Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Pertempuran singkat yang pecah di aula utama

Di tengah aula yang hancur berantakan, Gabriel duduk bersandar di kaki pilar batu besar. Kemeja mewahnya telah koyak di beberapa bagian, bersimbah kombinasi darah musuh dan darahnya sendiri yang mengalir dari luka tembak di paha serta lehernya yang tergores. Tim medis pribadi dinasti yang baru tiba bergegas mengerumuninya, membawa kotak peralatan bedah darurat, cairan antiseptik, serta kantong plasma darah.

"Tuan, tahan sedikit... kami harus mengeluarkan proyektil peluru di paha kanan Anda," ujar kepala tim medis dengan tangan gemetar, dengan cekatan menggunting kain celana Gabriel yang berdarah.

Gabriel tidak meringis sedikit pun saat pisau bedah dan pinset medis merobek daging lukanya. Rasa sakit fisik itu sama sekali tak terasa. Sensasi terbakar akibat timah panas di kakinya kalah jauh dibandingkan guncangan emosi dahsyat yang sedang meremukkan rongga dadanya saat ini.

Rasa lega yang teramat sangat sekaligus rasa sesak yang mencekik menghantam jiwa Gabriel secara bersamaan.

Ia merasa lega begitu lega hingga rasanya ingin mengembagkan napas panjang karena Aurora berhasil lolos dari cengkeraman ibunya. Jika wanita tua itu sampai menemukan Aurora di dalam kamar utama, Gabriel tahu betul bahwa gadis itu tidak akan dibiarkan bernapas lebih lama lagi. Eleanor akan mengeksekusinya tanpa ragu di depan matanya sendiri. Fakta bahwa Aurora aman dari kekejaman ibunya adalah satu-satunya hal yang mencegah Gabriel untuk tidak mengamuk membabi buta.

Namun, di balik rasa lega itu, ada kebenaran lain yang jauh lebih mengerikan dan menghancurkan hatinya Aurora telah kabur.

Gadis itu tidak sekadar bersembunyi. Gadis itu memanfaatkan pertumpahan darah ini saat Gabriel mempertaruhkan nyawa, merusak hubungannya dengan sang ibu, dan berlutut bersimbah darah untuk melindunginya murni sebagai celah untuk melangkah pergi.

"Dia pergi..." bisik Gabriel lirih. Suaranya begitu parau, hampir tenggelam di antara bunyi instrumen medis yang berdenting.

Rasa takut yang tak pernah ia kenal seumur hidupnya kini merayap dingin di seluruh aliran darahnya. Pria yang tak pernah gentar menghadapi moncong senapan musuh atau konspirasi politik dunia bawah itu kini terduduk kaku, ketakutan setengah mati karena ditinggalkan oleh seorang wanita. Seluruh pertahanan mentalnya hancur. Bayangan bahwa ia mungkin tidak akan pernah lagi melihat binar mata Aurora, tidak akan pernah lagi menghirup aroma vanila dari lehernya, dan tidak akan pernah lagi merasakan kehangatan wanita itu di atas peraduannya, meremas jantungnya hingga terasa sesak dan menyiksa.

Gabriel mengepalkan tangannya di atas lantai marmer, menekan jemarinya ke genangan darahnya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.

Di sisi lain aula, dua tim medis sedang berjuang menstabilkan kondisi Marco. Tangan kanan Gabriel itu berhasil diselamatkan setelah mendapat pertolongan darurat untuk menghentikan pendarahan hebat di bahu dan pahanya. Marco ditandu keluar menuju fasilitas medis bawah tanah dalam kondisi setengah sadar, meninggalkan Gabriel yang masih duduk terdiam ditangani oleh para dokter.

Langkah kaki bertumit keras kembali bergaung pelan di atas lantai marmer.

Nyonya Eleanor Moretti melangkah mendekat. Meski pasukannya telah dilucuti dan kepung oleh armada Bravos, wanita tua itu sama sekali tidak memancarkan raut kekalahan. Wajahnya yang anggun namun dingin menatap Gabriel yang sedang diobati oleh tim medis. Ada kilatan rasa puas yang kejam terpancar di balik manik mata tuanya.

