Indonesia
NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 PERTEMUAN DUA DUNIA

Akhir pekan di kota Yogyakarta selalu memiliki denyut nadi yang berbeda.

Jika pada hari kerja kota ini bergerak dengan ritme yang teratur dan tenang, maka pada hari Sabtu dan Minggu, Jogja menjelma menjadi lautan manusia yang merayakan kehidupan.

Salah satu pusat pusaran energi itu terletak di jantung kota, tepatnya di Pasar Beringharjo.

Pagi itu...

Sinar matahari baru saja merangkak naik, menembus celah-celah atap seng dan terpal pasar tradisional terbesar di Yogyakarta tersebut.

Udara di dalam pasar sudah dipenuhi oleh perpaduan aroma yang sangat khas—wangi dupa dari para pedagang bunga tabur, aroma jamu tradisional yang direbus, bau keringat para kuli panggul, dan semerbak wangi batik yang menguar dari ribuan lembar kain yang dijajakan di sepanjang lorong.

Bude Ning sedang berjalan menyusuri lorong blok los pakaian dengan langkah yang sangat cekatan.

Sebagai seorang wanita Jawa yang sudah puluhan tahun menetap di kota ini, tawar-menawar di Pasar Beringharjo adalah keahlian alaminya.

Hari ini, beliau berniat mencari beberapa lembar kain batik bermotif klasik untuk seragam keluarga pada acara pernikahan kerabat jauhnya bulan depan.

Langkahnya terhenti di depan sebuah kios batik langganannya yang terletak di sudut lorong, Kios Bu Kardi.

"Monggo, Bu Ning! Pinarak, silakan masuk... Tumben ini nyarinya agak pagian?" sapa Bu Kardi, sang pemilik kios yang sedang melipat kain-kain batik dengan telaten.

Bude Ning tersenyum, meletakkan tas anyamannya di atas kursi kayu. "Iya, Bu Kardi. Sengaja biar belum terlalu uyel-uyelan (berdesakan) sama turis. Saya mau cari kain motif Wahyu Tumurun, ada stok yang warnanya agak sogan gelap tidak?"

"Wah, ada, Bu Ning... Baru saja turun dari pengrajin di Bantul kemarin sore... Sebentar ya, saya ambilkan... Kebetulan tumpukannya di belakang," Bu Kardi bergegas menuju tumpukan kain di bagian dalam kiosnya.

Sambil menunggu, Bude Ning mengedarkan pandangannya ke sekeliling kios.

Perhatiannya kemudian tertuju pada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di sisi lain meja pajangan.

Wanita itu mengenakan kebaya kutubaru sederhana berwarna hijau lumut dengan bawahan kain jarik yang dililit sangat rapi. Rambutnya disanggul rapi khas wanita keraton, memancarkan aura keanggunan yang sangat kental.

Wanita itu sedang membolak-balik selembar kain batik bermotif Truntum dengan sentuhan yang sangat halus, seolah sedang membelai barang pecah belah.

Bude Ning, yang memiliki insting bersosialisasi tingkat tinggi, merasa tidak asing dengan wajah wanita tersebut. Ia mengingat-ingat sejenak, menelusuri memori di kepalanya.

Pertemuan di acara arisan kelurahan?

Atau acara pengajian di masjid besar?

"Ngapunten, Ibu ini... Nyi Surti, istrinya Romo Dwijo, abdi dalem keraton itu, nggih?" sapa Bude Ning dengan nada sopan dan ramah, menggunakan bahasa Jawa krama alus untuk menghormati lawan bicaranya.

Wanita bersanggul itu menoleh.

Matanya yang teduh menatap Bude Ning sejenak sebelum seulas senyum hangat dan sangat anggun merekah di wajahnya. Senyuman yang entah mengapa, mengingatkan Bude Ning pada seseorang.

"Inggih, leres, Ibu... Saya Surti," jawab Nyi Surti dengan suara yang mengalun lembut. "Maaf, Ibu ini... sepertinya saya juga pernah melihat. Tapi kok saya agak lupa ya kita pernah bertemu di mana."

