Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Jeda waktu satu minggu akhirnya bergulir, membawa hari persidangan kedua yang paling dinantikan. Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi ini kembali berubah menjadi panggung drama panas yang dipadati ratusan awak media, wartawan kamera, dan masyarakat yang penasaran. Publik yang sudah dibuat syok oleh fakta bahwa Kirana adalah pendiri konsorsium raksasa Yayasan Kirana Nusantara tak sabar melihat kejutan apalagi yang akan disajikan sang Ratu di dalam ruang sidang.
Sekitar pukul sembilan pagi, rombongan Gibran tiba lebih awal. Pria itu datang tidak lagi sendiri atau hanya bersama tim hukumnya. Di sampingnya, Melani melangkah dengan dagu terangkat tinggi, dibalut gaun formal berwarna biru gelap dan riasan tebal yang dipaksakan. Tampak jelas bahwa Gibran sengaja membawa serta Melani sebagai bentuk gertakan dan aksi pamer di hadapan publik bahwa hubungan mereka tak tergoyahkan oleh serangan netizen maupun guncangan finansial.
Gibran berlagak tenang, menggenggam jemari Melani di tengah kilatan lampu kamera wartawan, seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dialah pria yang memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri. Padahal, kenyataannya Melani kini hadir murni sebagai pihak yang menempel dan mengekor padanya setelah perusahaan media milik wanita itu hancur dan bangkrut total akibat pemutusan kontrak massal dari para klien.
Namun, aura dominasi semu itu seketika runtuh dan menguap tanpa sisa saat sebuah sedan Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengilap berhenti anggun di pelataran parkir.
Aku melangkah keluar dengan keanggungan tiada tanding, mengenakan setelan suit berwarna abu-abu platinum rancangan khusus yang memancarkan wibawa mutlak seorang pimpinan tertinggi. Di sisiku, tiga sahabat sosialitaku, Nela, Dena, dan Sherin berjalan mengawal dengan gaun dan perhiasan yang memancarkan kelas sosial atas. Di belakang kami, jajaran tim hukum senior melangkah mantap dengan koper-koper berkas perkara.
Saat langkah kaki kami berhadapan tepat di lorong utama menuju ruang sidang, langkah Gibran dan Melani terhenti. Suasana lorong pengadilan yang riuh mendadak hening dan tegang.
Aku menatap Gibran dan Melani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pendar mata yang amat dingin, tenang, dan dipenuhi penghinaan yang teramat halus.
Dena sahabatku yang berlatar belakang keluarga konglomerat perbankan menyilangkan kedua tangannya di dada seraya terkekeh sinis, memecah keheningan yang mencekam.
"Wah, luar biasa sekali pemandangan pagi ini," sindir Dena dengan nada suara yang nyaring dan mengayun santai. "Ada pimpinan perusahaan yang sahamnya sedang goyah dan terancam lengser, masih sempat-sempatnya gandengan sama wanita yang perusahaannya baru saja bangkrut di pelataran pengadilan resmi. Benar-benar pasangan yang sangat serasi... serasi dalam hal tidak punya malu."
Wajah Gibran seketika berubah memerah padam. "Dena! Jaga mulutmu ya! Ini urusan rumah tanggaku dengan Kirana, kalian bertiga tidak usah ikut campur."
"Urusan rumah tangga?" menyela Sherin seraya membenarkan posisi kacamata mewahnya dan tertawa renyah. "Aduh, Pak Gibran... urusan rumah tangga itu kalau dilakukan secara terhormat antara suami dan istri sah. Tapi kalau sudah melibatkan wanita yang bikin bisnis orang lain ikut hancur, itu bukan rumah tangga lagi namanya, tapi pengkhianatan murah."
Nela ikut melangkah maju satu tapak, menatap Melani yang berdiri tegang mengekor di samping Gibran dengan tatapan jijik yang terang-terangan. "Lagi pula, Mbak yang berbaju biru... kamu ini tidak kapok ya setelah kemarin diusir secara halus dari acara lelang perhiasan? Setelah bisnismu bangkrut, sekarang malah makin nempel dan ngekor sama suami orang di tempat hukum seperti ini? Mukanya benar-benar kebal dari bahan apa, sih?"
Umpatan dan sindiran pedas yang dilontarkan ketiga sahabatku secara bertubi-tubi bagaikan tamparan berturut-turut yang menguliti harga diri Melani di hadapan belasan awak media yang mengintai dari kejauhan.
Ego dan gengsi Melani seketika meledak liar. Tak sanggup lagi menahan amarah dan rasa malu yang menghantamnya, Melani melepaskan pegangan tangannya dari Gibran, melangkah maju satu tapak dengan nada suara yang melengking tinggi untuk membela diri.
