Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35.Menguping.

Kereta kuda berjalan dengan tenang menyusuri jalan-jalan kota Ye Lu yang mulai ramai. Dari balik jendela yang terbuka sedikit, Li Hua memperhatikan warga yang sibuk dengan aktivitas harian mereka — pedagang yang menata dagangannya, anak-anak yang berlari riang, dan pejalan kaki yang berpapasan sambil tersenyum saling menyapa. Semuanya terasa begitu damai, namun hatinya terasa gelisah seakan ada badai besar yang sedang mendekat perlahan. Tangannya meremas ujung gaunnya dengan cemas, pikirannya terus berputar pada satu nama: Li Yun. Dia tidak boleh pergi.

Tak lama kemudian, kereta melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besar Akademi Kerajaan. Mo Chen segera membuka pintu dan melangkah turun, merapikan jubahnya dengan tergesa-gesa sebelum menoleh kembali ke arah kereta. Wajahnya terlihat sedikit cemas melihat jam matahari di menara akademi yang menunjukkan waktu ujian tinggal beberapa menit lagi dimulai.

"Ingat ya, Hua'er," pesannya lembut namun tegas sambil menatap adiknya dari ambang pintu, suaranya terdengar terburu-buru namun tetap hangat. "Kau boleh menggunakan kereta ini sesukamu untuk berkeliling kota, kusirku — Paman Lin — akan menemanimu ke mana pun kau mau pergi. Dia orang kepercayaanku, jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi ada satu syarat yang tidak boleh dilupakan — tepat tiga jam dari sekarang, aku menunggumu di sini. Jangan terlambat, ya? Kalau kau datang terlambat, aku akan melaporkan pada ayah kalau kamu ikut aku hanya mau jalan-jalan bukan ke kuil untuk mendoakan aku bisa lulus," candanya sedikit, meski matanya memperlihatkan bahwa dia serius dengan pesannya.

Li Hua tersenyum meyakinkan, mengangguk mantap sambil melambaikan tangan dari dalam kereta. "Tenang saja, Kakak. Aku akan disini sebelum kakak keluar,janji!"

"Hua'er. Hati-hati di jalan," Mo Chen tersenyum singkat, lalu berbalik dan berjalan masuk melewati gerbang akademi yang megah itu. Pagar besi itu terbuka lebar, memperlihatkan halaman luas yang sudah dipenuhi pelajar dengan jubah kebesaran masing-masing. Sosok kakaknya perlahan hilang di antara kerumunan, dan pintu kereta pun ditutup kembali oleh Paman Lin.

Setelah sosok kakaknya benar-benar tidak terlihat, Li Hua langsung mencondongkan tubuh ke arah kusir yang sedang menunggu di luar jendela. Jantungnya berdebar kencang, tapi dia berusaha terdengar tenang.

"Paman Lin, tolong bawa kami ke kedai teramai dan paling ramai pengunjung di pusat kota ya. Tempat yang biasa dikunjungi pejabat dan tamu dari luar kota," pintanya dengan suara yang tenang namun penuh tekad.

Paman Lin menoleh sedikit sambil tersenyum ramah. "Baik, Nona. Kalau begitu yang paling pas adalah Kedai Bunga Teratai di Jalan Utama. Itu kedai terbesar di kota, dua lantai, dan sering dikunjungi pejabat istana maupun tamu dari negeri lain. Silakan duduk dengan nyaman ya, perjalanan akan memakan waktu sekitar seperempat jam."

Kereta pun kembali bergerak, membelah jalanan kota yang semakin sibuk. Li Hua duduk tegak, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang tak menentu. Li Yun, jangan pergi. Aku harus bertemu denganmu.

Tak butuh waktu lama, kereta berhenti di depan sebuah bangunan besar bertingkat dua yang sangat megah. Pintu-pintu kayunya diukir motif bunga teratai yang indah, dan dari dalam terdengar suara tawa serta percakapan riuh. Aroma makanan lezat melayang di udara, membuat siapa pun yang lewat merasa lapar. Qiao'er turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya membantu tuannya melangkah turun dengan hati-hati.

"Nona, sebenarnya kita kemari untuk apa?" tanya Qiao'er dengan bingung namun tetap sopan sambil merapikan sedikit lipatan gaun Li Hua. Matanya menyapu sekeliling yang penuh orang asing. "Bukankah tadi Nona bilang pada Tuan Muda Mo Chen ingin membeli manisan? Tapi kedai ini terkenal dengan makanannya, bukan manisan buah. Dan kenapa wajah Nona terlihat begitu serius?"

Li Hua menarik napas panjang, menatap pelayannya dengan pandangan yang tulus namun mendesak.

