Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
****
Waktu terus bergulir menembus bulan-bulan yang penuh dengan perjuangan dan kehangatan. Suasana di rumah mungil mereka kini makin tenang, jauh dari cengkeraman dinasti Elard yang kian meredup di pusat kota. Namun, tak bisa dimungkiri, hari-hari yang mereka jalani juga membawa kelelahan fisik yang amat sangat.
Kandungan Alana telah memasuki usia tua, mendekati masa persalinan. Perutnya kini sudah begitu membesar dan berat, membuat langkah kakinya makin pelan. Beberapa kali dalam seminggu, rasa mulas akibat kontraksi palsu kerap menyerang bagian bawah perutnya. Namun, Alana memilih untuk tidak banyak mengeluh atau menunjukkan rasa sakitnya. Setiap kali melihat Kenzo, dada Alana selalu dipenuhi rasa iba sekaligus haru yang luar biasa.
Kenzo bekerja tanpa kenal lelah. Sejak pagi, pria itu sudah bangun membantu Alana mengaduk adonan kue, mengemas pesanan, lalu mengantarkannya sendiri ke pelanggan dengan mobil pribadi mereka. Sore harinya, Kenzo menyapu lantai, mencuci piring, dan memastikan Alana tidak mengangkat beban berat sedikit pun. Dan ketika malam tiba, saat seluruh kota telah terlelap, Kenzo masih harus duduk berjam-jam di depan laptopnya di ruang kerja lantai dua—mengejar negosiasi networking investor luar negeri yang membutuhkan perbedaan zona waktu.
Malam itu, hujan deras mengguyur kota dengan sangat lebat. Suara gemuruh petir dan hisapan angin malam beradu di balik jendela kaca, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.
Di dalam kamar kerja lantai dua yang temaram, Kenzo duduk tertunduk di depan layar komputer jinjingnya. Kemeja linen longgar yang dikenakannya tampak agak kusut, lengannya tergulung kaku hingga ke siku. Garis-garis kelelahan tergambar jelas di wajah tampannya, disinari pendar cahaya monitor yang menampilkan grafik investasi dan draf dokumen bahasa Inggris. Pria itu mengusap wajahnya yang lelah seraya menghela napas panjang, menahan kantuk dan pegal di punggungnya yang belum sembuh total dari luka masa lalu.
Klek.
Suara engsel pintu ruang kerja terdorong pelan.
Alana melangkah masuk dengan gerakan yang amat perlahan. Satu tangannya menyangga pinggang belakang untuk menopang beban perutnya yang membuncit melingkar sempurna, sementara tangan satunya dengan hati-hati memegang cangkir keramik berisi susu jahe hangat yang asapnya masih mengepul halus.
Kenzo seketika mendongak, terperanjat kaget melihat istrinya masih terbangun. Pria itu cepat-cepat berdiri, melangkah mendekat seraya meraih cangkir hangat dari tangan Alana.
"Alana? Kenapa belum tidur, Sayang?" tanya Kenzo dengan nada suara yang penuh kecemasan. Jemari hangatnya menyentuh pipi Alana. "Ini sudah jam satu malam, dan di luar hujan sangat deras. Udara dingin begini tidak baik untuk kondisimu. Ada yang sakit? Perutmu mulas lagi?"
Alana menyunggingkan senyuman paling lembut yang pernah Kenzo lihat. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam iris mata suaminya yang sarat akan rasa lelah.
"Saya tidak apa-apa, Mas," bisik Alana jernih. "Saya buatkan susu jahe hangat untuk Mas Kenzo. Diminum dulu, ya?"
Kenzo menatap cangkir di tangannya, lalu menyesap cairan manis beraroma jahe itu perlahan. Rasa hangat seketika mengalir menembus tenggorokan dan dadanya, membakar hawa dingin yang membekukan malam.
"Terima kasih, Alana... Ini sangat enak," ujar Kenzo tulus, meletakkan cangkir itu di tepi meja kerja.
Sebelum Kenzo kembali duduk, Alana melangkah satu tingkat mendekat ke balik punggung suaminya. Jemari tangannya yang halus dan dingin terulur, menempel tepat di atas pangkal leher dan otot bahu Kenzo yang menegang kaku. Dengan gerakan yang penuh kelembutan, Alana mulai memijat perlahan pundak suaminya.
"Ngh..." Kenzo mendesah pelan, memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tersebut. Namun, kesadarannya cepat-cepat menyenggol pikirannya. Pria itu berbalik pelan, memegang kedua pergelangan tangan Alana. "Alana, jangan... Kamu sedang hamil tua, tanganmu bisa pegal. Biar aku saja yang merawat diriku sendiri."
