumah induk, tidak ada tumpeng kecil seperti tradisi Mbah Sarti. Karena Mbah Sarti sudah tidak ada. Tapi ada tumpeng besar. Tumpeng besar pertama yang aku buat sendiri, bukan dibuat Mbah Sarti. Nasi kuning besar, ayam goreng empat potong, telur rebus enam butir, perkedel, sambal goreng. Dibuat dengan uang hasil toko daster lima kali tiga meter omzet dua juta sehari.
Kami potong tumpeng besar itu berlima di ruang tengah rumah induk yang sekarang menjadi toko daster. Aku potong bagian atas tumpeng, kuberikan ke Salsa. Salsa potong ayam goreng, kuberikan ke Aisyah. Aisyah potong telur rebus, kuberikan ke Arga. Tradisi berbagi yang sama sejak rumah bocor, sejak kontrakan, sampai rumah induk.
Malam jam delapan, hujan turun deras lagi. Seperti biasa. Genteng rumah induk tidak bocor. Kami makan malam berlima di ruang tengah toko daster. Lauk tumpeng besar sisa siang, telur dadar, sambal terasi, krupuk, es teh manis. Tidak lagi telur satu butir dibagi dua seperti sebelas tahun lalu.
Jam sembilan malam, Salsa dan Aisyah tidur di kamar belakang. Salsa masih memegang piala kecil juara satu dan piagam dan bunga kertas penyok dari Aisyah. Aisyah memeluk kaki Salsa.
Aku dan Arga duduk di ruang tamu toko daster melihat piala kecil juara satu Salsa.
"Kir, dulu kamu diasingkan karena hamil duluan di rumah bocor yang membunuh Mira ibu kandung Salsa, sekarang kamu mengantar Salsa anak Mira itu lulus SD juara satu," kata Arga pelan.
Aku mengangguk. Menggenggam tangan Arga dan melihat ke arah foto keluarga besar berbingkai kayu dengan pita hitam di foto Mbah Sarti dan foto Mira kecil.
Dari diasingkan karena hamil duluan sebelas tahun lalu di rumah bocor yang membunuh Mira, diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi, diusir warung Bu Lasmi, didobrak Rendo yang lempar baju bayi biru 35 ribu dengan kasar dan kini sudah meninggal di Kalimantan, diusir Pak Lurah kontrakan karena hanya kertas HVS nikah siri, melahirkan Aisyah 2,8 kilo takut mati pendarahan seperti Mira, jadi juragan daster di kontrakan 900 ribu, antar Salsa masuk SD dan Aisyah masuk TK, Mbah Sarti wafat di pangkuanku, warisi rumah induk dua ratus meter dan tabungan tiga puluh juta, pindahan dari kontrakan ke rumah induk, jadi juragan daster di rumah induk omzet dua juta, sampai hari ini Salsa Humaira Karim yang dulu aku kira anak yatim tetangga yang aku rawat dengan telur dibagi dua, yang ternyata anak kandung Arga dan Mira, lulus SD juara satu dengan nilai 95 diterima di SMP favorit.
Judul Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan telah berubah menjadi Aku Yang Dulu Diasingkan Kini Mengantar Anak Tirinya Yang Dulu Anak Titipan Lulus SD Juara Satu.
Dan itu cukup untuk malam ini dan selamanya.
Bersambung...
---