Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Analisis Patch Terbaru
Atmosfer di kantin terasa seperti ruang kedap udara yang sebentar lagi akan meledak. Puluhan pasang mata murid dan guru menatap kami dalam diam, menunggu salah satu dari kami menarik senjata.
Namun, aku hanya duduk bersandar sambil tersenyum tipis, sementara Leon balas menatapku dengan sorot mata emasnya yang berapi-api. Pahlawan itu menahan amarahnya dengan sangat baik—jauh lebih baik dari sebelumnya. Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Leon memutar tubuhnya dan melangkah pergi, diiringi kelegaan dari seluruh isi kantin.
Saat ia berbalik, aku memicingkan mata.
Mata Kausalitas: Aktif.
Dunia kembali berubah menjadi barisan data mentah. Aku mengunci pandanganku pada punggung Leon, membedah 'hadiah' apa yang baru saja diberikan oleh Langit pada anak emasnya itu.
[Nama: Leon]
[Peran: Protagonis Utama (Status: Direkonstruksi Paksa)]
[Kapasitas Mana: Kelas S (Berkah Ilahi - Elemen Api Suci)]
[Senjata Baru: Sunflare Blade (Pedang Api Matahari - Kelas S)]
[Status Khusus: Overclocking Jiwa. Sistem memompa mana suci melebihi kapasitas wadah fisik. Peningkatan regenerasi 500%, kekuatan destruktif 300%.]
[Titik Lemah/Peringatan: Pemakaian kekuatan maksimal akan membakar umur dan sel saraf pengguna secara permanen. Estimasi waktu hancur: 15 menit dalam mode tempur maksimal.]
Aku menonaktifkan mataku, dan sebuah tawa tertahan meluncur dari bibirku.
"Kau melihat sesuatu yang lucu, Arthur?" Nox melayang turun dan duduk bersila di tengah meja makanku, mengunyah sebuah apel khayalan.
"Sangat lucu, Nox," bisikku, menyeka sudut mataku yang sedikit berair karena menahan tawa. "Kau tahu apa yang dilakukan Sistem dunia ini pada Leon? Mereka memberinya patch instan. Mereka meningkatkan kecepatan 'processor'-nya secara paksa, tapi mereka lupa memperbarui 'cooling system'-nya."
"Maksudmu... kekuatan barunya itu cacat?"
"Lebih dari cacat. Itu adalah bom waktu," jawabku santai. "Sistem memberinya buff regenerasi dan kekuatan tingkat dewa, tapi wadah fisiknya tidak siap menahannya. Jika Leon menggunakan kekuatan penuhnya selama lebih dari lima belas menit... tubuhnya akan meledak dari dalam, membakar umurnya sendiri. Sistem ini benar-benar putus asa untuk membunuhku sampai rela mengorbankan pahlawannya sendiri."
"Ironis sekali," Nox terkekeh jahat. "Pahlawan yang rela membakar nyawanya demi keadilan, melawan Penjahat yang santai meminum teh sambil menontonnya hangus. Ujian di Dataran Tinggi Naga bulan depan akan menjadi panggung teater yang sangat tragis."
Aku bangkit dari kursi, merapikan kerah seragamku. "Ayo kembali. Masih ada satu urusan lagi yang harus kuselesaikan hari ini. Waktu tiga harinya sudah hampir habis."
Tengah malam di kamarku di asrama elit akademi.
Jendela kamarku dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan udara beku musim dingin masuk. Aku sedang duduk di kursi baca, membolak-balik buku panduan anatomi naga yang kupinjam dari perpustakaan terlarang.
Tiba-tiba, bayangan dari kaki mejaku memanjang dan bergerak sendiri. Sebuah laba-laba kecil berwarna ungu pekat yang terbuat dari mana merayap naik ke atas meja. Laba-laba itu membawa sebuah kotak beludru hitam kecil di punggungnya, lalu hancur menjadi serpihan asap ungu setelah meletakkan kotak itu di depanku.
Layanan kurir yang sangat efisien.
Aku membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah cincin perak berbentuk laba-laba yang memeluk sebuah batu amethyst gelap. Di bawah cincin itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan rapi yang beraroma parfum Elara.
"Ketua Besar bernapas kembali. Racunnya telah netral. Kematian menolak menjemputnya berkat keajaiban gelapmu, Tuan Pendelton.
Sesuai kesepakatan, nyawa ini kini milikmu.
Sindikat Arachne cabang Ibu Kota, dan tiga divisi pembunuh bayaran di bawah kendaliku, siap menerima perintah. Kenakan cincin ini, dan setiap agen kami di akademi maupun istana akan mengenalimu sebagai Pemimpin Bayangan.
— E.V."
Aku mengambil cincin itu dan memasukkannya ke jari telunjuk kananku. Begitu cincin itu terpasang, batu amethyst-nya berdenyut hangat, menandakan sinkronisasi mana telah berhasil. Aku tidak hanya memiliki militer utara, tapi aku baru saja meresmikan kendali atas sarang intelijen paling berbahaya di kekaisaran.
"Sekarang," gumamku sambil memutar cincin laba-laba itu. "Waktunya menguji mainan baru."
Aku mengalirkan seutas mana gelap ke dalam cincin itu dan berbisik pelan. "Elara, dengarkan aku."
Hanya butuh dua detik sebelum suara Elara bergema langsung di kepalaku melalui koneksi telepati cincin tersebut. Suaranya terdengar sangat hormat dan sedikit takut.
"S-Saya mendengarkan, Tuan. Apa perintah pertama Anda?"
