Indonesia
NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Matahari sore perlahan-lahan merosot turun ke balik punggung bukit Kertajaya, memantulkan bias cahaya jingga yang keemasan di atas genting-genting rumah warga. Angin sore berembus lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan asap pembakaran sampah daun kering dari pekarangan tetangga.

Di dalam kamar kos nomor empat, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan keributan kecil yang baru saja terjadi di warung Pak Jaya siang tadi.

Bayu merebahkan diri di atas kasur tipis sambil cekikikan sendiri mengingat ekspresi Bu Rini yang menyemburkan kopi karena rasanya berubah menjadi pahit sepahit empedu.

"Sumpah ya, muka Bu Rini pas nyembur kopi tadi itu bener-bener mahakarya," kata Bayu sambil menepuk-nepuk kasur, tertawa geli.

"Masa iya kopi tubruk Pak Jaya dibilang rasa akar genting. Jangan-jangan lidahnya emang lagi apes mendadak."

Dimas duduk di meja belajar, merapikan buku catatan kecilnya dengan tenang.

"Makanya, mulut kalau nggak dijaga, kadang ada aja akibatnya. Udah, nggak usah dibahas lagi. Yang penting urusan warung beres."

Raka berjalan dari arah pintu, membawa segelas air putih, lalu meletakkannya di atas meja kecil. Matanya beralih menatap laci meja paling bawah tempat di mana kotak kayu tua berisi surat tahun 1987 dan bros bulan sabit perak tersimpan aman.

Sejak kejadian di gudang balai desa semalam, benda-benda itu seolah memiliki daya tarik tak kasat mata yang terus mengusik pikiran Raka.

Di sudut ruangan, Mira berdiri dengan sebelah tangan memegang siku tangannya yang lain, menatap lurus ke arah laci meja tersebut. Meskipun ia tidak ikut tertawa bersama Bayu, ketegangan di wajahnya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh ekspresi penasaran yang mendalam.

"Kalian terus-terusan mengobrol soal perempuan cerewet itu, tapi kalian lupa pada satu hal yang jauh lebih penting," suara Mira mengalun pelan, memecah tawa Bayu.

Perempuan bergaun ungu itu melangkah mendekati meja kecil, menunjuk laci dengan jari telunjuknya. "Kotak di dalam laci itu tidak akan membuka dirinya sendiri hanya karena kalian sibuk merayakan uang dua ratus ribu rupiah."

Bayu langsung menghentikan tawanya, bangkit duduk lalu menatap ke arah laci.

"Eh, benar juga ya. Semalam kita baru baca suratnya setengah jalan karena keburu capek. Terus sekarang mau diapain lagi, Mir? Mau kita bawa ke dukun desa?"

"Jangan bodoh," tukas Mira tajam, melotot ke arah Bayu. "Dukun desa manusia tidak akan tahu apa-apa soal benda dari duniaku."

Raka menarik kursi kayu kecil lalu duduk menghadap meja. Ia merogoh saku celananya, memastikan kunci laci tidak terkunci, lalu perlahan-lahan menarik pegangan laci tersebut. Krieet... Laci terbuka, menampakkan kotak kayu jati berukir sederhana yang tampak kontras dengan kesederhanaan kamar kos mereka.

Raka mengangkat kotak itu ke atas meja. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka penutupnya. Kain beludru merah kusam tersingkap, memperlihatkan kembali bros bulan sabit perak yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu bohlam gantung, berdampingan dengan surat tahun 1987 yang robek di bagian bawah.

Mira mendekatkan wajahnya, menatap bros tersebut lekat-lekat. Kali ini, tidak ada lagi kilat amarah atau sikap angkuh yang ia buat-buat. Suaranya meluncur pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.

"Bros ini..." gumam Mira pelan, jemarinya terulur pelan menyentuh udara di atas kotak seolah ingin memastikan keberadaan benda itu nyata. "Lambang bulan sabit perak dengan ukiran garis ganda di sisi pinggirnya... aku pernah melihat lambang serupa. Hanya saja, aku tidak tahu pasti siapa pemilik aslinya yang datang ke desa ini pada tahun 1985."

