Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 35
Setelah obrolan dan perayaan singkat itu mereda, Andika merapikan tas kargo berisi bagian uang tunai dan emas batangannya. Ia menyampirkan tas berat itu di bahunya, menyalami Michael, Franklin, Trevor, dan Lester satu per satu.
"Saya pamit duluan," ujar Andika mantap.
"Jaga dirimu dan uang itu baik-baik, Bro," balas Franklin sambil mengacungkan jempol.
Andika melangkah keluar menuju tempat Chopper Scorpio hitamnya terparkir. Ia mengikat tas kargo tebal itu dengan tali kencang di jok belakang, mengenakan helm, lalu menyalakan mesin.
BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!
Guruh suara knalpot kustomnya membelah heningnya malam. Andika melaju pelan meninggalkan tempat persembunyian rahasia tersebut, membelah jalanan Los Santos yang baru saja mereka guncang.
Di sepanjang perjalanan pulang, Andika menyaksikan jejak kekacauan yang telah mereka tinggalkan: sirine mobil polisi yang masih bersahutan di kejauhan, lampu kilat garis polisi di beberapa persimpangan jalan, dan beberapa bagian jalanan yang ditutup akibat sisa-sisa pertempuran sengit tadi.
Dari balik kaca helmnya, sebuah sunggingan senyum tipis yang sarat akan kepuasan terukir di wajah Andika. Ada rasa bangga dan sensasi kekuatan yang membakar di dalam dadanya. Ia merasa inilah jati dirinya yang sebenarnya—seorang penjahat berdarah dingin yang kini kaya raya, tangguh, dan tak terkalahkan di kota yang keras ini.
Tak berapa lama, Chopper hitam itu memelankan laju dan berhenti di halaman rumahnya. Andika mematikan mesin, melepas ikatan tali di jok belakang, lalu membopong tas kargo berat itu masuk ke dalam kediamannya.
Ia mengunci pintu rapat-rapat dan menutup tirai jendela. Di atas meja ruang tengah, Andika membuka ritsleting tas kargo tersebut. Ia mengeluarkan ikatan-ikatan uang kertas seratus dolar yang masih berbau tinta bank segar serta batangan-batangan emas murni yang mengkilap.
Dengan tenang, Andika mulai menyusun dan menghitung seluruh lembaran uang tunai serta mengalkulasikan nilai emasnya.
Setelah dihitung secara mendetail, total bagian bersih yang dibawa pulang oleh Andika malam ini mencapai USD 2.100.000 (2,1 juta dolar). Jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah (dengan estimasi kurs Rp16.000 per dolar), total hasil yang ia genggam adalah sekitar Rp33.600.000.000,- (Tiga Puluh Tiga Miliar Enam Ratus Juta Rupiah).
Andika menatap tumpukan rupiah fiktif bernilai puluhan miliar di atas mejanya. Sebuah angka fantastis yang mengubah jalan hidupnya seketika. Ia menarik napas panjang, tersenyum lebar menyadari bahwa kini ia telah menjadi pria yang sangat kaya raya.
Andika berjalan menuju kulkas di sudut ruangan, mengambil sebotol bir dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas kaca hingga busa putihnya membumbung tipis. Ia merogoh saku jasnya, mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya hingga ujungnya membara merah.
Andika kembali duduk santai di kursi, menyandarkan punggungnya, dan memandangi tumpukan harta hasil perampokan Fleeca Bank di hadapannya. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan kepulan asap putih ke udara, lalu meneguk bir dinginnya dengan nikmat. Malam ini, di tengah keheningan kediamannya di Los Santos, Andika menikmati puncak kemenangan manis dari aksi kejahatannya yang sempurna.
Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah jendela kamar Andika, menyinari sudut-sudut ruangan yang kini menyimpan tas kargo berisi jutaan dolar hasil aksi heist Fleeca Bank. Setelah menikmati istirahat yang sangat nyenyak, Andika bangun dengan kondisi fisik yang segar dan pikiran yang tenang.
Siang harinya, ponsel Andika berdering. Franklin mengajaknya berkumpul dan bersenang-senang untuk merayakan keberhasilan perampokan kemarin. Andika yang tidak punya agenda mendesak pun langsung mengiyakan.
Andika mengendarai Chopper Scorpio hitamnya menuju titik temu di kawasan Chamberlain Hills. Dari kejauhan, terlihat Franklin sedang berdiri di samping sedan Buffalo miliknya bersama seorang pemuda seumuran Andika—berusia sekitar 24 tahun.
