Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Menuju Kota Batu Merah
Chu Feng masih menatap cakrawala ketika Hei mendekat, menggosokkan kepalanya ke lutut sang tuan sebagai isyarat bahwa malam sudah semakin larut. Ia tersenyum tipis, mengelus kepala serigala itu sejenak sebelum akhirnya bangkit dan kembali ke kamarnya, meski pikirannya masih dipenuhi bayangan wajah Su Yue dan firasat samar tentang apa yang mungkin menanti di Kota Batu Merah.
Ia berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamar dalam gelap, mencoba menenangkan pikiran yang terus berputar. Dua minggu, pikirnya, bukan waktu yang panjang, namun juga bukan waktu yang terlalu singkat untuk bersiap. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang lelah akhirnya beristirahat.
Enam hari berlalu dengan kesibukan yang seperti biasa. Tim mempersiapkan perbekalan, memeriksa kembali peralatan, dan menyempurnakan koordinasi formasi mereka setiap pagi di lapangan latihan utama. Kabar tentang kekuatan baru yang mereka bawa pulang dari ruang tersembunyi itu perlahan menyebar di antara murid-murid sekte, membangkitkan semangat yang belum pernah terasa sekuat ini sejak tragedi sepuluh tahun lalu.
Pada hari ketujuh, seluruh sekte berkumpul di halaman utama untuk melepas keberangkatan lima perwakilan menuju Kota Batu Merah. Tetua Wang berdiri di depan gerbang, didampingi Tetua Feng dan Tetua Mei, wajah mereka bertiga penuh harapan sekaligus kekhawatiran yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
"Kalian membawa lebih dari sekadar nama sekte ini," kata Tetua Wang, suaranya menggema di halaman yang dipenuhi murid-murid lain. "Kalian membawa harapan dari orang-orang yang telah lama diremehkan, dan kepercayaan dari mereka yang telah berkorban jauh sebelum kalian lahir. Pergilah dengan kepala tegak, dan kembalilah dengan selamat, apa pun hasilnya."
Chu Feng membungkuk dalam, diikuti keempat rekannya. "Kami tidak akan mengecewakan sekte ini, Tetua."
Dengan Hei berjalan di sampingnya dan Tombak Awan Kelabu tersampir di punggung, Chu Feng melangkah keluar dari gerbang Sekte Awan Langit bersama Zhao Lin, Liu Bo, Jiang Rou, dan dua rekan lainnya, memulai perjalanan empat hari menuju kota yang akan menentukan banyak hal.
Perjalanan menuju Kota Batu Merah membawa mereka melintasi jalan-jalan yang belum pernah dilalui Chu Feng sebelumnya desa-desa kecil di sepanjang perbukitan selatan, hutan bambu yang menghijau, dan sungai-sungai jernih yang mengalir tenang di antara lembah-lembah subur.
Pada hari kedua perjalanan, ketika mereka beristirahat di sebuah penginapan kecil di tepi jalan, Liu Bo memutuskan untuk menguji sejauh mana kekuatan barunya bisa diterapkan dalam situasi nyata, bukan sekadar simulasi di dalam ruang tersembunyi.
"Ada turnamen kecil di kota ini," katanya, menunjuk selebaran yang tertempel di dinding penginapan. "Hanya untuk kultivator pengembara biasa, hadiahnya tidak seberapa, tapi kurasa akan menarik untuk melihat seberapa jauh kekuatan kita sekarang dibandingkan sebelum kita masuk ke ruang latihan itu."
Zhao Lin awalnya ragu, mengingat mereka harus menjaga tenaga untuk kompetisi sesungguhnya, namun akhirnya setuju setelah mempertimbangkan bahwa uji coba singkat semacam ini justru bisa membantu mereka mengukur kemajuan dengan lebih objektif.
Chu Feng memilih untuk tidak ikut serta, mengingat wajahnya mungkin masih dikenali sebagai salah satu peserta Festival Penentuan di Kerajaan Chu risiko yang tidak ingin ia ambil mengingat Aula Kegelapan Malam mungkin masih mengawasi dari kejauhan. Sebagai gantinya, ia menyaksikan dari tepi arena kecil itu bersama Jiang Rou, mengamati Liu Bo dan Zhao Lin bertanding melawan beberapa kultivator pengembara lainnya.
Hasilnya jauh melampaui ekspektasi siapa pun yang menyaksikan. Liu Bo mengalahkan tiga lawan berturut-turut dengan kecepatan dan kekuatan yang membuat penonton lokal berdecak kagum, sementara Zhao Lin menunjukkan penguasaan teknik yang jauh lebih matang dan tenang dibandingkan sebelumnya.
"Kalian berdua benar-benar berubah," gumam Jiang Rou, menyaksikan dengan mata berbinar. "Aku tahu kita semua berkembang di dalam sana, tapi melihatnya langsung seperti ini... rasanya berbeda."
Chu Feng mengangguk setuju, meski di dalam hatinya, ia juga merasakan sesuatu yang lain kewaspadaan yang tidak pernah sepenuhnya hilang sejak malam serangan di sekte. Ia terus memindai sekelilingnya dengan Mata Dewa, memastikan tidak ada pola energi asing yang mencurigakan di antara kerumunan penonton.
Malam itu, setelah kembali ke penginapan, Chu Feng duduk sendirian di kamarnya, mencoba meditasi seperti biasa meski tanpa bimbingan suara yang biasa menemaninya. Ia masih merasakan kekosongan itu setiap kali mencoba berkomunikasi dengan bagian dalam dirinya, namun kini kekosongan itu terasa sedikit berbeda bukan lagi sekadar sunyi, melainkan seperti menunggu sesuatu yang belum sepenuhnya siap untuk kembali.
Ia mengaktifkan giok komunikasinya, berharap ada kabar baru dari Su Yue, namun hanya menemukan kesunyian yang sama seperti beberapa hari terakhir. Ia menghela napas, menyimpan kembali giok itu dengan hati-hati, mencoba menahan kekhawatiran yang terus tumbuh.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan semangat yang tidak berkurang meskipun rasa lelah mulai terasa di kaki mereka. Pada hari keempat, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka akhirnya melihat gerbang besar Kota Batu Merah menjulang di kejauhan kota yang jauh lebih besar dan ramai dibandingkan apa pun yang pernah Chu Feng lihat sejak meninggalkan Kerajaan Chu, dipenuhi bendera-bendera berbagai sekte yang berkibar di sepanjang jalan menuju gerbang utama.
"Kita sampai," gumam Liu Bo, matanya berbinar menatap keramaian kota yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Chu Feng menatap ke arah gerbang kota itu dengan perasaan campur aduk kegembiraan atas pencapaian yang telah mereka raih, kekhawatiran akan Su Yue yang belum memberi kabar, dan kewaspadaan konstan terhadap ancaman yang mungkin sudah menunggu di dalam keramaian kota yang begitu ramai, sempurna untuk menyembunyikan siapa pun yang berniat jahat.
Kita sudah sejauh ini, pikirnya, mengokohkan pegangan pada Tombak Awan Kelabu sebelum melangkah maju bersama keempat rekannya menuju gerbang kota yang akan menjadi panggung bagi babak berikutnya dalam perjalanan mereka. Sekarang saatnya membuktikan semuanya.