Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Leviathan

Menikahi Sang Leviathan

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Pada usia delapan belas tahun, Neylane Green sudah tahu rasanya dikhianati—oleh sahabat dan kekasih yang paling ia percaya. Tapi ia tak pernah menyangka pengkhianatan itu hanya permulaan.

Ketika sebuah rahasia kelam masa lalu mengancam menghancurkan seluruh keluarganya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan mereka: menikahi pria paling ditakuti di dunia. Dikenal para musuhnya sebagai sang Leviathan—monster yang menghancurkan segala yang dilaluinya—Jean Yankelevich adalah pembunuh, penguasa bayangan, dan lelaki yang tak pernah mengizinkan siapa pun mendekati hatinya.

Neylane memilih mengorbankan dirinya. Ia mengira akan menghadapi seorang monster tanpa hati. Yang tak ia duga, di balik tatapan dingin dan tangan berlumur dosa itu, tersembunyi sesuatu yang bahkan sang Leviathan sendiri kira sudah lama mati.

Sebuah pernikahan yang lahir dari paksaan. Sebuah pulau tempat tak ada yang bisa lari. Dan dua orang keras kepala yang bersumpah takkan pernah jatuh cinta—sampai takdir, gairah, dan bahaya memaksa mereka memilih: bertahan bersama, atau hancur sendiri-sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Neylane tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kehadiran kakaknya di sini bukanlah pertanda baik. Ia tahu betul bahwa Max takkan pernah setuju dengan pernikahan ini. Tak mampu menahan diri, dengan panik ia berkata, "Apa? Kenapa kakakku ada di sini?"

"Aku terpaksa mengabarinya kemarin. Aku tak mungkin menyembunyikan hal sebesar ini. Maafkan aku," kata Marina.

"Katakan, di mana dia?"

"Ada di ruang istirahat. Ayo."

Neylane bangkit, dan keduanya menuju ruang istirahat. Begitu tiba dan masuk, ia melihat kakaknya berpakaian seragam militer, mondar-mandir di tempatnya bagai binatang buas dalam kurungan.

Neylane menarik napas dalam-dalam lalu mendekat dan memeluknya. "Kak, kenapa Kakak datang?"

Merasakan pelukan adiknya, Max tak kuasa menahan diri untuk membalasnya. Neylane adalah kesayangannya, yang terkecil dari mereka bertiga, yang selalu dilindungi semua orang. Dengan tenang ia berkata, "Adikku, apa aku tidak salah dengar pertanyaanmu barusan?"

Dengan santai sekaligus sinis, Neylane menjawab, "Jangan marah, Kak. Ayo, tenanglah. Semua ini terjadi begitu cepat, sampai aku tak tahu bagaimana harus memberitahumu tanpa membuatmu menentangnya."

"Tenang katamu. Adikku menikah dan aku tak diundang. Itulah yang paling membuatku kecewa padamu, adikku."

"Kak, kumohon, kali ini saja dukung aku, tanpa bertanya apa pun. Lihat aku, aku bahagia."

"Bahagia? Adikku, kau menikahi pria yang jauh lebih tua darimu, seseorang yang menurutku nyaris tak kaukenal. Atau lebih tepatnya, tak kaukenal sama sekali. Kalau kau benar-benar menganggapku kakakmu, katakan yang sebenarnya. Apa yang sedang terjadi?"

"Aku cuma bisa bilang, ini keputusanku sendiri. Aku bahagia, dan suamiku sangat tampan meski usianya lebih tua. Apa kau puas dengan penjelasan itu?"

Max menjauhkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah adiknya, lalu berkata, "Aku sama sekali tak percaya padamu."

"Kak, peluk aku saja, beri aku selamat, dan doakan yang terbaik untuk pernikahanku. Jangan buat momen bahagia ini berubah menjadi tragedi."

"Aku sama sekali tak percaya padamu, tapi kulihat kau akan menyembunyikan banyak hal dariku lagi. Aku akan bersabar sampai kau memutuskan untuk berkata jujur. Aku ingin mengenalnya."

"Mengenal siapa?" tanya Neylane.

"Adik, jangan mempermainkan kesabaranku."

Neylane mengembuskan napas keras-keras, sampai udara terhampas kuat dari mulutnya, lalu dengan enggan berkata, "Ayo kita cari dia. Kak, satu permohonan dan satu hadiah untuk pernikahanku: bisakah kau bersikap baik padanya dan tidak menuntut apa-apa lagi?"

