Indonesia
NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Apa Ini Takdirku?"—Ujian Terbesar Sang Ratu Rusuh

Suasana di pendopo Rumah Joglo Setiawan mendadak berubah hening setelah pernyataan tegas dan berani dilontarkan oleh Surya Adiwinata. Di hadapan sang ibunda, Ibu Hartini, dan gadis pilihan keluarga bernama Dewi, Surya berdiri tegak menggenggam erat tangan Anna—menolak perjodohan kolot itu secara mutlak.

Namun, alih-alih merasa senang atau melompat kegirangan karena dibela separuh mati oleh sang kekasih, Anna justru merasakan dadanya sesak luar biasa.

Di dalam hatinya yang paling dalam, kecemasan khas perempuan mandiri yang terbiasa hidup bebas mendadak menyeruak. Ia menatap punggung tegap Surya dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar pelan saat sebuah pertanyaan retoris melintas di benaknya, yang kemudian terucap lirih di tengah keheningan:

"Apa ini takdirku? Laki-laki yang kuubah dari nol, dari penampilan jadul sampai jadi laki-laki paling tampan dan karismatik... harus berakhir di tengah amukan restu keluarga?"

Ibu Hartini menatap putranya dengan napas memburu, wajahnya memerah menahan amarah yang teramat sangat. "Surya! Kamu sudah tidak waras! Kamu berani menentang keputusan ibumu sendiri demi perempuan asing yang kerjaannya cuma bikin keonaran dan merusak tradisi keluarga kita?!" bentak Ibu Hartini dengan suara bergetar penuh tekanan emosional.

Dewi, gadis muda yang berdiri di samping sang ibu, menunduk dalam-dalam sambil memainkan ujung bajunya. Dengan suara pelan dan penuh keanggunan, Dewi memberanikan diri menyela, "Tante... sudahlah. Jangan dipaksa. Kalau Mas Surya memang sudah memilih jalannya sendiri dan tidak menginginkan perjodohan ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Surya menatap ibunya dengan tatapan penuh permohonan maaf, namun genggaman tangannya di jemari Anna semakin dieratkan. "Ibu, maafkan saya. Selama ini saya selalu menuruti segala aturan, struktur, dan rencana hidup yang Ibu susun untuk saya. Tapi untuk urusan pendamping hidup... biarkan saya menyusun variabel kebahagiaan saya sendiri bersama Anna."

Mendengar kalimat itu, ketahanan mental Anna akhirnya runtuh. Ia menarik pelan tangannya dari genggaman Surya, membuat sang dosen menoleh kaget. Anna menggelengkan kepalanya perlahan, air mata penat akhirnya menetes di pipinya.

"Cukup, Surya..." bisik Anna parau, suaranya terdengar rapuh namun tegas di antara riuhnya ketegangan. Ia menatap Ibu Hartini sesaat, lalu beralih menatap Surya lekat-lekat. "Aku bukan perempuan yang datang untuk merusak keluargamu, dan aku juga bukan tipe perempuan yang mau menjadi duri dalam daging di antara hubungan ibu dan anak."

Surya membelalakkan matanya, panik. "Anna... apa maksudmu? Kamu tidak boleh menyerah begitu saja!"

Anna tersenyum getir, menghapus air matanya kasar. "Aku lelah, Mas. Hidupku selama ini tenang, rusuh dengan caraku sendiri, bebas tanpa harus dihakimi sebagai perusak masa depan orang lain. Kalau kehadiranku di sini justru membuatmu harus memutus tali silaturahmi dengan ibumu sendiri... maka mungkin benar kata takdir: kita berada di dunia yang terlalu berbeda."

Sebelum Surya sempat mencegah atau merespons, Anna langsung berbalik badan, melangkah cepat meninggalkan pendopo, mengambil motor matic-nya di halaman, dan langsung melaju kencang meninggalkan Rumah Joglo Setiawan tanpa menoleh ke belakang lagi.

"Anna!" panggil Surya setengah berteriak, hendak mengejar, namun langkahnya langsung dicegat oleh ibunya sendiri.

"Biarkan dia pergi, Surya!" ancam Ibu Hartini tajam. "Jika kamu mengejar perempuan itu hari ini, anggap saja kamu bukan lagi anak saya!"

Suasana malam di Rumah Joglo Setiawan terasa begitu dingin dan kelam. Tidak ada gelak tawa, tidak ada candaan usil khas Anna yang biasanya menghiasi teras belakang.

Di balai-balai bambu, Adnan duduk termenung sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin. Martha berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas, memegang ponselnya yang sedari tadi tidak bisa dihubungi saat mencoba menelepon Anna.

"Duh, bagaimana ini, Adnan?" gerutu Martha panik, menghentikan langkahnya. "Anna pasti terpukul banget. Dia itu kelihatan aja aslinya tangguh dan urakan, tapi kalau menyangkut perasaan dan penolakan keluarga... mentalnya rapuh banget di dalam."

Adnan menghela napas panjang, meletakkan cangkirnya. Ia menoleh ke arah sudut pendopo, tempat Surya duduk seorang diri di atas kursi kayu dengan kepala tertunduk lesu. Sejak sore tadi, setelah ibunya memutuskan pulang dengan amarah yang meluap, Surya tidak beranjak dari tempat itu—mematung bagaikan patung batu tanpa nyawa.

Martha mendekati Surya pelan, lalu berkata dengan nada tegas namun penuh empati, "Surya. Kalau kamu hanya diam meratapi nasib di sini seperti batu candi, perempuan yang kamu ubah jadi pria paling tampan itu bakal selamanya pergi meninggalkanmu."

Surya mendongakkan kepalanya. Mata pria kaku itu tampak merah dan basah oleh air mata yang selama ini ia tahan. "Martha... saya hanya ingin jujur pada perasaan saya. Tapi saya tidak tahu cara memperbaiki kekacauan ini tanpa melukai ibu saya."

Adnan bangkit dari duduknya, berjalan mendekat, lalu menepuk keras bahu sahabat karibnya itu hingga Surya berdiri.

"Dengar, Sur," ucap Adnan dengan suara berat namun penuh wibawa seorang kepala keluarga. "Dalam hidup, tidak semua hal bisa dihitung dengan rumus matematika atau struktur bangunan yang rapi. Terkadang, kamu harus berani merobohkan fondasi lama yang salah untuk membangun rumah tangga yang kokoh di atas kebenaran hatimu sendiri. Kalau kamu benar-benar mencintai Anna, kejar dia! Buktikan kalau kamu bukan lagi anak penurut yang cuma bisa diatur, tapi pria sejati yang siap berjuang!"

Kata-kata dari Adnan itu bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung menyadarkan Surya dari keputusasaan.

Surya berdiri tegak. Ketegasan seorang arsitek yang biasa merancang bangunan megah kini terpancar kembali di matanya. Ia merapikan jaket bomber-nya, mengangguk mantap kepada Adnan dan Martha. "Terima kasih, Adnan, Martha. Saya tahu apa yang harus saya lakukan."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Surya langsung berlari menuju mobilnya, menyalakan mesin, dan melaju membelah malam Kota Solo menuju tempat persembunyian terakhir Anna—sebuah studio seni kecil milik sahabat Anna di pusat kota.

Badai terbesar dalam hubungan mereka baru saja dimulai, dan lembaran babak penentuan nasib sang ratu rusuh serta dosen kaku kini berada di ambang garis akhir!

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!