Eleanor menghentikan langkahnya tepat di hadapan Gabriel. Ia mengisyaratkan dokter untuk mundur sejenak, lalu menatap anaknya yang terkulai bersandar di pilar.

"Bagaimana rasanya, Gabriel?" tanya Eleanor. Suaranya tenang, halus, namun mengandung racun kejujuran yang begitu menohok.

Gabriel tidak menjawab. Manik mata hitamnya yang redup menatap lurus ke depan, enggan menatap ibunya.

Eleanor menyunggingkan senyuman tipis sebuah senyuman penuh keangkuhan seorang ibu yang merasa prediksinya terbukti sepenuhnya tepat. Ia membungkuk sedikit, menekan ujung tongkat peraknya ke lantai tepat di samping kaki Gabriel yang sedang diperban.

"Kau membangkang padaku," ujar Eleanor dengan nada bicara seperti seorang pengajar yang sedang memberikan kuliah pada muridnya yang bodoh. "Kau mempertaruhkan nama agung Moretti, kau menembak prajuritku, dan kau rela berlutut di tanah berdarah ini... hanya untuk melindungi seorang wanita yang kau anggap sebagai belahan jiwamu."

Eleanor menghela napas pelan, menatap lurus ke dalam mata Gabriel yang kosong.

"Dan apa yang dilakukan oleh 'ratumu' itu saat kau sedang bersimbah darah menahanku di sini?" lanjut Eleanor, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang teramat tajam. "Dia tidak menunggumu. Dia tidak menangisimu. Dia memanfaatkan darah yang kau tumpahkan murni sebagai pijakan tangga untuk melarikan diri darimu!"

Kata-kata Eleanor menghantam dada Gabriel bagaikan hantaman godam yang berat. Sang Don memejamkan matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras hebat menahan gelombang kesakitan di batinnya.

"Aku sudah memberitahumu sejak awal, Anakku," bisik Eleanor seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Wanita seperti dia tidak akan pernah mencintaimu. Bagi dia, kau hanyalah monster yang mengurungnya di dalam sangkar emas. Kau memberikan perhiasan puluhan juta dolar, kau berjanji menyerahkan kerajaan ini padanya, namun di matanya, kau tetaplah seorang penculik berdarah dingin. Selir rendahan seperti dia tidak akan pernah memiliki rasa setia pada darah kita!"

"Cukup, Ibu..." desis Gabriel serak, napasnya memburu berat.

"Tidak, ini belum cukup!" gertak Eleanor dengan nada yang mendadak menajam. "Lihat dirimu sekarang! Kau terduduk bersimbah darah, Marco hampir tewas, dan kerajaanku di puri ini kacau balau hanya karena kebodohan sentimentalmu! Kau dipermainkan oleh seorang gadis yang bahkan tidak memiliki silsilah nama!"

Eleanor melangkah melingkari Gabriel, menatap anaknya dengan kombinasi antara amarah dan rasa kasihan yang dingin.

"Dia menyadarinya, Gabriel. Dia tahu bahwa kau begitu lemah di hadapannya. Dan begitu seorang musuh atau wanita tahu tempat kelemahanmu, mereka akan menggunakannya untuk menghancurkanmu sampai tak tersisa. Dia sudah pergi. Dia memilih untuk meninggalkanmu di dalam lumpur darah ini."

Gabriel membuka matanya kembali. Manik mata hitamnya yang tadi redup kini perlahan-lahan kembali menyala bukan lagi oleh kebuasan murni, melainkan oleh kombinasi antara rasa sakit yang dalam, obsesi yang tak terobati, dan kegilaan yang makin memuncak.

"Dia tidak meninggalkan aku..." bisik Gabriel dengan suara berbariton rendah yang bergetar. "Dia hanya... sedang mencoba berlari."

Eleanor terkekeh sinis, menggelengkan kepalanya melihat ketidakberdayaan mental anaknya. "Kau masih menipu dirimu sendiri? Dia sudah melintasi batas benteng barat. Dia sudah tidak menginginkanmu, Gabriel!"