Bude Ning tersenyum lebar, merasa tebakannya tepat sasaran. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Saya Ningrum, Nyi. Panggil saja Bu Ning. Kita pernah tidak sengaja satu barisan shaf waktu shalat Idul Fitri di alun-alun tahun lalu. Waktu itu payung saya sempat terbang tertiup angin dan diambilkan oleh Romo Dwijo."

"Ya Allah, iya! Saya baru ingat sekarang!" Nyi Surti menyambut uluran tangan itu dengan antusias, tawanya mengalun pelan. "Pangapunten, Bu Ning, ingatan saya kadang suka terselip. Bagaimana kabarnya, Bu Ning? Sehat-sehat saja toh?"

"Alhamdulillah, sehat, Nyi... Nyi Surti sendiri sedang cari batik juga? Motif Truntum itu cantik sekali potongannya," Bude Ning berbasa-basi, menunjuk kain di tangan Nyi Surti.

"Iya, Bu Ning... Ini rencananya mau saya jahitkan untuk anak gadisku... Sebentar lagi kan dia mau ada acara perpisahan kakak kelasnya, sekalian buat seragaman acara keluarga," jelas Nyi Surti. Matanya berbinar setiap kali membicarakan putri semata wayangnya.

"Anak gadis? Oh, pasti sudah SMA ya sekarang?" tanya Bude Ning penasaran.

"Iya, sudah kelas sebelas... Di SMA Budi Bangsa... Kebetulan dia itu sibuk sekali karena kebetulan dipercaya jadi Ketua OSIS. Namanya Asmara," jawab Nyi Surti dengan nada bangga yang tersembunyi di balik kerendahan hatinya.

Mendengar nama 'Asmara' dan 'SMA Budi Bangsa' diucapkan dalam satu kalimat yang sama, mata Bude Ning seketika membelalak lebar.

Jantung wanita paruh baya itu berdegup sedikit lebih cepat. Ia menatap Nyi Surti dengan pandangan tak percaya.

Dunia ini ternyata tidak lebih besar dari ukuran daun kelor!

"Tunggu, tunggu sebentar, Nyi," Bude Ning memajukan tubuhnya, menatap Nyi Surti lekat-lekat. "Asmara? Asmara Putri? Ketua OSIS SMA Budi Bangsa yang sabarnya minta ampun itu?"

Nyi Surti mengerutkan keningnya, sedikit bingung melihat reaksi Bude Ning yang mendadak heboh. "Loh, iya, Bu Ning. Kok Bu Ning bisa tahu nama lengkap anak saya? Bu Ning ada kenalan guru di sana?"

Bude Ning tidak bisa menahan tawa lepasnya. Ia menepuk jidatnya sendiri, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya pada kebetulan yang sangat luar biasa ini.

Pantas saja senyum Nyi Surti tadi terasa sangat familier!

Itu adalah cetakan asli dari senyum Asmara yang sempat beberapa kali Bude Ning lihat dari foto yang dipamerkan Wira secara diam-diam.

"Ya Allah, Nyi Surti! Dunia ini kok ya sempit sekali!" seru Bude Ning sambil memegang lengan Nyi Surti dengan akrab. "Nyi Surti tahu anak baru pindahan dari Bogor yang bulan lalu sempat dihukum satu bulan penuh di Ruang Budaya sekolah? Anak laki-laki jangkung yang kalau ngomong logatnya masih agak ke-Bogor-an?"

Mata Nyi Surti ikut membesar. Tentu saja beliau tahu!

Romo Dwijo pernah bercerita tentang pemuda itu sepulang dari masjid setelah mengobrol dengan Pak Anton.

Pemuda yang katanya dulu sangat liar, namun kini berubah menjadi murid teladan. Pemuda yang namanya sempat membuat wajah putrinya merona merah padam di saat makan malam tempo hari.

