Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35 : Gantian Melek

Arga palsu di lingkaran tanah botak itu udah megang kepala boneka kecil muka Gilang. Jari-jari kayu ilalangnya yang panjang, kuku hitam, udah nekan batok kepala boneka Gilang.

Krek... retak dikit.

Gilang yang 10 meter dari lingkaran, yang di punggungnya masih nempel boneka kecil biang kerok, dia ngerasa lehernya di cekik. Bukan dicekik tangan, tapi dicekik rambut. Ijuk hitam dari boneka kecil di punggungnya, manjang, ngelilit leher Gilang dari belakang, pelan.

"Keh... Bim... leher gue..." Gilang megang leher, napasnya sesak.

Bima yang gendong Arga asli di punggung, dia noleh setengah, tapi gak boleh noleh full, karena kalau noleh full, matanya otomatis kedip. Jadi Bima cuma lirik pakai ekor mata. Dia liat ijuk hitam ngelilit leher Gilang.

"Elina! Potong ijuknya!"

Elina rambut pendek sebahunya basah, mukanya pucat, matanya udah merah banget, urat mata keluar, air mata darah netes dari sudut mata kiri. Dia dari tadi jadi penjaga melek bareng Bima, udah 3 menit lebih gak kedip. 3 menit gak kedip itu rasanya kayak mata ditusuk jarum pentul terus-terusan.

Elina rogoh saku carrier, ngambil pisau lipat kecil. Tangannya gemetar, karena nahan kedip bikin tangan juga gemetar, saraf mata nyambung ke tangan.

Dia jalan mundur pelan ke arah Gilang, matanya tetep melek ngawasin 15 boneka tinggi yang udah jaraknya cuma 1 meter. Boneka-boneka itu diem, tapi kepala batok kelapa mereka miring-miring ngikutin gerakan Elina,

krek krek krek..

Sampai di belakang Gilang, Elina liat boneka kecil di punggung Gilang. Boneka kecil itu ukurannya cuma 30 cm, tapi beratnya minta ampun. Mukanya mirip Gilang banget, 99% mirip, cuma beda senyumnya kayu runcing. Tangannya meluk carrier Gilang, kakinya ngelilit pinggang Gilang, rambut ijuknya manjang ngelilit leher Gilang.

Elina potong ijuknya pakai pisau lipat.

Srek srek..

Ijuknya alot, kayak kawat. Dipotong, keluar getah hitam.

Boneka kecil di punggung Gilang jerit, lagi-lagi pakai suara Gilang.

NGIAAA...

Jeritannya bikin Gilang kejang, karena suaranya sama kayak suara dia, jadi kupingnya sakit, kayak denger suara sendiri direkam terus diputer kenceng.

Maira yang di tengah, rambut kuncir belakangnya yang panjang udah lepas, jadi rambutnya gerai berantakan sampai punggung, dia jagain Arga asli di punggung Bima. Arga asli masih pingsan, tapi napasnya udah agak normal setelah kepala boneka Arga dipatahin tadi gak jadi patah full, baru retak.

Maira liat formasi mereka berantakan. Dia teriak pelan, ngatur ulang.

"Denger! Kita bikin kayak tentara! Bima sama Elina di depan, melek full gak boleh kedip sama sekali! Gue, Gilang, Arga gendong, boleh kedip gantian! Satu-satu! Ngerti?!"

Bima sama Elina angguk, tapi angguknya pelan, karena kalau angguk cepet matanya kedip.

Mereka jalan lagi. Formasinya jadi Bima gendong Arga asli di depan, Elina di samping Bima, melek full. Belakang mereka Maira sama Gilang, boleh kedip gantian.

Langkah pertama, srek..

Mata Bima udah gak kuat. Tiga menit 30 detik gak kedip. Pandangannya kabur, hitam-hitam. Air mata darahnya udah netes sampai pipi. Dia harus kedip, tapi kalau dia kedip, 15 boneka bakal maju dan ngepung mereka sampai nempel.

Bima bisik ke Elina, suaranya serak: "El... gue... gue gak kuat... mata gue..."

