Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 - Sarapan yang Telat Sekali
Dimas tidak lagi merasa khawatir.
Dengkuran yang keras itu sama sekali tidak terdengar seperti orang pingsan.
Justru mirip dengan kondisi kedua orang tuanya.
Mungkin mereka kelelahan sekali.
Cuaca hari ini masih panas, jadi tidur di lantai saja justru lebih sejuk!
Intan tak tahu harus tertawa atau menghela napas.
Ia masih ingin masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap!
Namun Bapak jelas-jelas tidak punya tenaga untuk menolongnya.
Dimas tidur bagaikan babi mati, sama sekali tidak bisa digerakkan.
Intan hanya bisa menggeser Dimas ke tengah ruangan seperti karung pasir.
Saat ia membalikkan badan, dilihatnya bekas lintasan tempat Dimas bergeser.
Noda itu bau keringat dan sedikit asam, cukup membuat hidungnya melengkung.
Ia membungkuk sambil terengah, memandang Dimas lalu memandang lantai yang kotor, dan mengernyit. Dengan rasa pasrah, ia mulai membersihkannya.
Sambil menggosok gigi dan mencuci muka, pikirannya masih penuh tanda tanya.
Dalam seisi rumah ini, hanya ia yang masih baik-baik saja.
Tiga orang lainnya benar-benar kehabisan tenaga.
Semalam mereka tidak makan apa-apa.
Mereka hanya minum segelas air yang diberinya sebelum tidur.
Saat teringat segelas air itu, Intan mendadak tersentak.
Ia teringat semalam ia terlalu bersemangat. Sepertinya ia meneteskan air mustika terlalu banyak ke dalam air itu.
Biasanya, satu tetes air mustika diencerkan ke dalam seember besar air.
Semalam ia meneteskan satu per satu.
Bukankah efeknya jadi terlalu kuat?
Intan bergumam bingung, benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Setelah menyiapkan sarapan, ia membuka pintu kamar orang tua untuk melihat bagaimana keadaan Bapak dan Ibu.
Keduanya sedang mendengkur tak kalah keras dari Dimas.
Melihat ketiganya tidur seperti orang mati, Intan merasa lega dan pasrah pada keadaan.
Ia menyusun barang-barangnya dengan cepat, lalu pergi ke tempat berjualan sendirian.
Semula hari ini ia masih bisa mendapat bantuan, namun kini ia harus menjadi tenaga utama.
Ibu baru terbangun dengan sedikit linglung.
Dilihatnya jam kecil di meja samping tempat tidur, lalu ia duduk terkejut.
Ia menepuk Bapak yang masih mendengkur di sebelahnya. "Pak, bangun cepat!"
"Sudah jam dua belas siang!"
Bapak membuka matanya yang mengantuk, lalu tersadar setelah mendengar perkataan Ibu.
Kedua orang tua itu buru-buru bangkit, berpakaian, membasuh muka, lalu berangkat bekerja.
Namun mereka langsung terkejut saat melihat Dimas yang masih tidur nyenyak di ruang tengah.
Sebelum mereka sempat mendekat, bau tak sedap itu sudah menusuk hidung mereka.
Ibu mengernyit jijik dan berseru, "Dimas! Bangun!"
"Biar tidur kembali di kamarmu sana!"
Dimas terbangun setelah dipanggil dua kali. Ibu langsung mundur satu langkah dengan rasa jijik. "Cepat mandi! Bau badanmu bisa membuat Ibu pingsan!"
Dimas baru menyadari bau tubuhnya sendiri. Ia berkali-kali muntah, namun isi perutnya sudah kosong sejak semalam.
Perutnya kosong, yang keluar hanya air asam.
Tak lama, terdengar suara air mengalir di kamar mandi.
Ibu dan Bapak melihat masih ada bubur hangat di dapur. Jelas sekali itu buatan Intan untuk mereka pagi tadi.
Keduanya makan bubur itu dengan terburu-buru. Ibu kemudian mendesak Bapak untuk mengantarnya ke Plaza Cendrawasih agar bisa membantu Intan.
Sepanjang perjalanan, Ibu masih sedikit khawatir bahwa tubuhnya akan lemas setelah mengalami kejadian semalam.
