Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. Bertemu Nenek.
Rumah nenek Shira berada tidak jauh dari kebun teh. Rumah dengan kebun sayur kecil di bagian depan itu terlihat begitu teduh. Senyum Shira lebar menghiasi wajahnya. Dia memeluk Lulu dengan senyum yang menular pada gadis kecil itu.
“Ini rumah Nenek Kak Shira,” katanya. “Lulu jangan takut sama Nenek nanti, karena Nenek orangnya sangaaaat baik.”
“Nenek ga akan hukum Lulu?”
“Ga akan. Nenek juga sayang Lulu.”
“Nenek kamu tau Lulu?” Ruan kali ini bertanya.
Shira mengangguk. “Saya sering cerita ke Nenek tentang gadis manis yang saya asuh.” jawab Shira sembari mengusap rambut Lulu yang diikat dua.
“Ayo kita masuk, Nenek pasti sudah menunggu.” Shira mengajak Ruan, Shira dan juga Faris untuk menuju teras depan. Langkahnya riang seperti anak kecil. Tangannya mengayun pelan tangan Lulu, seolah menularkan keceriaannya pada Lulu yang terlihat tegang.
Ruan dan Faris mengikuti dari belakang. Mereka malah mirip seperti bodyguard untuk Shira dan Lulu.
Shira mengetuk pintu seraya mengucapkan salam dan memanggil neneknya dengan suaranya yang riang. Tak lama kemudian, pintu kayu itu bergerak terbuka menimbulkan bunyi derit pelan. Wanita dengan rambut putih dan wajah yang sudah menampilkan garis-garis usia muncul di sana. Mata senjanya seketika berbinar, senyumnya terbuka menampilkan beberapa giginya yang sudah tidak nampak.
“Nenek!” Shira memeluk tubuh kurus neneknya yang tidak lebih tinggi darinya. Dia menciumi pipi kempot nenek yang telah menjadi ibu juga ayah bagi Shira. Suara tawa cerita tadi mendadak berubah menjadi tangis haru penuh rindu dari dua wanita berbeda generasi itu.
Lulu menarik ujung kemeja Shira, gadis itu ketakutan karena Shira menangis.
“Kak Shira ga apa-apa.” Shira melepaskan pelukannya dari Nenek, dia berlutut dan memeluk Lulu sebentar. Lulu mengusap air mata Shira.
“Bapak-Bapak ini majikannya Shira?” Nenek bertanya pada Ruan dan Faris.
“Saya Ruan, ayah dari Lulu,” Ruan memperkenalkan diri dengan sopan yang luar biasa bikin Shira terkejut. Intonasi bahkan ekspresi pria itu mendadak berubah, Shira seperti melihat orang lain. “dan ini Faris, asisten saya.”
“Oalah, mari silahkan masuk. Maaf ya Pak, rumah nenek kecil.”
“Panggil Ruan saja, Bu.”
Lagi-lagi Ruan membuat Shira bingung, apakah yang berdiri di depannya itu adalah lelaki yang sama yang selalu melihatnya dengan dingin? Kenapa bisa berubah begitu?
Nenek tersenyum kemudian mengangguk.
“Kalo begitu ayo masuk, Nenek sudah masak, perjalanan kalian pasti capek dan lapar. Ayo kita makan dulu.”
Nenek sudah lebih dulu melangkah masuk, Shira hendak mengikuti sembari menggandeng Lulu, tapi langkahnya dihentikan oleh Ruan yang menahan siku Shira.
“Makan?” tanya Ruan dengan volume rendah. Sorot matanya sudah kembali kesetelan pabrik.
“Iya Pak, Nenek biasanya begitu, ngobrol sembari makan bareng.”
“Ingat, kedatangan kita ke sini bukan untuk bersantai.” Aura intimidasi mulai menguar.
Shira menarik Lulu pelan ke belakang tubuhnya.
“Saya tau, makanya harus santai dulu supaya ga tegang.” Shira tersenyum manis.
Ruan segera melepaskan tangannya dari siku Shira lalu mengalihkan pandangannya.
“Baiklah, tapi rencana ini harus berhasil.” katanya dingin, lalu melangkah masuk melewati Shira dan Lulu yang menunduk.
Di atas meja makan sederhana ada beberapa lauk yang sederhana juga buatan tangan nenek yang masih cekatan memasak. Nenek terlihat sayang pada Lulu meskipun Lulu masih takut-takut.
“Ayo Nak Ruan, Nak Faris, ditambah nasinya.”
“Terima kasih, Bu. Saya sudah cukup.” Ruan menyahut.
“Saya juga.” Faris menimpali.
Sementara Shira masih asik menyantap masakan nenek yang selalu jadi kesukaannya. Sesekali dia membantu Lulu menyuap tanpa rasa enggan.
“Lulu ini kalo sudah makan ikan pecak bisa lama duduk di kursi makan.” ucap nenek sembari terkekeh.
Tapi tidak dengan mata Ruan meskipun bibirnya menyunggingkan senyum. Sorotnya seolah memberikan peringatan pada Lulu bahwa kedatangan mereka bukan untuk berlibur. Mau tak mau Shira merelakan dirinya menyudahi kenikmatan pecak ikan gurame buatan nenek yang selalu Shira rindukan.
“Udah? Ga nambah?”
Shira nyengir. “Nanti lagi Nek, Shira tadi banyak ngemil.”
Setelah selesai di meja makan, Shira bantu nenek di dapur untuk buat minuman dingin karena cuaca yang memang sedang panas. Sementara Ruan, Faris dan Lulu menunggu di ruang tamu, duduk lesehan di atas karpet tanpa sofa.
“Ada peyek teri di lemari, dikeluarkan saja Ra.”
“Ga usah Nek, Pak Ruan sebenernya ada yang mau diomongin serius ke Nenek.”
“Ngomongin apa?” Nenek bertanya tanpa nada curiga atau pun nada menyelidik.
Shira meletakkan sendok yang dia gunakan untuk mengaduk sirup, “Sebenernya kedatangan Shira ke sini bukan sekadar pengen ngenalin Nenek ke Lulu aja, tapi…”
“Tapi apa?”
“Pak Ruan sebenernya pengen ngelamar Shira, Nek.”
Nenek diam sejenak. Mata sendu nenek seolah mencari dan menyelidik ke dalam mata Shira.
“Shira tau Pak Ruan duda, tapi Shira udah terlanjur sayang ke Lulu. Dia seperti Shira waktu kecil, Shira pengen selalu ada untuk Lulu, Nek. Apa lagi sekarang Lulu udah mulai bisa interaksi, tadinya-”
“Dia melamar kamu karena dia suka kamu atau karena kamu bisa membantu Lulu berubah?”
“Dia bilang, dia jatuh cinta sama Shira, Nek.”
“Kamu percaya gitu aja?”
Ini lah yang Shira khawatirkan. Neneknya mungkin sudah tidak lagi muda, namun firasatnya sebagai seorang ibu dan jiwa pelindung sebagai seorang ayah, tidak pernah hilang. Kebohongan dari cerita fiksi yang pernah Shira ceritakan dengan mudah ke Bi Marti, tentu tidak akan mempan pada neneknya.
Shira mengangguk.
Nenek membuang napas pelan.
“Kamu percaya atau kamu terpaksa percaya?”
“Maksudnya?”
“Kamu terpaksa percaya karena kamu tau Nenek sakit dan butuh biaya.”
Aduh, bagaimana ini?
.
.
.
Bersambung