"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
Deru baling-baling helikopter Velmore Group membelah udara pesisir utara dengan suara bergemuruh raksasa yang memekakkan telinga. Angin kencang bertiup melingkar, menyapu debu dan semak ilalang liar di sekitar kompleks gudang kayu tua yang terbengkalai. Dari langit, dua helikopter melayang rendah, menyorotkan lampu tembak berkekuatan tinggi tepat ke arah atap seng dan pintu besi gudang yang berkarat.
Di jalur darat, sirine mobil kepolisian bergaung saling bersautan dari segala arah. Puluhan kendaraan taktis barikade dan unit bersenjata lengkap pimpinan Arelio bersama jajaran Kepolisian telah mengepung rapat seluruh perimeter kawasan industri tua tersebut. Tidak ada celah sedikit pun untuk melarikan diri, baik melalui jalur darat maupun dermaga belakang pelabuhan.
Pintu helikopter terbuka lebar tatkala helikopter mendarat darurat di tanah gersang sepuluh meter dari pintu utama gudang. Riko dengan sigap menurunkan papan landasan hidrolik, lalu membantu meluncurkan kursi roda Dante turun ke tanah.
Dante mengenakan rompi pelindung di balik kemeja hitamnya. Rahangnya merapat ketat, sepasang mata elangnya memancarkan Kilat amarah yang sangat mematikan. Pria itu memegang sebuah senjata api di tangan kirinya dengan genggaman yang amat kokoh.
"Dante! Kau tidak boleh mendekat ke pintu masuk!" seru Arelio yang berlari menghampiri dengan mengenakan rompi antipeluru dan helm. "Tim penjinak bahan peledak mengonfirmasi ada kabel sinyal pemicu peledak rakitan yang terpasang di sepanjang pintu besi utama! Tempat ini sudah dipasangi bom oleh anak buah David!"
"Saya tidak peduli dengan bom rakitan itu, Arelio!" bentak Dante dengan suara bass-nya yang menggelegar, menatap lurus ke arah pintu besi gudang. "Istri saya ada di dalam sana! Setiap detik yang kita buang adalah ancaman bagi nyawa Levara!"
"Tapi memasuki area tanpa menjinakkan bom adalah tindakan bunuh diri!" desak Arelio panik, mencoba menahan dorongan kursi roda Dante. "Biarkan tim menerobos lewat atap belakang lebih dulu!"
"Riko!" panggil Dante tanpa mempedulikan peringatan Arelio.
"Siap, Tuan Dante!" sahut Riko tegap, membawa perangkat pemancar frekuensi peretas berkekuatan tinggi di punggungnya.
"Gunakan pemancar sinyal tingkat empat untuk melumpuhkan seluruh detonator nirkabel di radius lima puluh meter sekarang!" perintah Dante tegas.
"Siap, Tuan! Jammer aktif dalam hitungan tiga... dua ... satu! Sinyal detonator terputus total!" teriak Riko seraya menekan tombol eksekusi di tabletnya.
Dante mengangkat tangan kirinya, memberikan komando mutlak kepada seluruh pasukan taktis pribadi Velmore yang berbaris di belakangnya. "Dobrak pintu utama sekarang!"
BRAK!!
Dua ledakan granat penghancur engsel meletus di pintu besi gudang. Pintu raksasa berbahan besi tebal itu roboh terhempas ke dalam, menimbulkan kepulan asap hitam dan debu tebal yang melayang di udara.
"Serbu! Jangan biarkan ada yang lolos!" teriak Arelio memimpin pasukan kepolisian masuk menembus asap.
Suara kontak tembak meletus seketika di dalam gudang utama. Para anak buah David Veyron yang panik mencoba melepaskan tembakan secara asal dari balik tumpukan kayu lapuk dan peti kemas tua. Namun, keunggulan jumlah dan posisi tempur pasukan gabungan melumpuhkan mereka satu per satu dalam hitungan detik.
DOR! DORR!
"Menyerah dan jatuhkan senjata kalian!" teriak barikade polisi seraya merobohkan tiga anak buah penculik di area depan.
Di tengah kepulan asap dan suara dentuman tembakan yang memekakkan telinga, Dante mengendalikan kursi rodanya menerobos masuk tanpa rasa takut sedikit pun. Matanya meliuk tajam menyapu seluruh sudut ruangan lapang berdebu itu, mencari sosok wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
"Levara!" teriak Dante dengan suara beratnya yang bergema keras memecah kekacauan pertempuran. "Levara!"
Di tengah gudang, terikat pada tiang besi penyangga utama, Levara mendongakkan kepalanya yang lemah tatkala mendengar suara yang amat dikenalinya. Air mata keharuan dan rasa lega seketika meledak membasahi pipinya yang memar.
"Dante!" jerit Levara dengan suara parau. "Dante, aku di sini!"
Iris mata Dante terkunci rapat pada sosok Levara. Melihat sudut bibir istrinya yang berdarah dan pipinya yang memar bekas pukulan, dada Dante terasa dihantam murka raksasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Levara!" Dante memacu kursi rodanya mendekati tiang tengah, merobohkan dua barikade kayu yang menghalangi jalannya.
Namun, sebelum Dante berhasil mencapai posisi Levara, sebuah bayangan muncul secara mendadak dari balik pilar beton di lantai dua. David Veyron melangkah keluar dari kegelapan dengan senyuman gila, mencengkeram bahu Levara dari belakang dan menempelkan moncong pistol revolver hitamnya tepat di pelipis kiri Levara!
"BERHENTI! JANGAN BERGERAK SATU LANGKAH PUN, DANTE VELMORE!" raung David Veyron histeris dengan mata merah menyalang, napasnya memburu kacau.