Tak disangka, begitu terbangun, ia justru merasa sangat segar.
Tubuh dan tulangnya terasa jauh lebih ringan dari biasanya, dan wajahnya pun terlihat lebih bersinar.
Keadaan Bapak hampir sama dengan Ibu.
Ia penuh tenaga, seperti pemuda berusia dua puluh tahun.
Ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai beberapa pejalan kaki menjerit dan mengumpat.
Keduanya tiba di Plaza Cendrawasih secepat mungkin. Ibu berseru, "Nak!"
Sebelum ucapannya selesai, Ibu melihat seorang pemuda asing berdiri di samping Intan.
Tubuhnya langsing, memakai pakaian olahraga, dan senyumnya cerah.
Wajah Ibu langsung berubah. Ia buru-buru menarik baju Bapak dengan cemas. "Pak… siapa anak laki-laki itu?"
Bapak memandangnya dengan tajam, seakan bisa membaca karakter pemuda itu dalam sekali lihat. Wajah seriusnya tiba-tiba melunak menjadi senyum.
"Itu teman sekelas Intan di SMA. Namanya Reza."
"Intan juga masuk SMA Nusantara 1 bersamanya."
"Dia sering datang kemari untuk membeli es campur. Dia sangat membantu kami."
"Sepertinya hari ini dia datang karena melihat Intan kesulitan sendirian, jadi dia membantu."
"Omong-omong, pemuda ini memang baik sekali. Sopan, menghargai orang tua, dan tidak menganggap rendah keluarga kami hanya karena kami berjualan."
"Benar-benar pemuda yang baik!"
"Setiap kali dia datang, Bapak selalu memberinya sedikit potongan."
Melihat Bapak memuji Reza panjang lebar, jelas sekali ia menyukai pemuda itu.
Ibu pun menahan diri untuk tidak bersikap kasar.
Ia belum terbiasa dengan tempat ini.
Karena anak itu teman sekelas Intan dan datang untuk membantu, wajar saja ia harus lebih ramah kepadanya.
Ibu turun dari motor dan berjalan langsung menuju Intan. "Nak, Ibu sudah datang!"
Intan hampir pingsan karena terkejut.
Begitu mendengar suara Ibu, ia langsung mengangkat kepala dengan heran. "Ibu sudah sehat?"
Ibu menggeleng. "Sehat sekali!"
"Aku tidur nyenyak sekali, malah sampai kebablasan."
"Hanya saja Ibu kesiangan, jadi membuatmu sibuk sendirian."
"Kamu tinggal bilang saja kalau butuh bantuan. Ibu pasti datang!"
Intan tersenyum lega. "Kalau begitu, Ibu bisa menggantikan Reza dulu untuk membantu membungkus pesanan."
"Sekarang kita belum sempat membungkus pesanan untuk dibawa pulang sama sekali."
"Oh, iya! Aku perkenalkan dulu."
"Ini teman baikku, namanya Reza. Dia sering datang kemari."
"Bapak juga sudah kenal dia, karena dia pelanggan setia kita."
Reza menyapa dengan sopan, "Halo, Tante!"
"Aku teman sekelasnya Intan. Tante bisa memanggilku Reza!"
Melihat sikap Reza yang begitu sopan, wajah Ibu langsung dipenuhi senyum penuh kasih sayang.
Ia bertanya dengan prihatin, "Kamu sudah membantu lama sekali hari ini. Belum makan siang, kan?"
"Tante suruh Paman membelikan apa pun yang kamu inginkan!"
Reza buru-buru menolak dengan sopan. "Terima kasih, Tante. Tidak usah."
"Aku baru saja makan bakso goreng dan minum segelas es campur."
"Intan bilang, makanan kecil itu sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah membantu."
"Kita belum lapar, jadi tidak perlu membeli apa-apa."
Melihat Reza begitu perhatian dan sopan, Ibu semakin menyukainya.
Ditambah lagi Reza mengajarinya cara membungkus pesanan dengan cepat.
Kurang dari satu jam, posisi Reza di hati Ibu sudah naik ke tingkat keponakan kesayangannya.