"Aku cuma bisa berjanji tak akan membuat keributan. Sampai di situ batas toleransiku."

Keduanya keluar dari ruang pesta untuk mencari Jean. Pria itu sedang mengobrol dengan dua wanita cantik, dengan wajah yang sangat serius, tanpa menyiratkan satu emosi pun.

"Adik, kurasa korban di sini justru dia," kata Max. "Kasihan pria itu, wajahnya penuh kepahitan, sementara wajahmu cuma memancarkan kebahagiaan. Kurasa aku akan ke sana dan menyampaikan belasungkawa atas kemalangannya."

Neylane memasang wajah masam dan meninju perut kakaknya. "Kak, teganya kau bicara begitu tentang adikmu sendiri. Ayo, kita hampiri dia."

Mereka mendekat hingga berdiri di samping Jean: Marina, Max, dan Neylane.

Neylane menyentuh lengan Jean untuk menarik perhatiannya, lalu dengan sedikit gugup berkata, "Kakakku ingin berkenalan denganmu."

Jean menoleh ke arah Max, dan dengan dingin serta suara serak berkata, "Selamat datang. Aku tak tahu Anda ada di sini. Kalau tahu, tentu aku akan menyambut Anda."

Max sama sekali tak ramah dan dengan ketus berkata, "Tak usah repot-repot. Entah kenapa, undanganku tak sampai. Kurasa hilang di jalan."

"Sudah, Kak, kau sudah berjanji," tegur Neylane.

"Aku minta maaf," kata Jean.

"Kau tak perlu minta maaf. Bagaimanapun, urusan itu sudah kuselesaikan dengan orang yang bertanggung jawab. Bisa kita bicara?"

"Ya! Mari, kita bicara di sana."

Keduanya lalu berjalan menuju ruang istirahat yang sama.

Setelah menutup pintu, Max berkata langsung ke intinya, "Aku ingin bertanya. Apakah kau memaksa adikku dengan cara apa pun untuk pernikahan ini?"

Dengan penuh keyakinan dan tanpa emosi Jean menjawab, "Tidak!"

"Aku ingin tahu, kenapa pernikahan ini begitu tergesa-gesa?"

Dengan sikap tenang Jean berkata, "Itu harus kau tanyakan pada orang tuamu dan Nana-ku. Meski begitu, aku juga menduga adikmu punya andil besar agar pernikahan ini terlaksana."

"Entah kenapa, aku memercayaimu soal itu. Apa pendapatmu tentang adikku?"

Jean terdiam berpikir sekitar tiga puluh detik dan menarik napas dalam sebelum menjawab. "Adikmu sangat cantik dan punya senyum yang indah, kebahagiaan yang menular. Sejujurnya, pria mana pun akan berbahagia memiliki wanita seperti dia di sisinya. Aku tak mengharapkan pernikahan ini. Sejujurnya, aku baru tahu beberapa jam sebelum acara. Tapi satu hal yang tak bisa kulakukan adalah menolak permintaan Nana-ku. Aku berutang segalanya padanya."

"Aku tahu kau mengkhawatirkan adikmu dan takut akan apa yang bisa kulakukan padanya. Aku hanya bisa berkata, aku takkan pernah memaksanya melakukan hal yang tak ia inginkan. Aku akan melindunginya, memberikan apa pun yang ia mau. Aku tak bisa berjanji akan menceraikannya—itu takkan Nana maafkan—kecuali dia sendiri yang memintanya. Yakinkan dia untuk bercerai, supaya Nana bisa menerimanya."

"Adikku masih anak-anak, ia belum tahu apa-apa tentang kehidupan, dan aku khawatir dengan keputusan gila yang ia ambil ini. Tapi aku memercayaimu. Aku hanya akan mengatakan satu hal: adikku orang yang bahagia dan ceria. Jangan pernah biarkan itu berubah, atau aku sendiri yang akan membuatmu membayarnya jika ia meneteskan satu tetes air mata karena salahmu."

"Aku bukan pria yang suka menyakiti wanita. Yakinlah, itu takkan berubah, dan kegilaan ini akan berlangsung sampai adikmu menyadari kesalahannya sendiri," kata Jean.

