Indonesia
NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas / Penyesalan Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 37 — Kekecewaan Marissa pada Lukman

.

Arsen baru sampai rumah saat malam sudah larut, wajahnya terlihat muram sekali. Marissa yang ternyata masih menunggunya di ruang keluarga segera berdiri saat melihat putranya masuk. Sejak tadi ia terus menunggu kabar, berharap pertemuan dengan Lukman membawa jalan keluar bagi Wijaya Group.

"Bagaimana?" tanyanya langsung. "Lukman mau membantu?"

Arsen meletakkan tas kerjanya di meja, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

"Belum ada keputusan," jawabnya. “Katanya dana perusahaan sudah terpakai untuk proyek lain. Harus dibicarakan dulu dengan jajaran direksi."

Marissa menatapnya tak percaya. "Mereka menolak membantu?"

"Apa lagi yang Ibu harapkan?” tanya Arsen terdengar lelah. “Aku sudah jelaskan semuanya, ajukan skema investasi yang jelas. Bahkan dihitung sebagai hutang pun tak apa. Tapi dia tetap tak mau membantu.”

"Padahal Clarissa anak kandungnya sendiri, dan kamu itu suaminya Clarissa. Kenapa dia begitu tega?"

"Keputusan sebesar itu biasanya memang tidak bisa diambil hanya karena hubungan keluarga." Meskipun sebenarnya juga kecewa, Arsen mencoba melihat dari sudut pandang sebuah perusahaan.

Marissa berdecak kesal, bener-bener kecewa dengan sikap besannya yang seolah menutup mata.

"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanyanya putus asa. “Ayahmu masih di rumah sakit, perusahaan makin terpuruk, dan orang-orang yang selama ini mendampingi kita satu per satu pergi. Kalau keluarga Halim saja tidak mau membantu, siapa lagi yang bisa kita harapkan?"

Arsen tak menjawab. Pertanyaan itu juga terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. SIAPA LAGI?

Dulu, ia tak pernah pontang-panting ke sana kemari mencari rekan yang mau bekerja sama. Semua orang menghargainya, bank mempercayainya, dan banyak pihak datang menawarkan kerjasama dengan sendirinya. Dulu ia mengira semua itu dirinya yang begitu hebat. Sekarang, setelah kepergian Keira, barulah ia sadar ternyata dirinya tak bisa berbuat apa-apa.

Marissa berjalan mondar-mandir di depannya. "Seandainya kita tidak menyia-nyiakan Keira, mungkin kita tidak akan sesulit ini sekarang."

Arsen mendongak perlahan. "Ibu masih memikirkan soal itu?"

"Bagaimana mungkin Ibu tidak memikirkannya?" Marissa berhenti melangkah, menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Dulu, saat Keira masih di sini hidup kita terasa lancar saja. Ibu kira semua itu karena kamu makin sukses, karena nama keluarga kita makin dikenal. Ternyata ada banyak hal yang selama ini tersembunyi dari kita."

Arsen menunduk dengan mata terpejam. Semua kejadian sejak beberapa waktu lalu kembali terngiang di depan matanya.

"Ibu," ucapnya pelan, "seandainya sejak awal Ibu tahu betapa besar pengaruh dan kekayaan yang dimiliki Keira... apakah Ibu akan memperlakukannya dengan berbeda?"

Marissa tertegun. Pertanyaan itu sederhana, tapi membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia bisa saja langsung menjawab tentu saja akan memperlakukan Keira dengan lebih baik. Tapi jawaban itu membuktikan bahwa ia hanya menilai Keira dari harta dan kedudukan.

"Maksudmu apa bertanya seperti itu itu?" elaknya, berusaha mengalihkan topik.

"Aku cuma ingin tahu." Arsen menatap ibunya lekat.

Marissa membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kenangan lama perlahan kembali. Bagaimana ia selalu memerintahkan Keira mengerjakan urusan rumah, bagaimana ia selalu membandingkan Keira dengan Clarissa, bagaimana ia mendesak Arsen mengakhiri pernikahan mereka karena merasa Keira tidak cukup pantas.

Dulu semua itu terasa benar di matanya. Ia pikir ia sedang melakukan yang terbaik untuk masa depan putranya dan juga keluarganya. Kini setiap kenangan itu terasa bagai pukulan telak.

"Waktu itu Ibu pikir itu yang terbaik untukmu," suaranya melemah. "Ibu kira Clarissa akan lebih mendukung karirmu dan membuat keluarga kita lebih dihormati. Kalau Ibu tahu sejak awal, Ibu tidak akan menyuruh kamu menikahi Clarissa," gumam Marissa pelan.

"Sekarang kamu mau menyalahkan Ibu?" Tiba-tiba saja suara Marissa sedikit meninggi, tak mau dirinya disalahkan seorang diri.