"Wira? Wira Aji Pratama?" tebak Nyi Surti ragu-ragu.

"Leres! Itu Wira, keponakan saya sendiri, Nyi!" seru Bude Ning penuh semangat. "Wira itu tinggal sama saya di sini karena bapaknya yang di Bogor minta saya mendidiknya. Dan Asmara, putri Nyi Surti itu, adalah malaikat penyelamat yang sudah mengawasi dan merubah keponakan saya yang bandel itu jadi anak yang tahu aturan!"

Keterkejutan seketika melanda Nyi Surti.

Wanita keraton itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tawanya ikut meledak melihat kebetulan yang begitu lucu ini.

Pertemuan tanpa sengaja di antara tumpukan kain batik ini seolah telah diatur oleh dalang semesta.

Kios Bu Kardi mendadak berubah menjadi arena reuni keluarga yang "belum resmi".

Bu Kardi yang baru saja keluar membawa setumpuk kain Wahyu Tumurun sampai kebingungan melihat kedua pelanggannya tertawa akrab sambil berpegangan tangan.

"Ya ampun, Bu Ning... Ternyata Nak Wira itu keponakan njenengan toh?" ucap Nyi Surti, matanya menyiratkan kelegaan dan rasa syukur. "Suami saya, Romo Dwijo, itu sering diceritakan oleh Pak Anton soal Wira. Katanya sekarang Nak Wira sudah berubah jadi anak yang luar biasa sopan. Pintar, tenaganya kuat buat bantu-bantu guru, dan tidak pernah lagi bikin onar."

"Alhamdulillah, Nyi... Itu semua berkat kesabaran Asmara," Bude Ning membalas pujian itu dengan tulus. Wajahnya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Kalau Asmara tidak sabar menghadapi kekerasan kepala Wira selama sebulan di paviliun tua itu, mungkin Wira sudah saya kembalikan ke Bogor. Asmara itu benar-benar anak yang hebat. Nyi Surti dan Romo Dwijo pasti sangat bangga."

"Asmara juga sering cerita kok tentang Nak Wira," Nyi Surti tersenyum penuh arti, mengingat gelagat aneh putrinya belakangan ini. "Katanya, di balik sikap begajulannya, Nak Wira itu sebenarnya punya hati yang sangat tulus. Dia selalu melindungi teman-temannya. Bahkan tempo hari Asmara cerita, Wira yang membantunya membereskan kardus-kardus berat di ruang OSIS sampai kecapekan."

Dua ibu-ibu itu pun akhirnya larut dalam obrolan panjang yang sangat akrab.

Mereka membicarakan tingkah laku anak-anak mereka, bertukar cerita tentang masa kecil, dan saling memuji didikan masing-masing.

Di antara wangi batik dan riuhnya Pasar Beringharjo, pertemuan dua dunia ini—dunia preman jalanan Bogor yang diwakili oleh Bude Ning, dan dunia keraton yang anggun yang diwakili oleh Nyi Surti—terjalin dengan begitu harmonis dan hangat.

Bude Ning diam-diam merasa sangat bersyukur. Mengetahui bahwa Asmara berasal dari keluarga yang begitu baik dan hangat seperti Nyi Surti, membuat Bude Ning tak lagi memiliki sedikit pun keraguan jika Wira memang benar-benar menaruh hati pada gadis tersebut.

.....

.....

Hari Senin pun tiba.

Dengan membawa sisa-sisa energi dari Porseni yang telah resmi ditutup pada hari Sabtu kemarin.

Suasana belajar mengajar di SMA Budi Bangsa sudah kembali normal, namun sisa-sisa euforia kemenangan kelas XI IPS 2 dalam pertandingan basket masih terasa di udara.

Wira duduk di bangkunya dengan postur menyamping, seperti biasa.

Hari ini, pemuda itu terlihat jauh lebih berseri-seri dari hari-hari sebelumnya. Senyum miring yang sangat tengil tak pernah lepas dari bibirnya sejak ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.