"Ujian Kelangsungan Hidup di Dataran Tinggi Naga bulan depan," ucapku santai. "Aku ingin daftar lengkap panitia akademi yang mengurus zona ujian. Cari tahu siapa di antara mereka yang telah disuap oleh Pangeran Julian. Aku ingin detailnya besok pagi, lengkap dengan kelemahan, hutang, dan skandal para panitia itu."
"Pangeran Julian memang menyuap tiga orang guru senior untuk memanipulasi titik penjatuhan (drop zone) ujian Anda, Tuan," jawab Elara cepat. "Intel kami di akademi sudah menyadarinya sejak kemarin. Saya akan menyusun laporannya dan menaruhnya di loker Anda sebelum fajar."
Aku tersenyum puas. Informasi adalah raja. "Bagus. Dan bagaimana dengan Leon?"
"Pahlawan itu berlatih di ruang simulasi tingkat tinggi tanpa henti. Aura sucinya begitu kuat hingga menghancurkan tiga dummy baja setiap harinya. Gereja Cahaya juga mengirimkan empat Ksatria Suci untuk berjaga di luar asramanya secara diam-diam. Apakah Anda ingin kami menyingkirkan para penjaga itu, Tuan?"
"Jangan sentuh mereka. Biarkan sang Pahlawan merasa aman," perintahku. "Terus awasi dari jauh. Kerjamu bagus, Elara."
"Suatu kehormatan, Pemimpin Bayangan." Koneksi telepati terputus.
"Kau benar-benar mempekerjakan mereka layaknya layanan customer service, Arthur," Nox menggeleng-gelengkan kepala.
Aku kembali membuka buku anatomi naga di depanku. "Jika kau memiliki alatnya, gunakanlah secara maksimal. Pangeran Julian mencoba mengirimku ke Zona Kematian di dataran tinggi itu. Biarkan dia melakukannya. Aku justru butuh area yang tidak diawasi agar aku bisa menggunakan kekuatan penuhku untuk memanen bahan alkimia tingkat naga."
Tiga hari kemudian, di sudut tersembunyi perpustakaan akademi.
Cecilia von Arnault duduk di hadapanku. Gadis bangsawan yang dulu selalu memandangku dengan sebelah mata itu kini terlihat sangat tegang. Ia menaruh sebuah gulungan peta di atas meja dan membukanya dengan hati-hati.
Itu adalah peta topografi Dataran Tinggi Naga.
"Kau berhutang padaku untuk ini, Arthur," bisik Cecilia, matanya melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada pustakawan yang mengawasi. "Sebagai Ketua Komite Kedisiplinan, aku berhasil mencuri pandang pada daftar titik penjatuhan teleportasi ujian minggu depan."
Aku melirik peta itu, lalu menatap Cecilia dengan senyum tipis. "Biar kutebak. Pangeran Julian menyuap Profesor Vane dan dua guru lainnya untuk menaruh koordinat teleportasi-ku tepat di sarang Earth Wyvern (Naga Tanah) tingkat A?"
Mata Cecilia membulat sempurna. Ia menatapku seolah aku adalah cenayang. "B-Bagaimana kau bisa tahu? Itu rahasia tingkat tinggi dewan guru!"
"Duniaku jauh lebih luas dari yang kau bayangkan, Cecilia," jawabku, mengingat laporan sempurna yang dikirimkan Elara dua hari yang lalu. "Julian ingin aku mati dirobek naga sebelum aku bahkan bisa bertemu dengan Leon di babak akhir."
Cecilia menggigit bibir bawahnya. "Ini bukan sekadar naga, Arthur! Earth Wyvern di zona itu sedang masuk masa bertelur. Mereka sepuluh kali lebih agresif dan kebal terhadap sihir fisik. Aku bisa mencoba mengubah koordinatmu sebelum sistem dikunci besok malam. Aku punya akses sandi cadangan—"
"Jangan," potongku cepat.
Cecilia mengerutkan dahi, tampak frustrasi. "Apa kau gila?! Kau memang kuat, tapi dikeroyok oleh tiga ekor Wyvern yang sedang melindungi sarangnya sama saja dengan bunuh diri!"
Aku mencondongkan tubuhku ke depan. Aura misterius dan menekan menguar pelan dariku, membuat Cecilia tanpa sadar menahan napas.
"Cecilia, apa menurutmu aku adalah pria yang akan berjalan masuk ke dalam jebakan tanpa perhitungan?" tanyaku pelan, menatap lurus ke mata zamrudnya.
Aku mengangkat jari telunjukku. "Pertama, jika kau meretas sistem dan memindahkan posisiku, Julian akan tahu ada pengkhianat di dewan, dan kau akan menjadi tersangka utama. Aku butuh kau tetap aman di posisimu."
Aku mengangkat jari tengahku. "Kedua, tulang dan sisik Earth Wyvern adalah bahan baku utama untuk membuat Elixir of Titan—ramuan penguat tubuh yang selama ini kucari. Julian pada dasarnya sedang memberikan layanan delivery monster langka ke depan pintuku secara gratis."
Cecilia terdiam. Logika gila yang kuucapkan membuat otaknya berhenti memproses rasa takut, digantikan oleh kekaguman yang aneh. Ia akhirnya menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kau benar-benar bukan manusia, Arthur," gumam Cecilia, merapikan kembali peta itu. "Kau tidak melihat jebakan sebagai ancaman, kau melihatnya sebagai... prasmanan."
"Definisi yang sangat akurat," aku tersenyum dan bangkit berdiri. "Terima kasih atas kepedulianmu, Nona Arnault. Siapkan saja popcorn-mu untuk ujian minggu depan. Aku berjanji, pembantaian di Dataran Tinggi Naga nanti akan menjadi pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan oleh akademi ini."