"Tutup mulut kalian semua!" jerit Melani histeris, wajah cantiknya berkerut penuh amarah. "Kalian tidak berhak menghakimi saya! Saya dan Mas Gibran saling mencintai atas dasar ketulusan. Saya bukan wanita murahan seperti yang kalian tuduhkan."
Melani menyibak rambutnya dengan dada busung penuh keangkuhan buta, menatapku penuh pendar kebencian.
"Kalian semua boleh bicara apa saja!" tegas Melani seraya menunjuk wajahku. "Tapi yang jelas, dalam waktu dekat ini saya dan Mas Gibran akan segera menikah secara sah! Begitu sidang perceraian konyol ini selesai, saya yang akan resmi menjadi Nyonya Gibran Raditya berikutnya! Kirana itu cuma masa lalu yang tidak mau sadar diri kalau dia sudah dibuang dan tidak dicintai lagi."
Pernyataan emosional dan sesumbar dari Melani bahwa ia 'akan segera menikah dan jadi nyonya besar' seketika membuat lorong pengadilan menjadi hening. Gibran sendiri mendadak panik, membelalak kaget mendengar Melani yang nekat mengumbar rencana pernikahan mereka di hadapan media sebelum sidang selesai.
"Melani! Diam!" bisik Gibran kasar seraya mencoba menarik lengan Melani.
Namun, sebelum Gibran sempat menariknya kembali, aku melangkah maju satu tapak secara anggun. Senyuman tipis, dingin, dan sarat akan keanggunan mutlak terulas di bibirku. Aku memandangi Melani dengan pendar mata yang teramat kasihan.
"Akan segera menikah dan jadi nyonya besar berikutnya?" tanyaku dengan nada suara yang amat halus, merdu, namun sanggup membungkam seluruh ruangan.
Aku berhenti tepat satu tapak di hadapan Melani, memiringkan kepalaku sedikit seraya menatap lurus ke dalam manik matanya yang gemetar ditelan luapan emosi.
"Melani... kamu begitu percaya diri berteriak akan segera dinikahi di depan media?" tanyaku seraya terkekeh pelan sebuah kekehan dingin yang seketika meremukkan seluruh harga diri Melani. "Kamu merasa menang hanya karena dijanjikan posisi nyonya besar? Tapi pernahkah otak dangkalmu itu berpikir... kamu bangga dipamerkan hari ini bukan sebagai calon permaisuri, melainkan cuma dibawa ke sini sebagai tameng ego dari seorang pria yang sedang panik menghadapi guncangan perusahaannya sendiri?."
Wajah Melani seketika memucat. Bibirnya yang berpoleskan gincu merah mendadak gemetar kaku.
"Dan soal jadi nyonya besar NexTech Group berikutnya..." sambungku seraya menatap Gibran yang berdiri kaku tak berkutik di sampingnya, "...kamu boleh ambil pria ini bersama seluruh mimpi manismu. Tapi untuk saham, kekayaan dan nama besar perusahaan itu... sebentar lagi di dalam ruang sidang ini, akan kupastikan tidak akan ada satu rupiah pun sisa kejayaan yang bisa kamu nikmati bersama."
Deg!
Kata-kataku yang menghantam tepat di ulu hati seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dan gengsi Melani. Wajah wanita bergaun biru itu mendadak pucat pasi bagaikan kertas, matanya bergetar hebat ditelan kemurkaan dan rasa malu yang amat dalam.
Dena dan Sherin menyunggingkan senyum kemenangan yang paling puas, sementara Nela menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berbisik keras, "Kasihan... perusahaannya sudah bangkrut, sekarang masih halu merasa mau jadi nyonya besar."
Aku menyunggingkan senyuman paling anggun, membalikkan badan dengan kibasan gaun abu-abu platinumku yang mewah, lalu merangkul ketiga sahabatku dan tim hukum untuk melangkah masuk ke dalam ruang sidang utama.
Di belakangku, Melani berdiri mematung di tengah lorong pengadilan. Air mata penyesalan dan rasa malu yang tak tertahankan meledak menetes di pipinya, dikuliti oleh tatapan miring dan bisikan ejekan dari belasan wartawan serta pengunjung pengadilan.
Gibran di sisinya hanya bisa mengepalkan tangan rapat-rapat dalam kebisuan total, menyadari bahwa sebelum pintu ruang sidang resmi dibuka, harga diri dan mental mereka telah dihancurkan sampai tak berbekas oleh Kirana.
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....