Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tak Pernah Bisa Kumiliki
POV Lutero
Namaku Lutero Russo de Marino. Usiaku dua puluh sembilan tahun. Aku adalah tangan kanan Paolo Salvatore, Dom dari Famiglia Ombra Rossa.
Kesetiaan bukanlah pilihan bagiku. Itulah diriku.
Aku terlahir di dalam dunia ini, tumbuh besar menyaksikan darah dibayar dengan darah dan rasa hormat diraih lewat kebisuan serta kepatuhan. Ayahku, Otávio Russo de Marino, adalah consigliere bagi Dom terdahulu, Ricardo Salvatore. Seorang pria berintegritas di tengah semesta yang bobrok.
Ia meninggal saat aku berusia tiga belas tahun.
Meninggal saat melindungi sang Dom.
Hari itu, aku kehilangan seorang ayah… tapi memperoleh sebuah takdir.
Keluarga Salvatore menampungku. Bukan karena kewajiban—meski itu juga ada—melainkan demi menghormati sosok ayahku semasa hidup. Aku mulai tinggal di sayap tambahan mansion, berlatih, belajar, menjadi apa yang mereka harapkan dariku.
Sebuah senjata.
Sebuah bayangan.
Seorang pria yang tak pernah ragu.
Paolo berusia enam belas tahun waktu itu. Pietro, dua belas. Dan Luna…
Luna baru berusia delapan tahun.
Aku masih ingat ia berlari-lari di taman, mengenakan gaun cerah dengan rambut terurai ditiup angin. Tertawa untuk hal apa pun, seolah dunia terasa ringan.
Ia selalu berbeda.
Lembut.
Ceria.
Penuh kebaikan.
Dan di situlah semuanya bermula.
Sebuah perasaan yang awalnya kuabaikan. Pesona yang sekejap saja, kataku pada diriku sendiri. Ulah seorang bocah lelaki yang berusaha menemukan sesuatu yang baik di tengah kekerasan.
Tapi waktu berlalu.
Dan perasaan itu tak berlalu.
Ia justru tumbuh.
Berakar.
Menjadi mustahil untuk diabaikan.
Ketika Luna berusia lima belas tahun, aku sudah dua puluh. Aku sudah bekerja langsung dengan Paolo. Aku sudah memahami betapa berat arti menjadi diriku yang sekarang.
Saat itulah ia mendatangiku.
Dengan tekad bulat.
Berani.
Dengan mata berbinar oleh sesuatu yang terlalu kukenal.
"Aku suka padamu."
Sederhana.
Langsung.
Tulus.
Itu adalah hari tersulit dalam hidupku.
Karena segala hal dalam diriku ingin mengatakan iya.
Ingin menariknya mendekat, memeluknya, mengakui bahwa perasaan itu bukan hanya miliknya. Bahwa aku pun merasakannya. Bahwa aku selalu merasakannya.
Tapi aku tak bisa.
Ia adalah adik sang Dom.
Dan aku… aku adalah anak buahnya.
"Kau masih anak-anak, Luna," ucapku.
Setiap kata terasa bagai sebilah pisau.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kau rasakan."
Bohong.
Ia tahu.
Dan aku juga tahu.
"Dan seandainya pun kau tahu… aku tak akan pernah mengkhianati kepercayaan kakakmu."
Kalimat itu menghancurkannya.
Dan menghancurkanku bersamanya.
Setelah hari itu, ia tak pernah lagi memandangku dengan cara yang sama.
Aku melihatnya.
Luka itu.
Kepedihan itu.
Binar yang perlahan padam.
Dan, meski begitu… aku tetap teguh.
Karena itulah yang benar.
Ia berubah.
Menjadi pemberontak. Mulai kabur dari para pengawal, mendatangi tempat-tempat yang dulu tak akan pernah ia injak. Selalu berusaha membuktikan sesuatu. Selalu berusaha… menarik perhatian.
Perhatianku.
Dan aku tetap menjaga jarak.
Sampai hari ketika semuanya lepas kendali.
Penculikan itu.
Aku tak akan pernah melupakan hari itu.
Paolo nyaris membakar seluruh Florence. Pietro berusaha mempertahankan sedikit akal sehat. Rumah kami berubah menjadi medan perang.
Dan aku…
Aku sudah bergerak.
Kupakai semua koneksi yang kupunya. Informan, sekutu, bahkan musuh. Kususuri seluruh Italia bagai hewan yang sedang berburu.
Karena ada dua hal yang kutahu dengan pasti:
Tak akan ada yang menyentuhnya lalu lolos begitu saja.
Dan aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.
Bukan hanya karena ia adik sang Dom.
Tapi karena ia adalah… segalanya bagiku.
Pada hari kesembilan, aku mendapat satu petunjuk.
Sebuah nama.
Keller.
Pedagang perempuan. Pria yang terkenal karena kekejamannya dan kesenangannya menghancurkan hidup orang lain.
Niat awalnya adalah menjualnya.
Tapi, begitu ia tahu siapa Luna sesungguhnya…
Ia memutuskan untuk meraup lebih banyak.
Tebusan.
Dan setelah itu…
Aku tak perlu mengulanginya.
Itulah yang menyegel putusan mati baginya.
Aku mengumpulkan sebuah tim. Yang terbaik. Tanpa kesalahan.
Kami mengepung tempat itu.
Dan aku masuk.
Sepuluh orang menghadang jalan.
Lemah.
Cepat.
Tumbang satu per satu.
Tanpa kesulitan.
Tanpa arti.
Aku mencapai ruangan itu.
Sebelumnya, aku menemukan Keller.
Ia tersenyum saat melihatku.
Angkuh.
Bebal.
"Jangan bunuh dia," kataku kepada anak buahku.
