I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Arc THE FOURTH TARGET
Gerbang itu terbuka sepenuhnya.
Cahaya hitam mengalir keluar seperti tinta yang menyebar di udara. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara gemuruh.
Justru karena itulah suasananya terasa jauh lebih mengerikan.
Seluruh sistem pertahanan Sol-Vane masih membeku pada satu perintah.
[CONNECTION ESTABLISHED]
[INCOMING ENTITY DETECTED]
[NUMBER OF ENTITIES: 1]
[ENTITY IDENTIFICATION: FAILED]
[REASON:]
[ENTITY IS NOT REGISTERED WITH THIS REALITY.]
Ren berdiri paling depan.
Matanya menatap gerbang tersebut tanpa berkedip.
Rayker mengangkat pedangnya.
Lyra membentuk lapisan pelindung.
Caelum mengaktifkan QNI pada kapasitas maksimum.
"Ren."
Suara Caelum terdengar tegang.
"Jangan biarkan sistem kehilangan koneksi."
"Kenapa?"
"Karena selama koneksi itu terbuka, aku masih bisa membaca sebagian datanya."
Ren mengangguk.
"Kalau begitu baca."
Caelum menatap layar.
Data bermunculan dengan kecepatan yang tidak mampu diikuti mata biasa.
[EXTERNAL ENTITY]
[ORIGIN: UNRESOLVED]
[DIMENSION: UNRESOLVED]
[SPATIAL COORDINATE: UNRESOLVED]
[CAUSAL CONNECTION: UNRESOLVED]
[REALITY REGISTRATION: NONE]
Caelum terdiam.
"Ini..."
"Apa?"
"Dia tidak terdaftar dalam struktur realitas kita."
Ren tetap tenang.
"Seperti yang dikatakan sistem."
Gerbang semakin melebar.
Sebuah kaki keluar.
Kemudian tubuh manusia.
Sosok itu tinggi.
Seluruh tubuhnya diselimuti lapisan hitam yang tampak seperti armor, tetapi tidak memiliki bentuk mekanis maupun magis yang jelas.
Wajahnya tertutup.
Tidak ada lambang.
Tidak ada senjata.
Ia hanya berdiri di hadapan mereka.
Kemudian suaranya terdengar.
"Target keempat."
Tatapannya berhenti pada Ren.
"Ren Vaelen."
Rayker langsung maju.
"Jangan mendekatinya."
Sosok hitam itu tidak menjawab.
Ia hanya memandang Rayker.
Cahaya emas tiba-tiba meledak dari tubuh Rayker.
[LIVING FUSE REACTION]
[WARNING]
[RESONANCE OVERLOAD]
Rayker mencengkeram dadanya.
"Ugh..."
Lyra terkejut.
"Rayker!"
Caelum melihat layar.
"Resonansinya meningkat!"
[TARGET 01: RESONANCE INCREASING]
[TARGET 01: UNSTABLE]
Rayker mengangkat kepalanya.
Matanya bersinar keemasan.
"Jangan..."
Ia menggenggam pedangnya.
"...mendekat."
Sosok hitam tetap diam.
Namun Living Fuse di tubuh Rayker semakin bereaksi.
Energi emas menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ren segera memahami situasinya.
"Dia memengaruhi resonansi Rayker."
Caelum menggeleng.
"Bukan. Aku tidak menemukan transmisi energi dari sosok itu."
"Kalau begitu?"
Caelum menatap layar dengan wajah pucat.
"Keberadaannya sendiri memicu Living Fuse."
Rayker meraung.
BOOM!
Gelombang energi menyapu seluruh ruangan.
Lyra langsung membentuk penghalang.
"Rayker!"
"Aku tidak bisa mengendalikannya!"
Rayker mengangkat pedangnya.
Ren bergerak.
KLANG!
Pedang Ren menahan tebasan Rayker.
Lantai di bawah mereka retak.
Ren terdorong beberapa meter.
"Ren!"
"Aku tidak apa-apa."
Rayker menyerang lagi.
Ren menghindar.
Mata kirinya mulai bercahaya.
Cosmic Perception Eye.
Informasi muncul.