Seluruh tembakan di dalam gudang mendadak terhenti total. Arelio dan puluhan personel polisi mengarahkan senjata mereka ke arah David, namun tidak ada yang berani melepaskan tembakan karena posisi kepala David terlindung rapat di belakang tubuh Levara.
"David! Lepaskan senjata itu!" bentak Arelio dari garis depan. "Kau sudah dikepung! Tidak ada jalan keluar lagi untukmu!"
"Tutup mulutmu, Polisi!" bentak David seraya menekan moncong pistolnya lebih keras ke kepala Levara, membuat Levara meringis menahan sakit. "Ini urusanku dengan Dante!"
Dante menghentikan kursi rodanya lima meter di depan David. Wajah Dante membeku dingin seperti es, namun sepasang matanya memancarkan aura intimidasi yang begitu mengerikan hingga membuat David sempat tersentak takut.
"David Veyron," panggil Dante dengan suara pelan namun terasa sangat menekan dan mematikan. "Lepaskan tangan kotor dari istri saya."
"Haha ... Hahaha!" David tertawa histeris, tawa yang penuh dengan keputusasaan seorang manusia yang telah kehilangan segalanya.
"Kau pikir kau sudah menang, Dante?! Kau menghancurkan sahamku! Kau membekukan hartaku! Kau menyebarkan berkas suapku ke Kejaksaan! Kau membuatku menjadi buronan!"
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri dengan kejahatan dan keserakahanmu selama dua puluh tahun," sahut Dante dengan ketenangan mutlak. "Sama seperti yang kau lakukan pada Papa Edlan dan ayah saya."
"Edlan adalah pria bodoh yang pantas mati di gudang ini!" jerit David dengan urat-urat leher yang bertonjolan. "Dan sekarang, aku akan memastikan istrimu menyusul ayahnya ke neraka jika kau tidak memerintahkan seluruh polisi ini mundur dan menyiagakan kapal cepat untukku di dermaga!"
Levara menatap Dante dengan mata berbinar-binar basah oleh air mata. Meski moncong senjata menempel di kepalanya, rasa takut di dada Levara telah musnah total begitu melihat Dante berdiri tegap di hadapannya.
"Dante ... jangan ikuti kemauannya," bisik Levara dengan nada penuh keberanian dan keteguhan hati. "Jangan biarkan penjahat ini mengancammu lagi."
"Diam kau, gadis sialan!" bentak David seraya menyentak rambut Levara.
Dante mengepalkan tangan kirinya hingga memutih. Tatapannya terkunci rapat pada jari David yang mulai menarik pemicu senjata. Otak taktis Dante berputar cepat memetakan jarak, sudut tembak, dan pergerakan reflektif.
"David," panggil Dante, menarik perhatian pria tua itu sepenuhnya. "Kau ingin berkas asli Edlan, kan? Berkas yang bisa membersihkan namamu dari daftar tuduhan pembunuhan?"
David tersentak, matanya berkilat penuh keserakahan yang tak pernah padam. "Kau ... kau membawa berkas aslinya ke sini?!"
"Ada di saku kemeja saya," ujar Dante pelan, menggerakkan tangan kirinya secara perlahan mendekati dada kemejanya. "Lepaskan Levara, dan berkas ini menjadi milikmu."
Perhatian David teralih sepenuhnya ke arah gerakan tangan Dante. Selama sepersekian detik yang amat krusial, cengkeraman David pada bahu Levara sedikit mengendur dan posisi senjatanya bergeser satu inci dari pelipis Levara.
Itu adalah celah yang ditunggu-tunggu oleh Dante.
"Sekarang, Levara! Merunduk!" teriak Dante membahana.
Tanpa ragu sedikit pun, Levara menarik badannya jatuh merunduk ke bawah sejauh tali ikatannya mengizinkan.
Dorr!
Dante melepaskan tembakan presisi dari senjata di tangan kirinya dalam hitungan milidetik. Timah panas melesat menembus udara, menghantam tepat pada pergelangan tangan kanan David Veyron yang memegang pistol!
"ARGGGHHH!" jerit David histeris tatkala pistol di tangannya terpental jatuh ke lantai semen dan darah segar menyembur dari pergelangan tangannya.
"Serbu!" teriak Arelio.
Pasukan taktis melesat maju bagaikan gelombang raksasa. Dua personel taktis merobohkan David Veyron ke lantai dan mengunci kedua tangannya dengan borgol besi rapat-rapat, sementara Dante memacu kursi rodanya secepat mungkin mendekati tiang utama.
"Levara!"
Dante melompat dari kursi rodanya, menahan rasa sakit di kakinya dan berlutut di samping Levara. Dengan jemarinya yang cepat, Dante memotong tali tambang yang mengikat tubuh istrinya menggunakan pisau presisi.
Begitu tali terlepas, Levara langsung melempar tubuhnya ke dalam dekapan hangat Dante. Ia memeluk leher suaminya erat-erat, menumpahkan seluruh air mata dan tangis keharuannya di dada bidang Dante.
"Dante ... kamu datang ... kamu benar-benar datang ...," tangis Levara pecah bersuara.
Dante merengkuh tubuh Levara dengan sangat erat, menyembunyikan wajah istrinya di dadanya seraya mengecup puncak kepala Levara berulang kali dengan rasa keharuan dan cinta yang teramat dalam.
"Aku sudah berjanji pada Papa kamu dan pada diri saya sendiri," bisik Dante dengan suara serak yang bergetar penuh emosi. "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, sayang. Kamu aman sekarang ... Kamu sudah aman bersamaku, sayang."