Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : SURAT IBU DI TANGAN PENGKHIANAT
“Jangan sampai dia tahu ibumu meninggalkan surat ini untukmu.”
Chen menatap amplop di tangan Lin Mei.
Tulisan di bagian depannya membuat dadanya terasa sesak. Ia mengenali bentuk huruf C yang sedikit miring dan garis panjang pada huruf terakhir.
Ibunya selalu menulis seperti itu.
Dulu Chen sering mengeluh karena tulisan tersebut sulit dibaca.
Sekarang ia ingin melihatnya lebih lama.
Ketukan kembali terdengar.
“Nona Lin?”
Suara Sun Qiao terdengar dari balik pintu.
Lin Mei segera memasukkan amplop ke dalam map laporan yang terbuka di meja.
“Sebentar,” jawabnya.
Chen melirik ponselnya.
Ia bisa menghubungi Shen Mo. Namun Lin Mei sudah berdiri di dekat pintu, dan Sun Qiao mungkin akan masuk sebelum panggilannya tersambung.
“Aku harus bagaimana?” bisiknya.
Lin Mei menoleh.
“Duduk. Lanjutkan pekerjaanmu.”
“Surat itu—”
“Akan kuberikan. Tapi jangan sekarang.”
Chen tidak menyukai jawaban tersebut.
Meski begitu, ia kembali duduk.
Lin Mei membuka pintu sedikit.
Sun Qiao berdiri di luar dengan senyum sopan. Setelan abu-abunya rapi, sementara tas dokumen hitam tergantung di tangan kiri.
“Maaf mengganggu,” katanya. “Saya mencari dokumen rekonsiliasi lama.”
“Dokumen apa?”
“Yang pernah kita bicarakan.”
Lin Mei tidak bergerak.
“Saya sedang bekerja.”
“Saya tahu. Karena itu saya datang sendiri agar urusannya cepat selesai.”
Sun Qiao melirik ke dalam ruangan.
Tatapannya berhenti pada Chen.
“Oh?”
Senyumnya melebar.
“Jadi ini penasihat khusus yang sedang ramai dibicarakan?”
Chen mengangkat kepala dari layar.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi.” Sun Qiao tertawa kecil. “Masih sangat muda.”
Chen tidak menanggapi.
Sun Qiao kembali memandang Lin Mei.
“Saya perlu bicara empat mata.”
“Kalau berkaitan dengan dokumen perusahaan, silakan ajukan permintaan resmi melalui bagian audit.”
Senyum Sun Qiao menipis.
“Nona Lin, kita tidak perlu membuat persoalan sederhana menjadi rumit.”
“Justru karena sederhana, prosedurnya tidak perlu dilewati.”
Beberapa detik berlalu.
Chen memperhatikan tangan kanan Sun Qiao.
Pria itu tidak membawa senjata. Tidak ada gerakan mencurigakan yang jelas.
Namun sejak datang, ia terus berusaha melihat bagian dalam ruangan.
Terutama meja Lin Mei.
“Apa ada sesuatu yang hilang?” tanya Chen tiba-tiba.
Sun Qiao menoleh.
“Maaf?”
“Katanya Anda mencari dokumen. Kalau tahu nomor berkasnya, mungkin bagian arsip bisa membantu.”
Lin Mei melirik Chen.
Sun Qiao tersenyum lagi.
“Anak pintar. Tapi ini urusan orang dewasa.”
Chen menatapnya datar.
“Kalau begitu, Anda bisa membicarakannya dengan Tuan Shen.”
Nama itu membuat Sun Qiao diam sesaat.
Hanya sesaat.
“Tentu saja. Kalau memang diperlukan.”
Ia mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya kepada Lin Mei.
“Saya tunggu kabar Anda sebelum makan siang.”
Lin Mei menerima kartu tersebut tanpa menjawab.
Sun Qiao berbalik.
Namun sebelum pergi, ia kembali menoleh kepada Chen.
“Semoga hari pertamamu menyenangkan.”
Chen mengangguk singkat.
Pintu akhirnya tertutup.
Lin Mei tidak langsung bergerak.
Ia menunggu sampai suara langkah Sun Qiao menjauh, lalu mengembuskan napas panjang.
“Dia sudah pergi?” tanya Chen.
“Untuk sekarang.”
