Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Baik
**
Tak terasa, sudah satu bulan Reyhan bekerja, perlahan dia juga sudah mulai mengerti teknis pekerjaannya. Dua Minggu awal, dia masih dibimbing oleh seniornya, setelahnya dia langsung dilepas. Sekarang, dia sudah bisa bekerja sendiri, sudah hampir hafal semua jenis minuman dan dia juga sudah mencicipi semua jenis minuman walau hanya sedikit-sedikit supaya dia bisa meraciknya jika ada pelanggan yang meminta.
Ayana masih khawatir, jelas karena pekerjaannya memang penuh konteks negatifnya. Reyhan paham akan ke khawatiran Ayana, karena jika dia salah jalan sedikit, dia memang sudah langsung terjerumus karena jalan ke neraka di sini sedikit lebih dekat dibandingkan dengan tempat lain di luaran sana.
Ayana juga masih khawatir karena Reyhan terpaksa harus meminum banyak minuman beralkohol, tapi itu juga dia lakukan saat awal-awal bekerja untuk mengenal semua jenis minuman agar lebih mudah dalam peracikannya, tapi sekarang dia sudah tidak perlu meminum lagi saat meraciknya. Reyhan selalu meyakinkan Ayana untuk percaya padanya, semua akan baik-baik saja dan dia tidak akan pernah terjerumus.
"Beb, kaya biasa, yah?"
Duduk seorang wanita bergaun merah sexy yang sudah duduk di depan meja bar.
"Ok. Masih datang sendiri?" tanya Reyhan sambil mempersiapkan minumannya yang dipesan.
"Kan, aku maunya berdua sama kamu. Masih gak mau, nih? Aku kasih nonstop tuh!" Wanita itu mengedipkan matanya genit, sengaja juga menonjolkan area dadanya.
Reyhan tergelak. "Wah, bahaya tuh! Silahkan, Tuan Putri diminum."
"Bahaya karena sekali coba karena akan buat kamu ketagihan dan mau masuk terus, Beb. Ayo?"
Wanita itu mencoba meraih tangan Reyhan, tapi dengan gerakan cantik dia menghindar sehingga pelanggan wanita itu tidak merasa tersinggung.
"Tuh, cowok sebelah sana udah beberapa malam masih lihatin kamu." Reyhan menunjuk dengan dagunya ke arah lelaki yang memang sepertinya menyukai wanita pelanggannya ini.
Wanita itu menggeleng. "Gak mau. Mau sama kamu."
"Doi cakep tuh, badannya gede terus dompetnya isinya juga pasti gede." Reyhan masih terus mempromosikan lelaki itu supaya dia aman.
"Kamu yakin gak mau coba, pasti ketagihan." Wanita itu terus menggodanya, seolah tak peduli segala jenis promosi Reyhan.
Reyhan awalnya memang agak takut saat pertama kali banyak wanita yang menggodanya, tapi sekarang dia sudah terbiasa dan bisa mengajaknya bercanda serta bisa melewatinya dengan mudah.
"Coba dulu sama yang itu, kayaknya tipe kamu, punyaku kayanya gak segede punya dia. Pastinya, kamu bakal lebih puas sama dia."
Wanita itu cemberut, kemudian meminum cepat minumannya. "Ya udah deh, aku mau coba barang dia. Tapi besok-besok kamu harus mau yah, barangnya yang gede itu dicobain aku."
Reyhan tergelak. "Buset!"
Wanita itu kembali mengedipkan matanya, kemudian berdiri dan berjalan menuju lelaki yang ditunjuk Reyhan tadi.
Tak lama, Reyhan sudah melihat pasangan itu sudah saling bercumbu.
Reyhan menghela napas lega, mengusap dadanya. "Godaannya yang Tuhan. Untung, Ayana lebih cantik dan menggoda terus udah halal lagi. Kali ini gue aman lagi."
