Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Wanita Lain
Penangkapan Raymond Wijaya di lobi utama Gedung Valora Group, seketika menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media bisnis nasional. Pria paruh baya yang puluhan tahun bermain di balik layar itu digiring oleh pihak kepolisian tanpa sanggup menutupi wajah pucatnya, dari kilatan kamera para wartawan.
Nama Elara Valora melambung tinggi, bukan lagi sebagai gadis beruntung yang mendadak kaya, melainkan sebagai pemilik sah yang dengan cerdas dan berani menumbangkan konspirasi korporasi besar.
Di dalam ruang kerja lantai paling atas. Para pemegang saham independen yang tadinya terpengaruh oleh Raymond, kini berbaris menghampiri Elara. Mereka bergantian memberikan penghormatan dan permohonan maaf atas keraguan mereka sebelumnya.
Elara menyambut mereka dengan senyuman ramah, namun tetap bermartabat. Di sampingnya, Arka berdiri tegak dengan tangan melingkar di pinggang istrinya, tanpa sedikit pun menyembunyikan binar kebanggaan yang memancar dari matanya.
Malam harinya, suasana penthouse kembali tenang. Usai membersihkan diri dan mengenakan piyama tidur bergambar kelinci favoritnya, Elara mengeringkan rambut di depan cermin meja rias. Ingatan tentang keberhasilannya membungkam Raymond tadi siang, masih membuat dadanya berdebar bahagia.
Namun, degupan jantungnya berubah drastis saat pantulan cermin menampilkan sosok Arka yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya mengenakan celana santai dan kaos polos hitam, melangkah pelan mendekati meja rias, dengan senyuman misterius yang sangat berbahaya.
"Mas Arka, ngapain natap Ara kayak gitu?" tanya Elara refleks memegang sisirnya erat-erat.
Arka beringsut duduk di tepi kasur, tepat di belakang Elara. Tangannya terulur meraih sisir dari genggaman istrinya, lalu menggantikannya dengan jemarinya, dan mulai menyisir rambut Elara secara lembut.
"Kamu ingat syarat yang saya minta di mobil kemarin malam, Sayang?" bisik Arka tepat di samping telinga Elara, suaranya berat dan penuh intonasi godaan.
Pipi Elara seketika merah padam. Keberanian Nyonya Valora yang tadi siang melumpuhkan musuh-musuh bisnis seketika sirna tanpa sisa.
"E-eh, syarat yang mana, ya? Ara amnesia mendadak, deh, kayaknya," alibinya polos, seraya mencoba berdiri dari kursi.
Namun sebelum Elara sempat melangkah, Arka dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di pinggang Elara, menarik lembut tubuh istrinya hingga jatuh terduduk di pangkuannya.
"Tidak ada alasan amnesia untuk Nyonya Valora," ledek Arka renyah, meletakkan dagunya di bahu Elara. Dikecupnya leher jenjang istrinya dengan mesra hingga Elara meremang geli. "Kamu sudah berjanji menuruti semua kemauan suamimu malam ini."
"Mas Arkaaa! Ara belum siap, ih! Ara... Ara mau minum air hangat dulu di dapur!" jerit Elara pelan, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus di dada bidang Arka.
Arka terkekeh puas. Tawa renyah yang dulunya sangat langka itu kini begitu mudah tercipta, setiap kali dia bersama istrinya. Arka baru saja hendak merebahkan Elara ke tempat tidur saat mendadak ponsel pribadinya di atas meja berdering nyaring.
Bukan nada dering pekerjaan biasa, melainkan nada panggilan khusus.
Arka melirik layar ponselnya. Seketika itu juga, tawa dan kehangatan di wajah Arka surut. Raut wajahnya berubah kaku, matanya membelalak menatap satu nama asing yang tertera di sana: Alyssa.
Elara yang menyadari perubahan sikap suaminya mengernyitkan dahi. "Mas Arka? Siapa yang telepon malam-malam begini?"
Arka tidak langsung menjawab. Dia menggeser tombol hijau, mengangkat telepon itu dengan tangan sedikit gemetar.
"Arka, tolong aku!" suara wanita di balik telepon terdengar parau, merintih penuh kesakitan sambil menangis. "Aku baru tiba di Jakarta. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Arka."
Tubuh Arka membeku. "Alyssa? Kamu, kamu sudah kembali?"
"Tolong aku, Arka. Aku di rumah sakit sekarang." Panggilan itu mendadak terputus.
Mata Arka menyipit penuh kecemasan. Tanpa sadar, Arka melepaskan pelukannya dari Elara, berdiri terburu-buru dan menyambar jasnya di atas kursi.
Elara tertegun di tepi kasur, menatap suaminya dengan perasaan campur aduk yang mendadak tidak enak. "Mas. Mas Arka mau ke mana? Alyssa itu... siapa?"
Arka menatap Elara dengan raut penuh rasa bersalah dan kebingungan yang membuncah.
"Elara, maafkan saya. Saya harus pergi sekarang," ujar Arka terburu-buru tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, lalu berbalik melangkah cepat keluar dari kamar. Meninggalkan Elara sendirian di tengah kegelapan malam dengan dada yang mendadak sesak.