Pemuda itu bernama Brian. Uniknya, meski menjadi anggota geng The Families sama seperti Franklin, Brian adalah satu-satunya pemuda berkulit putih di kelompok tersebut. Gaya berpakaiannya khas anak jalanan Chamberlain Hills dengan pakaian serba hijau khas geng Families. Sementara Franklin kini sudah mulai sedikit menarik diri dari aktivitas geng harian sejak berbisnis dengan Michael, Brian masih sangat aktif bergerak di jalanan.
"Ayyy, Andika! Ini dia pria yang kemarin menjebol brankas Fleeca!" sapa Franklin penuh semangat saat melihat Andika datang.
Andika mematikan mesin motornya dan melangkah mendekat. "Halo, Frank."
"Andika, perkenalkan ini Brian. Temanku dari Chamberlain Hills, umurnya seumuran denganmu, 24 tahun," ujar Franklin mengenalkan rekan gengnya itu. "Brian, ini Andika. Anak baru yang punya ketenangan baja."
"Senang bertemu denganmu, Bro. Franklin sudah cerita banyak tentang aksi gila kalian kemarin," puji Brian seraya menyalami Andika dengan gaya street handshake khas The Families.
"Senang berkenalan denganmu juga, Brian," balas Andika ramah.
Franklin menepuk sakunya yang tampak agak tebal, lalu menyeringai lebar. "Hari ini waktunya santai total. Aku baru saja membeli pasokan green stuff (ganja) kualitas terbaik di kota. Kita akan berpesta di tempat Brian!"
"Bagus sekali," kekeh Brian. "Aku juga sudah menghubungi beberapa wanita kenalanku untuk meramaikan pesta kita sore ini."
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga memutuskan bergerak menuju rumah Brian. Andika menitipkan motornya di tempat aman dan naik ke dalam sedan Buffalo Franklin bersama Brian.
Di dalam mobil, musik hip-hop khas pesisir barat terdengar berdentum halus. Perjalanan menelusuri kawasan pemukiman selatan Los Santos berlangsung santai. Mereka saling bertukar cerita jalanan dan tertawa mengingat momen-momen gila yang sering terjadi di sudut kota.
Setelah beberapa menit melaju, Franklin memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah tinggal di kawasan Davis yang penuh dengan corak warna hijau The Families. Rumah Brian tampak cukup tersembunyi namun nyaman untuk tempat bersantai.
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam rumah. Brian menyalakan sistem suara (sound system), memutar musik santai bernuansa G-Funk yang langsung mengisi seluruh ruangan. Franklin melangkah ke meja kaca ruang tengah, meluapkan kantong kertas berisi daun ganja kualitas tinggi yang aroma khasnya langsung menyeruak menyegarkan ruangan.
Sambil duduk santai di sofa tebal, Franklin, Andika, dan Brian mulai telaten melinting ganja tersebut ke dalam lembaran kertas linting (paper). Keahlian jemari mereka menghasilkan beberapa lintingan rapi dalam waktu singkat.
TOK! TOK! TOK!
Pintu depan terketuk pelan. Brian tersenyum lebar, "Nah, mereka sudah sampai."
Brian berjalan membuka pintu. Tiga orang wanita muda yang cantik, seksi, namun memancarkan aura gangster style yang kental melangkah masuk dengan gaya anggun dan berani. Mereka mengenakan pakaian bergaya streetwear ketat, celana baggy, perhiasan rantai emas, dan riasan wajah yang menawan.
Tanpa canggung, ketiga wanita itu langsung menghampiri Franklin, Andika, dan Brian. Salah satu wanita berambut panjang dengan riasan manis memeluk erat leher Andika dan duduk di sampingnya, sementara dua wanita lainnya memeluk Franklin dan Brian hangat.
"Siapa pria tampan yang tenang ini, Brian?" bisik wanita di samping Andika seraya tersenyum menggoda dan merapatkan tubuhnya.
Andika menyunggingkan senyuman tipisnya yang dingin, menyulut ujung lintingan ganja di tangannya hingga membara merah.
FOOOOOSH...
Kepulan asap putih tipis dihembuskan Andika ke udara, berpadu dengan alunan musik dan aroma manis ganjanya. Dalam pelukan para wanita seksi dan suasana hangat persahabatan, Franklin, Andika, dan Brian bersama-sama menikmati ganja kualitas terbaik tersebut, larut dalam euforia santai dan kemewahan baru pasca-aksi perampokan besar di Los Santos.