Di sebelahnya, Asmara sedang sibuk menyusun laporan pertanggungjawaban OSIS.

Gadis itu sesekali menghela napas, mencoba fokus pada deretan angka anggaran, namun konsentrasinya terus-menerus diganggu oleh tatapan Wira yang seolah sedang mengulitinya hidup-hidup.

"Wir, mata lo bisa nggak sih biasa aja natapnya?" gerutu Asmara akhirnya, meletakkan pulpennya dan membalas tatapan Wira dengan delikan tajam. "Dari jam pertama tadi lo senyum-senyum nggak jelas ngelihatin gue. Lo kesambet demit pohon beringin depan sekolah ya?"

Wira tertawa pelan, tawanya terdengar sangat berat dan renyah. Ia menopang dagunya dengan telapak tangan, memiringkan kepalanya sedikit.

"Nggak kesambet apa-apa," jawab Wira santai. "Gue cuma lagi bahagia aja ngelihat calon masa depan gue lagi sibuk ngitungin uang negara."

Blussshhh!!!

Wajah Asmara memerah seketika.

Gombalan Wira yang dilontarkan tanpa saringan itu selalu berhasil membuat pertahanannya runtuh.

Asmara buru-buru mengambil buku paket tebal dan memukulkannya pelan ke bahu pemuda itu.

"Gombalan lo makin lama makin bikin mual tahu nggak!" omel Asmara, meski ia tak bisa menahan senyum yang meronta di sudut bibirnya. "Udah sana, kerjain PR lo. Jangan gangguin gue."

Wira tidak memedulikan usiran itu. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memangkas jarak di antara meja mereka.

Suaranya sedikit diturunkan, menciptakan intonasi yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua di tengah keributan kelas yang sedang jam kosong.

"Ra, bokap nyokap lo akhir pekan kemarin ke mana?" tanya Wira tiba-tiba, melenceng jauh dari topik pelajaran.

Asmara mengerutkan keningnya bingung. "Ibu gue ke Pasar Beringharjo hari Sabtu pagi buat beli kain batik. Romo gue ngurusin kegiatan keraton. Kenapa lo tiba-tiba nanya jadwal orang tua gue? Lo mau maling ke rumah gue ya?"

Wira mendecak pelan, menjentikkan jarinya ke dahi Asmara dengan sangat lembut. "Sembarangan kalau ngomong! Mana ada maling seganteng gue?!"

Wira kembali menyeringai, matanya memancarkan kilat kejahilan yang luar biasa. "Batik motif Wahyu Tumurun, kan? Nyokap lo nyarinya yang warna sogan gelap di kiosnya Bu Kardi."

Mendengar Wira menyebutkan detail belanjaan ibunya dengan sangat akurat, napas Asmara nyaris berhenti.

Gadis itu mematung, matanya membelalak lebar menatap Wira seolah pemuda itu baru saja menumbuhkan tanduk di kepalanya.

"Loh? Kok... kok lo tahu?!" tanya Asmara panik. Suaranya naik setengah oktaf. Otaknya bekerja keras mencari penjelasan yang masuk akal. "Lo nguntitin Ibu gue ya, Wir?! Gila lo!"

Wira langsung meledak dalam tawa yang sangat keras, memegangi perutnya yang kram melihat ekspresi panik bercampur horor di wajah Asmara.

Beberapa teman sekelas sampai menoleh ke arah mereka, namun Wira mengabaikannya.

"Ya kali gue kurang kerjaan nguntitin calon mertua pagi-pagi buta ke pasar! Hehehe..." kekeh Wira setelah tawanya sedikit reda.

Ia mengatur napasnya, lalu menatap Asmara dengan tatapan penuh kemenangan. "Gue tahu karena Bude Ning yang cerita, Ra. Bude Ning sama nyokap lo nggak sengaja ketemu di kios batik yang sama hari Sabtu kemarin."

Asmara ternganga.

Kepingan puzzle itu seketika menyatu di kepalanya.