Semakin ramah dan ceria Ibu kepadanya, semakin cerah wajah pemuda itu.
Bapak mengambil alih pekerjaan Intan. Gerobak tetap ramai seperti biasa, dan tidak ada yang pergi sebelum jam makan siang selesai.
Ibu sudah tidak perlu disuruh-suruh lagi. Ia membungkus pesanan tanpa bantuan, dan dagangan pun tidak pernah kosong.
Daganglah yang paling penting. Kalau dagangan laku, uang akan datang dengan sendirinya, kata Bapak.
Bapak menghitung uang receh di laci satu per satu, lalu menyimpannya kembali dengan rapi.
Intan menunggu sampai Ibu cukup mahir membungkus pesanan, lalu mengajarinya cara menggoreng bakso, cara mengatur api, dan berbagai hal lain.
Ibu belajar dengan cepat. Belajar berjualan ternyata bukan hal yang sulit baginya. Dulu ia hanya terbiasa menyikat tembok dan mengecat rumah orang, tidak pernah menyentuh urusan jualan.
Sekarang tangannya bergerak mengaduk adonan, menggoreng bakso, dan membungkus pesanan dengan rapi. Ia tidak pernah berhenti bertanya sampai hampir semua yang perlu diketahui tentang jualan itu dikuasainya.
Ibu bertanya mengapa harga bakso di satu tempat berbeda dengan di tempat lain. Intan menjelaskan bahwa yang menentukan bukan sekadar bahannya, tetapi juga modal yang harus dikeluarkan untuk menyewa tempat.
Ibu juga bertanya haruskah pesanan yang diterima di luar jam makan dilayani dengan cara yang sama.
Intan menjelaskan bahwa sisanya bisa diantar pada jam lain, selama tidak terlambat dari yang dijanjikan.
Ada satu hal yang tidak boleh lupa, kata Intan. Kalau uang kembalian kurang, selalu minta pelanggan menunggu dulu. Uang receh di laci jauh lebih baik daripada salah hitung.
Mereka mengobrol lebih dari satu jam, sampai mulut mereka kering.
Menjelang tengah hari, jumlah pelanggan mulai berkurang.
Ibu akhirnya bisa membungkus pesanan tanpa bantuan Intan. Ia menumpuk plastik di keranjang dan menghitung uang receh yang terkumpul.
Bapak tampak puas. Gerobak yang ia rintikkan sejak dulu hari ini benar-benar ramai.
Reza menawarkan diri membantu, tetapi Intan menolak dengan halus. Hari itu ia memang sedang butuh istirahat.
Api dan gorengan pun sudah siap.
Setelah itu, Bapak dan Ibu memaksa Intan dan Reza untuk beristirahat.
Mereka tidak mengizinkan kedua remaja itu bekerja lagi.
Setelah bekerja keras seharian, keduanya tentu saja tidak menolak kebaikan itu.
Masing-masing memegang segelas es campur dingin dan duduk bersandar dengan nyaman di bawah pohon beringin besar.
Mereka duduk malas-malasan, memandang jalan pejalan kaki yang ramai berlalu-lalang dengan tatapan kosong.
Intan menoleh ke arah Reza dan bertanya karena penasaran, "Aku sudah mengenalmu lebih dari sebulan."
"Aku hanya tahu namamu, dan tahu kamu akan masuk SMA Nusantara 1, tapi aku tidak tahu apa-apa lagi tentangmu."
"Apakah kita ini dua orang asing yang paling saling mengenal?"
Reza hampir tersedak es campurnya. Ia terbatuk-batuk hebat. "Dua orang asing yang paling saling mengenal? Apa maksudnya itu?"
"Kita ini teman sekelas, tahu!"
"Kamu belum cerita apa pun tentang dirimu, jadi wajar kalau aku bertanya!"
"Rumahku ada di Perumahan Cendrawasih, tepat di belakang Plaza Cendrawasih."
"Orang tuaku punya toko pakaian di sini, di jalan pejalan kaki itu."
"Makanya aku sering datang ke sini, Nak."
semoga kali ini bisa bener2 kamu genggam ya itu takdir, supaya enggk kayak 15 di masa depan itu...