"Qiao'er, aku akan jujur padamu. Kita tidak datang untuk makan atau membeli manisan. Kita datang untuk mencari Li Yun. Aku mendengar dia akan segera meninggalkan kota ini, dan aku harus menemukannya sebelum dia pergi. Ada sesuatu yang sangat penting harus aku ketahui darinya — sesuatu yang menyangkut keselamatan kita semua, terutama diriku sendiri," ucapnya pelan namun tegas.

Qiao'er membelalakkan matanya, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Maksud Nona... hal buruk yang Nona takutkan itu akan terjadi sebentar lagi? Di sini? Di kota Ye Lu?"

"Itulah sebabnya kita harus bergerak cepat," jawab Li Hua sambil menatap pintu masuk kedai yang ramai. "Sudahlah, sebaiknya kau cari informasi secepat mungkin. Tanyakan pada pelayan di mana saja, siapa tahu ada yang melihat rombongan utusan dari Negeri Tang Liang. Aku akan menunggumu."

Qiao'er mengangguk mantap, semangatnya kembali. "Siap, Nona. Tunggu di sini sebentar ya, jangan ke mana-mana."

Gadis itu bergegas masuk ke dalam kedai yang penuh orang itu, menyapa pelayan yang sedang sibuk membawa nampan berisi makanan. Dengan sopan namun cekatan, dia bertanya ke sana kemari. Tidak sampai seperempat jam, Qiao'er kembali dengan wajah berseri-seri namun tetap berbisik agar tidak didengar orang lain.

"Nona, aku dapat informasinya! Di ruang khusus bagian barat lantai atas — ruang dengan jendela menghadap ke sungai — ada rombongan utusan dari Negeri Tang Liang yang sedang bertemu dengan seseorang. Pelayan yang menjaga di lantai atas bilang pria itu berpakaian jubah perak bermotif awan biru, dan ada satu pengawal tinggi besar yang berdiri di luar pintu ruangan itu. Dari ciri-cirinya... itu pasti Pangeran Li Yun dan Tuan An Fu!"

Jantung Li Hua berpacu kencang, campuran antara rasa takut dan harapan. "Bagus sekali, Qiao'er. Kerja bagus. Sekarang kita harus menyewa ruangan di sebelahnya."

Mereka segera naik ke lantai dua dan meminta kepada pemilik kedai untuk menyewa ruangan sebelah ruangan utusan itu. Beruntung ruangan itu kosong dan siap digunakan. Pelayan kedai membawakan dua cangkir teh hangat dan sepiring kue kering di atas meja, lalu membungkuk pamit. "Jika Nona butuh sesuatu, cukup ketuk dinding atau panggil dari pintu. Selamat beristirahat," ucapnya sopan sebelum menutup pintu rapat-rapat.

Begitu suara langkah kakinya menjauh, Li Hua segera berdiri dan mendekatkan telinganya ke dinding kayu yang cukup tebal namun masih bisa menembus suara percakapan dari ruangan sebelah. Qiao'er ikut berdiri di samping tuannya, menirukan gerakan yang sama dengan wajah penuh kehati-hatian.

Di ruangan sebelah, suara percakapan terdengar cukup jelas namun rendah.

"...keadaan Putra Mahkota semakin memburuk, Pangeran," terdengar suara seorang pria paruh baya yang berwibawa namun terdengar berat dan cemas. "Tabib kepala istana sudah berkata terus terang kepada Kaisar — sisa waktunya tidak banyak. Pendeta Agung di istana bersikeras bahwa satu-satunya cara untuk memperpanjang umurnya dan menenangkan murka langit adalah melalui ikatan pernikahan dengan gadis dari Keluarga Zhang, sebagai tolak bala yang telah diramalkan kalau gadis dari keluarga Zhang membawa takdir keberuntungan. Kaisar sudah menyetujuinya, itulah sebabnya kaisar meminta agar kaisar Ye lu segera melakukan pernikahan perdamaian."

Suara Li Yun terdengar dingin dan tajam, penuh ketidaksetujuan yang nyata. "Itu semua hanyalah takhayul kosong. Penyakit kakakku harus diobati dengan obat dan penanganan yang tepat, bukan dengan menyeret gadis tidak bersalah ke dalam penderitaannya. Kita tidak perlu melakukan pernikahan konyol dan memaksa seperti ini hanya untuk menenangkan ketakutan orang-orang tua di istana."

"Tapi pejabat-pejabat tinggi di istana mulai gelisah, Pangeran," sahut utusan itu dengan nada mendesak. "Jika Putra Mahkota wafat tanpa pewaris yang sah, negeri kita bisa terpecah belah. Ada beberapa bangsawan yang mulai mengerahkan pasukan di wilayah perbatasan. Mereka mendesak agar Pangeran Kedua — yaitu Anda — segera dipulangkan dan dinobatkan sebagai Putra Mahkota yang baru. Rakyat butuh pemimpin yang jelas."