"Satu hal lagi," ujar Max.

Tanpa memberinya waktu bereaksi, Max melayangkan pukulan keras ke wajah Jean, begitu kuat hingga pria itu terhuyung.

"Itu hanya karena dia adikku, dan entah bagaimana, semua ini membuatku frustrasi," kata Max.

Jean menyeka bibirnya untuk membersihkan darah yang keluar. "Pukulan ini akan kubiarkan, karena entah bagaimana, kalau dia adikku, aku pun akan melakukan hal yang sama. Tapi jangan diulangi, karena kalau terjadi lagi, aku takkan membiarkannya."

Max mengulurkan tangan, dan Jean menyambutnya. "Baik. Kutitipkan adikku padamu. Jaga dia baik-baik dan hormati dia."

"Yakinlah, memang begitu yang akan kulakukan," jawab Jean.

Keduanya keluar. Marina dan Neylane menunggu mereka di depan ruangan.

Melihat Jean, Neylane langsung menyadari pukulan yang dilayangkan kakaknya; luka sobek itu tampak jelas. Dengan kesal ia berkata, "Ya Tuhan, kenapa mulutmu begitu? Kak, apa yang kau lakukan? Kau sudah berjanji padaku."

"Tenang, kami cuma bicara. Ini tidak penting. Kurasa kakakmu ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Jean.

"Adik, cobalah bersikap baik. Kau bukan anak kecil lagi. Sekarang kau wanita yang sudah menikah, dan kau harus mengubah cara bersikapmu. Aku akan terus mengawasimu. Setiap Minggu aku akan meneleponmu, jadi sebaiknya kau angkat," kata Max.

Neylane memeluknya begitu erat, dan Max membalasnya, mengangkat tubuh adiknya lalu memutarnya beberapa kali. Ia menurunkannya dan berkata, "Baiklah, adikku, nikmati pestamu. Ipar, ayo, temani dia dan jaga dia baik-baik."

Pesta itu menjadi kebahagiaan murni bagi Neylane. Ia merasa senang melihat kakak dan keluarganya di sana. Mereka bersulang, memotong kue, sampai tiba saatnya berpamitan kepada semua orang.

Nana telah menyiapkan sebuah kejutan: sebuah limusin menunggu di luar, yang akan mengantar mereka ke sebuah vila dua jam dari kota. Nana telah menyiapkan koper untuk mereka berdua. Mereka akan menghabiskan seminggu di sana, sesuatu yang sangat menjengkelkan bagi Jean; ia hanya ingin kembali ke pulau, namun tak bisa menolak.

Tanpa membantah lagi, mereka berpamitan kepada semua orang dan naik ke limusin. Di dalamnya telah tersedia sebotol sampanye dan stroberi; interiornya sangat luas.

"Semuanya indah sekali. Aku mau, ayo tuangkan aku segelas," kata Neylane.

"Kau bisa minum minuman keras? Kau mau mabuk? Katakan, kau tak takut akan apa yang bisa kulakukan padamu kalau kau mabuk?" tanya Jean.

"Tidak, tidak, dan tidak."

"Baiklah, akan kutuangkan."

Ia menuangkan segelas untuk Neylane dan segelas untuk dirinya sendiri, lalu mereka mulai minum. Neylane memutar musik dan menyanyikan lebih dari satu lagu. Sesekali, melihat gerak-gerik dan tingkahnya, Jean tak mampu menahan senyum. Neylane duduk sangat dekat, memainkan dasinya, ketika tiba-tiba mobil mengerem mendadak dan hampir melemparkannya ke lantai karena posisinya. Jean bereaksi cepat dan menariknya, hingga gadis itu jatuh menimpanya; salah satu tangan Neylane mendarat di selangkangan Jean, dan bibir mereka bertemu. Keduanya sama-sama terkejut hingga terpaku diam beberapa detik.

Jean membatin, "Bibirnya benar-benar lembut. Betapa aku ingin memberinya ciuman yang sesungguhnya. Gadis ini sungguh membuatku hilang kendali. Sialan, aku ini laki-laki. Punya wanita seperti ini, apalagi secantik dia, membuatku sulit sekali mengendalikan diri. Aku hanya ingin merobek gaun itu di sini juga, melihat tubuhnya telanjang bulat, menyentuh setiap bagiannya, melihat ekspresinya saat aku menjadikannya milikku, mendengarnya meneriakkan namaku dalam gairah." Ia harus mengerahkan segala daya untuk menahan hasrat cabul terhadap gadis itu.