Dimas merapat ke meja, mengerutkan keningnya. "Tahun 1985 perempuan asing itu datang, lalu suratnya baru ditulis tahun 1987.

Berarti ada jeda dua tahun sampai akhirnya surat itu disembunyikan di balik lemari arsip."

Mira terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menatap bros itu dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Sangat aneh jika ada seseorang yang sengaja meninggalkan lambang pengawal perbatasan di dunia manusia, apalagi menitipkannya lewat kantor desa."

Sebelum perbincangan serius itu berlanjut lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar kos yang sangat familier tiga kali ketukan cepat disusul suara decit sandal jepit di luar koridor.

Tok! Tok! Tok!

"Raka! Bayu! Dimas!" suara melengking Bu Ratna kembali menggelegar dari luar koridor, membuat ketiganya langsung tersentak kaget.

Bayu hampir melompat dari kasurnya. .

"Ya ampun... Ini daster hijau lumut kenapa hobi banget muncul pas suasana lagi sakral gini! Jangan-jangan dia curiga kopi Bu Rini kepahitan gara-gara kita!"

Raka dengan sigap menutup kotak kayu di atas meja, memasukkannya kembali ke dalam laci, lalu mendorongnya rapat-rapat sebelum beranjak membukakan pintu.

Pintu terbuka. Sosok Bu Ratna berdiri di sana dengan daster hijaunya yang khas, namun kali ini tidak ada ekspresi galak atau pelototan maut di wajahnya.

Sebaliknya, Bu Ratna justru memegang selembar kertas kecil di tangannya dengan senyum lebar penuh antusias.

"Raka! Bagus kalau kalian ada di kamar," kata Bu Ratna langsung on point, tanpa basa-basi marah soal cangkul atau kebersihan. Ia menyodorkan selembar kartu nama darurat bertuliskan Pemuda Mandiri Kertajaya yang sempat mereka sebar di warung Bu Rini.

"Tadi Pak RT ke pos ronda, nitipin ini ke saya. Katanya ada warga dari dusun sebelah yang kemarin lihat kartu nama kalian di warung, dan sekarang mereka butuh jasa kalian buat merapikan halaman belakang rumahnya yang luas!"

Raka mengerjap kaget, menerima kartu nama itu dari tangan Bu Ratna. "Halaman belakang di dusun sebelah, Bu?"

"Iya! Rumahnya Pak Lurah lama yang halamannya dipenuhi pohon buah dan semak belukar. Bayarannya lumayan besar kalau kalian sanggup ngerjain hari Sabtu besok," jelas Bu Ratna bersemangat, menunjukkan sisi ramahnya yang jarang terlihat. "Makanya, kalau mau maju jadi wirausahawan muda, jangan cuma tidur siang mulu!"

"Siap, Bu! Kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya siap meluncur hari Sabtu besok!" jawab Bayu cepat dari dalam kamar, menyembulkan kepalanya di balik pintu dengan cengiran lebar.

Setelah memberikan pesan singkat itu, Bu Ratna berbalik badan dan langkah pergi menuruni tangga dengan santai. Raka menutup kembali pintu kamar, lalu menatap Dimas dan Bayu dengan senyum tak percaya.

"Usaha kita beneran merambah sampai dusun sebelah," kata Raka sambil memegang kartu nama tersebut.

Di sudut meja, Mira melipat tangannya di dada, tersenyum tipis penuh kemenangan.

"Sudah kubilang, strategi pemasaran gaibku tidak pernah gagal."

Raka mengangguk, lalu meraih ranselnya untuk memasukkan perlengkapan kerja lapangan. "Hari Sabtu kita siap-siap berangkat pagi ke dusun sebelah. Siapin arit sama karung sampah tambahan dari sekarang."

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!