Sudut bahu.
Pusat gravitasi.
Pergerakan otot.
Distribusi energi.
Semua terbaca.
Ren bergerak ke sisi kanan.
Satu serangan.
Rayker terhuyung.
Namun sebelum Ren bisa melanjutkan—
BOOM!
Sebuah gelombang hitam menghantamnya.
Ren terlempar.
Ia berguling di tanah dan segera berdiri.
Sosok hitam itu sudah berada di hadapannya.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada perpindahan yang terlihat.
Ren menyipitkan mata.
"Begitu..."
Sosok itu menyerang.
Ren menghindar.
Serangan kedua.
Ren menghindar lagi.
Ketiga—
BOOM!
Ren terpental.
Ia menghentikan tubuhnya menggunakan pedang.
"Gerakannya..."
Ren mengangkat kepala.
"...tidak terbaca."
Lyra menyerang dari samping.
Penghalang berubah menjadi tombak energi.
FWOOSH!
Sosok hitam hanya mengangkat satu tangan.
Serangan Lyra berhenti.
Tidak hancur.
Tidak diblokir.
Hanya...
berhenti.
Lyra membelalakkan mata.
"Apa?"
Sosok itu menggerakkan jarinya.
Lyra terpental.
Rayker langsung menyerbu.
"AAAAH!"
Pedangnya menghantam dari atas.
KRAAANG!
Sosok hitam menahannya dengan satu tangan.
Rayker mengerahkan seluruh kekuatan Living Fuse.
Energi emas meledak.
Namun tangan sosok tersebut tidak bergeser sedikit pun.
"Mustahil..."
Rayker mencoba menarik pedangnya.
Tidak bisa.
Kemudian—
BOOM!
Rayker dihantam dan terpental.
Caelum langsung mengambil alih.
"QNI!"
Puluhan senjata energi muncul di udara.
[FULL OUTPUT]
Semua ditembakkan secara bersamaan.
Cahaya memenuhi ruangan.
Ledakan beruntun terdengar.
Ren menutup matanya sesaat.
Kemudian membuka kembali.
Asap perlahan menghilang.
Sosok hitam masih berdiri.
Tidak terluka.
Caelum membeku.
"Semua serangan..."
Tidak ada satu pun yang berhasil.
Ren menatap sosok itu.
Sekarang dia mulai memperhatikan sesuatu.
Bukan kekuatannya.
Bukan kecepatannya.
Tetapi cara ia berinteraksi dengan ruang.
Ren mengaktifkan Cosmic Perception Eye lebih dalam.
Dunia berubah.
Gerakan sosok itu menjadi rangkaian kemungkinan.
Satu.
Dua.
Sepuluh.
Seratus.
Ren mencoba memprediksi.
[TRAJECTORY ANALYSIS]
[FAILED]
Ren mencoba membaca energi.
[ENERGY ANALYSIS]
[FAILED]
Ren mencoba membaca pola gerakan.
[MOVEMENT ANALYSIS]
[FAILED]
Ren menggertakkan giginya.
"Kenapa..."
Sosok itu menghilang.
Ren menoleh.
Terlambat.
BOOM!
Tubuhnya menghantam dinding.
Rayker mencoba menyerang.
Sosok itu menepisnya.
Lyra mencoba melindungi.
Pertahanannya ditembus.
Caelum mencoba mencari koordinat.
Tidak ada.
Mereka berempat.
Tidak satu pun mampu memberikan perlawanan berarti.
Sosok hitam itu bahkan belum terlihat menggunakan seluruh kemampuannya.
Ren bangkit dengan susah payah.
"Jadi begini..."
Ia menyeka darah tipis di sudut bibirnya.
"Ini bukan masalah kecepatan."
Mata kirinya kembali berdenyut.
"Dia tidak bergerak dengan pola yang bisa kuprediksi."
Sosok hitam menatapnya.
Ren memaksa matanya bekerja.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Informasi yang tidak dapat dipahami terus masuk.
Kemudian—
CRACK.
Ren memegang mata kirinya.
Rasa sakit menusuk.
Caelum terkejut.
"Ren!"
Ren tidak menjawab.