Pantas saja pada hari Sabtu siang, saat ibunya pulang dari Beringharjo, Nyi Surti terus-menerus menanyakan tentang Wira dengan senyum-senyum yang penuh arti.

Ibunya bahkan memasak sayur lodeh ekstra dan menyuruh Asmara membawanya ke sekolah untuk 'teman sebangku yang baik hati' hari ini (yang tentu saja Asmara tolak mati-matian karena malu).

"Bude Ning... ketemu Ibu gue?" ulang Asmara, suaranya terdengar sedikit lemas. "Mereka... mereka ngobrolin apa aja, Wir?"

"Wah, banyak banget, Ra!" Wira menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangannya di dada dengan gaya pongah maksimal. "Bude Ning bilang nyokap lo itu anggun banget, persis kayak lo. Terus mereka ngobrolin soal kita berdua. Soal gimana lo dengan sabarnya ngejinakkin preman Bogor ini di Ruang Budaya, dan soal gimana preman Bogor ini sekarang udah jadi murid kesayangan guru-guru."

Wira memajukan wajahnya lagi, berbisik dengan nada yang sangat menggoda. "Intinya sih, ibu-ibu kita udah bestian, Ra! Mereka udah ngasih lampu hijau secara nggak langsung! Masa iya anaknya masih mau kucing-kucingan kayak anak SMP? Hihihi..."

Asmara menelan ludah. Jantungnya berdebar dengan ritme yang sangat gila.

Fakta bahwa kedua keluarga mereka yang memiliki latar belakang bagaikan langit dan bumi ternyata bisa berbaur dengan begitu mudah di sebuah pasar tradisional, membuat Asmara merasa ada beban besar yang baru saja diangkat dari pundaknya.

Kekhawatirannya tentang perbedaan status dan budaya ternyata tidak menjadi masalah bagi ibunya maupun bibi Wira.

"Gila..." gumam Asmara pelan, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya untuk menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap. "Ibu gue pasti udah mikir yang macam-macam."

"Mikir macam-macam apanya? Mikir kalau anaknya lagi kasmaran sama pahlawan kelasnya? Jiahahaha..." goda Wira tanpa ampun, menarik sebelah tangan Asmara dari wajahnya. "Nggak usah malu gitu, Ra... Justru bagus kan? Jalan kita makin mulus! Hihihi..."

Asmara menarik tangannya kembali, mendelik kesal namun dengan pipi yang sudah semerah kepiting rebus. "Mulus mata lo! Lo jangan kepedean dulu ya, Wira Aji Pratama. Romo gue itu penjaga gerbang paling galak! Kalau lo berani macem-macem, leher lo bisa di-piting sama abdi dalem keraton!"

"Gue nggak takut!" jawab Wira mantap, senyum tengilnya menghilang digantikan oleh keseriusan yang sangat dalam. "Jangankan abdi dalem, disuruh ngadepin pasukan keraton sendirian juga gue jabanin kalau hadiahnya itu elo, Ra!"

Asmara benar-benar tidak bisa lagi menjawab. Lidahnya kelu.

Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu kalah telak jika beradu argumen dengan pemuda yang satu ini.

Sang Bulan akhirnya memilih diam, menyibukkan diri kembali dengan laporan OSIS-nya, meski senyum lebar tak pernah sedetik pun luntur dari bibirnya sepanjang sisa jam pelajaran hari itu.

.....

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi nyaring, memicu sorak-sorai kelegaan dari ratusan siswa yang langsung berhamburan keluar kelas.

Suasana SMA Budi Bangsa seketika berubah menjadi hiruk-pikuk oleh derap langkah kaki dan suara motor yang dihidupkan di area parkir.

Di dalam kelas XI IPS 2, Wira memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel dengan gerakan yang santai.

Di sebelahnya, Asmara juga sedang merapikan tempat pensil dan beberapa map laporannya.

"Balik sekarang, Ra?" tanya Wira, mencangklongkan tasnya di satu bahu.