Elina yang rambut pendeknya nempel ke jidat karena keringet, dia juga sama, matanya udah merah darah, tapi dia masih nahan. Dia bisik balik,"Tahan Bim... 5 meter lagi sampai lingkaran... tahan..."

Lima meter lagi. Ilalang makin rapat, bonekanya makin banyak. Dari 15, sekarang jadi 20. Muncul dari ilalang, berdiri diam.

Maira di belakang, dia praktekin aturan gantian kedip.

"Gilang, lo kedip sekarang cepet!"

Gilang kedip. Cepat. 0,5 detik.

Aman, karena Bima sama Elina masih melek.

"Gue kedip ya!"

Maira kedip. Cepat.

Pas Maira buka mata...

Dia liat di depan Bima, boneka tinggi yang paling deket sama Bima, yang jaraknya 1 meter...

Mukanya udah berubah.

Tadi polos, sekarang mukanya mirip Bima. 100% mirip Bima, jenggot tipisnya, alis tebelnya, semua ada. Coretan arangnya basah, kayak baru dilukis.

Boneka mirip Bima itu senyum kayu lebar, terus dia ngomong pakai suara Bima:

"Capek ya... sini gantian gendong Arga."

Bima yang denger suara sendiri, dia kaget. Refleks...

Kedip.

Lama. 2 detik. Karena kaget denger suara sendiri.

Dua detik itu fatal.

SREK SREK SREK SREK...

Dua puluh boneka maju barengan 1 meter.

Sekarang kepungannya mepet. Jaraknya cuma 30 cm. Bahu boneka sama bahu mereka udah hampir nempel. Bau lumpur getah dari badan boneka nyengat banget, sampai bikin mual.

Maira sama Gilang kepojok, punggung mereka nempel punggung Bima yang gendong Arga.

Elina yang masih melek, dia liat boneka mirip Bima yang di depan Bima, tangan ilalangnya udah ngangkat, mau megang carrier Bima, mau ngambil Arga asli dari punggungan Bima.

Elina gak punya pilihan.

Dia ambil senter lowbat yang udah kedip-kedip, dia nyorotin langsung ke muka boneka mirip Bima, tepat ke mata coretan arangnya.

Cahaya senter kuning, silau.

Boneka mirip Bima itu silau, refleks kedip.

Pas boneka kedip...

Elina juga kedip, sengaja kedip barengan sama boneka.

Kedip barengan \= lengah \= tukar?

Enggak. Elina punya ide gila.

Pas Elina sama boneka Bima kedip barengan, Elina langsung teriak: "TUKAR!"

Dia manfaatin aturan `LENGAH \= TUKAR` buat nuker posisi.

Pas buka mata, posisi Elina sama boneka Bima ketukar.

Elina sekarang di luar kepungan, boneka Bima di dalam kepungan, kejepit di tengah mereka.

Boneka Bima bingung, noleh kiri kanan, mukanya masih muka Bima tapi panik.

Bima yang melek liat kesempatan, dia tendang boneka Bima itu keluar dari lingkaran mereka.

Bug!

Tendangan Bima kena batok kelapa boneka.

Boneka Bima jatuh ke ilalang, ngerobohin 3 boneka lain.

Kepungan bolong, ada celah 1 meter.

"LARI JALAN PELAN! JANGAN LARI CEPET! KE LINGKARAN!" Bima teriak.

Berempat (Bima gendong Arga, Elina, Maira rambut gerai, Gilang bongkok) jalan cepet tapi pelan, lewat celah kepungan, menuju lingkaran tanah botak 5 meter di depan.

Arga palsu di lingkaran udah nunggu, di tangannya masih megang boneka kecil muka Gilang yang retak, sama boneka kecil muka Maira yang rambutnya dikuncir belakang juga, mirip Maira.

Arga palsu senyum lebar, gigi kayu runcingnya keliatan semua.

"Telat..."

Dia angkat boneka kecil muka Gilang tinggi-tinggi, siap dibanting ke tanah.

Gilang yang liat, dia teriak, matanya melotot gak kedip.

"JANGAN!"

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!