Suara mekanis terdengar di dalam pikirannya.
[COSMIC PERCEPTION EYE]
[CURRENT LEVEL: 1]
[SURVIVAL ANALYSIS]
[LIMITATION DETECTED]
Ren terdiam.
Kemudian—
[ADAPTATION REQUIRED]
[ANALYSIS FRAMEWORK INSUFFICIENT]
[EVOLUTION CONDITION: SATISFIED]
Mata Ren bergetar.
Informasi yang sebelumnya kacau mulai tersusun.
Bukan dalam bentuk gerakan.
Bukan dalam bentuk energi.
Melainkan dalam bentuk hubungan.
Hubungan antara tindakan dan kemungkinan.
Hubungan antara posisi dan akibat.
Hubungan antara keputusan dan respons.
Ren melihat lagi.
Sosok hitam itu bergerak.
Kali ini—
Ren melihatnya.
Bukan sepenuhnya.
Hanya sebuah garis.
Sebuah hubungan tipis yang sebelumnya tidak ada dalam persepsinya.
Mata Ren terbuka lebih lebar.
[EVOLUTION INITIATED]
[COSMIC PERCEPTION EYE]
[LEVEL 1 — SURVIVOR]
→
[LEVEL 2 — ANALYST]
Cahaya tipis menyelimuti iris matanya.
Ren berdiri.
Sosok hitam kembali bergerak.
Ren memiringkan kepalanya.
Serangan itu lewat tepat di samping wajahnya.
Caelum membeku.
"Dia menghindar..."
Ren menatap sosok hitam.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
serangan lawan tidak mengenai dirinya.
Sosok hitam berhenti.
Ren tersenyum tipis.
"Bukan berarti aku sudah bisa mengalahkanmu."
Ia merendahkan tubuh.
"Tapi sekarang..."
Mata barunya mengunci sosok tersebut.
"...aku bisa melihatmu."
Sosok hitam tidak menjawab.
Namun layar QNI Caelum tiba-tiba berubah.
[TARGET 04: REN VAELEN]
[RECLASSIFICATION...]
[ERROR]
[CATEGORY: UNRESOLVED]
Kemudian satu baris baru muncul.
[TARGET 04 — OBSERVATION STATUS: CHANGED]
Caelum menatap layar.
"Ren..."
Ren tidak mengalihkan pandangan.
"Ya?"
"Matamu..."
Caelum menelan ludah.
"QNI sekarang tidak hanya mendeteksi mereka."
Ren terdiam.
"QNI mendeteksi perubahan pada dirimu."
Sosok hitam akhirnya berbicara.
"Adaptasi."
Satu kata.
Ren menatapnya.
Sosok itu melanjutkan.
"Jadi kau memang berbeda."
Rayker yang masih berlutut mengangkat wajahnya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan?"
Sosok hitam tidak menjawab.
Ia hanya menatap tiga Living Fuse.
Kemudian kembali menatap Ren.
"Konfirmasi selesai."
Gerbang di belakangnya mulai bergetar.
Ren mengerutkan kening.
"Konfirmasi apa?"
Sosok itu berbalik.
Sebelum kembali ke gerbang, ia meninggalkan satu kalimat.
"Bahwa target keempat benar-benar ada."
Gerbang mulai menutup.
Ren maju satu langkah.
"Tunggu!"
Namun sosok itu telah menghilang.
Gerbang tertutup.
Sistem Sol-Vane kembali normal.
Hanya satu layar yang masih menyala.
[TARGET 01: CONFIRMED]
[TARGET 02: CONFIRMED]
[TARGET 03: CONFIRMED]
[TARGET 04: CONFIRMED]
Kemudian—
[NEW STATUS]
[TARGET 04: OBSERVATION REQUIRED]
Ren menatap tulisan itu.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Karena mereka semua menyadari satu hal.
Pertarungan tadi bukanlah serangan.
Bukan invasi.
Bukan upaya untuk menghancurkan Sol-Vane.
Itu hanya sebuah pengujian.
Dan Ren baru saja membuktikan bahwa dirinya...
adalah sesuatu yang bahkan sistem dari luar realitas mereka belum mampu pahami.