Chen berdiri.
“Berikan surat Ibu.”
Lin Mei menatapnya.
“Chen—”
“Kau bilang akan memberikannya.”
“Aku memang akan memberikannya.”
“Lalu kenapa menunggu?”
Lin Mei menunduk pada map di meja.
“Karena aku harus memastikan surat itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”
Chen merasa kesabarannya hampir habis.
“Surat itu ditujukan kepadaku.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, kenapa kau menyimpannya selama empat tahun?”
Pertanyaan itu membuat Lin Mei terdiam.
Chen melihat matanya mulai memerah.
Namun ia tidak menarik kembali ucapannya.
Ia berhak tahu.
Shen Mo tiba beberapa menit kemudian bersama Tiga.
Begitu pintu terbuka, Chen langsung menoleh.
“Shen Mo.”
Pria itu melihat wajah Chen, kemudian Lin Mei yang berdiri di samping meja.
“Apa yang terjadi?”
Lin Mei menarik napas.
“Saya perlu melaporkan sesuatu.”
“Mulai dari Sun Qiao,” kata Shen Mo.
Lin Mei tampak terkejut.
“Anda tahu dia datang?”
“Pengawal melihatnya masuk ke koridor ini. Dia tidak tercantum sebagai tamu yang diizinkan menemui bagian audit.”
Shen Mo menatap Chen.
“Kau baik-baik saja?”
Chen mengangguk.
“Dia tidak menyentuhku.”
“Bagus.”
“Dia mencari dokumen lama.”
Shen Mo beralih kepada Lin Mei.
“Dokumen apa?”
Lin Mei merapatkan kedua tangannya.
“Berkas pembayaran dengan kode HD-0417.”
Tiga langsung membuka tabletnya.
“Itu kode yang sedang kami telusuri.”
“Saya tahu,” jawab Lin Mei.
Shen Mo menarik kursi.
“Duduk, Nona Lin. Jelaskan dari awal.”
Lin Mei duduk perlahan.
Chen tetap berdiri di samping meja.
“Empat tahun lalu,” kata Lin Mei, “saya masih menjadi staf pemeriksa transaksi di salah satu anak usaha Crown Tower. Saya menemukan pembayaran yang tidak memiliki dokumen pendukung lengkap.”
“Pembayaran kepada Hengda?” tanya Shen Mo.
“Tidak langsung. Uang dikirim kepada perusahaan jasa administrasi. Baru setelah saya memeriksa rincian tambahan, saya menemukan nama Biro Penagihan Hengda.”
Shen Mo menatapnya.
“Kenapa transaksi itu tidak ditandai sebagai masalah?”
“Saya menandainya.”
Lin Mei mengusap telapak tangannya.
“Tapi sebelum pemeriksaan selesai, atasan saya mengatakan transaksi itu merupakan penyelesaian sengketa yang sudah disetujui direksi.”
“Siapa atasanmu?”
“Wang.”
Ruangan menjadi sunyi.
Shen Mo tidak menunjukkan keterkejutan.
Ia hanya bertanya, “Ada perintah tertulis?”
“Ada catatan persetujuan. Saya sudah menyerahkan salinannya kepada tim audit waktu itu.”
“Masih kau simpan?”
“Salinan pribadi catatan kerja saya masih ada. Dokumen resmi seharusnya berada dalam arsip perusahaan.”
Tiga mencatat sesuatu.
Shen Mo melanjutkan, “Kenapa kau tidak membawa persoalan ini kepadaku?”
Lin Mei menunduk.
“Saya mencoba meminta peninjauan ulang melalui jalur internal. Permintaan itu dikembalikan ke bagian Wang.”
“Lalu?”
“Saya diberi tahu bahwa perkara tersebut sudah selesai dan tidak perlu diperiksa lagi.”
“Dan kau menurut?”
Lin Mei menerima pertanyaan itu tanpa membela diri.
“Ya, Tuan.”
Chen memperhatikan wajah perempuan itu.
Ia terlihat malu.
“Saya takut kehilangan pekerjaan,” lanjut Lin Mei. “Waktu itu saya baru dipindahkan ke bagian tersebut. Saya tidak punya cukup bukti untuk menuduh siapa pun.”
Shen Mo bersandar.
“Ketakutanmu bisa kupahami. Tapi dokumen yang tidak lengkap tetap harus dicatat.”