Li Yun terdiam sejenak, seakan sedang menimbang kata-katanya. Napasnya terdengar berat. Namun saat ia hendak membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba ia berhenti. Bibirnya ternganga namun tidak ada suara yang keluar. Matanya membelalak sedikit, menatap ke arah dinding seakan bisa menembusnya dengan pandangannya. Sesuatu yang tidak terduga baru saja terjadi — ia mendengar suara itu, suara yang hanya bisa ia dengar di dalam pikirannya sendiri, seakan seseorang sedang berbicara langsung ke dalam jiwanya.

Jangan... jangan mau kembali ke sana. Untuk apa kau kembali jika hanya akan dijadikan boneka oleh para pejabat tua yang serakah itu? Mereka tidak peduli padamu, mereka hanya butuh alat untuk memegang kendali atas takhta. Apa aku masih kurang baik memperlakukan nya?

Itu suara hati Li Hua.

Tangan Li Yun yang bertumpu di meja mengepal erat. Dia mengenal suara itu — suara yang bisa dia dengar, dan tidak ada yang bisa mendengarkan suara hatinya kecuali dirinya.

Utusan itu menatapnya bingung. "Pangeran? Apakah ada yang salah?"

Li Yun mengangkat tangannya tiba-tiba, memberi isyarat untuk berhenti berbicara. Wajahnya kembali tenang, namun matanya menyimpan sesuatu yang dalam.

"Cukup untuk saat ini. Kita bahas hal lain dulu," ucapnya tenang, lalu menoleh ke arah An Fu yang berdiri diam di dekat pintu. Dia membisikkan sesuatu dengan cepat dan rendah yang tidak bisa didengar oleh siapa pun kecuali pengawalnya itu. "Periksa ruangan sebelah. Aku mendengar sesuatu yang aneh di sana. Tapi jangan menampakkan diri, periksa diam-diam dan kembali melaporkan apa yang kau temukan."

An Fu mengangguk paham, lalu berjalan keluar dengan langkah senyap yang hampir tidak terdengar sama sekali.

Setelah An Fu pergi, Li Yun kembali menatap utusan itu dengan wajah yang tenang. "Mari kita alihkan pembicaraan. Bagaimana keadaan di perbatasan barat? Aku mendengar ada laporan tentang bandit yang semakin berani mengganggu desa-desa kecil di sana."

Pembicaraan mereka berubah seketika menjadi hal-hal umum yang tidak terlalu penting. Li Hua yang masih menempelkan telinganya ke dinding mengerutkan dahi, sedikit kecewa.

"Mereka berhenti membahas hal penting," bisiknya pelan kepada Qiao'er yang juga ikut menempelkan telinga ke dinding dengan mata terpejam berkonsentrasi.

"Nona... apa kau mendengar sesuatu?" tanya Qiao'er berbisik, matanya melirik ke arah pintu dengan waspada. "Mereka hanya membicarakan hal biasa saja?"

"Tidak terlalu penting, sepertinya dia bersikeras mau pergi. Ucap Li hua yang kecewa.

Sementara di luar pintu, An Fu berdiri diam sejenak di dekat celah pintu ruangan sebelah. Dia mendengar samar percakapan berbisik dari dalam, lalu perlahan membuka sedikit celah pintu dengan ujung pisau kecil yang terselip di pinggangnya. Saat melihat siapa yang ada di ruangan itu — Li Hua dan Qiao'er yang sedang duduk berhadapan sambil berbisik — matanya membelalak sedikit, namun dia segera menutup pintu kembali tanpa membuat suara sedikit pun. Dia berjalan kembali ke ruangan tuannya dengan langkah tenang namun cepat.

An Fu membungkuk di samping Li Yun dan berbisik lirih di telinga tuannya. "Itu Nona Kedua, Pangeran. Li Hua dan pelayannya, Qiao'er. Mereka ada di ruangan sebelah, sepertinya sengaja menunggu di sana."

Sudut bibir Li Yun terangkat samar, senyum tipis yang sulit diartikan maknanya. Dia tidak terkejut, seakan dia sudah menduganya. Dia mengangguk pelan pada utusan di hadapannya yang menunggu dengan wajah bingung.

"Kita laksanakan rencana awal seperti yang telah kita bahas sebelumnya tadi," ucap Li Yun dengan suara yang penuh keyakinan dan kewibawaan yang membuat utusan itu langsung duduk tegak.

Utusan pun tahu yang dimaksud pangerannya, dan dia pun berjalan keluar dari ruangan Li yun. ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!