Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 35
Malam terus merambat makin larut, membungkus kamar utama penthouse dalam keheningan yang tenang dan hangat. Pendar lampu tidur dim berwarna kuning keemasan memantulkan bayangan dua insan yang kini melebur dalam ikatan yang paling suci.
Khadafy mengikis sisa jarak di antara mereka, merebahkan tubuh tegapnya perlahan di samping Zheana. Lengan kekuatannya melingkar lembut di bawah kepala Zheana, menjadikannya bantal paling nyaman, sementara tangan kirinya merayap halus mengelus pinggang ramping sang istri yang terbalut satin maroon.
Zheana menyandarkan dahinya di dada bidang Khadafy yang bertelanjang dada sebatas pinggang. Hembusan napas hangat Khadafy teratur menyapu puncak kepalanya, dan aroma harum tubuh suaminya menyelimuti seluruh indra penciuman Zheana.
"Mas..." bisik Zheana lirih di kegelapan yang hangat, jemari mungilnya mengelus pelan garis rahang tegas Khadafy yang kini tampak jauh lebih santai.
"Iya, Humaira?" sahut Khadafy halus. Suara baritonnya terdengar amat dalam, serak, dan sarat akan kepuasan serta keharuan yang luar biasa.
Khadafy menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan lembut yang cukup lama di puncak kepala Zheana, meresapi aroma harum sampo melati yang mengepul dari rambut hitam pekat istrinya.
Zheana mendongak pelan, menatap wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat. Manik mata mereka kembali saling bertatapan, kini tanpa ada lagi rasa canggung, takut, atau ragu yang tersisa.
"Terima kasih ya, Mas..." tutur Zheana dengan mata berkaca-kaca—kali ini air mata kebahagiaan murni.
"Terima kasih karena Mas Khadafy sudah begitu sabar, lembut, dan menghargai Zhea..."
Khadafy tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan yang amat langka. Ibu jarinya terangkat mengelus lembut pipi Zheana yang masih memerah hangat, menyapu helai rambut lurus yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Mas yang seharusnya berterima kasih padamu, Zhea," bisik Khadafy tulus, menatap lurus ke dalam iris mata Zheana.
"Terima kasih sudah menjaga dirimu dengan sangat baik hanya untuk Mas. Terima kasih sudah menerima Mas dengan segala kekurangan dan masa lalu yang sempat membuatmu ragu."
Zheana meremas pelan bahu tegap Khadafy, menyembunyikan wajah mewahnya yang merona di leher suaminya.
"Zhea... Zhea beneran nggak mimpi kan, Mas? Zhea rasanya tenang banget di sini..."
Khadafy terkekeh halus, getaran dada tegapnya menyalurkan rasa hangat ke tubuh Zheana. Pria itu makin mempererat dekapan tangannya di punggung mulus Zheana, menarik tubuh mungil itu merapat sempurna tanpa ada celah di antara mereka.
"Kamu tidak sedang bermimpi, Sayang," panggil Khadafy lembut dekat di telinga Zheana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah.
"Ini nyata. Mas ada di sini, dan Mas akan selalu ada di sini untuk memelukmu setiap malam."
Khadafy lalu memiringkan posisi tubuhnya sedikit, membiarkan jemarinya mengelus lembut bahu mulus Zheana yang terbuka, berlanjut turun menyusuri lengan hingga menautkan jemari mereka erat-erat di atas kasur. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan-kecupan halus yang telaten di dahi Zheana, kedua pipinya, ujung hidungnya, hingga berlabuh lama di bibir mungil istrinya.
Zheana membalas kecupan itu dengan kelembutan yang pasrah, membiarkan dirinya tenggelam penuh dalam lautan kasih sayang pria yang kini telah menjadi pelindung halalnya.
"Tidur, ya?" bisik Khadafy seraya mengecup singkat sudut bibir Zheana, lalu mengecup keningnya sekali lagi.
"Besok Mas liburkan kamu dari kantor. Kamu istirahat seharian di rumah."
"Tapi Mas... Zhea kan ada berkas divisi marketing yang harus..."
"Tidak ada bantahan untuk perintah suamimu malam ini, Nyonya Khadafy," potong Khadafy dengan nada tegas yang menggoda, menyunggingkan senyum menawan yang melumpuhkan seluruh argumen Zheana.
Zheana merengut geli, lalu tersenyum manis seraya makin merapatkan tubuhnya dalam dekapan tegap Khadafy.
"Iya, Mas Khadafy... Zhea nurut."
Khadafy menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal hingga sebatas bahu, melingkarkan lengannya protektif di atas perut Zheana, dan membiarkan istrinya tertidur lelap di atas dada bidangnya sepanjang malam.
