Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kalung Warisan
Mireya perlahan memutar badannya.
Dari belakang, Arven langsung mengangkat tangannya yang memegang kalung berantai emas dan langsung mengaitkan penguncinya.
Mata Mireya langsung membesar lalu tatapannya turun pada benda yang telah melingkar di lehernya.
Ada sebuah kalung dengan rantai emas, dan liontin yang tergantung di tengahnya cukup besar. Sebuah batu permata berkilau terkena cahaya matahari sore, memancarkan warna yang indah.
Mireya menatapnya beberapa saat. “Ini…” Ia memegang liontin itu. Mireya menahan napas.
Setelah selesai, Arven mundur selangkah.
“Sudah.”
Mata Mireya masih terpaku pada batu permata tersebut. “Mas…”
“Ini peninggalan ibuku.”
Mireya langsung terdiam. Tangannya yang semula menyentuh liontin pun berhenti. “Peninggalan Ibu?”
Arven mengangguk. “Beliau memberikannya kepadaku sebelum meninggal.”
Mireya menatap batu permata itu lagi. “Kalau begitu, kenapa diberikan kepadaku?”
Arven menatapnya beberapa detik. “Karena aku rasa ini cocok untukmu.”
Mireya tidak langsung menjawab. “Mas… ini pernah dipakai ibu Alden juga?”
Arven mengangguk pelan. “Pernah.”
Mireya menatap liontin itu kembali. Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika mengetahui bahwa kalung ini pernah berada di tubuh ibu Arven.
“Kenapa sekarang diberikan kepadaku?”
Arven menatap kalung tersebut beberapa saat. “Karena ibuku berpesan, diberikan pada istriku.”
“Istri?”
Mireya masih merasa belum menjadi istri seutuhnya bagi Arven langsung memegang rantai kalung itu.
Tangannya hendak membuka pengaitnya.
“Jangan.” Arven segera menahan tangannya.
Mireya sedikit tersentak. “Kenapa?”
“Kenapa mau dilepas?”
Mireya terdiam beberapa detik, mencoba berpikir dengan cepat alasan yang cocok. “Karena…”
Ia berpikir cepat. “Karena saya takut.”
Arven mengerutkan kening. “Takut apa?”
Mireya menunjuk liontin besar di lehernya. "Kira-kira, aku bisa digadaikan di pegadaian ga ya?"
Arven mengerutkan keningnya. "Apa hubungannya?"
“Kalau ini hilang, aku tak tahu apakah harga diriku bisa membayar ini semua.”
Arven menarik tubuh Mireya masuk ke dalam pelukannya. "Jangan pernah mengatakan itu!"
Mireya tersentak mengangkat wajah dan ... cup ... Bibirnya menempel di pipi Arven yang ternyata sedang menunduk. Mata perempuan itu sedikit melebar dan ia segera menyembunyikan wajah salah tingkahnya.
"Kenapa tiba-tiba meluk?" gumamnya masih tertunduk.
"Kenapa bilang mau menggadaikan dirimu? Bahkan, kalung itu tak lebih berharga dibanding dirimu." Arven mempererat pelukannya.
"Ayah ... Ayah ... Aku juga mau ... Aku juga mau." Elden yang sedari tadi asik main tanah, melihat orang tuanya pelukan, juga ingin masuk ke dalam pelukan itu.
"Kamu main aja! Jangan ganggu Ayah," decak Arven menatap putranya.
"Elden mau peluk juga." Mata Elden tampak mulai berkaca-kaca dan tangannya menggapai-gapai ingin segera disambut.
Mireya merasa ini sebuah kesempatan segera mencoba melepaskan diri. "Duh, sini Elden. Peluk Ibu." Mireya melepaskan diri dan segera memeluk bocah itu.
Arven tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Mireya lepas demi menyambut Elden.
"Elden, kamu udah kotor lagi? Bukan kah udah janji sama Ibu?"
Elden terkekeh melihat kedua tangannya. Padahal, ia telah mandi sebelum ke kebun sore ini.
"Nanti aku mandi lagi ya, Bu."
Mireya melirik Arven sejenak. Ia seperti mendapat ide lepas dari Arven. "Owalah ... Siram-siramnya kita selesaikan dulu. Ayo kamu mandi lagi."
Mireya menatap Arven sejenak. "Mas, kami masuk dulu." Mireya segera memutar wajah dengan wajah mengernyit dan gigi tertaut, ia berjalan cepat membawa Elden masuk kembali ke dalam rumah.
.
.
Usai makan malam, Mireya membereskan meja. Tetapi pergelangan tangannya ditangkap oleh Arven.
"Kenapa kamu terus menghindariku? Apa kamu tak menyukai kalung warisan ibuku?".
Satu tangan Mireya yang lain kembali memegang liontin yang masih menggantung di lehernya. "Mas ... Batunya segede ini. Pasti mahal banget."
"Aku tak memedulikan berapa harganya. Karena saat ini benda itu telah menjadi milikmu. Karena kamu adalah istriku."
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?