“Saya tahu.”
“Sekarang jelaskan hubunganmu dengan ibu Chen.”
Lin Mei menoleh kepada bocah itu.
“Beberapa hari setelah saya memeriksa transaksi tersebut, seorang perempuan datang mencari saya.”
Chen menahan napas.
“Ibu?”
Lin Mei mengangguk.
“Dia bilang pernah melapor terhadap Hengda, tetapi tidak tahu apakah laporannya akan melindunginya. Dia membawa beberapa kuitansi dan meminta saya memeriksa apakah perusahaan tempat saya bekerja benar-benar pernah membayar biro itu.”
Shen Mo mengerutkan kening.
“Bagaimana dia tahu kau memeriksa transaksi tersebut?”
“Saya tidak tahu. Dia tidak mau menjelaskan.”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
“Saya mengatakan bahwa saya tidak berwenang menyerahkan catatan keuangan perusahaan kepadanya.”
Chen menunduk.
Ia bisa membayangkan ibunya datang ke gedung besar, mencoba meminta bantuan kepada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
“Dia marah?” tanyanya.
Lin Mei menggeleng.
“Tidak.”
Perempuan itu berhenti sejenak.
“Dia hanya bertanya apakah saya punya anak.”
Chen mengangkat wajah.
“Saya bilang belum,” lanjut Lin Mei. “Lalu dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah saya lupakan.”
“Apa?”
Lin Mei memandang Chen.
“Dia bilang, ‘Kalau suatu hari anak saya datang menanyakan uang itu, tolong jangan langsung mengusirnya.’”
Chen merasakan tenggorokannya mengencang.
Ia menunduk agar orang lain tidak melihat wajahnya.
Shen Mo membiarkannya beberapa saat.
“Bagaimana dengan surat itu?” tanyanya kemudian.
Lin Mei mengambil map dari meja.
Ia mengeluarkan amplop putih yang sudah kusut.
Chen langsung mengulurkan tangan.
Namun Shen Mo mengangkat telapak tangannya sedikit.
“Tunggu sebentar.”
Chen menatapnya tajam.
“Kenapa lagi?”
“Bukan untuk mengambilnya darimu.”
Shen Mo memandang Lin Mei.
“Apakah amplop ini masih tersegel sejak diberikan?”
“Ya. Saya tidak pernah membukanya.”
“Baik.”
Ia menoleh kepada Chen.
“Surat itu milikmu. Kau boleh membacanya.”
Chen mengambil amplop tersebut.
Kertasnya terasa tipis.
Di bagian belakang masih ada bekas perekat yang mengering.
Tangannya gemetar ketika membuka lipatannya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Tulisan tangan ibunya memenuhi hampir seluruh halaman.
Chen membaca kalimat pertama.
Chen, kalau suatu hari kamu menerima surat ini, berarti Ibu tidak berhasil menjelaskan semuanya sendiri.
Ia berhenti.
Matanya terasa panas.
Shen Mo menarik kursi ke dekatnya, tetapi tidak menyentuh surat itu.
“Kau tidak harus membacanya sekarang.”
Chen menggeleng.
“Aku mau.”
Ia menarik napas, lalu melanjutkan.
Ibu pernah meminjam uang ketika kita benar-benar tidak punya pilihan. Ibu sudah membayar jumlah yang diminta. Tapi setelah itu mereka mengatakan masih ada biaya lain yang harus diselesaikan.
Ibu tidak tahu apakah semua dokumen yang mereka tunjukkan benar. Setiap kali Ibu meminta bukti, jumlahnya berubah.
Chen menggigit bibir.
Ia teringat malam-malam ketika ibunya menghitung uang sampai larut.
Ada orang yang menawarkan bantuan. Katanya, kalau Ibu mau menandatangani satu pernyataan, mereka akan berhenti datang ke rumah.
Ibu tidak menandatanganinya.
Chen membaca kalimat itu dua kali.
Pernyataan apa?
Ia melanjutkan.
Ibu menyimpan salinan kuitansi dan beberapa dokumen di dalam kotak biru. Kalau kotak itu tidak ada lagi, jangan mencari orang yang membawanya sendirian.
Tulisan berikutnya sedikit miring, seolah ditulis terburu-buru.