Asmara mengangguk pelan. "Iya. Kerjaan OSIS udah kelar semua tadi siang. Otak gue udah ngebul, butuh kasur banget rasanya."

Wira berdiri, menghalangi jalan keluar Asmara dari bangkunya. Pemuda itu menatap Asmara dengan tatapan yang sangat tegas, tak memberikan celah untuk bantahan.

"Ayo, gue anterin lo pulang," ucap Wira. Bukan sebuah tawaran, melainkan sebuah pernyataan.

Asmara menghentikan gerakannya. Ia mendongak menatap Wira.

"Anterin? Nggak usah, Wir. Kayak biasa aja, gue jalan kaki ke perempatan, lo balik ke arah Bude Ning. Jaraknya juga nggak jauh-jauh amat kok."

"Gue bilang gue anterin lo pulang, Asmara," potong Wira cepat, nada suaranya mengalun berat. Ia melangkah satu tindak lebih dekat. "Dan kali ini, gue nggak bakal nurunin lo di perempatan beringin kembar kayak minggu lalu. Gue bakal anterin lo tepat sampai di depan pintu pagar rumah lo."

Asmara terkesiap. Matanya membelalak lebar.

"Wir, lo gila ya?! Jangan nekat deh! Lo lupa ya gue anak siapa? Kalau Romo gue lihat ada cowok yang nganterin gue sampai depan pintu, bisa panjang urusannya. Beliau itu sangat ketat soal pergaulan."

"Justru karena gue tahu beliau itu ketat, makanya gue harus nganterin lo sampai depan pintu," Wira menjawab dengan logika yang sangat matang, tak sedikit pun menunjukkan keraguan.

Pemuda itu menatap tajam ke manik mata Asmara.

"Gue laki-laki, Ra. Kalau gue berani ngajak jalan anak gadis orang malam-malam ke bukit, gue juga harus berani munculin muka gue di depan rumahnya."

Wira menghela napas, melembutkan intonasi suaranya.

"Ibu-ibu kita udah saling kenal. Mereka udah ngobrol akrab di Beringharjo. Masa iya anaknya masih mau kucing-kucingan turun di perempatan kayak buronan? Gue nggak mau lo ngerasa harus sembunyi-sembunyi kalau lagi sama gue, Ra. Gue mau hubungan ini jelas, di depan teman-teman, dan di depan orang tua lo."

Mendengar deklarasi keberanian yang sangat ksatria itu, dada Asmara terasa berdesir hebat. Kata-kata Wira menghantam relung hatinya dengan sangat kuat. Preman dari Bogor ini ternyata memiliki prinsip tanggung jawab yang jauh melampaui usianya.

Wira tidak hanya ingin menikmati waktu bersamanya secara diam-diam; Wira ingin membuktikan keseriusannya, bahkan jika itu berarti ia harus berhadapan langsung dengan sang Romo yang terkenal kaku.

Asmara menelan ludah.

Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh sebuah rasa percaya yang sangat kuat kepada pemuda ini.

Jika Wira berani mengambil risiko itu demi dirinya, maka Asmara pun harus berani berdiri di sisinya.

"Lo... lo beneran berani, Wir?" tanya Asmara dengan suara pelan, mencari keyakinan terakhir.

Wira menyeringai lebar, mengacak-acak lembut puncak kepala Asmara. "Gue Wira Aji Pratama! Jangankan nganterin lo sampai depan pintu, disuruh masuk buat minum kopi bareng Romo lo juga gue jabanin. Ayo, jalan sekarang sebelum kesorean."

Mereka berdua berjalan bersisian keluar dari kelas, menyusuri koridor sekolah menuju area parkir.

Jika minggu lalu Asmara masih merasa canggung berjalan berdua, hari ini langkah gadis itu terasa sangat ringan dan bangga. Ia tidak memedulikan tatapan beberapa pasang mata murid lain yang memperhatikan kedekatan mereka.