"Mas Kenzo..." potong Alana lembut, menyela ucapan panik suaminya. Alana menatap Kenzo dengan mata bening yang memancarkan kejujuran batin yang teramat dalam. "Mas sudah bekerja sangat keras untuk saya dan anak kita. Mas mengurus rumah, membuat kue, mengantar pesanan, dan malam-malam begini Mas masih harus menatap layar laptop tanpa tidur. Memijat pundak Mas adalah hal paling kecil yang bisa saya lakukan."
Alana membawa jemari Kenzo ke dadanya, merasakan detak jantung suaminya yang berembus hangat.
"Dan saya tahu, Mas..." lanjut Alana dengan suara yang kian lirih, rona merah tipis merambat perlahan di kedua belah pipi porselennya. "Hampir setengah tahun lebih... saya menutup diri dari Mas. Saya membiarkan Mas menahan semuanya sendiri..."
Kenzo terpaku kaku. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Alana... maksudmu...?"
"Mas Kenzo selalu menjaga saya dengan sangat terhormat," tutur Alana tulus, menatap mata hitam suaminya tanpa kedipan ragu. "Mas tidak pernah menuntut kewajiban batin sebagai seorang suami sejak kita keluar dari mansion. Mas selalu menahan keinginan Mas karena takut menyakiti saya atau membahayakan kandungan ini. Tapi saya tidak ingin menjadi istri yang egois, Mas... Saya tahu Mas pasti sangat menahannya selama ini."
Dada Kenzo bergemuruh hebat. Rasa haru, gairah yang terpendam, dan rasa cinta yang begitu murni bercampur aduk mengocok jiwanya.
"Alana... aku menahannya bukan karena aku tidak menginginkanmu," bisik Kenzo parau, suaranya bergetar berat seraya mendekatkan tubuhnya. "Demi Tuhan, setiap detik aku menginginkanmu... Aku mencintaimu setengah mati. Tapi tubuhmu sedang mengandung, Alana. Aku sangat takut menyakitimu atau membuatmu lelah."
"Dokter sudah bilang di pemeriksaan minggu lalu, Mas..." senyum Alana terkembang sangat manis di tengah keremangan lampu kerja. "Usia kandungan saya sudah aman, dan hubungan suami istri justru bisa membantu melancarkan proses persalinan nanti. Dan kali ini... saya menginginkannya bukan karena kepatuhan kontrak atau paksaan, Mas. Saya menginginkannya... karena saya mencintai suami saya."
Kata-kata 'saya mencintai suami saya' menghantam pertahanan batin Kenzo hingga runtuh tak tersisa.
Tanpa sanggup menahannya lagi, Kenzo merangkul pinggang Alana dengan amat lembut, menarik tubuh istrinya rapat ke dalam dekapannya. Bibir Kenzo mendarat di atas bibir Alana, menyatukan napas mereka dalam sebuah ciuman yang begitu dalam, hangat, dan penuh dengan kerinduan yang telah lama mengendap. Alana memejamkan matanya, membalas ciuman itu dengan kepasrahan yang manis, menyusupkan jemarinya ke dalam rambut hitam Kenzo yang halus.
Di luar, hujan deras makin lebat menghantam atap, namun di dalam kamar utama lantai atas, hawa dingin seketika sirnah tergantikan oleh hangatnya api asmara yang murni.
Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Kenzo membopong tubuh Alana ke dalam kamar tidur utama, membaringkannya di atas tempat tidur empuk yang bersih. Lampu utama telah dimatikan, menyisakan pendar keemasan dari lampu tidur di nakas yang membiaskan nuansa romantis yang syahdu.
Kenzo berlutut di tepi ranjang, menatap Alana yang terbaring anggun dengan perutnya yang membuncit indah. Pria tegap itu membungkuk perlahan, mendaratkan kecupan-kecupan lembut di dahi Alana, di kedua kelopak matanya, di pipinya, lalu turun mengusap lembut perut istrinya di balik gaun tidur katun yang halus.
Dengan gerakan yang amat telaten, perlahan, dan penuh penghormatan, Kenzo melepaskan gaun tidur yang membungkus tubuh Alana. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi bayang-bayang paksaan dingin masa lalu di antara mereka. Setiap sentuhan jemari Kenzo di kulit halus Alana menyalurkan rasa aman yang tak terhingga.
Bersambung...
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