Yang paling penting, Chen, jangan percaya kalau ada orang mengatakan Ibu menjual namamu untuk membayar utang.
Chen berhenti bernapas sesaat.
Shen Mo melihat perubahan wajahnya.
“Ada apa?”
Chen tidak menjawab.
Ia membaca kalimat terakhir.
Ibu tidak pernah menjadikanmu jaminan. Apa pun yang mereka katakan nanti, ingat itu.
Kertas di tangan Chen bergetar.
“Ibu...”
Suaranya pecah.
Ia mencoba membaca bagian bawah surat, tetapi hanya ada tanda tangan ibunya dan tanggal empat tahun lalu.
Tidak ada penjelasan tentang pernyataan yang diminta.
Tidak ada nama orang yang mengancamnya.
Hanya satu pesan yang diulang dua kali.
Jangan mencari mereka sendirian.
Shen Mo mendekatkan segelas air.
Chen tidak mengambilnya.
“Kenapa Ibu menulis soal menjual namaku?”
Tidak seorang pun langsung menjawab.
Lin Mei menutup mata sebentar.
Shen Mo menatap surat itu, tetapi tidak berusaha mengambilnya.
“Chen,” katanya pelan, “kita belum tahu apa yang dimaksud orang-orang itu.”
“Tapi Ibu tahu mereka akan mengatakan sesuatu tentangku.”
“Sepertinya begitu.”
Chen mengepalkan surat.
“Berarti mereka pernah mengancam Ibu memakai namaku.”
Shen Mo tidak membantah.
Namun ia juga tidak membenarkan sesuatu yang belum mereka ketahui.
“Kita perlu menemukan dokumen yang mereka minta ibumu tandatangani.”
Chen menatapnya.
“Dan kotak biru itu.”
“Ya.”
Tiga menerima panggilan dari petugas keamanan.
Ia menjauh beberapa langkah sebelum menjawab.
Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah.
“Tuan Shen.”
Shen Mo menoleh.
“Ada apa?”
“Sun Qiao sudah meninggalkan ruang rapat pemasok.”
“Dia masih di gedung?”
“Masih. Dia sedang menuju lift.”
“Biarkan dia keluar. Catat waktu dan jalurnya sesuai prosedur keamanan.”
Tiga ragu.
“Ada hal lain. Setelah meninggalkan ruang audit tadi, dia sempat menggunakan telepon di koridor.”
“Itu bukan pelanggaran.”
“Benar. Tapi sesaat setelah panggilan itu, sistem menerima permintaan akses terhadap berkas HD-0417 menggunakan akun lama yang sudah tidak aktif.”
Shen Mo berdiri.
“Apakah aksesnya berhasil?”
“Tidak. Sistem menolaknya.”
“Bisa dipastikan berhubungan dengan Sun Qiao?”
“Belum. Waktunya berdekatan, tetapi kami belum punya bukti bahwa dia yang meminta akses.”
Shen Mo mengangguk.
“Jangan menyimpulkan dari waktunya saja. Amankan catatan sistem dan periksa sumber permintaannya.”
“Baik.”
Lin Mei memandang mereka dengan gelisah.
“Kalau mereka tahu saya masih menyimpan catatan itu...”
Shen Mo menoleh.
“Mulai sekarang, semua dokumen yang kau serahkan akan dicatat secara resmi. Kau juga akan dimintai keterangan oleh tim pemeriksa yang tidak berada di bawah Wang.”
Lin Mei mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Shen Mo menatap Chen.
“Untuk hari ini, pekerjaanmu selesai.”
Chen langsung menggeleng.
“Aku belum selesai.”
“Kau baru membaca surat yang ditinggalkan ibumu selama empat tahun. Kau perlu waktu.”
“Aku baik-baik saja.”
“Chen.”
Bocah itu menunduk.
Beberapa detik kemudian, ia berkata, “Aku cuma tidak mau surat ini hilang lagi.”
Shen Mo merendahkan suaranya.
“Tidak akan kubiarkan orang mengambilnya begitu saja.”
Chen memandangnya.
“Janji?”
“Janji.”
Ia menyerahkan sebuah map kosong.
“Simpan suratmu di sini dulu. Kita buat salinan dengan izinmu, supaya tulisan aslinya tidak rusak.”
Chen berpikir sebentar.