Rutinitas setiap hari pekerjaan dia memang seperti itu. Tak hanya para pelanggan, bahkan para karyawan lain juga banyak yang menggodanya, padahal Reyhan sudah mengatakan sudah menikah. Bahkan, Ayana sampai membeli cincin pasangan di online, untuk menunjukan kepada semua orang jika dirinya sudah menikah saat mendengar semua cerita Reyhan. Namanya juga tempat seperti ini, tidak pedulikan status atau hubungan karena yang penting kepuasan sesaat bisa dilakukan dengan siapapun dan dimanapun.
Soal cincin, Reyhan merasa bersalah karena belum bisa memberikan yang asli. Ayana seolah menyindirnya dengan membeli yang palsu.
Beberapa hari yang lalu dia sudah gajian, ditambah tips dari pelanggan membuatnya mendapatkan gaji dua kali lipat lebih dari pekerjaannya di tempat sebelumnya. Besok, dia dan Ayana juga berencana pindah ke kontrakan lebih besar yang terdapat beberapa ruangan. Tidak mungkin, mereka selamanya hidup dalam kosan satu petak itu. Sekarang, gaji dia sudah cukup untuk mereka pindah ke tempat yang lebih baik.
Suatu hari nanti, tidak mungkin juga mereka harus selalu tinggal di kontrakan. Mereka juga harus mempunyai rumah pribadi. Entah kapan, tapi semoga jalannya dipermudah.
Minggu ini, Ayana juga sedang disibukkan dengan pendaftaran kuliah jalur mandiri di salah satu kampus swasta. Reyhan juga sudah menyuruhnya untuk berhenti bekerja, tapi Ayana hanya pindah menjadi pekerja part time dari full time. Alasannya, karena dia sudah menyukai pekerjaan itu dan juga mengambil kelas karyawan yang hanya dua kali seminggu. Wanitanya itu juga mengajak Reyhan untuk ikut mendaftar juga, tapi kali ini bukan waktunya karena pengeluaran mereka belum stabil. Mungkin suatu hari nanti, Reyhan juga akan berkuliah, mimpi kecilnya semoga terwujud juga.
Kali ini giliran Ayana dulu, mewujudkan mimpi gadisnya menjadi seorang guru bahasa Indonesia. Lain kali baru mimpinya.
Reyhan sudah bilang jika sekarang Ayana sudah tak perlu khawatir lagi soal uang kuliah, dia mampu dan biar uang kerja Ayana tetap untuk kebutuhan pribadinya. Dia juga selalu menyerahkan semua gajinya ke Ayana, tapi wanita memang keras kepala dengan semua keinginannya.
"Mau ke kosan aku, gak?"
Seorang wanita mencium pipinya tiba-tiba. Reyhan belum sempat menghindar, keburu wanita itu menjauh sebelum Reyhan akan menangkis. "Eh buset, jangan cium-cium udah wudhu ini, batal deh."
Sebisa mungkin, Reyhan menanggapinya dengan santai, padahal ingin dia mengumpat kasar. Selama tidak berlebihan demi keamanan bekerja, dia masih bisa menahan.
"Emang cium pipi bakal batal wudhu?" tanya Mira teman kerja Reyhan polos. "Lah, kamu ngapain wudhu malam-malam?"
Ingin rasanya, Reyhan menggeplak kepala wanita itu. "Mau shalat tahajjud."
Tiba-tiba sebuah tangan merangkulnya. "Luar biasa memang ustadz kita satu ini. Abis pulang kerja club langsung tahajjud dan mungkin lanjut pengajian sekalian."
Reyhan menangkis Sam rekan kerjanya. "Sialan! Iya, sekalian gue ruqiah lo beserta cacing yang udah penuh najis itu."
"Enak aja cacing, naga ini. Doi udah berjasa mampir di banyak sangkar wanita," ujar Sam bangga atas sesuatu hal yang tak masuk akal bagi Reyhan.
Reyhan menggeleng prihatin. "Taubat lo, taubat!"
"Pak ustadz memangnya sudah puas dengan satu lobang, gak mau coba lobang lain?" tanya Sam dengan mulut kurang ajarnya, dia Dion versi lebih aura sesat.