Sesampainya di area parkir, Wira menuju sebuah motor Honda MegaPro hitam yang baru saja ia pinjam (lagi-lagi) dari teman tongkrongannya, karena ia merasa Kijang kapsul Bude Ning terlalu kaku untuk momen bersejarah ini.

Wira menyerahkan sebuah helm kepada Asmara, yang langsung diterima dan dipakai oleh gadis itu tanpa banyak protes.

Motor sport hitam itu pun melaju perlahan meninggalkan gerbang SMA Budi Bangsa, membelah teriknya matahari sore kota Yogyakarta.

Perjalanan dari sekolah menuju kawasan Jeron Beteng memakan waktu sekitar lima belas menit.

Sepanjang perjalanan, angin sore yang hangat menerpa wajah mereka. Asmara tidak lagi segan untuk berpegangan ringan pada jaket seragam Wira. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan, merasa sangat terlindungi oleh punggung lebar pemuda itu.

Saat motor mereka memasuki kawasan Jeron Beteng, suasana seketika berubah.

Jalanan aspal berganti menjadi paving blok yang rapi. Tembok-tembok tinggi berwarna putih dengan arsitektur klasik Jawa mengapit di sisi kiri dan kanan jalan. Udara di sini terasa lebih tenang, lebih berwibawa, dan sarat akan nilai sejarah.

Wira menurunkan kecepatan motornya secara drastis. Insting jalannya memberitahunya bahwa ini adalah kawasan yang harus dihormati. Pemuda itu tidak memainkan gasnya. Ia membiarkan mesin motor menderu sehalus mungkin, menghormati ketenangan lingkungan tempat sang tuan putri dibesarkan.

"Lurus terus dari perempatan ini, Wir. Habis itu ada gang kedua di sebelah kanan, masuk ke situ," instruksi Asmara dari balik helmnya, suaranya sedikit bergetar menahan gugup yang tiba-tiba kembali menyerang.

"Siap, Bos!" jawab Wira mantap.

Motor itu berbelok masuk ke dalam gang yang ditunjuk Asmara. Gang itu cukup lebar, dihiasi oleh pepohonan mangga dan rambutan yang rindang di setiap halamannya. Suasana sangat sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain sepeda di ujung jalan.

"Rumah cat putih yang pagarnya kayu jati itu, Wir. Berhenti di situ," ucap Asmara sambil menepuk pundak Wira.

Wira menepi. Ia mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang kayu jati berukir yang menjulang kokoh. Rumah itu terlihat sangat asri, dengan halaman luas yang dipenuhi oleh berbagai macam tanaman hias peliharaan Nyi Surti.

Keheningan seketika menyergap saat mesin motor mati. Hanya ada suara angin sore yang menggesek dedaunan mangga.

Asmara turun dari boncengan. Ia melepaskan helmnya, lalu menyerahkannya kembali kepada Wira dengan tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdetak kencang, takut tiba-tiba ayahnya keluar dari pintu rumah.

"Makasih ya, Wir. Lo... lo beneran nganterin gue sampai depan pintu," ucap Asmara pelan, menatap Wira yang masih duduk di atas sadel motornya.

Wira menerima helm itu. Ia meletakkannya di atas tangki motor, lalu memutar tubuhnya menghadap Asmara. Senyum miringnya tidak muncul, digantikan oleh tatapan yang sangat hangat dan menenangkan.

"Sama-sama, Ra," jawab Wira dengan suara beratnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Asmara, mengangguk pelan mengagumi keasrian dan ketenangan tempat itu. "Rumah lo enak banget. Teduh. Pantesan lo tumbuh jadi cewek yang kalem tapi auranya tajam."

Asmara tersipu malu. "Bisa aja lo. Ya udah, lo mendingan balik sekarang deh. Nanti Bude Ning nyariin kalau lo kesorean."

Wira tidak langsung menyalakan mesinnya. Ia menatap Asmara lekat-lekat, merekam wajah cantik gadis itu yang dibias oleh cahaya matahari sore yang keemasan. Jarak mereka hanya terpaut satu langkah.