Kemudian mengangguk.
Namun ketika ia hendak memasukkan surat ke dalam map, sesuatu terjatuh dari lipatan amplop.
Selembar kertas kecil.
Chen memungutnya.
Kertas itu ternyata bagian dari kuitansi yang telah dipotong.
Di bagian atas tercetak cap merah Hengda.
Sementara di bawahnya terdapat nomor dokumen.
HD-0417.
Chen menatap nomor tersebut.
Kemudian menoleh ke layar komputer.
Nomor yang sama masih tercantum dalam laporan audit yang diperiksanya pagi tadi.
“Shen Mo.”
“Apa?”
Chen menunjukkan potongan kuitansi.
“Ini nomor yang tadi kutemukan.”
Shen Mo mengambil laporan dari meja.
Ia membandingkan kedua nomor.
Sama persis.
Lin Mei menutup mulutnya.
“Jadi ibumu menyimpan bagian dari dokumen itu...”
Shen Mo memandang Chen.
“Apakah ada tulisan lain?”
Chen membalik potongan kertas.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan kecil.
Bukan tulisan ibunya.
Hanya empat kata.
Salinan kedua disimpan Wang.
Shen Mo langsung menoleh kepada Tiga.
“Periksa lokasi Wang sekarang.”
Tiga menghubungi timnya.
Beberapa detik berlalu.
“Orang di rumahnya mengatakan Wang berangkat ke kantor sejak pagi.”
Shen Mo mengerutkan kening.
“Bukankah tadi dia dilaporkan sakit?”
“Benar, Tuan.”
“Lacak melalui catatan akses kantor dan konfirmasi langsung kepada pengawalnya. Jangan mengandalkan keterangan satu orang.”
“Baik.”
Chen menatap tulisan pada kuitansi.
Kalau Wang menyimpan salinan kedua, berarti pria itu mungkin mengetahui apa yang diminta dari ibunya.
Namun satu pertanyaan terus mengganggunya.
Mengapa seseorang menulis informasi tersebut di belakang kuitansi?
Dan siapa yang ingin ibunya menemukannya?
Ponsel Tiga kembali berbunyi.
Ia membaca laporan masuk.
Wajahnya menegang.
“Tuan Shen.”
“Apa lagi?”
“Mobil Wang ditemukan di area parkir gedung lama distrik barat.”
“Wang ada di sana?”
“Belum diketahui. Mobilnya kosong.”
Shen Mo meraih jasnya.
“Kirim tim pemeriksa. Jangan masuk ke gedung sebelum situasinya dinilai aman.”
Tiga mengangguk.
Chen berdiri.
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Tapi Wang mungkin tahu soal Ibu!”
Shen Mo menatapnya tegas.
“Justru karena itu kau harus tetap di tempat aman.”
Chen ingin membantah.
Namun sebelum sempat berbicara, Tiga menerima satu foto dari petugas lapangan.
Foto tersebut memperlihatkan bagian dalam mobil Wang.
Di kursi penumpang ada sebuah amplop cokelat terbuka.
Di sampingnya tergeletak satu lembar kuitansi lama.
Tiga memperbesar gambar.
Nomor di sudut kertas terlihat jelas.
HD-0417.
Shen Mo menatap layar.
“Jangan sentuh dokumen itu sebelum didokumentasikan dengan benar.”
“Baik, Tuan.”
Tiga hendak menutup foto ketika Chen menunjuk sesuatu.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Di bawah kuitansi itu.”
Tiga memperbesar gambar lagi.
Ada selembar foto kecil yang sebagian tertutup kertas.
Wajah seorang perempuan tampak di salah satu sudutnya.
Chen mengenali wajah itu.
Ibunya.
Namun bukan itu yang membuat tubuhnya mendadak kaku.
Dalam foto tersebut, ibunya sedang berdiri di depan Biro Penagihan Hengda.
Di sampingnya ada seorang laki-laki mengenakan jas hitam.
Laki-laki itu jauh lebih muda daripada sekarang.
Tetapi wajahnya jelas.
Chen perlahan menoleh kepada Shen Mo.
“Kenapa...”
Suaranya hampir tidak keluar.
Shen Mo ikut menatap layar.
Wajahnya berubah.
Ia mengenali laki-laki dalam foto tersebut.
Itu dirinya sendiri.