Neylane membatin, "Astaga, pria ini. Betapa aku ingin tangannya menyentuhku. Tidak—lebih tepatnya, aku ingin ia menyusuri seluruh kulitku dengan bibir yang begitu lembut itu, dan aku ingin menyentuh seluruh tubuhnya, merasakannya di bawah tubuhku. Tapi apa yang kupikirkan? Aku seperti orang cabul memikirkan hal semacam itu. Tunggu, apa yang sedang kusentuh dengan tanganku ini? Di mana tanganku?" Ia tak berani bergerak, berharap kenyataannya bukan seperti yang mulai ia bayangkan.

Jean menyadari di mana tangan gadis itu berada, dan hal itu menariknya keluar dari lamunan. "Kau ini benar-benar cabul. Tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyentuh sahabat kecilku."

Neylane terkejut dan menoleh ke arah tangannya berada, merasakan sesuatu bergerak dan mengeras. Kegugupan langsung menyergapnya. Ia berusaha bangkit secepat mungkin sambil menarik tangannya.

Melihat gadis itu hendak menjauh, Jean melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya dan menariknya rapat, hingga wajah mereka kembali sangat dekat. Napas keduanya memburu, jantung mereka berdegup cepat, dan pandangan mereka saling menghunjam dalam. Bagai dua magnet yang saling menarik, mereka kian mendekat.

Saat itu bagi keduanya waktu seakan berhenti. Neylane sedikit membuka bibir seolah mengundang Jean untuk mencicipinya. Jarak mereka tinggal sepersekian milimeter ketika mereka mendengar suara sopir. "Maaf, Maestro, ada mobil menyeberang tiba-tiba. Sebentar lagi kita sampai."

Keduanya menjauh seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk. Neylane duduk sangat dekat ke jendela, dan Jean di sisi yang lain.

Dengan gelisah, seolah tak yakin harus menjawab apa, Jean berkata, "Tidak apa-apa... Hanya, hati-hatilah di jalan."

Neylane memungut gelas yang terjatuh di kursi, mengambil botol sampanye, menuangkannya, lalu meneguknya habis dalam sekali tenggak. Jean tenggelam dalam pikirannya. "Ya Tuhan, apa yang hampir kulakukan? Bagaimana bisa aku menariknya rapat ke tubuhku dan membiarkan diriku terbawa hasrat untuk menciumnya? Gadis ini benar-benar ingin mendorongku sampai batas. Aku benar-benar harus menjaga jarak darinya sejauh mungkin, kalau tidak, sisi lelakiku akan mengalahkan akal sehatku."

Setelah menghabiskan gelasnya, tanpa berani menatap wajah Jean, Neylane membatin, "Yang tadi kusentuh dengan tanganku benar-benar terasa besar dan makin mengeras. Memalukan sekali. Tapi aku memang ingin dia menciumku."

Setelah itu tak seorang pun dari mereka berani saling menatap, dan sisa perjalanan berlalu dalam sunyi. Botol sampanye itu mulai mereka minum lebih cepat, gelas demi gelas, sampai habis.

Ketika mobil berhenti, sopir menyerahkan kunci vila serta nomornya. Dialah yang akan mengantar makanan setiap hari; mereka cukup mengirim pesan berisi apa yang mereka inginkan. Ia juga memberitahu bahwa koper mereka sudah ada di dalam.

Keduanya turun dari mobil dan sopir itu pergi. Mereka berdiri di depan vila. Jean membuka kunci pintu dan mempersilakan Neylane masuk lebih dulu. Gadis itu berdiri di hadapannya dan berkata, "Ayo, gendong aku. Menurut tradisi, kau harus menggendongku sampai ke kamar."

"Ayo masuk saja, jangan macam-macam," kata Jean.

"Kalau kau tak melakukannya, aku akan tetap di luar sini sampai mati kedinginan atau diterkam binatang. Kita lihat penjelasan apa yang bisa kau berikan pada keluargaku, atau pada Nana-mu."