Suaraku dingin.
Terkendali.
"Dia milik sang Dom."
Mereka mengerti.
Ia akan diserahkan.
Untuk sesuatu yang lebih buruk dari kematian.
Aku terus melangkah.
Lalu…
Aku melihatnya.
Kurus.
Layu.
Rapuh.
Tapi hidup.
Luna-ku.
Aku tak berkata apa-apa.
Tak ada kata-kata yang bisa mengatasi keadaan itu.
Aku melepaskan ikatannya dengan hati-hati.
Ia hampir tak bereaksi.
Ia kelelahan.
Aku menggendongnya.
Dan membawanya pergi.
Perjalanan pulang berlangsung senyap.
Tapi, di dalam diriku…
Adalah kekacauan.
Ketika aku tiba di mansion, semua sudah menunggu.
Paolo.
Pietro.
Kedua orang tua Luna.
Keputusasaan terpancar di setiap wajah.
Aku turun dari mobil dengan ia dalam gendonganku.
Dan masuk.
Tanpa sepatah kata.
Aku menaiki tangga.
Masuk ke kamarnya.
Membaringkannya di ranjang.
Aku memandangnya.
Dengan segala yang tak pernah bisa kutunjukkan.
Lalu aku keluar.
Karena, kalau aku tinggal satu detik lagi…
Aku akan hancur.
Setelah hari itu, Paolo mengambil sebuah keputusan.
Aku menjadi bayangannya.
Perlindungan tanpa henti.
Tak terlihat.
Hadir di mana pun.
Tapi ia sudah tak sama lagi.
Pendiam.
Murung.
Menjauh.
Gadis kecil yang dulu berlari-lari di taman… telah lenyap.
Dan itu menghancurkanku lebih dari musuh mana pun.
Lalu datanglah kabar itu.
Brasil.
Pertukaran pelajar.
Ia ingin pergi.
Sebagian dari diriku ingin mencegahnya.
Tapi sebagian yang lain…
Tahu bahwa ia membutuhkannya.
Paolo mengizinkan.
Dengan satu syarat.
"Kau ikut bersamanya."
Aku tak membantah.
Aku membawa tim kecil. Lima orang. Yang terbaik.
Tak kasat mata.
Dan begitulah empat tahun berlalu.
Empat tahun mengawasi dari kejauhan.
Melindungi tanpa terlihat.
Ia punya sebuah apartemen mewah.
Tapi hampir tak pernah tinggal di sana.
Ia lebih memilih rumah sederhana tempat tinggal para sahabatnya.
Maria Cecília.
Ana Paula.
Awalnya, aku mengamati.
Menilai.
Menaruh curiga.
Tapi tak lama kemudian jelaslah sudah.
Mereka penting bagi Luna.
Dan itu membuat mereka rentan.
Kutugaskan dua orang untuk menjaga mereka.
Diam-diam.
Tanpa mereka ketahui.
Karena melindungi Luna berarti melindungi apa yang ia cintai.
Lalu…
Wisuda.
Aku berdiri di kejauhan.
Mengamati.
Ia datang…
Dan segalanya terhenti.
Cantik.
Kuat.
Hidup kembali.
Berbeda dari gadis remuk yang dulu kugendong bertahun-tahun lalu.
Ia menerima ijazah dari tangan kakaknya sendiri.
Dan aku tetap berada dalam bayang-bayang.
Seperti biasa.
Sampai aku memutuskan untuk mendekat.
Aku meminta izin kepada sang Dom.
Ia mengabulkannya.
Aku menyerahkan hadiah itu.
Sebuah kalung.
Sebuah hati.
Terukir tiga huruf: K.F.K.
Kekuatan.
Fokus.
Keyakinan.
Tapi itu hanyalah permukaan.
Liontin itu sebuah relikuari.
Sebuah rahasia.
Yang hanya bisa terbuka dengan cara yang tepat.
Dan di dalamnya…
Ada sesuatu yang tak pernah kuberanikan diri untuk kuucapkan.
Sebuah pernyataan cinta.
Terukir.
Abadi.
Mungkin suatu hari ia akan menemukannya.
Mungkin tidak.
Tapi itulah yang paling banyak bisa kupersembahkan tanpa melewati garis yang tak akan pernah boleh kulanggar.
Ia meminta pelukan.
Aku memandang Paolo.
Ia mengizinkan.
Ketika aku memeluknya…
Segala hal dalam diriku bergejolak.
Aroma tubuhnya.
Kehangatannya.
Kedekatan itu.
Aku ingin tinggal.
Tapi aku tak tinggal.
Aku tak pernah tinggal.
Aku minta diri.
Hendak undur diri.
Tapi Paolo berkata:
"Tinggallah."
Aku menurut.
Aku duduk di meja.
Dan aku menerima takdirku malam itu.
Mengamati.
Merasakan.
Dan tidak bertindak.
Saat itulah sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aku melihatnya.
Tatapan Paolo.
Tertuju pada Maria Cecília.
Berbeda.
Penuh perhatian.
Tertarik.
Aku mengenal Paolo lebih dari siapa pun.
Itu bukan hal yang biasa.
Lalu…
Pietro.
Cara ia memandang Ana Paula.
Penasaran.
Terhibur.
Terpikat.
Aku bersandar di kursi, mengamati.
Dalam diam.
Mungkin…
Malam itu bukan sekadar tentang sebuah wisuda.
Mungkin…
Itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karena, kalau ada satu hal yang kuketahui dengan kepastian mutlak…
Itu adalah bahwa pria seperti Paolo Salvatore dan Pietro Salvatore tidak pernah menoleh dua kali kepada siapa pun tanpa alasan.
Dan, ketika mereka menoleh…
Tak ada yang tetap sama.