"Aku tidak menyalahkan siapa pun." Arsen mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Pria itu sadar bahwa dirinya juga salah. Ia sendiri yang menyetujui usulan ibunya. Sejak awal dia sendiri yang tergoda dengan penampilan Clarissa. Jika ibunya salah, ia juga salah.

Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara langkah pembantu yang berjalan melewat di lorong, lalu hilang kembali.

Marissa duduk di seberang putranya. "Kalau ada kesempatan, Arsen... cobalah temui dia sekali lagi. Minta maaf sekali lagi. Siapa tahu dia masih mau mendengarkanmu."

Arsen menggeleng pelan. "Aku sudah mencoba menghubunginya."

Marisa menoleh cepat. "Lalu apa katanya?"

Arsen menggelengkan kepalanya lemah. "Dia menolak bertemu. Katanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

Marissa meremas ujung bajunya. "Kamu harus mencobanya terus. Jangan menyerah. Masa depan keluarga Wijaya ada di tangannya."

Arsen menatap ibunya, tak langsung menjawab. Sebagian dirinya masih berharap Keira akan memaafkannya. Tapi ada kenyataan yang tak bisa ia pungkiri. Keira bukan lagi wanita yang dulu yang akan luluh hanya dengan satu kata maaf setelah semua perlakuan buruk yang telah mereka berikan.

"Aku takut dia sudah tak ingin melihatku lagi," akunya pelan.

"Tapi kamu kalian pernah hidup bersama. Dia pernah sangat mencintaimu. Tidak mungkin perasaan yang terjalin selama empat tahun hilang hanya dalam beberapa bulan."

Arsen menatap ibunya dengan getir. "Secara hukum diantara kami sudah tidak ada urusan lagi. Apa Ibu lupa bagaimana Keira membawa surat cerai di hari pernikahan aku dan Clarissa?"

Marissa terperangah mendengar itu. Mana mungkin ia lupa kejadian hari itu? Dia sendiri juga yang saat itu dengan keras memaksa Arsen untuk segera menandatangani surat cerai. Jadi, apakah benar-benar sudah tidak ada jalan untuk membawa Keira kembali ke dalam keluarga Wijaya?

Malam makin larut. Arsen akhirnya bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan ibunya sendirian.

Di dalam ruangan itu, ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya tergeletak cincin pernikahan yang ia simpan setelah Keira pergi. Cincin itu masih sama persis seperti terakhir kali ia melihatnya. Arsen memutar cincin itu di antara jari-jemarinya.

Empat tahun Keira mendampinginy saat ia belum punya apa-apa. Dulu ia menganggap semua itu hal yang lumrah, bagian dari perjalanan hidup yang biasa saja. Sekarang, saat semua itu hilang, ia baru mengerti betapa berharganya sesuatu yang dulu ia sia-siakan.

Tapi penyesalan tak akan mengembalikan apa yang sudah hilang. Arsen tahu, Keira mungkin tak akan pernah kembali ke sisinya. Ia menutup kotak itu dan menyimpannya kembali.

Besok ia harus mencari jalan lain untuk menyelamatkan Wijaya Group dengan usahanya sendiri. Tapi… apakah bisa?

1
vania larasati
lanjut
Noey Aprilia
Keira mngkn mau mmafkn kslhn mreka d msa lalu,tp untk kmbli lg....
Soryyyy yeee......😛😛😛
Aditya hp/ bunda Lia
tidak akan bisa soalnya kamu tuh udah terbiasa terima beres ...tanpa kerja keras dulu
〈⎳ FT. Zira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Widiyarti
menyesalpun tiada guna Arsen...
Ilfa Yarni
tidak Ada Jln lain untukmu slain menerima nasib itulah karma yg hrs kau jalani karena kesombonganmu arsen
Lee Mba Young
nnti di kluarga santoso Clarissa di jadikan babu
Aditya hp/ bunda Lia: setuju semoga ajah ... kita mohon sama othor 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
oalah tibak e podo bangkrut e🤣🤣
Nurhartiningsih
gila sih ini
Lily
keluarga gila
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
inilah contohl orang2 yg tamak Akan harta dikira mereka beruntung tp malah buntung penasaran apa yg Akan dikatakan papa Clarissa ya perusahaanya jg mau bangkrut dia menikahkan anknya dgn arsen berharap bisa dimanfaatin ternyata arsen malah bankrupt duluan
Ayuk Witanto
Keira udah gak Sudi mungut sampah
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan pada mau enak mau senang tanpa berjuang ...
juwita
Arsen menghela nafas pendek.
juwita
yg penting tidak menceraikan carissa. mgkn itu yg di maksudnya ya mam
juwita
keluarga g bener semua saling memanfaatkan. tp akhirnya zonk semua🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan
udah tidur saja km arsen pasti capek🤣🤣
ryuka
makaaih banyak unt banyak up nya ya thorrrr 😍😍😍😍😍😍
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih juga atas dukungannya kak /Kiss//Pray/
total 1 replies
ryuka
penyesalan emang selalu datang terlambat arsen..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!