Napas Zheana perlahan melambat dan teratur, menandakan ia telah tertidur lelap dalam dekapan hangat Khadafy. Kelelahan emosional dan fisik sepanjang hari akhirnya menenggelamkan gadis itu dalam tidur yang begitu nyenyak. Khadafy mengelus rambut lurus istrinya sejenak, mengecup keningnya dengan penuh kelembutan, lalu memperbaiki selimut tebal hingga menutup bahu mulus Zheana.
Saat Khadafy hendak mematikan lampu tidur di samping ranjang, pendar cahaya terang memancar mendadak dari layar ponsel Zheana yang tergeletak di atas nakas.
Bip... bip... bip...
Getaran ponsel yang beruntun menyuarakan rentetan notifikasi pesan masuk. Khadafy dengan sigap meraih benda pipih itu sebelum suaranya membangunkan Zheana. Pria itu berniat menonaktifkan suara ponsel, namun matanya yang tajam menangkap nama pengirim yang terpampang jelas di layar terkunci.
Pesan Masuk - Ibu Irma (3 Pesan Baru)
Pesan Masuk - Nomor Tak Dikenal (4 Pesan Baru)
Alis Khadafy menyatu. Dengan menggeser layar dan menggunakan kode keamanan yang sempat Zheana berikan saat di supermarket, Khadafy membuka rentetan pesan tersebut.
Pesan pertama berasal dari Ibu Irma:
'Zheana! Jangan pikir setelah kamu serahkan diri kamu ke Khadafy, kamu bisa menguasai dia sepenuhnya! Niken sudah susun jadwal untuk pulang tahun depan! Awas kalau kamu coba-coba goda Khadafy atau bertindak melampaui batas sebagai istri pengganti selama sisa waktu ini. Kamu cuma penambal malu!'
Sorot mata Khadafy seketika meredup pekat, memancarkan aura dingin yang membekukan udara di dalam kamar. Rahang tegasnya mengeras hingga urat lehernya menegang. Tanpa jeda, jemari Khadafy menggeser ke obrolan dari Nomor Tak Dikenal, yang tak lain adalah Niken:
'Zhea, ini Mbak Niken. Mbak tahu kamu sengaja manfaatin situasi waktu Mbak pergi. Tapi Mbak sudah bicara sama Mama, Mbak pasti balik tahun depan setelah semua urusan Mbak selesai. Khadafy itu cintanya cuma sama Mbak, bukan sama kamu. Jadi Mbak minta kamu jaga batasan kamu sebagai istri pengganti sampai Mbak pulang nanti. Jangan pernah berbuat lebih atau bertindak seolah kamu istri sebenarnya!'
Sebuah kekehan dingin, tanpa sedikit pun rasa humor meloloskan diri dari bibir Khadafy. Kemarahan yang teramat sangat membakar dadanya melihat betapa beraninya dua wanita itu mengintimidasi dan merendahkan Zheana, seolah istrinya hanyalah barang pajangan sementara yang bisa mereka atur sesuka hati.
Khadafy melirik Zheana yang masih terlelap polos di sampingnya. Rasa protektif sang suami mendadak memuncak. Tanpa ragu sedikit pun, Khadafy mengetikkan balasan langsung melalui ponsel Zheana untuk dikirimkan kepada Niken:
"Ini Khadafy. Dengar baik-baik, Niken. Mau kamu pulang tahun depan, sepuluh tahun lagi, atau tidak sama sekali, hal itu tidak akan pernah mengubah apa pun. Zheana adalah istri sahku yang satu-satunya, wanita yang kuhormati dan kucintai sepenuhnya secara hukum dan agama. Tidak ada status 'istri pengganti' di rumah ini, dan tidak ada tempat untukmu di hidupku lagi. Jika kamu atau Ibu Irma berani mengancam atau meneror istriku satu kali lagi, aku tidak akan ragu membawa kasus intimidasi ini ke jalur hukum dan memastikan seluruh aset keluarga kalian dicabut tanpa sisa. Jangan pernah hubungi istriku lagi."
Send.
Tanpa menunggu balasan, Khadafy langsung memblokir nomor Niken dan nomor Ibu Irma dari ponsel Zheana, lalu menyimpan ponsel itu kembali ke atas nakas dalam mode Silent.
Khadafy memutar tubuhnya, merengkuh kembali tubuh mungil Zheana ke dalam dekapannya dengan amat erat namun lembut. Pria itu mengecup pelan pelipis istrinya yang sedang bermimpi indah.
"Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi, Humaira," bisik Khadafy mantap di kegelapan malam.
"Mas yang akan berdiri paling depan untuk melindungimu."