"AKU TIDAK PEDULI!" raung Gabriel tiba-tiba. Suaranya yang dahsyat menggema menembus seluruh aula, membuat para dokter dan pengawal di sekeliling mereka tersentak kaget.

Gabriel mendorong tangan tim medis yang sedang mengikat perbannya. Dengan memaksakan otat kakinya yang tertembus peluru, sang Don berdiri tegak secara perlahan. Tubuh tegapnya agak menyengklek akibat luka di kakinya, namun posturnya tetap memancarkan dominasi yang teramat mengerikan.

Darah segar kembali merembes dari perban di pahanya, membasahi lantai marmer, namun Gabriel bahkan tidak menunduk melihatnya. Ia berdiri berhadapan langsung dengan ibunya, menatap Eleanor dengan raut wajah yang sepenuhnya telah kehilangan akal sehat.

"Aku tidak peduli jika dia membenciku..." desis Gabriel dengan napas memburu di depan wajah ibunya. "Aku tidak peduli jika dia menganggapku sebagai monster. Aku tidak peduli jika dia memanfaatkan pertumpahan darah ini untuk kabur... Dia adalah milikku, Ibu. Mati atau hidup, rahimnya, tubuhnya, dan jiwanya adalah milik Gabriel Moretti!"

Eleanor menatap anaknya dengan rasa ngeri yang perlahan merayap di dadanya. Ia menyadari bahwa Gabriel tidak lagi sekadar jatuh cinta anaknya telah tenggelam di dalam pusaran obsesi yang teramat gelap dan berbahaya.

Di saat yang bersamaan, pikiran Gabriel kembali dihantam oleh rasa sesak yang lain.

Melihat keberadaan ibunya yang masih berdiri di puri ini dengan seluruh kekuasaan dinasti lamanya, ketakutan baru menyergap batin Gabriel. Ibunya sudah tahu bahwa Aurora berhasil kabur. Dengan jaringan intelijen Black Vipers yang tersebar di seluruh pelabuhan, bandara, dan perbatasan benua, Eleanor pasti akan memerintahkan perburuan secara mandiri. Dan jika pasukan Eleanor yang menemukan Aurora terlebih dahulu di luar sana... wanita tua itu tidak akan membawanya pulang, melainkan langsung mengeksekusinya di tempat.

Gabriel tidak tahu hal gila dan kejam apa lagi yang akan dilakukan oleh ibunya untuk memusnahkan Aurora.

"Pergi dari puriku, Ibu," ujar Gabriel dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, datar, dan mematikan. "Bawa seluruh pasukanmu keluar dari tanah ini sekarang juga."

"Gabriel, aku ibumu! Aku melakukan ini untuk menyelamatkan tahtamu!" tegar Eleanor.

"Jika kau melangkah satu senti saja untuk memburu Aurora di luar sana..." Gabriel mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Eleanor dengan ancaman mutlak yang tak bisa diganggu gugat, "maka perang yang terjadi hari ini tidak akan berhenti di puri ini. Aku akan mengerahkan seluruh armada Bravos untuk meratakan seluruh aset dinasti lama milikmu di Eropa. Aku akan membakar kerajaan yang kau banggakan itu sampai menjadi abu."

Eleanor terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia membaca keseriusan tanpa celah di dalam mata anaknya. Gabriel benar-benar siap menghancurkan seluruh warisan keluarga Moretti hanya demi memastikan gadis itu tidak tersentuh olehnya.

Tanpa menunggu jawaban ibunya, Gabriel berpaling. Pria itu menyambar senapan serbu dari tangan pengawal di sampingnya, lalu menatap kapten unit Bravos yang berdiri siaga di dekat pintu.

"Tutup seluruh perbatasan kota!" perintah Gabriel dengan suara berbariton yang menggelegar, membakar seluruh atmosfer puri. "Lacak seluruh transaksi paspor palsu, periksa setiap sudut stasiun, pelabuhan, dan jalur darat! Siapkan seluruh helikopter pelacak infra-merah!"

Gabriel melangkah pincang namun mantap menuju pintu keluar puri, mengabaikan tim medis yang berteriak memanggilnya untuk menyelesaikan jahitan lukanya.

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!