"Iya, gak mau coba lobang aku?" tanya Dina karyawan lain menggoda dia membuat Reyhan hanya menggeleng dan tergelak.
"Aku aja lebih rapet," sahut Maya rekan kerjanya yang lain.
"Rey, aku lebih mantap," sahut Regina rekannya yang lain.
"Buset, kalian promosi apaan?" Reyhan ngakak saja melihat kelakuan di luar nalar mereka.
Walau awal-awal kerja syok, tapi sekarang dia sudah dititik biasa dan bisa menanggapinya dengan santai.
"Girl, daripada dengan pas ustadz ini, mending sama gue karena naga gue lebih gede daripada dia. Gue pernah lihat pas kencing bareng," seru Sam dengan sombongnya.
"Iuhh ... males ...."
"Kamu lemah, waktu itu aja langsung keluar."
"Sekarang gue udah kuat, ayo buktikan dengan kita semua main rame-rame!"
"Gak mau!"
"Udah nyobain, gak gede!"
Reyhan hanya menggeleng mendengar obrolan sesat semua rekan kerjanya. Dia mempercepat beres-beresnya supaya cepat bisa pulang, meninggalkan rekan-rekan jalur sesatnya di ruang karyawan. Terserah mereka mau berbuat apa, bukan urusan Reyhan. Percuma dia mengingatkan mereka, tidak akan mempan.
Jam kerja dia dimulai dari setengah 8 malam sampai jam 4 subuh kadang lebih atau bisa kurang tergantung ramainya pelanggan. Awalnya, Reyhan belum terbiasa dengan jam kerjanya yang membuat jam tidurnya berantakan. Tapi sekarang, dia sudah terbiasa menjadikan setengah siang hari menjadi jam tidurnya dan malam hari untuk terjaga.
"Gue cabut duluan!"
Tanpa mendengar sahutan rekan-rekannya yang lain, Reyhan beranjak keluar.
"Ah ... jadi kangen Ayana ...."
*
Saat sampai di kosan, waktu sudah menunjukan pukul setengah lima dan wanitanya sudah jelas tertidur lelap.
Reyhan tersenyum, saat melihat beberapa lauk makanan terhidang dengan nasi yang hangat. Setiap berangkat kerja juga, Ayana kadang walaupun sudah makan selalu membekalinya cemilan, memberikan dua botol minuman, satunya air putih dan satunya lagi jus. Katanya, supaya Reyhan tidak makan dan minum di tempat kerja yang berbahaya.
Setelah bersih-bersih, Reyhan makan dulu. Walaupun lauknya sudah dingin dan selalu ada notes dari Ayana untuk dihangatkan, tapi dia selalu langsung makan saja. Tak lama setelah makan, terdengar adzan subuh, dia beranjak shalat dulu sebelum tidur.
Berkat Ayana, ibadah dia semakin rajin padahal sebelum kenal Ayana dia beribadah jika sedang ingat saja. Wanita itu tidak selalu mengajak dan menegurnya, tapi memberikan contoh sehingga lama-lama melihat Ayana yang rajin beribadah, membuatnya ikut terpengaruh juga.
"Love you," bisik Reyhan di telinga Ayana, setelahnya langsung memeluk wanita erat ikut memejamkan matanya.
"Rey ...." panggil Ayana, otomatis membuat Reyhan yang sudah terpejam kembali membuka mata.
"Ayo tidur lagi, kamu lagi gak shalat juga. Nanti bangun jam 8, buat kita siap-siap pindah. Ayo tidur lagi!"
Cup
Reyhan mencium kening Ayana, kemudian semakin memeluknya erat dan dibalas pelukan erat oleh wanita itu.
Reyhan berharap, semoga semuanya selalu stabil seperti ini. Semoga kehidupan mereka lebih baik dan semoga dia selalu bisa membahagiakan wanitanya.
"I love you, Ay."
"I love you, Rey."
##