Neylane menatapnya dengan senyum lebar penuh tantangan. Jean hanya menundukkan wajah, mengangkat satu tangan dan menekan pelipisnya, memijatnya perlahan untuk mengatasi kejengkelannya. Beberapa detik kemudian ia mengangkat gadis itu dalam dekapan, namun bukan seperti yang Neylane harapkan: ia memanggulnya bagai karung kentang, membawanya langsung ke kamar, lalu melemparkannya ke ranjang. Dengan nada kesal ia berkata, "Puas? Sudah kupenuhi. Sekarang, tinggalkan aku dengan tenang."

Ia keluar dari kamar, menuju minibar di samping ruang tamu, mengambil sebotol brandy, membukanya, lalu menenggaknya langsung dari botol dalam satu tegukan besar.

Neylane bangkit dari ranjang dan mengikutinya. "Aku juga mau, tapi tuangkan untukku di gelas."

"Kau, Nak, benar-benar bikin frustrasi. Katakan, apa maumu dariku? Kau mendorongku ke batas, aku hampir saja... haaaa, betapa menyebalkannya kau ini," kata Jean.

"Apa yang mau kau katakan? Ayo, selesaikan kalimatmu. Hampir apa?" balas Neylane.

Jean meletakkan botol di meja bar dan mendekatinya, menekan tubuh gadis itu ke dinding sambil menaruh kedua tangan di dinding, mengurungnya di tengah. "Kau tahu, Nak, kalau dipikir-pikir, kurasa aku tak perlu mengendalikan diri. Kau sudah jadi istriku. Secara hukum, aku berhak menyentuh tubuhmu dan melakukan apa pun yang kuinginkan, dan kau wajib memenuhi kewajibanmu sebagai istri terhadap suamimu."

Setelah mengatakan itu, dengan gestur yang begitu menggoda sekaligus mengintimidasi, ia sedikit membuka bibir dan menjilatnya dengan lidah, membuat Neylane tak bisa mengalihkan pandangan dari gerakan itu. Hasrat yang begitu kuat membuncah dalam tubuhnya, disertai tekanan di perutnya yang seolah hanya membuatnya ingin membiarkan dirinya larut oleh pria itu.

Ketika Jean menyapukan tangan di wajahnya, turun ke leher, menyusuri lengannya, lalu mendekatkan wajah ke telinganya sambil bernapas berat, kegugupan pun menyergap Neylane. Di antara hasrat untuk melanjutkan dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, ia berkata dengan suara gemetar dan ragu, "Sudah kubilang, kita lihat siapa yang akhirnya lari malam ini."

Jean menyadari ketakutannya dan merasakan bagaimana lengan gadis itu gemetar di bawah tangannya. Hal itu terasa menghibur baginya; ia benar-benar menikmati mengintimidasinya. "Aduh, Nak, kau berlagak berani, tapi lihat dirimu: suaramu gemetar saat bicara, begitu pula tubuhmu. Kau benar-benar menghiburku."

"Siapa yang gemetar, hah?" balas Neylane.

Ia gadis yang berharga diri dan tak akan membiarkan siapa pun mengintimidasinya. Mendengar kata-kata itu, tanpa banyak berpikir, terbawa amarah, ia menangkup wajah Jean dan menyatukan bibir mereka.

Jean terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu, dan hasrat yang sekuat tenaga ia coba kendalikan pun lepas kendali. Ia membalas ciuman itu, membawa satu tangan ke tengkuk Neylane dan satunya lagi ke pinggang, menariknya rapat, memperdalam ciuman. Bermula lambat dan menggoda hingga menjelma erotisme yang membuat napas mereka terengah, merasakan aliran listrik menjalari sekujur tubuh, lidah mereka menari dalam irama yang sama.

Jean tak mampu lagi mengendalikan diri; tangannya lepas kendali, dan tangan yang berada di pinggang gadis itu seolah bergerak sendiri, meluncur turun, menyingkap gaunnya hingga menyentuh paha, membelainya lembut penuh gairah.

Tangan yang satu lagi ia geser di sepanjang punggung Neylane, menekannya lebih rapat. Tangan gadis itu meluncur ke pinggang Jean, menarik keluar kemejanya dari celana, lalu menyusup hingga menyentuh punggungnya yang bidang dan kokoh. Ciuman itu berlangsung begitu lama, sampai mereka merasa perlu menghirup udara, hingga terpaksa saling melepaskan diri untuk mengambil napas segar yang tak lagi menyimpan aroma napas satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!