"Gue bakal terus nganterin lo sampai titik ini mulai sekarang, Ra," ucap Wira tiba-tiba, sebuah ikrar yang diucapkan dengan sangat lembut namun mengikat kuat. "Lo nggak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Kalau Romo lo marah, biar gue yang pasang badan buat ngejelasin semuanya."

Mendengar janji yang begitu kokoh itu, pertahanan emosi Asmara luruh sepenuhnya. Rasa takutnya menguap. Ia merasa sangat diistimewakan, sangat dilindungi, dan sangat dicintai.

Asmara memberanikan diri. Ia melangkah setengah tindak lebih dekat. Tangannya terulur dengan sangat pelan, lalu merapikan kerah seragam Wira yang sedikit terlipat akibat tiupan angin selama perjalanan. Sebuah gestur yang sangat intim dan penuh kepedulian.

"Lo hati-hati di jalan pulangnya ya, Wir," bisik Asmara, matanya menatap langsung ke dalam mata Wira. "Jangan ngebut. Dan... makasih udah berani buat gue."

Wira menahan napasnya merasakan sentuhan lembut jari Asmara di kerah bajunya. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum akhirnya berpacu gila-gilaan. Ia tersenyum sangat tulus, menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Pasti. Masuk gih, Tuan Putri. Mandi, terus istirahat," balas Wira dengan suara seraknya.

Asmara mengangguk. Ia memutar tubuhnya, berjalan perlahan memasuki gerbang kayu jati rumahnya.

Sebelum benar-benar masuk ke balik pintu rumah, gadis itu menoleh ke belakang sekali lagi. Ia melihat Wira masih berada di sana, belum menyalakan mesin motornya, berdiri tegak menjaganya hingga ia benar-benar aman masuk ke dalam rumah.

Di bawah langit senja Yogyakarta yang perlahan berubah menjadi lembayung, dua dunia yang sebelumnya tak pernah saling bersentuhan itu kini telah bertabrakan dengan sangat indah.

Sang preman dari Bogor telah resmi menginjakkan kakinya di halaman keraton sang tuan putri, membawa serta sebuah janji bahwa ia akan melindungi gadis itu dari segala badai yang mungkin akan datang menghantam.

1
Yurmanitya Fadilah
Terharu aku 🥹
Wanoja
sedih
Wanoja
jadi inget adegan Cinta nyusul rangga di bandara di film aadc
Wanoja
eldeer itu berat
Wanoja
definisi ada senyum ada tangis ada bahagia ada luka
Wanoja
typo dikit nihh
Yurmanitya Fadilah
Sudah kuduga
Yurmanitya Fadilah
Akhirnya ada yang bisa menaklukan dia
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mwehehehe... 😍😍😍
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Gereget banget gue sama ini anak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Emang badjingan si Wira... 🗿🗿🗿
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Ya Allah Wira Badung nya tuh ngebadung amat ini anak bikin emosi yang baca
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ciri khas bocah nggak mau diatur, Kak... 💪💪💪
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hahahaaa ngakak🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hayo Lo Wira, good luck ya menghadapi Bude mu, semoga cepet tobat GK bandel lagi
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Aamiin... 🤭🤭🤭
total 1 replies
Wanoja
ngiri sama kebahagiaan mereka
Yurmanitya Fadilah
Wira Badung banget, bagus lah bapak ibunya bijak, aku setuju dia dipindahin ke Jogja aja 😄🤣
Wanoja
ya kali raka cs juga berubah kayak kmu wira setelah ke jogja terus ketemu dek asmara
Wanoja
seperti lagi dibawa keliling malioboro sama wira dan dek asmara
Wanoja
Bedanya apa ronde sama sekoteng?
Wanoja
😂 raka belum tau jogja sepertinya cuma candi sama naik becak katanya
Wanoja
baca nya esem esem ndewe
Wanoja: bayangin mereka lah
total 2 replies
@ ~arworld author(。・ω・。)
satu bunga untuk kakak nya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!